
Tentu saja berita soal hal yang menimpa Emelin itu langsung sampai pada Antony yang berada di Kantor itu.
Jelas kalau Antony menjadi panik sendiri.
"Apa kamu bilang? Hampir terjadi sebuah Kecelakaan pada Istriku? Bagaimana ini bisa terjadi?"
Bawahan Antony itu menjelaskan awal mula kejadian ini.
Dan tentu saja, Antony menjadi begitu panik dan marah mendengar itu, mengigat ada yang berusaha untuk mencelakakan Emelin.
"Lalu bagaimana dengan keadaan Istriku?"
'Saat ini dia sedang berada di Rumah Sakit,'
Mendengar hal ini, jantung Antony hampir copot sakit kaget nya...
Apa Emelin di Rumah Sakit?
"Apa? Di Rumah Sakit mana? Bagaimana keadaannya?"
'Pak Presdir tidak usah khawatir, tadi Tuan Thomas, Ayah Pak Presdir kebetulan datang di waktu yang tepat untuk menolong Nyonya Emelin, dan untungnya Nyonya Emelin baik-baik saja, hanya mereka ke Rumah Sakit untuk memastikan apakah benar-benar keadaan Nyonya Emelin baik-baik saja atau tidak,'
Dengan itu, Antony sedikit merasa lega mendengar Istrinya baik-baik saja itu.
Namun dirinya cukup terkejut, Ayahnya ada disana?
Dia yang telah menolong Istirnya Emelin.
Ya, sekali lagi, dirinya berhutang budi padanya, kalau tidak berkat Ayahnya, dirinya juga tidak tahu apa yang terjadi pada Emelin.
Namun...
Menjadi Anggota Keluarga Anderson dan di paksa terlibat dengan semual masalah milik Keluarga Anderson ini juga masih membuat dirinya merasa tidak nyaman, ini awalnya dirinya menyalahkan Ayahnya karena memaksa dirinya masuk ke Keluarga ini.
Namun setelah dipikir-pikir lagi, mungkin Ayahnya tidak sejahat itu, dia mungkin memang punya alasan tersendiri untuk itu.
Ya, lebih baik dirinya memang segera mengucapkan Terimakasih pada Ayahnya itu.
Walaupun perasaannya masih rumit soal Ayahnya, namun setelah melihat Buku Harian Ibunya dirinya juga masih sedikit binggung menangapi hal ini.
Ya, apakah mungkin karena dirinya masih tidak bisa menerima fakta bahwa keberadaannya merupakan suatu bentuk kesalahan?
Namun, Ibunya selalu sangat menyayangi dirinya, dan memberikan kasih sayang yang cukup, membuat dirinya merasa di hargai sebagai seorang anak, tidak pernah mengagap dirinya sebagai suatu kesalahan.
Namun bagaimana dengan Ayahnya?
Memang, lebih baik untuk mencoba membicarakan ini baik-baik?
Mari dengarkan apa alasan yang dimiliki oleh Ayahnya itu.
Selama ini dirinya juga cukup sibuk, hingga belum memiki waktu yang tepat untuk berbicara dengan Ayahnya.
Setelah memikirkan rencananya ini, ada sedikit rasa lega dalam hatinya.
####
__ADS_1
Emelin saat ini sedang di Ruang Periksa Rumah Sakit, sedang menjalani beberapa pemeriksaan sederhana.
Doktor yang memeriksa Emelin itu lalu berkata,
"Tidak ada masalah dengan kandungan Ibu Emelin, semua baik-baik saja, dan kondisi kandungan Ibu Emelin sehat, janin tumbuh dengan normal,"
Emelin yang mendengar itu tentu saja menjadi lega.
"Syukurlah kalau begitu,"
"Ya, ini baik-baik saja, jadi saya hanya akan meresepkan beberapa vitamin. Untuk yang lainnya apakah Ibu Emelin memiliki keluhan?"
"Sebenarnya, saya merasa mual dan muntah cukup buruk di pagi ini, ini benar-benar lebih buruk dari Kehamilan saya sebelumnya, ukhh ini membuat saya cukup sudah memakan apapun, juga saya merasa lebih cepat lelah dari biasanya, padahal dalam kehamilan Putra Pertama Saya, tidak sampai separah ini, ini membuat saya sudah untuk makan,"
Dokter itu mengaguk sambil mencatat hasil dianogsanya.
"Jadi begitu, baik. Saya memiliki beberapa teori soal kemungkinan baru, jadi apakah Ibu Emelin mau melakukan USG?"
