Suami Bayaranku Yang Dingin

Suami Bayaranku Yang Dingin
Episode 159: Kepergian Antony (Part 1)


__ADS_3

Dari ujung telepon, terdengar jelas suatu penawaran untuk Alvan.


"Kami menawarkan untuk Akusisi Perusahaan Bapak,"


Alvan tentu saja kaget,


"Apa? Akusisi?"


"Benar, Apakah Bapak tertarik?"


Alvan berpikir sejenak, saat ini Perusahaan memang di ambang ke bangkurtan, namun jika mendapatkan suntikan dana dirinya yakin akan bisa bangkit lagi, namun jika di Akusisi dirinya tidak akan lagi menjadi pengedali Perusahaan, ini hampir sama seperti menjual Perusahaan yang susah-susah dirinya dapatkan.


"Apakah tidak bisa dengan cara lain? Seperti memberikan saya pinjaman atau berinvestasi pada Perusahaan ini?"


"Bapak Alvan, anda melihat sendiri Perusahaan Smith yang Anda pegang sekarang, dengan tingkat hutang yang tinggi, siapa yang mau lagi memberikan pinjaman apalagi Berinvestasi kesana lagi? Apalagi saya sempat mendengar kinerja anda kurang baik, Pak CEO kami hanya menawarkan ini secara cuma-cuma untuk Akusisi Perusahan Bapak karena kami memang ingin memasuki bisnis ini, tapi kalau memang Bapak tidak tertarik, kami tidak akan memaksa, kami selalu bisa mencari Perusahaan lainnya,"


Mendengar sepertinya mereka berniat mencari Perusahaan lain, Alvan buru-buru mencegahnya.


"Tunggu dulu, ini bukan berati saya menolak, tolong beri saya waktu untuk berpikir lagi,"


"Baik, kami akan memberikan anda waktu dua hari untuk memikirkannya lagi, lebih dari itu kami akan mencari yang lain,"


"Kenapa secepat itu?"


"Bapak tidak mengerti? Waktu adalah Uang, jika bapak membuang-buang terlalu banyak waktu untuk berpikir, siapa yang tahu berapa banyak lagi kerugian yang ditimbulkan oleh Perusahaan Smith ini? Kami sungguh sudah berbaik hati berniat membantu kesusahan anda,"


"Ba... Baik.... Dan soal dana yang akan didapatkan dari hasil Akusisi?"


"Kami belum bisa membicarakannya sekarang, kami masih menunggu persetujuan Bapak dulu, kalau memang Bapak setuju kami akan segera mengirimkan rincian untuk rencana Dana Akusisinya,"


"Baik, saya akan memikirkannya saya akan menghubungi kalian lagi,"


"Ya, kami menunggu kabar baik secepatnya dari Bapak,"


Alvan menutup telepon itu dengan perasaan rumit.


Sekarang datang tawaran untuk Akusisi, sebenarnya ini adalah satu-satunya solusi yang mungkin bisa menyelesaikan segalanya.


Namun....


Itu artinya, Perusahaan yang dengan susah payah dirinya dapatkan akan hilang begitu saja...


Tidak...


Ini tidak akan hilang, masih akan ada Uang Hasil Akusisi itu bukan?


Itu bisa digunakan untuk membuat sebuah Perusahan Baru lagi, yang kali ini atas namanya, bukan lagi atas Nama Smith itu lagi.


Dan lagi, sekarang Perusahan Smith itu diujung kebangkrutan dengan begitu banyak pinjaman, jika dirinya terus mengelola hal-hal ini bisa jadi malah dirinya tidak hanya akan kehilangan Perusahaan karena Kebangkrutan namun bias juga masuk penjara karena gagal membayar hutang.


Baik, dirinya masih memiliki dua hari lagi untuk berpikir soal hal-hal ini.


Sampai dirumah, dia lalu mencoba mencari nasehat dari Istrinya, karena memang tidak ada lagi orang yang bisa dirinya ajak diskusi, selain dia bahkan Wala dirinya masih marah dengan Istrinya itu.


"Akusisi? Artinya mendapatkan Uang bukan? Sudah jual saja Perusahaan itu, yang penting kita mendapatkan Uang, dan semua masalah dengan Perusahaan itu selesai, nanti Uang Hasil Akusisi toh bisa membuka bisnis baru,"


"Kamu kira membuka bisnis baru itu mudah?"


"Ya, kamu harus melakukannya. Apalagi? Kamu masih bersikeras mempertahankan Perusahaan itu, kemudian bangkut dan masuk penjara? Apa yang kamu pikirkan? Tidak usah buang waktu lagi, segera hubungi mereka,"


Mendengarkan sepertinya Istrinya ini masih saja hanya memikirkan soal uang, Alvan menjadi tambah kesal.


Tapi memang yang diucapkannya itu masuk akal. Perusahan ini toh awalnya bukan menjadi miliknya, merasa sedikit terbebani dengan nama Perusahaan ini.


