Suami Bayaranku Yang Dingin

Suami Bayaranku Yang Dingin
Season 2 Episode 15: Permintaan (Part 2)


__ADS_3

Mendengar kata-kata dari telepon itu, tentu saja Antony masih mempertimbangkannya, lalu mulai bertanya lagi,


"Apakah dengan itu kalian akan memberikan Buku Hariannya?"


'Tentu saja tidak, itu hanya untuk barang-barang peninggalan Almarhum Ibumu yang lain, disini ada sebuah kotak dengan buku harian dan beberapa hal lain, juga ada beberapa surat, jika semuanya tentunya ini tidak hanya itu saja,'


Antony berpikir, Paman dan Bibinya ini benar-benar sangat licik.


Mereka tahu, dirinya mengiginkan hal-hal itu.


Namun jika di turuti, mereka akan lebih menjadi-jadi.


Tenang-tenang, sekarang berpura-pura saja patuh, dan dirinya akan mencoba mencari cara untuk mendapatkan barang-barang itu.


Banyak cara yang bisa dilakukan untuk mendapatkannya, yang jelas dirinya harus mendapatkan petunjuk dulu dimana mereka menyimpan barang-barang itu dulu.


"Apakah itu benar-benar barang-barang milik ibuku?"


'Tunggu sebentar, aku akan mengirimkan kotak tempat semua itu di simpan,'


Tidak lama, Antony melihat foto berikutnya, itu juga kotak yang cukup familiar.


Dulu saat dirinya kecil, sepertinya Ibunya memang memiliki kotak semacam itu.


Dirinya tidak pernah meminta isinya saat itu, dan ketika Ibunya meninggal dirinya tidak sempat melihat barang-barang milik peninggalan Ibunya kerena segera setelahnya dirinya segera di usir dari rumah kontrakan tempat dirinya tinggal sebelumnya, dan Paman dan Bibinya yang mengurus hal-hal itu.


Soal biaya pemakaman lah dan lainnya, dirinya tidak mengerti saat itu dan begitulah semua barang-barang di Rumah Kontraknya juga di bawa Paman dan Bibinya untuk di jual.


Walaupun Kakeknya mencegah mereka, sepertinya Kakeknya yang cukup tua tidak berdaya dengan mereka berdua.


Mengigat kembali semua ini membuat perasaan Antony menjadi penuh dengan kemarahan.


Semua kenangan-kenangan dan peninggalan dari Almarhum Ibunya di rampas oleh mereka, dan sekarang dua orang itu masih berani menuntut padanya dengan begitu tidak tahu malu, dengan membuat barang-barang peninggalan Almarhum Ibunya menjadi alat tawar menawar?


Antony mencoba menahan amarahnya, ketika itu dan kembali berbicara di telepon.


"Ya, itu memang peninggalan Almarhum Ibuku,"


'Aku tidak pernah berbohong soal ini, jadi, apakah kamu akan membiarkan Putraku bekerja di Kantor Perusahaan Keluargamu? Berikan posisi yang bagus untuknya, lalu aku akan memberikan barang-barang peninggalan Almarhum Ibumu,'


Antony mencoba menenangkan emosinya, lalu mulai memikirkan beberapa Alasan.


"Maaf, Paman saya rasa keinginan itu cukup berlebihan, kalau tidak salah bukankah Kakak Sepupu Drop Out dari Kampusnya? Tanpa Ijazah setidaknya S1 sangat sulit memasukan dia ke Perusahaan,"


'Kamu kan CEOnya!! Bagaimana kamu tidak bisa mengatur hal-hal sederhana seperti ini?'


"Bahkan walaupun aku CEOnya, hal-hal merupakan dasar-dasar peraturan Perusahaan ini benar-benar tidak bisa aku ganggu gugat,"


'Kamu ini hanya memasukan Kakakmu kesana apa susahnya? Aku tidak mau tahu pokoknya dia harus bekerja di sana dengan posisi bagus?'


Antony berpikir sebentar, lalu sekali lagi memikirkan alasan yang bagus,

__ADS_1


"Tapi Paman, dengan tingkat pendidikan yang dia miliki, emm sebenanya mungkin memang ada posisi yang cocok untuknya,"


'Ya, ya apa itu? Segera katakan saja,'


"Dia mungkin akan cocok bekerja di Kantor sebagai OB, posisi itu sangat cocok, kalau dia mau dengan posisi itu, aku benar-benar akan mudah untuk memasukannya, itu benar-benar tidak membutuhkan Kualifikasi Pendidikan yang tinggi,"


Mendengar kata-kata santai Antony itu membuat Paman Antony menjadi begitu marah.


'Kamu!! Kamu beraninya memilihkan posisi rendahan itu pada Putraku? Sungguh kurang ajar kamu Antony!! Kamu benar-benar tidak ingin barang-barang peninggalan Almarhum Ibumu ini?'


"Bukan begitu, Paman. Namun itu benar-benar sulit mendapatkan posisi yang cocok untuk Putra Paman, atau... Sepertinya Perusahaan juga membutuhkan beberapa Supir, ini juga memiliki gaji yang cukup bagus dan pekerjaan yang mudah, Perusahaan Anderson adalah Perusahaan Besar, semua karyawan mendapatkan gaji yang layak,"


Di ujung telepon Paman Antony lalu terdiam sebentar.


'Tunggu sebentar, aku akan memikirkannya,'


Saat ini Paman Antony tengah berpikir, memang Putranya itu sulit di atur, dan saat ini mengagur, membuat perekonomian Keluarga mereka menjadi sulit, dia Kuliah begitu lama dan menelan biaya yang tidak sedikit namun berujung dengan Drop Out.


