
Ketika Emelin bangun dari tidurnya, suasana hatinya masih cukup buruk.
Dia masih teringat tentang kenyataan yang baru saja dirinya ketahui.
Yang paling membuatnya begitu sedih adalah bagaimana Antony suaminya berbohong padanya.
"Mama, selamat pagi,"
Mendengar suara kecil yang familiar, Emelin lalu mengelus anak itu, dan mencium keningnya.
"Selamat pagi Alex,"
Alex menatap wajah Mamanya yang terlihat tidak begitu bahagia.
"Mama kenapa? Kenapa Mama terlihat sedih?"
Emelin mencoba memperbaiki ekpersinya, lalu berkata pada Alex,
"Mama sedih karena Mama akan segera pergi Ke Luar Kota, bukankah nanti Mama setidaknya tidak akan melihat Alex untuk sementara?"
"Itu benar. Alex juga sangat sedih, Alex ingin selalu bersama Mama,"
"Mama juga ingin mengajakmu kalau bisa, sayang,"
"Ummm, memang tidak bisa kalau Alex ikut? Alex ingin ikut Mama,"
"Pfffff.... Kamu begitu lengket sekarang, tapi kamu harus sekolah jadi kamu tidak bisa ikut Mama,"
"Sayang sekali,"
Lalu dua orang itu turun dari tempat tidur, seorang pengasuh datang ke kamar berniat membangun Alex mandi.
"Kamu pergi saja, biar aku saja yang membangun Alex mandi,"
"Baik Nyonya,"
Alex terlihat begitu senang sekarang.
"Mama memandikan Alex?"
"Ya ya, sudah lama Alex tidak Mama mandikan bukan?"
"Emm, Alex sudah besar, tidak perlu Mama mandikan,"
"Kamu masih kecil, bagaimana kamu sudah besar hmm?"
Disini lalu Emelin mengendong Alex.
Memang, merasakan Alex dalam gendongannya, Alex cukup berat.
Alex sudah besar sekarang bukan?
Disaat-saat seperti ini, Emelin kembali memikirkan soal hidupnya.
Mulai memikirkan lagi, kapan terakhir kali dirinya mengendong Alex ketika Alex lebih kecil?
Memang, dulu sangat jarang untuknya mengendong Alex bahkan ketika anak ini masih bayi.
Enam tahun berlalu begitu saja.
"Apakah Alex berat?"
"Tidak sama sekali, Alex begitu ringan seperti kapas, apakah kamu hanya makan sedikit?"
"Makan sedikit apa? Alex selalu makan banyak, agar Alex cepat besar, jadi Alex bisa melindungi Mama,"
"Melindungi Mama bagaimana? Mamamu tidak perlu dilindungi,"
"Tapi ada orang-orang jahat seperti Tante Claudia atau Kakek yang jahat pada Mama, Alex benar-benar tidak suka mereka!"
"Baik-baik, Pangeran kecilku, pahlawan kecilku, cepatlah besar, dan lindungi Mamamu dari orang-orang jahat! Sekarang kamu mandi dulu,"
"Hpmh, baiklah."
Pagi itu, Emelin membantu Alex mandi, dan mendadaninya untuk pergi ke Sekolah, menyuruh Alex ke meja makan duluan. Lalu Emelin Mandi, juga sedikit berdandan untuk mengantarkan Alex ke Sekolahnya.
Ketika Emelin sampai dimeja makan, terlihat Ayah dan Anak itu saling mengobrol dengan riang.
Emelin tersemyum kearah mereka namun tidak berkata apa-apa.
Suasana sarapan masih seperti dimalam hari, ada keheningan canggung.
Emelin masih tidak memiliki mood yang baik untuk berbicara pada Antony.
Jadi begitu sarapan selesai, Emelin lalu berniat pergi mengantarkan Alex.
"Aku pergi dulu,"
"Baiklah." Kata Antony lagi.
__ADS_1
Memperhatikan Emelin pergi, Antony merasa ada sesuatu yang salah.
Sepertinya dia dalam keadaan mood yang buruk?
Emelin terlihat sedikit bertingkah aneh.
Dia tidak lagi membuat sarapan dan bekal makan siang?
Apakah terjadi sesuatu lagi pada Emelin?
Atau ini hanya perasaannya saja.
Mungkin memang karena Emelin sedang sibuk-sibuknya, jadi banyak hal yang harus dia urus apalagi dengan jatwal yang diajukan.
