Suami Bayaranku Yang Dingin

Suami Bayaranku Yang Dingin
Season 2 Episode 40: Sebuah Ekpektasi


__ADS_3

Charlise Anderson itu setelah mendengar gosip soal Putranya dekat dengan Anak Kakaknya Antony itu menjadi marah.


Berikutnya, dia segera menelepon Raka ke Ruangannya.


Awalnya, Raka sedang bersantai dan menikmati makan siang dengan Antony, mereka hanya membicarakan hal-hal biasa, seperti membicarakan Alex.


"Kak Antony kapan-kapan harus membawa Alex ke Kantor, benar-benar bisa meredakan dan menenangkan hati jika melihat anak itu, dia begitu lucu,"


"Ya, kapan-kapan aku akan mengajaknya, aku hanya merasa mungkin dia akan bosan jika berada di Kantor seperti ini,"


"Tidak, tidak. Alex sangat suka berkeliling di Perusahaan ini, dia juga menyukai Es Krim di Kantin, dia pasti akan senang jika diajak kesini,"


"Owh benarkah begitu?"


Sampai tiba-tiba telepon Raka berbunyi.


"Sebentar, aku akan mengangkat telepon," kata Raka, lalu pergi ketempat agak sepi untuk mengangkat teleponnya.


Ini dari Ayahnya.


Kira-kira kenapa Ayahnya menelepon?


"Hallo, Ayah? Ada apa?"


Namun dari ujung telepon, hanya ada suara dingin penuh dengan kemarahan.


'Cepat datang ke Ruanganku sekarang,'


Mendengar itu, ekpersi Raka tiba-tiba menjadi buruk.


"Tapi aku sedang makan siang,"


'Raka! Kamu masih membantah perintah Ayahmu sendiri? Cepat kesini, tidak ada penundaan,'


Mendengar Ayahnya yang berkata dengan marah itu, tentu saja Raka menjadi binggung.


Dirinya salah apa lagi?


Sepertinya semuanya berjalan dengan baik?


Sudahlah, Ayahnya memang seperti itu, jadi menuruti perintah Ayahnya, Raka segera kembali, dan bilang pada Antony jika dia tiba-tiba ada urusan mendadak.


Antony juga tidak keberatan dan membiarkan Raka pergi.


Dengan perasaan gugup, Raka mulai pergi ke tempat Ayahnya berada.


"Tuan Muda Raka, Tuan Charlise sudah menunggu anda di dalam," kata Asisten itu yang berada di depan Ruangan Ayah Raka.


Menarik nafas dalam-dalam, dia segera masuk.


Dan melihat Ayahnya duduk di sofa, Raka pun mendekat, dan Ayahnya tiba-tiba berdiri.


"Ada apa Ayah?"


Namun bukan jawaban yang Raka dapatkan, malah itu sebuah tamparan.


Raka sungguh tidak mengerti dengan apa yang terjadi, hanya memegangi pipinya yang sedikit memar.

__ADS_1


"Raka!! Kamu ini! Bukankah sudah Ayah bilang jangan dekat-dekat dengan Sepupumu itu! Dia itu hanya ingin memperdayamu dan mendekatimu dengan maksud lain! Dia itu ingin menguasai Perusahaan Anderson sebagai miliknya sendiri! Dia hanya berpura-pura baik untuk mendapatkan simpatimu!! Sama seperti Pamanmu Viktor! Jangan dekat-dekat dengan mereka!"


Raka benar-benar tidak mengerti dengan Ayahnya.


"Tapi Ayah, aku rasa Kak Antony itu berbeda dengan Paman Viktor,"


"Lihat, sepertinya kamu mulai termakan dengan omongan manisnya itu!! Kamu ini selalu mudah untuk di bodohi!"


"Aku tidak!!"


"Antony itu, jelas datang ke Keluarga Anderson untuk mendapat Harta Warisan milik Keluarga kita terutama Perusahaan ini, jelas Pamanmu Thomas membawa dia pulang dengan maksud itu, dan lihat sekarang, dia sudah menjadi CEO dan di percaya oleh Kakekmu, dia pasti sudah menjilat dan merayu Kakekmu dengan itu, benar-benar penipu,"


"Aku pikir dia tidak seperti itu, aku rasa Kakek percaya padanya karena memang dia memiliki kemampuan yang cukup,"


Ayah Raka itu lalu tertawa,


"Kemampuan yang cukup? Itu benar, Raka jika saja kamu ini lebih becus dan bisa di andalkan, Keluarga kita ini tidak mungkin berada dalam krisis ini! Ini semua gara-gara kamu yang begitu bodoh, tidak bisa belajar bisnis dengan baik, dan hanya selalu membuat masalah dari saat kamu sekolah tidak pernah menunjukkan Prestasi apapun! Itulah kenapa Kakekmu menjadi begitu kecewa padamu yang tidak berguna itu! Coba kamu menjadi lebih baik, menjadi Tuan Muda Keluarga Anderson yang layak, para penjilat itu pasti tidak akan berada di atas angin dan berkuasa seperti itu!! Ini semua salahmu karena kamu tidak memiliki kemampuan!!"


Sekali lagi, Raka mendapatkan tamparan dari Ayahnya itu.


"Ayah selau saja seperti itu, sangat menyebalkan!"


