
Hari sudah menjelang malam ketika Emelin tiba di bandara J, kota tempat dirinya tinggal.
Melihat kearah jam tangannya, sudah menunjukkan pukul enam malam.
Begitu Emelin turun dari Pesawat, dirinya segera melihat kearah ponselnya, yang akhirnya menyala.
Sebelum dirinya naik pesawat barusan, dirinya sudah mengabari dan mengirimkan pesan singkat pada Antony bahwa dirinya akan pulang.
Awalnya dirinya berniat pulang naik taksi saja, namun siapa yang tahu, melihat pesan teks singkat di ponselnya, Emelin terkejut.
'Aku akan menjemputmu, beritahu aku jika kamu sudah turun dari bandara.'
Itu adalah kata-kata singkat, namun membuat hati Emelin berbunga-bunga.
Dirinya kira jam segini Antony akan sibuk, namun melihat Antony mau mengambil inisiatif ditengah kesibukannya itu untuk menjemputnya, membuat Emelin sangat senang.
Sekarang menangapi pesan itu, Emelin sedikit binggung harus membalas seperti apa.
Apakah mengirimkan pesan?
Ataukah langsung menelepon?
Tanpa memikirkan lebih lanjut, Emelin lalu langsung menekan tombol panggilan.
Untuk sesaat, bunyi telepon yang belum diangkat terdengar.
Itu hanya sebentar sebelum, suara maskulin yang memenangkan hati muncul dari balik telepon.
'Kamu sudah sampai?'
Suara mengnetis itu membuat Emelin berbedebar.
Sudah lama juga dirinya tidak menelepon orang ini, terlalu malu untuk meneleponnya.
"Ya, aku sudah sampai. Aku baru saja turun dari pesawat."
'Baik. Saat ini aku masih dalam perjalanan, disini cukup macet aku tidak mengiranya.'
"Ini akhir pekan, jadi wajar bukan?"
'Ya, kamu benar. Aku sedikit kurang perhitungan. Baik, tunggu aku didekat pintu Keluar Bandara, aku akan segera tiba disana,'
"Tentu saja, nanti kamu bisa mengabariku lagi,"
__ADS_1
'Hmm, tunggu aku. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu denganmu,'
Kata-kata singkat, namun penuh dengan ketidak sabaran sekali lagi membuat Emelin terkejut, namun bahkan sebelum dia sempat bereaksi, Antony sudah mematikan teleponnya.
Emelin menatap teleponnya dengan ekpersi heran.
"Pria ini... Aku tidak pernah mengerti jalan pikirannya." Gumanya sendiri.
Namun sebuah senyuman muncul diwajah cantik itu, sejujurnya dirinya juga menantikan untuk bertemu dengan Antony lagi secara langsung.
Dalam keadaan gembira, Emelin awalnya berniat langsung pergi ke gerbang depan, lagipula dirinya tidak membawa koper, hanya tas kecil ini.
Terlalu merepotkan membawa koper, toh nanti hanya akan segera kembali kesana lagi.
Melirik kearah ponselnya, Emelin melihat make up-nya berantakan akibat perjalanan jauh.
'Ini.... Aku tidak bisa bertemu dengan Antony dalam keadaan berantakan seperti ini bukan? Ah, harus kekamar mandi....'
Memang, untuk bertemu seseorang yang dirindukannya itu, Emelin tentu saja ingin menunjukkan penampilan terbaiknya pada orang itu.
Dengan itu, Emelin memutuskan untuk pergi kearah kamar mandi bandara.
Kebetulan, lorong menuju kamar mandi saat ini cukup sepi, hanya ada Emelin disana, sampai didekat kamar mandi, dirinya bertemu dengan sosok yang familiar tengah keluar dari arah kamar mandi.
Sepasang Ibu dan Anak tertentu.
Mood Emelin yang awalnya baik itu, tiba-tiba menjadi buruk melihat dua orang itu, itu adalah Ibu Tirinya, Cornelia dan Saudaranya Claudia.
Mata-mata itu saling bertemu, ekpersi Emelin jelas menunjukan rasa permusuhan yang jelas.
"Cih, harus bertemu para wanita murahan ditempat seperti ini," kata Emelin dengan suara cukup keras.
Mendengar hal itu, Claudia menjadi marah, lalu menghampiri Emelin dengan penuh emosi.
"Siapa yang kamu panggil wanita murahan Hah?" katanya hendak menampar Emelin, namun Emelin menepis tangan itu.
"Heh? Siapa lagi kalau bukan Ibumu? Dia wanita murahan, sangat jelas fakta ini," kata Emelin dengan ekpersi dingin sambil menunjuk kearah Ibu Tirinya itu.
Merasa tangannya sakit digenggam Emelin, Claudia menarik kembali tangannya itu.
"Kamu!! Kamu berani tidak sopan pada Mama ku!!"