Harusnya awalnya dirinya tidak perlu terburu-buru dan menyetujui pengajuan jatwal syuting ini.
Apakah keputusanya salah?
'Nanti malam mungkin aku akan coba bertanya apa yang salah pada Emelin,' pikir Antony saat ini.
Namun memang, rasanya sedikit aneh ketika biasanya ada yang perhatian dan membawakannya bekal tiap hari seperti itu.
Setelah sedikit terbiasa, sekarang rasanya begitu hambar ketika tidak lagi ada yang cukup perhatian pada dirinya, apalagi Emelin akan pergi ke Luar Kota besok.
####
Setelah mengantarkan Alex kesekolah, Emelin saat ini ingat kalau dirinya mematikan ponselnya sejak kemarin malam.
Gawat!
Bukankah mungkin ada informasi penting yang datang?
Dengan buru-buru Emelin menyalahkan ponselnya.
Kemudian segelintir pesan muncul membanjiri ponsel Emelin.
Itu semua berasal dari Raka.
Benar juga, dirinya sempat lupa soal Raka.
Bagaimana dengan anak itu?
Apa pendapatnya setelah tahu kalau dirinya ini Istri dari Sepupumu yang dibencinya itu?
Apakah sekarang Raka juga akan membencinya?
Ini adalah telepon dari Raka.
Dengan perasaan campur aduk, Emelin mengangkat telepon itu.
"Hallo,"
Suara kelegaan dan panik muncul dari ujung telepon,
'Ahirnya Kak Emelin mengangkat teleponku. Aku sungguh cemas Kakak tidak bisa dihubungi dari kemarin! Kakak tiba-tiba berkata hal-hal mengerikan namun tiba-tiba ditutup dengan banyak misteri, tidak tahukah Kakak bagaimana cemas dan binggungnya aku sampai semalam aku tidak bisa tidur?'
"Kamu tidak membenciku?"
'Membenci apa?'
"Kenyataan bahwa aku adalah Istri dari Sepupumu yang kamu benci itu,"
'Ini memang cukup rumit tapi...'
"Bagaimanapun juga aku tahu kamu tidak menyukai sepupumu, aku akan mengerti jika kamu juga tidak akan lagi menyukaiku sebagai Istri dari Sepupumu, juga seorang wanita yang kamu anggap sebagai wanita kaya yang mensponsori sepupumu,"
Di ujung telepon, jika melihat kearah Raka, wajahnya begitu merah karena malu.
Itu terlalu memalukan untuk berbicara dengan Emelin setelah hal-hal omong kosong yang dirinya bicarakan sebelumnya dengan Emelin bukan?
Apakah ada lubang untuk bersembunyi?
Lubang, mana lubang?
Ini terlalu memalukan!!
'Kak Emelin jangan ambil hati soal kata-kata sebelumnya, itu hanya omong kosong saja. Aku tidak membenci Kak Emelin,'
"Jadi bagaimana dengan foto itu? Apakah itu hanya omong kosong juga?"
'Tapi aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri,'
"Baik, mari sebaiknya kita bertemu saja, datanglah ke Cafe Y, lebih baik membicarakan ini langsung dari pada lewat telepon."
'Baiklah, aku akan segera kesana.'
Degan itu, dua orang itu mulai membuat janji untuk bertemu.
Ada beberapa hal yang perlu diluruskan.
__ADS_1
Hari cukup pagi, suasana cafe itu masih sangat sepi.
Sekarang dua orang berhadap-hadapan, Raka menatap Emelin dengan wajah sedih itu merasa tidak enak.
"Jadi soal foto-foto itu?" Tanya Emelin to the poin.
"A... Aku melihatnya sendiri dengan mata kepalaku, tentang bagaimana mereka cukup dekat, beberapa kali aku juga mendengar kalau Isabella ini datang ke Kantor untuk menemui Sepupuku ini,"
"Jadi begitu,"
Ekspresi Emelin lebih datar dari pada yang Raka kira.
"Kak Emelin jangan sedih, ini sepupuku saja yang kurang ajar dan model murahan itu, aku dengar mereka mantan kekasih sebelumnya,"
"Antony tidak seperti itu,"
"Dia jelas seperti itu, dia selingkuh! Kakak tidak marah?"
"Ini cukup rumit, hubunganku dan Antony tidak seperti yang kamu kira, aku pernah bercerita sebelum bukan kalau aku di jodohkan dengannya?"
