SOLD OUT (Selepas Kau Pergi)

SOLD OUT (Selepas Kau Pergi)
Bab : 46


__ADS_3

Satu hari setelah melangsungkan acara pernikahan mereka, Luke meminta izin kepada ibu dan nenek Kiran untuk membawa wanita yang sudah menjadi istrinya itu pulang ke negaranya, ini sudah pernah ia minta saat mengatakan ingin menikahi Kiran kemarin dan Luke mengulanginya lagi.


Suasana haru pun terjadi saat Kiran dan Luke sudah bersiap berangkat dan berpamitan. Luke juga menjanjikan setiap tahun akan membawa Kiran pulang ke kampung halaman atau lain kali mengajak mereka datang kesana, tidak lupa ibu dan nenek Luke menitipkan salam kepada orang tua Luke yang hanya mereka temui lewat video call itu tidak lupa membawakan oleh-oleh khas daerah mereka juga sebagai bentuk menghormati besan mereka itu.


Lambaian tangan dan uraian air mata haru pun semakin pecah saat mobil yang menghantarkan keduanya siap pergi. Kiran melihat dari jauh satu persatu wajah keluarganya itu dan satu lagi bayangan wajah sang bapak yang begitu jahat padanya itu namun membawa dia bertemu dengan kehidupannya sekarang.


Pak dimana pun bapak, semoga keadaan merubah bapak dan bapak bisa berputar balik menjadi bapak yang baik seperti yang Kiran dan Bima kenal belasan tahun lalu.


...***...


Beberapa saat berlalu, Ini menjadi kali pertama bagi Kiran akan melakukan penerbangan, ia merasa sedikit gugup membayangkan akan berjam-jam diatas pesawat. Setibanya mereka dibandara Arga dan Elmira sudah menunggu mereka disana.


“Itu Arga bunny!” Lihat Kiran pada Arga yang sedang entah menggombali Elmira apa.


Luke mengajak Kiran kesana, mereka pun berpamitan untuk segera masuk sebab sepertinya ini sudah waktunya mereka masuk.


“Thanks Gha, kau banyak sekali membantuku, tentang uang yang kau ganti aku sudah kirimkan kembali kepada Elmira.”


“Kau mengganti lebih dari itu, Luke!” Teriak Elmira yang baru memeriksa.


“Kata Kiran ganti rugi sebab dia tidak bisa melanjutkan kontrak kerjanya lagi.”


“Ya Tuhan Kiran, kau tidak perlu memikirkan itu.”


Mereka pun saling berpelukan satu sama lain, Luke begitu berterimakasih pada Arga dia sangat-sangat membantunya selama di Jakarta.


“Sekali lagi thanks Ga!” ulangnya lagi.


“Kau berlebihan Luke, lain kali aku akan berkunjung kesana.” Tepuk-tepuk Arga pundak Luke.


“Lamar Elmira ujung-ujungnya ku liha kau kembali padanya.”


“Melamar dia? Kau lihat dia sangat angkuh sekarang, tidak lagi bisa didekati.”


“Iya kak EL, Arga kan baik.” Tambah Kiran.


Elmira menyeringai lebar melihat pada semuanya, “Aku tidak sanggup melihat dia menggoda semua wanita, lebih baik sekedar menjadi partner kerja saja.”


“Kalian liat dia… sombong sekali bukan?”


“Kak El butuh kejelasan kali Ga, kau mendekati dia tapi semua orang juga kau dekati.”


“Ya sudah kita langsung menikah saja, kau siap? Ayo hari ini!”

__ADS_1


“Basi! Ya sudah hati-hati Luke, Kiran sampai jumpa lain waktu, safe flight…”


Luke mengambil tangan Kiran, keduanya siap pergi. Kiran merasa haru ia akan pergi jauh sekali dari negara tercintanya ini. Memulai kehidupannya ditempat lain, yang asing dan butuh banyak mempelajari berbagai macam hal.


Arga pun mendekat pada Elmira, satu tangan nakalnya menyentuh pinggang Elmira, keduanya melambaikan tangan. Sedetik kemudian Elmira mendorong Arga dan memakinya.


“Menjauh! Tidak ada lagi, kesempatan untukmu, Arga!”


“Ayo kawin, El!” Arga tertawa.


“Lihatlah! dia memang kurang ajar!”


Luke dan Kiran ikut tertawa melambaikan tangan mereka siap melangkah masuk ke pintu terminal keberangkatan Internasional itu.


...***...


Beberapa jam berlalu mereka masih di armada besi yang akan menghantarkan mereka ke negara asal Luke. Luke memilih fasilitas terbaik diatas sana, agar Kiran mendapatkan kenyamanan dan pelayanan terbaik dipenerbangan pertamanya.


Duduk di kursi 2 in 1 yang bisa dijadikan tempat tidur datar, bersebelahan dengan Luke dan sebuah sliding door dicabin mereka, segala fasilitas terbaik, termasuk sandal relaksasi, peralatan mandi branded, hingga lounge wear pria dab wanita.