"Kamu ini! Di dulu selalu sudah di nasehati! Ayah sudah lama bilang padamu agar selalu belajar dengan baik, dan mengikuti semua kemauan Kakekmu, agar kamu bisa menjadi calon pewaris yang Syah dan Layak di Keluarga Anderson, namun apa? Kamu hanya selalu bermain-main, tidak pernah mencerminkan sedikitpun jika kamu Cucu Dari Keluarga Anderson, dan sekarang posisimu yang harusnya menjadi CEO itu diambil oleh anak baru itu! Ini semua benar-benar karena kamu tidak bisa menjadi bodoh,"


"Ayah cukup!! Aku sudah muak dengan semua hal-hal ini!! Kenapa tidak Ayah saja yang mengejar hal-hal itu! Aku benar-benar tidak mau terlibat!"


"Raka! Kamu ini! Ini semua juga demi kamu sendiri, kita harus mendapatkan Perusahaan Anderson ini bagaimanapun caranya! Keluarga kita harus menjadi penguasa di Perusahaan Anderson ini. Kalau tidak, kita benar-benar tidak akan memiliki apa-apa!"


"Tidak, siapa yang demi aku? Itu hanya demi keinginan egois Ayah saja!"


"Raka jangan mulutmu! Kamu adalah Putraku, kamu itu harus menurut apa kataku! Jadilah patuh dan turuti ucapan Ayahmu ini!"


Sejak kecil, Ayahnya maupun Ibunya memang selalu seperti ini.


Selalu memaksa dirinya untuk melakukan apa yang mereka mau.


Bahkan sejak kecil, sudah membuat dirinya terpaksa mengikuti berbagai pelatihan dan les tambahan di berbagai bidang setiap hari, mencoba membesarkannya sebagai pewaris yang sempura.


Dirinya dulu juga mengikati apa kemauan orang tuanya ini.


Namun kedua orang tuanya tidak pernah puas dengan pencapaian dirinya.


Selalu menghadapkan dirinya untuk selalu menjadi nomor satu.


'Kenapa hanya peringkat tiga di kelas Hah? Kamu ini harusnya bisa peringkat pertama! Kamu pasti menjadi malas dan tidak bekerja dengan keras! Aku akan menambah jam belajarmu!'


Itu adalah salah satu kata-kata Ibunya yang sering dirinya dengar.


'Setelah semua usaha yang Ayah berikan padamu, kamu hanya peringkat dua? Kamu itu calon Pewaris Keluarga Anderson! Kamu harus sempurna dan selalu menjadi peringkat satu, jangan pernah mengecewakan Kakekmu! Jadilah seorang Pewaris yang membanggakan dan berprestasi,'


Memang, Ayahnya tidak pernah peduli dengan hasil kerja kerasnya.


Hanya peduli, hanya peduli tentang pandangan orang, dan reputasi.


Padahal dirinya sudah selalu mencoba menuruti kemauan dan ekpetasi mereka sebelumya, selalu mencoba belajar lebih baik sesuai yang mereka mau.


Namun, mereka tidak pernah puas.

__ADS_1


Hanya sampai ketika dirinya kelas tiga SMP, menjelang kelulusan, dirinya merasa sangat muak dengan semua nya.


Dan mulai berhenti untuk belajar.


Apakah dirinya peringkat terakhir atau peringkat dua, pada akhirnya dirinya akan selalu di salahkan, karena tidak menjadi nomor satu.


Jadi apa gunanya lagi?


Calon Pewaris apa?


Dirinya sudah tidak peduli.


Dirinya bukan boneka yang bisa mereka setir seperti itu.


Raka merasa lelah mendegar kan kata-kata Ayahnya itu.


"Aku tidak peduli!"


Lalu langsung pergi dari sana tanpa menunggu Ayahnya mulai memarahinya lagi.


Memang, selalu seperti ini apapun yang dirinya lakukan.


Memikirkan kembali hidupnya, membuat Raka merasa begitu Frustasi...


Ya...


Kenapa semua orang hanya memandang dirinya sebagai Calon Pewaris Keluarga Anderson?


Memiliki banyak ekpektasi yang besar padanya hanya karena dirinya menyandang nama Anderson.


Siapa yang mau....


Dirinya hanya ingin menjadi Raka...


Hanya Raka...


Hidup sesuai keinginannya....


Raka yang begitu kesal itu, langsung menuju ke Atap.


Mencoba meluapkan semua emosinya, berteriak dengan keras disana tanpa seorangpun tahu.


"Siapa yang peduli soal menjadi Keluarga Anderson!!! Akhhh...."


Raka benar-benar berteriak dengan puas disana, sampai tiba-tiba dirinya mendegar suara pot jatuh dibelakang.


Itu adalah wajah yang familiar.


Tatapan mereka lalu bertemu.


"Alissya...."


Ekpersi Alissya jelas menunjukan sedikit keterkejutannya, namun segera memasang kembali ekpersi. normal miliknya.


"Sepertinya tidak banyak perubahan sejak pertama kali kita bertemu...."


Memang, Raka sendiri juga menjadi malu melihat Alissya lagi-lagi melihat dirinya terlihat memalukan seperti ini.

__ADS_1


Sama seperti pertama kali mereka bertemu dulu di SMA...


__ADS_2