"Ya, Kakak hanya bercerita sedikit,"
"Aku tidak akan mengatakan detailnya, tapi singkatnya hubungan antara Aku dan Antony tidak seperti Suami dan Istri pada umumnya,"
"Ini semacam pernikahan paksa seperti itu?"
"Kurang lebih begitu,"
Emelin tentu tidak bisa bercerita pada Raka yang sebenarnya, kalau sesungguhnya pernikahannya dan Antony berawal dari sebuah Pernikahan Kontrak, dimana Antony sebelumnya dirinya bayar untuk menjadi suaminya bukan?
Ini terlalu memalukan untuk di ceritakan.
"Tapi tetap saja, ini tidak adil jika Sepupu sialan itu selingkuh seperti ini,"
"Ini bukan salahnya. Sejujurnya, ini mungkin adalah salahku. Hubungan kita dari dulu tidak begitu baik, aku dari awal adalah seorang Istri yang jahat dan Ibu yang jahat, yang hanya meninggalkan Putra dan Suamiku dan mengurusi Karirku."
Raka memutuskan untuk mendengarkannya dulu sebelum bertanya, walaupun masih banyak pertanyaan yang ingin dirinya tanyakan.
Emelin lanjut bercerita,
"Aku memikirkannya, bagaimana sebelumnya aku bahkan tidak merawat Putraku dengan baik dan selalu mengabaikannya, bahkan aku tidak ingat kapan aku pernah mengendongnya ketika anak itu masih bayi. Aku adalah Ibu yang buruk, Ibu yang jahat."
Ekpersi Emelin menjadi lebih sedih ketika memikirkannya dan mengatakan itu.
"Aku juga adalah Istri yang buruk, Istri yang jahat, sebelumnya bahkan terang-terangan, aku memiliki hubungan dengan laki-laki lainnya. Antony memang kadang selalu tidak begitu peduli tentang hal-hal ini, aku sendiri tidak tahu tentang isi hatinya,"
"Terkadang memikirkan kalau dia sebenarnya memiliki wanita lainnya, aku tidak berhak untuk marah...."
"Apa yang aku dapatkan adalah apa yang aku tabur, lagipula aku sudah mendapatkan, bukankah Karirku hancur dan aku di khianati oleh orang-orang yang aku sayangi? Ini balasan atas kesalahan-kesalahan dan dosa-dosaku?"
"Semua orang akan bilang kalau aku memang layak mendapatkannya.... Karena aku adalah Istri yang jahat dan Ibu yang jahat.... Emelin Smith yang memiliki akhir yang buruk dan tragis,"
"Bahkan setelah begitu hancur aku menyadari kesalahanku... Tidak bolehkah jika aku ingin berubah? Jika aku ingin mencoba menjadi Ibu dan Istri yang baik?"
"Ketika memikirkannya, apakah aku layak untuk mencoba berubah? Apakah layak untuk mencoba mencari kebahagiaanku lagi... Aku hanya ingin lebih dekat dengan suami dan putraku... Namun apakah ini sudah terlambat...."
"Di dalam hati Antony mungkin tidak lagi ada tempat untukku. Ini benar-benar takdir yang cocok dan akhir yang cocok untuk Emelin Smith bukan? Takdir yang buruk untuk seorang wanita jahat...."
Ya, Emelin mulai sedikit mengeluarkan air matanya ketika memikirkan hidupnya lagi.
Dirinya mendapatkan hal-hal sepadan untuk menjadi jahat.
Karirnya sudah jatuh berkeping-keping...
Dirinya ditipu oleh orang-orang yang disayanginya...
Bahkan sempat wajahnya hancur...
Itu adalah kehacuran dari Emelin Smith sebagai Ibu dan Istri yang jahat.
Namun bahkan walaupun dirinya sudah berbuat dosa, apakah salah untuk mencoba memperbaikinya?
Walaupun hal-hal yang dirinya lakukan dimasalalu bukanlah hal-hal yang bisa dimaafkan, apakah salah untuk berubah menjadi yang lebih baik?
Apakah salah untuk mencoba menjadi Ibu yang baik dan mencoba menjadi Istri yang baik?
Apakah sudah terlambat?
Bahwa dirinya ingin merubah takdirnya, tidak lagi ingin memiliki akhir dari seorang wanita jahat yang berakhir hancur dan ingin mencoba mendapatkan kebahagian....
####
Bersambung
####
Kuharap kalian mengerti kenapa kisah ini menjadi kisah mengubah takdir, 😆
Terimakasih atas dukungannya ya, 😆
__ADS_1