"Kenapa pula aku harus sopan pada wanita murahan seperti dirinya?"
__ADS_1
Cornelia yang juga melihat adegan itu juga menjadi marah karena kata-kata Emelin, lalu berkata dengan marah,
"Jaga bicaramu itu!! Siapa yang kamu panggil wanita murahan?"
Emelin mengalihkan tatapannya dari Claudia, dan menatap Cornelia Ibu Tirinya, yang juga sekaligus Selingkuhan Ayahnya.
Bertemu dengan pembohong ini, membuat Emelin benar-benar tidak bisa menahan amarahnya.
"Astaga... Astaga.... Nyonya Cornelia, setelah menggoda Ayahku dan berselingkuh dengannya di belakang Ibuku selama bertahun-tahun hingga memiki anak sebesar Claudia ini, Anda masih memiliki wajah untuk melihatku, bahkan dulu begitu berani menyuruhku memanggilmu 'Ibu'? Astaga, astaga.... Benar-benar wanita tidak tahu diri! Aku tidak mengira di dunia ini ada wanita setidak tahu diri seperti Nyoya Cornelia, melihat wajah murahan itu benar-benar membuat aku ingin muntah, sifatmu begitu menjijikkan," kata Emelin sambil menunjukkan ekpersi jijiknya itu, dan berpura-pura muntah.
Cornelia terdiam, sesaat dan rasa kesal muncul diwajahnya.
Dia berpikir, apakah Emelin akhirnya sudah tahu segalanya?
Soal hubungannya dengan Ayah anak itu, dan soal Identitas Asli Caludia?
Namun sekarang tidak perlu lagi ada yang ditutup-tutupi, karena toh sudah tidak ada gunanya karena Emelin itu sudah di usir dari Keluarga Smith.
"Kamu berani berkata bergitu!! Bukan aku yang wanita murahan! Tapi Ibu kandungmu yang wanita murahan!!! Apakah kamu tidak tahu seberapa buruk kelakukan Ibu kandungmu itu Hah??"
"Kamu!! Dasar Tidak Tahu diri!! Kamu berani mengatakan hal tercela soal Ibuku setelah semua kelakukan busukmu bersama Ayahku selama bertahun-tahun?"
"Hahaha.... Memang kenapa? Ibu kandung mu itu memang wanita jahat murahan!! Dialah yang awalnya menggagu hubungan antara aku dan ayahmu, Alvan! Dia yang awalnya merusak hubungan kami! Dia adalah wanita jahat yah memaksan kehendaknya untuk menikah dengan Kekasihku Alvan saat itu!"
"Jangan bicara omong kosong soap Ibuku!" Emelin begitu marah, lalu menampar Ibu Tirinya itu,
Melihat Ibunya ditampar, Claudia juga menjadi tambah marah lalu mendorong Emelin.
Sedangkan Cornelia sendiri malah tertawa sambil memengangi wajahnya yang sedikit memerah karena tamparan Emelin itu.
"Ahahahaha.... Aku bisa melihatnya sekarang, kamu memang sama kurang ajar dan tidak tahu dirinya seperti Ibu kandung mu!! Kamu benar-benar tidak tahu apapun bukan? Tentang kelakuan Ibumu itu!"
Emelin yang didorong kebelakang itu untungnya tidak jatuh, dia masih emosi dan membalas perkataan Ibu Tirinya itu.
"Wanita kotor seperti mu berani berkata hal-hal buruk soal Ibuku? Benar-benar Wanita Murahan Tidak Tahu Diri!!!"
Claudia yang tambah emosi lalu berkata dengan marah,
"Emelin! Jaga bicaramu!! Kamu itu yang murahan dan tidak tahu diri!"
Emelin mengalihkan tatapannya pada Claudia, lalu berkata dengan sinis,
"Owh, lihat ini? Bukankah ini Claudia yang merebut laki-laki sampah yang sudah aku buang itu? Ah bahkan kamu mengoda Daniel itu bukan awalnya? Aku cukup penasaran awalnya apa yang kamu lakukan padanya, apakah kamu juga mulai merangkak ke tempat tidur nya seperti Ibumu mengoda Ayahku? Owh, sungguh kelakuan Ibu dan Putrinya benar-benar tidak berbeda, dan juga kamu layak sekali dengan laki-laki sampah sepertinya, Sepasang Wanita Murahan dan Laki-laki Brengsek bersama, owh astaga benar-benar Pasangan yang di buat oleh Surga seperti kata-kata orang-orang Astaga... Astaga..."
__ADS_1
"Tutup mulutmu itu, Emelin!! Aku tahu!! Kamu mengatakan itu karena kamu cemburu bukan? Karena aku berhasil bersama Daniel? Kamu pasti begitu marah dan Iri padaku melihat pernikahan kami!" kata Claudia dengan penuh percaya diri.