Benar-benar memalukan untuk memikirkannya.


Namun posisi pekerjaan ini...


"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Bibi Antony pada Suaminya yang terdiam setelah menelpon Antony itu.


"Antony hanya bisa memberikan posisi Supir Kantor untuk Putra kita,"


Istirnya itu jelas marah mendengar hal itu.


"Apa kamu bilang? Dia hanya akan menjadikan Putraku sebagai Supir?! Dia benar-benar tidak tau diri!! Memberikan posisi yang begitu rendah seperti itu,"


"Tidak, dengan sikap Putra kita, dia akan marah kalau sampai dia mendapatkan posisi Sopir di Perusahaan Keluarga Antony itu. Pokoknya biarkan Putra kita mendapatkan posisi yang bagus, manajer atau sesuatu, yang berkelas dan posisi yang tinggi,"


"Tapi Antony bilang, Kualifikasi Pendidikannya kurang, jika kita memaksa, mungkin nanti malah Putra kita menjadi bahan gosip dan di lecehkan di Perusahaan karena kualifikasinya kurang, kamu tahu sendiri Putra kita seperti apa?"


"Cih, Antony itu mungkin hanya ingin membuat alasan agar tidak memasukan Putra kita ke Perusahaan Keluarganya itu. Benar-benar Keponakan tidak tahu diri,"


"Kamu benar. Namun alasan yang dia buat cukup masuk akal. Coba saja Putra kita ini setidaknya menyelesaikan Kuliahnya... Hah...."


Bibi Antony lalu terdiam,


"Apakah masalahnya adalah Kualifikasi Pendidikannya?"


"Itu benar,"


"Kalau begitu kenapa tidak membuat Putri kita saja untuk bekerja disana? Dia sudah menyelesaikan gelar Sarjananya,"


"Tapi bukankah Putri kita sudah mendapatkan pekerjaan yang stabil?"


"Stabil dari mana? Dia hanya bekerja di Perusahaan kecil dengan gaji yang tidak seberapa. Sungguh, uang yang dia berikan untuk kebutuhan hidup sehari-hari kita masih kurang,"


"Hmm, kamu benar juga,"

__ADS_1


Kemudian setelah beberapa saat berpikir, Paman Antony itu segera kembali meneruskan sambungan teleponnya.


Antony di ujung saja sudah tidak sabar, Paman dan Bibinya ini benar-benar membuang-buang waktunya.


Tentu saja, dirinya tidak sudi memberikan pekerjaan pada Kakak Sepupunya yang menyebalkan itu yang dari kecil selalu membuat masalah dengan dirinya.


'Aku sudah memikirkannya, Antjny,'


"Jadi apa Keputusan Paman?"


'Bagaimana dengan Putriku? Berikan dia posisi yang bagus di Perusahaanmu, bagaimanapun juga Putriku memiliki Prestasi yang bagus dan Lulusan Terbaik di Universitasnya, dengan kualifikasi ini bukanlah dia bisa masuk kesana?'


"Bukankah dia sudah memiliki pekerjaan?"


'Aku bisa menyuruhnya keluar. Kali ini kamu tidak bisa membuat alasan lagi, beri dia posisi yang bagus di Perusahaanmu,'


Antony memikirkannya lagi, ini soal adik sepupunya yang lebih muda.


Sebenarnya mereka memiliki hubungan yang cukup baik.


Selain Kakeknya, setidaknya adik perempuannya itu kadang-kadang akan berbuat baik padanya, walaupun dia tidak pernah benar-benar menunjukkannya.


Dia adalah gadis yang baik, namun sayang selalu mendapatkan posisi sulit. Dia juga tipe yang mandiri dari awal dan bukan tipe yang mau di bantu.


Dia pasti kesulitan, dengan hidupnya yang sekarang menjadi tulang punggung Keluarganya, mengigat sepertinya Pamannya baru saja Pensiun dari Pekerjaannya.


Tapi dia adalah tipe yang keras kepala dan sudah di bujuk.


Apakah Paman dan Bibinya bisa membujuknya, itu tergantung situasi juga.


Namun sebenarnya jika membantu adik sepupunya ini, ini sebenarnya bukan masalah besar.


"Baik, aku akan mengaturnya, jika dia sudah siap segera hubungi aku, nanti berikutnya dia sudah bisa pergi ke Perusahaan. Atau suruh dia menghubungiku,"


'Tentu saja, tentu saja. Aku akan melakukannya,'


"Dan jangan lupa, urus soal barang yang kalian maksud itu, kirim ke Rumahku nanti kalau aku sudah pulang,"


'Ya, itu tidak masalah sama sekali,'


Antony lalu tersenyum dan menutup teleponnya.


Antony mulai memikirkannya, mungkin dirinya bisa meminta bantuan adik sepupunya itu?


Setidaknya untuk mencari tahu lokasi dimana barang-barang Ibunya itu di simpan.


Nanti dirinya akan menyuruh anak buahnya mengambil barang itu diam-diam.


Namun jika dirinya memaksa dan mengambil itu dengan gegabah, takut akan memberikan banyak perkara yang tidak perlu.


Jadi, berpura-pura dulu mengikuti permainan mereka.

__ADS_1


Hah.


Lihat saja, dirinya tidak akan membiarkan Paman dan Bibinya ini berbuat seenaknya sendiri.


__ADS_2