Namun jika hal-hal ini dijual....


Mungkin membuka Bisnis baru akan cukup sulit, namun dari pada terjebak dengan Perusahaan Bangkrut?


Bagaimanapun juga, ini adalah AX Investment, dirinya dengar Perusahan itu merupakan Perusahaan Investasi yang cukup besar, dan pasti memiliki banyak dana.


Jelas Dana yang akan dirinya dapatkan dari Akusisi ini akan sangat banyak.


Benar, memikinya lagi ini memang sebuah tawaran yang menarik.


Baik, sepertinya dirinya sudah memutuskan untuk menerima tawaran ini.


Keesokan harinya, tidak perlu menunggu selama Dua Hari, Alvan langsung kembali menghubungi perwakilan dari AX Investment itu.

__ADS_1


"Saya menerima Akusisi itu,"


"Sangat cepat? Bapak memang mengabil keputusan yang tepat, mari segera bertemu untuk mengurus soal Akusisi ini,"


"Tentu, dan soal dana yang akan saya dapatkan...."


"Kami perlu menilai dan menijau ulang soal Nilai Perusahan ini, ada baiknya Nanti dalam pertemuan Bapak membawakan Kami rincian Laporan Keuangan Perusahan selama sepuluh tahun terkahir,"


"Itu.... Apakah itu benar-benar perlu?"


"Kami berniat Akusisi, tentu saja kamu perlu tahu rincian semua Laporan bertahun-tahun itu, kami tidak bisa membeli Perusahaan dalam karung yang kami tidak tahu apa-apa soal rinciannya,"


Alvan terdiam sejenak, lalu segera memutuskan,


"Ya, mohon tunggu saya akan segera menyiapkan dokumen-dokumen yang dibutuhkannya,"


"Baik, lebih cepat lebih baik,"


Dengan akhir dari panggilan telepon itu, Alvan yang terlihat tidak melihat adalah hal-hal mencurigakan segera menghubungi depertemen keuangan perusahaan, dan meminta berkas keuangan selama sepekan tahu terakhir.


Dan memang butuh waktu ternyata untuk mempersiapkannya, jadi Alvan menunda pertemuan sampai besok.


Yang jelas, sekarang hidupnya bisa tenang, tidak memiliki beban apapun setelah rencana Akusisi ini berhasil.


Dan akhirnya, malam itu setelah waktu yang lama Alvan akhirnya bisa tidur nyenyak, memikirkan berapa banyak uang yang akan dirinya dapatkan dari Akusisi itu.


####


Disisi lainnya, malam ini Antony menerima telepon dari bawahannya soal bagaimana akhirnya Ayah Emelin itu setuju dengan hal ini.


"Bagus, setelah mendapatkan laporan itu, temukan semua bukti kecurangan Alvan selama bertahun-tahun dalam Perusahaan, Audit semuanya dengan baik."


'Baik, Pak akan segera kami lakukan begitu berkas-berkas itu ditangan kami,'


'Juga soal Kasus baik nama Perusahaan yang tidak Syah, setelah Alvan Smith itu menandatangi berkas pengalihan Perusahaan, ungkap semua kejahatannya, dan juga soal dia yang tidak Syah menjadi pemilik, jadi uang Hasil Akusisi tidak akan jatuh ke tangannya, dan semua dana dan harta miliknya juga akan disegel karena hal ini dan kasus yang melibatkannya."


'Ini sepertinya Rencana yang bagus,'


"Owh iya dan satu lagi, tawarkan Dana Akusisinya yang cukup besar padanya, buat dia langsung tergiur dengan Uangnya hingga langsung bilang iya tanpa berpikir dua kali, buat dia melayang kelangit, lalu jatuhkan keneraka dengan kejam setelahnya,"


Sungguh, ide yang cukup kejam.


"Bapak benar-benar sungguh hebat dalam menemukan ide ini. Ngomong-ngomong kenapa Bapak begitu ngotot soal Akusisi ini? Dan lagi jika memang bukan Tuan Alvan yang menjadi pemilik, lalu siapa pemilik Aslinya?"


"Ini sebenernya adalah milik Putraku, ini warisan dari Almarhum Kakek Buyutnya, belakangan aku menemukan rincian yang mengagumkan dalam Surat Wasit Kakek Buyutnya itu, Harta itu memang atas nama Emelin tapi ada syarat dan ketentuannya, yang sepertinya tidak orang-orang sadari, ini adalah Trik hebat milik Kakek Buyut Putraku ini. Sampai Putraku berumur delapan belas tahun, Emelin sebagai Ibunya yang ditugaskan untuk mengelolanya dan memiliki hak pengelolaannya. Hahaha, Kakek Istriku ini sebenernya cukup waspada takut cucunya ditipu orang, jadi dia benar-benar membuat surat wasiat yang begitu aneh, sungguh aku saja cukup terkejut,"


Bawahan itu cukup terkejut, sepertinya ini urusan Keluarga yang rumit milik Istrinya?


Eh?