Tetap saja bagi Kiran ia takut, ia merasa sangat takut, “Masih lama bunny? Tidak bisa duduk di pangku?”


“Sini!” Luke malah balik menggoda Kiran menepuk-nepuk pahanya.


“Nanti tunggu malam, boleh.” Luke malah semakin genit, “Bisa di tutup cabinnya...”


“Di tutup sekarang nggak boleh?”


“Makan dulu.”


“Makan lagi?” Tatap Kiran Luke, “Aku tidak lapar...”


“Tahan makan dan minum takut buang air?” Luke mentertawakan Kiran yang sudah 6 jam dipenerbangan belum juga ke toilet.


“Takut...tau...”


“Takut apa? Jangan di tahan-tahan nanti sakit.” Lelaki itu mengambil pundak Istrinya lalu mengusap-usap rambutnya, “Tidak ngantuk? Aku mau tidur, semalaman aku tidak tidur diruangan tamu.”


“Aku tahu, banyak nyamuk kan? Aku minta masuk kamar kau tidak mau.”


Luke pun tertawa, “Aku takut... takut tidak bisa menahan diri.”


Seketika Kiran tertawa, “Oh Tuhan, menggelikan!”

__ADS_1


Kiran mengambil tangan Luke untuk ia genggam, rasanya bahagia sekali bisa sampai di titik ini, “Bunny? Kita akan tinggal dirumah ibumu?”


Luke membawa tangan yang Kiran pegang untuk ia kecupi, “Rumah tua peninggalan ayahku sudah tidak bisa ditempati, ibu sudah puluhan tahun tinggal di Rodriguez house dia kepala rumah tangga disana. Dan hanya sesekali pulang kerumah yang aku tempati, bisa dibilang aku tinggal sendiri disana, kita akan tempati itu.”


“Aku gugup sekali bunny— aku harus bagaimana nanti disana?”


“Bagaimana? Lakukan seperti biasa yang kau suka, tidak ada yang menuntutmu harus menjadi apa, ku rasa dengan sendirinya kau akan mengikuti keadaan yang ada.”


“Kau nanti masih akan bekerja bersama keluarga yang menjadikanmu orang kepercayaanya itu, lalu jarang pulang?”


“Masih bekerja disana mungkin tidak menjadi asistennya lagi, bisa jadi diperusahaanya, mereka sudah ada penggantinya lagi pula keadaan krisis dikeluarga mereka sudah berakhir, aset-aset sudah dibagi-bagi tiap anak mendapatkan bagiannya termasuk aku, agar lebih aman dan ayah mereka tidak mendapatkan bahaya lagi, sebab itu semuanya sudah lebih aman disana hanya saja mereka masih butuh pengawalan untuk berjaga-jaga.”


“Kau mendapatkan bagian bunny?”


“Hemm, aku tidak meminta itu, namun sedari kecil keluarga itu sudah menganggap aku adalah anak mereka.”


“Baik sekali mereka, oh ya kau jangan marah-marahi aku disana, kau selalu saja mengerikan jika marah, akan kemana aku melarikan diri jika kau memarahi.” Kiran memajukan bibirnya cemberut.


Tawaan Luke pecah mendapati ekspresi menggemaskan Kiran, “Iya maaf... aku usahakan tidak akan terjadi lagi.”


Cup cup...


Luke kembali terus mengecupi tangan yang menggenggamnya itu, memerintahnya untuk menyandar kemudian mengusap-usap rambut panjang lembutnya.


Beberapa jam berlalu, saat langit berganti gelap mereka membuat tempat duduk menjadi tempat berbaring, lalu menutup sebagian cabin itu.


Sedikit pembatas tidak menghalangi mereka bermesraan Luke membiarkan Kiran mengambil tangan Luke menjadikan bantal, sembari menonton sebuah film yang Luke putar ditempatnya.


“Bunny, katamu kau tidur, sampai sekarang kau juga tidak tidur!” Kiran kembali terjaga.


“Hemm... Entahlah aku tidak terbiasa tidur diperjalan.”


Kiran pun beringsut menegakkan tubuhnya, “Aku pindah ketempatmu, ya...?”


“Berpindah, ayo!” Luke pun senang sekali mendapati Kiran yang berpindah, “Cùddle time... “


“Jangan fikirkan yang macam-macam! Jika gagal sembuh kau akan mengulangnya 2 kali.”


Luke pun tertawa, “2 kali itu pembinasaan namanya,” Luke pun mengehujami pipi Kiran yang sudah berpindah tempat menempel padanya itu, "Kîss...." Majukan Luke bibirnya.


"Malu, pasti ada yang lihatin di camera-camera..."


"Cabin crew? Mereka tidak peduli itu--" Tidak peduli tempat Luke pun menarik wajah Kiran, untuk ia satukan bibir mereka, menahan pada tengkuknya.

__ADS_1


 


__ADS_2