
Emelin lalu sekarang mengigat lagi salah satu kejadian dimasa lalu, dimana hal-hal seperti ini juga terjadi.
Hari itu, Alex juga masuk Rumah Sakit seperti ini....
Dan itu gara-gara dirinya.
Ya, benar Kata Antony, kenapa dirinya bisa lupa dengan hal-hal ini?
Itu hal yang sangat penting, namun dirinya bisa lupa.
Dirinya memang bodoh.
Mengigat hal-hal itu, Emelin mulai menagis lebih parah lagi.
Dirinya tidak pantas menjadi Ibu untuk Alex.
Ini semua salahnya.....
Selama ini dirinya memang selalu tidak pantas menjadi Ibu untuk Alex....
Dan sekarang dirinya telah melaksanakan kesalahan fatal.
Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Alex?
"Ya... Ini semua salahku. Kenapa aku begitu bodoh? Aku tidak layak untuk menjadi Ibu Alex... Sekarang... Sekarang Alex jadi seperti itu karena aku...." Kata Emelin membalas perkataan Antony barusan.
Hatinya masih sangat khawatir dengan keadaan Alex dan begitu frustasi dengan kebodohannya itu.
Mau menjadi Ibu yang baik apa?
Dirinya bahkan tidak tahu apa-apa bagaimana menjadi ibu yang baik...
Tidak layak menjadi Ibu untuk Alex...
Apalagi mencoba menjadi seorang Istri yang baik untuk Antony....
Dan gara-gara dirinya...
Alex sampai seperti ini....
"Ini salahku... Alex... Alex sampai seperti ini... Alex...."
Emelin menagis tersedu-sedu disana.
Antony juga terteguh sejenak melihat bagaimana Emelin mengais dan khawatir dengan Putra mereka.
Dirinya tidak tahu juga harus berbuat seperti apa...
Hanya...
Rasa marah di hatinya masih sedikit tersisa....
Memikirkan bagaimana Emelin bisa tidak ingat....
Antony kembali diam, tidak tahu juga harus merespon seperti apa.
Melihat bagaimana Emelin mengais, Antony juga menyadarinya bagaimana dia mungkin juga menghawatirkan Alex, Putra mereka....
Emelin adalah Ibu anak itu setelah semua.
Namun Antony juga binggung harus bersikap seperti apa pada Emelin, hanya bisa diam disana.
Sampai dokter keluar dari ruang IGD, Antony bertanya dengan cemas,
"Bagaimana keadaan Alex, Dok?"
Emelin juga yang menagis mencoba menghapus air matanya, sambil menunggu jawaban dari Sang Dokter.
"Dia tidak apa-apa, hanya pingsan dan beberapa reaksi alergi, tidak akan membahayakan nyawanya, dia di bawa kesini tepat waktu, saat ini dia masih dalam tahap perawatan, seharusnya dia sebentar lagi sadar."
Antony dan Emelin sekarang merasa sedikit lega setelah mendengar ucapan dari Dokter itu.
"Terimakasih, dokter. Apakah sekarang kami boleh melihatnya?"
"Tentu saja, dia akan segera dipindahkan ke ruang rawat inap,"
__ADS_1
Dengan itu sebuah ranjang tempat tidur segera keluar dari ruangan itu, Alex segera di pindahkan ke ruang rawat inap.
Antony dan Emelin mengikuti para perawat sampai Alex tiba diruang rawat inapnya.
Namun hanya Antony yang masuk kedalam, Emelin masih di luar ruangan, tidak berani untuk masuk.
Antony yang berniat masuk, melihat bagaimana Emelin masih terdiam diluar, tidak tahu harus merespon seperti apa.
Memikirkan, mungkin ini juga salahnya kenapa tidak mengigatkan Emelin soal hal-hal sepele seperti ini yang sebenarnya sangat penting.
"Emelin? Kenapa kamu masih diluar? Masuklah, Alex pasti akan mencarimu setelah kamu sadar,"
"A... Aku... Aku bisa masuk?"
Sekali lagi, Antony menghela nafas panjang,
"Tentu saja, masuklah, Alex akan sedih jika dia tidak melihat Mamanya,"
Emelin masih menunduk, tidak berani menatap kearah Antony, hanya langsung ikut masuk, lalu duduk dikursi samping tempat tidur Alex.
Lalu langsung menggenggam tangan anak itu.
Menatap Alex yang masih terbaring lemah didepannya, perasaan Emelin menjadi semakin bersalah, dia kembali menangis.
"Alex.... Maafkan Mama...."
Ditempat tidur, Alex mulai membuka matanya.
Hal pertama yang dia lihat adalah Mamanya yang menagis.
"Mama... Mama.. jangan menangis...."
"Alex... Alex kamu sudah sadar?"
"Ya... Alex sudah sadar... Ini.. ini Dimana?"
"Kamu di Rumah Sakit, sayang. Maafkan Mama... Kalau saja Mama tidak begitu ceroboh dan memberimu sup itu...."
Alex tidak terlalu mengerti apa yang Mamanya katakan, melihat wajah mamanya yang begitu sedih dan menangis, membuat Alex juga merasa sedih.