"Eh? Apakah terjadi sesuatu dengan kehamilan saya? Apakah ini sebuah kelainan?"
Memang, Emelin belum melakukan USG lagi, sejak memeriksakan lagi kandungannya dulu. Hanya beberapa pemeriksaan rutin biasa saja ke dokter.
Ini sudah bulan kedua, harusnya tidak apa untuk USG lagi?
Dirinya juga menjadi khawatir soal Kehamilannya ini.
"Tenang, Ibu Emelin ini baik-baik saja,"
Emelinpun segera mengikuti prosedur dari dokter dan melakukan USG.
Melihat layar dimana ada gambar janin dalam perutnya, membuat Emelin berdebar.
"Ya, ini kabar yang sangat baik,"
Emelin juga menjadi sangat terkejut dengan hasilnya.
Ukhh...
Dirinya harus mengatakan ini segera pada Antony!
Kabar baik ini!
Di tempat lainnya, selama Emelin melakukan Pemeriksaan, Thomas Anderson jelas menunggu di depan Ruang Periksa dengan cemas.
Ya, ini masih calon cucunya dan menantunya, apakah mereka benar-benar tidak apa-apa?
Dirinya hanya bisa berharap mereka baik-baik saja.
Ketika Thomas masih dalam keadaan cemas itu, Antony lalu datang dan menyapanya.
"Ayah."
Thomas menatap kebelakang, menatap Antony.
Tatapan mereka bertemu.
__ADS_1
Sepintas, dari arah tatapan mereka terlihat keraguan, kegugupan, dan kebingungan didalamnya.
Seolah binggung bagaimana harus bertindak satu sama lainnya.
"Antony kamu akhirnya datang,"
Antony lalu mencoba menormalkan ekpersinya, dan bertanya,
"Bagaimana dengan Emelin?"
"Tadi dia baik-baik saja, hanya sekarang sedang melakukan pemeriksaan didalam, belum keluar sekarang,"
"Jadi begitu, aku merasa cukup lega. Aku juga sudah mendengar soal apa yang terjadi," kata Antony yang cukup tenang.
"Ya, aku juga tidak mengira ada kejadian seperti ini yang menimpa Istrimu,"
Antony masih memiliki keraguan untuk mengatakan sesuatu pada Ayahnya itu, namun pada akhirnya dia lalu bertekad,
"Ayah... Terimakasih telah menyelamatkan Istirku,"
Thomas sedikit terteguh mendegar ucapan terimakasih dari Putranya itu.
"Ini tidak apa-apa, dia adalah Menantuku pula,"
Lalu kemudian Antony mulai berkata lagi,
"Aku sebenarnya sudah tahu apa yang terjadi dulu pada, Ayah dan Mamaku,"
"Maksudmu?"
"Aku melihat Buku Harian, Mamaku. Disana ditulis, kalau itu bukan karena Ayah tidak bertanggung jawab, tapi karena Ayah tidak tahu kehamilan Mamaku,"
Thomas terdiam sebentar,
"Tidak. Ini benar-benar salahku, akulah yang berbuat namun pada akhirnya aku pergi begitu saja... Hanya saja... Saat itu perasaanku begitu rumit, setelah Pernikahan Olivia, aku memang sudah menyiapkan tiket pergi Ke Luar Negeri... Dan soal Mamamu..."
Antony lalu menghela nafas, lalu berkata,
"Ini sudah berlalu,"
"Ya, kamu benar, tapi aku tetap merasa bersalah, melihat kamu tumbuh tanpa seorang Ayah... Itu pasti berat,"
"Aku memiliki Mama, tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang, namun.... Beberapa hal terjadi, hingga Mama pergi untuk selamanya,"
Ekpersi Thomas juga menjadi buruk setelah mendengar itu.
"Padahal Mamamu adalah orang yang sangat baik. Kami dulu sempat berteman baik... Dia adalah wanita yang hebat dan mandiri... Hanya saja...."
Antony juga memiliki ekpersi cukup rumit soal ini, lalu segera berkata,
"Ya, aku juga sudah dengar soal itu di Buku Harian.... Cinta tidak pernah bisa di paksa, Mamaku juga mengerti itu,"
"Jadi begitu, dia tahu Perasaanku pada Olivia, itulah kenapa dia bahkan tidak bilang jika dia hamil atau mencoba menghubungiku,"
Antony lalu teringat suatu detail penting lainnya,
__ADS_1
"Tidak, tidak seperti itu."
"Maksudmu?" tanya Thomas dengan ekpersi binggung.