Tunggu?


Putra?


Istri?


Sejak kapan Pak Presdir menikah?


Dalam rasa syok mendengar hal-hal ini, bawahan itu hanya bisa berpura-pura tenang lalu menjawab,


'Ah, begitu jadi Ini milik Istri dan Putra Bapak,'


"Ya, dan jangan banyak tanya segera lakukan saja perintahku,"


'Baik Pak,'


Segera telepon itu diakhiri dengan Antony yang masih tersenyum senang, ya dirinya baru tahu rincian surat itu setelah dengan bantuan Paman Radit bertemu pengacara Kakek Emelin.


Ternyata ada trik seperti itu.


Namun itu malah bagus, dengan hal-hal ini malah lebih mudah mengambil alih Perusahaan mengembalikan kepada yang seharusnya, hanya nanti akan butuh sedikit perubahan saja.


"Papa? Sekarang sudah saatnya makan Malam, kenapa Papa masih disini saja? Mama sudah menunggu di Meja Makan,"


Mendengar suara Alex memasuki ruang kerjanya, Antony langsung berdiri dan meletakkan ponselnya, kalau menghampiri Alex,


"Hanya ada beberapa urusan yang harus Papa urus,"

__ADS_1


"Apa itu, Pa?" Tanya Alex dengan penasaran.


Antony lalu tersenyum dan mengelus rambut Alex.


"Mengembalikan sesuatu yang menjadi milikmu,"


"Alex tidak mengerti,"


"Besok kalau kamu sudah dewasa kamu akan mengerti,"


Antony lalu mengendong anak itu menuju ruang makan.


Dan benar saja, disana sudah ada Emelin yang menyiapkan makanan dimeja makan.


Hari ini Emelin memasak, sepertinya dia memiliki hari-hari baik yang ingin dirayakan.


"Wow, sepertinya ada pesta malam ini?" Tanya Antony pura-pura tidak tahu.


"Hmm, hari ini aku mendapatkan beberapa tawaran audisi untuk film baru lagi, ini sangat bagus sekali, dan aku juga barusan mengurus Surat Kontrak dengan AX Entertainment, tinggal tanda tangan saja, pokoknya aku sangat senang,"


"Audisi Film Baru?"


"Ya, AX Entertainment yang menawarkan ini untuk menyuruhku mengikuti Audisinya, ini mungkin sekitar bulan depan,"


"Setelah Filmmu rilis?"


"Ya, sekitar itu,"


"Kalau begitu selamat, ya. Aku ikut senang dengan semua berjalan lancar,"


"Hmm, tentu saja. Nanti bantu aku melihat rincian Kontrak, aku lihat ini sebenernya sangat menguntungkan,"


"Tentu saja, aku akan membantumu,"


"Selamat, Mama..." Kata Alex dengan ceria.


Lalu Keluarga kecil itu memulai makan malamnya, Antony sedikit terkejut dengan menu di meja makan.


Ini adalah menu seafood favoritnya, ada udang goreng tepung,


"Kamu sekarang benar-benar tahu makanan favoritku?"


"Aku sudah bertanya padamu bukan sebelumnya?"


"Baik, mari coba cek apakan kemampuan memasakmu sudah meningkat,"


"Ini enak sekali, Mama... Alex suka,"


Emelin lalu tertawa,


"Lihat, kata Alex dia suka, mau juga harus segera mencobanya,"


Antony bersikap sedikit manja,


"Sepertinya jaraknya agak jauh, kenapa kamu tidak mengambilkan untukku, dan menyuapiku?"


Mendengar permintaan tidak masuk akal Antony itu wajah Emelin memerah.


"Kamu ini sudah bukan anak kecil, kenapa minta disuapi?"


"Kenapa kamu begitu pelit? Ini hanya permintaan sederhana,"


Emelin akhirnya mengalah dan menuruti permintaan Antony, berniat mengambil udang goreng dengan garpu namun sepertinya kesulitan,


"Pakai tangan saja," usul Antony.


Emelin lalu mengail dengan tangannya, dan mengarahkan itu pada Antony, memasukannya pada mulutnya, namun ketika Emelin hendak menarik tangannya, Antony menahannya, malah memasukan jari Emelin kemulutnya juga dan menjilatinya,


"Ini enak,"


Melihat ekpersi mengoda itu jelas, Emelin merasa wajahnya memanas, terutama merasakan lidah lembut dan hangat di jarinya, jika Alex tidak diruang makan, Emelin bisa membayangkan kalau Antony mungkin akan menarik dirinya kedalam pelukannya, lalu mulai menciuminya dengan agresif.


Memiliki pemikiran ini, membuat Emelin tambah merah, lalu segera menarik tangannya,


"A... Antony kamu tidak tahu malu,"


"Apa? Aku hanya ingin sedikit dimajakana, Besok aku akan ada Tugas Keluar Kota dan tidak bisa pulang dulu, jadi tidak bisa melihatmu,"

__ADS_1


__ADS_2