"Mama jangan sedih, Mama kenapa sedih? Lihat Alex sudah baik-baik saja, Alex tidak apa-apa, Alex baik-baik saja," kata anak itu mencoba menenangkan Emelin, namun itu malah membuat Emelin menangis semakin banyak, melihat bertapa Alex peduli padanya.
"Mama... Mama kenapa menagis lagi? Apakah ada yang jahat dengan Mama?"
"Tidak... Tidak Alex hanya... Ini salah Mama sampai Alex seperti ini."
"Siapa yang menyalahkan Mama? Alex baik-baik saja, ini tidak apa-apa, Ma! Apakah Papa marah pada Mama?" Alex menatap Antony yang dari tadi diam, terlihat tidak mengatakan apapun.
"Papa? Papa marah dengan Mama? Papa tidak boleh marah dengan, Mama... Papa jangan marah pada Mama..."
Antony melihat dua orang tersayang dalam hidupnya itu menjadi sedih, perasaan marahnya tiba-tiba menghilang.
Memang, Antony juga sadar ini bukan salah siapa-siapa, ini mereka sama-sama salah.
Kurang berkomunikasi dengan baik, hingga hal-hal menjadi seperti ini.
Dirinya juga tahu, kalau sekarang Emelin sudah mencoba berubah dan menjadi Ibu yang baik, melihat bagaimana Emelin mulai sangat menyayangi Alex, dan memperhatikan anak itu.
Dirinya paham kalau Emelin pasti juga sangat terpukul dengan hal-hal ini.
Dia pasti juga merasa sangat sedih melihat Alex seperti ini.
"Papa tidak marah dengan Mamamu,"
"Benar, Pa?"
"Ya, tentu saja Papa tidak marah, bagaimana Papamu bisa marah pada Mamamu hmm?"
"Mama, sekarang jangan menangis lagi, lihat Papa tidak marah!!"
Emelin tidak tahu apa yang Antony katakan benar atau tidak, atau itu hanya kata-kata semu untuk menengangkan Alex...
Namun disini, Emelin mecoba menghapus air matanya.
Lalu dia begitu kaget, merasakan Antony memeluknya tiba-tiba.
__ADS_1
"Tidak apa-apa sekarang Emelin, Alex sudah baik-baik saja, aku tahu kamu sangat khawatir padanya, aku hanya sedikit panik tadi, jadi jangan sedih lagi, semua akan baik-baik saja, oke?"
Melihat Mama dan Papanya terlihat damai itu, Alex juga ikut merasa senang, walaupun badannya masih tidak merasa nyaman.
Emelin kembali terisak,
"Maafkan aku... Maaf... Maaf...
Antony aku tidak becus menjadi seorang Ibu..."
Antony mempererat pelukannya mengelus rambut Emelin mencoba menenangkannya.
"Tidak tidak, kita sama-sama salah disini... Hanya lain kali jangan lagi berbuat seperti ini...."
"Aku... Aku tidak akan lagi..."
"Lain kali, jika ada sesuatu yang tidak kamu tahu, kamu langsung bisa bertanya padaku, apapun itu, apakah itu kesukaan Alex atau yang Alex tidak suka, atau apapun itu, kamu tanya saja padaku, aku akan selalu menjawabnya,"
Emelin membalas pelukan itu.
Hatinya masih terasa sangat sedih, mencoba melupakan semua emosi frustasinya.
"Hmm, aku benar-benar payah tidak tahu apapun tentang kamu dan Alex,"
"Tidak apa-apa.... Kamu bertanya saja apapun."
"Aku bahkan tidak tahu apa makanan kesukaanmu dan Alex...."
"Hmm, kamu selalu bisa tanya, aku dan Alex suka seafood,"
"Terus tanggal berapa Ulang Tahun mu...."
"24 Desember...."
"Aku... Aku ingin tahu segalanya tentang kamu...."
"Tentu saja, kamu bisa, Emelin."
Dengan itu Emelin mencoba menenangkan dirinya dalam pelukan Antony.
Namun dalam hati, Emelin masih merasa begitu salah soal semua ini...
Walaupun Antony bisa begitu baik seperti ini...
Tiba-tiba merasakan kebaikan ini, Emelin merasa dirinya tidak pantas...
Rasa putus asa muncul...
Setelah apa yang aku lakukan...
Apakah aku masih pantas untuk Antony?
Apakah masih pantas menjadi Mama Alex?
Hari ini seharunya menjadi hari yang indah, namun semua berantakan gara-gara dirinya....
Alex sampai harus menanggung semua rasa sakit ini...
Harus berada di Rumah Sakit seperti ini...
"Hey, Hey... Papa dan Mama melupakan Alex?"
"Tentu saja tidak," kata Antony lalu juga memasukan Alex dalam pelukannya.
Mereka berpelukan begitu hangat, namun entah kenapa hati Emelin masih tidak nyaman.
Merasa dirinya tidak layak mendapatkan kehangatan ini....
Antony kenapa kamu selalu begitu baik padaku dan mau memaafkan ku?
Aku...
Aku merasa tidak layak....
Apa yang harus aku lakukan....
__ADS_1
####
Bersambung