
Emelin benar-benar tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.
Bahwa ada kemungkinan kalau kematian Ibunya adalah sesuatu yang direncanakan oleh seseorang...
Dalam hatinya, Emelin bisa sedikit menebak siapa pelakunya.
Ini bisa menjadi rencana jahat ayahnya dan ibu tirinya, sengaja menyingkirkan Ibu Kandungnya, lalu membuat beberapa rencana lainnya untuk masuk ke Keluarga Smith, bahkan mencoba mengambil hatinya.
Emelin ingat, awalnya ketika Ayahnya berniat menikah lagi dengan Kekasihnya, Kakeknya jelas tidak menyukai ini, awalnya Kakeknya berniat mengusir Ayahnya ini dari rumah.
Emelin masih ingat kejadian hari itu, pertengkaran antara Ayahnya dan Kakeknya, karena dirinya sendikit mengintip mereka.
"Jadi kamu berniat menikah lagi? Kalau begitu akan lebih baik jika kamu meninggalkan Keluarga Smith sekarang juga, kamu sudah tidak memiliki hubungan dengan Keluarga ini lagi sejak Putriku meninggal."
"Ayah Mertua, kamu tidak bisa seperti itu. Putrimu awalnya menjadi istriku, dan aku juga bagian dari Keluarga Smith,"
"Tapi kamu berniat menikah lagi dan menghianati Putriku."
"Ayah Mertua, ini tidak seperti itu. Lailah sudah meninggal sejak dua tahun lebih, Ayah. Aku berniat menikah lagi karena Emelin terlihat kesepian dan mengiginkan sosok Ibu,"
"Kamu hanya membuat Alasan demi sesenaganmu sendiri!! Aku minta kamu sebaiknya pergi saja dari sini!"
"Tapi Ayah...."
Saat itu, Emelin yang masih muda keluar dari persembunyian, lalu mulai berkata dan memohon pada Kakeknya.
"Kakek... Jangan usir Ayah... Itu benar, Emelin sangat kesepian setelah Ibu meninggal... Emelin masih mengiginkan sosok seorang Ibu... Emelin sangat senang ketika Ayah akan menikah lagi, Tante Cornelia juga sangat baik untuk Emelin, dan juga Emelin akan memiliki saudara perempuan baru, Emelin sangat senang ketika memikirkannya,"
Hati Kakek Emelin selalu lembut pada cucunya itu, jadi dengan cucunya memohon itu pada akhirnya Kakek Emelin mengijinkan Ayah Emelin untuk menikah lagi dan tetap berada di Keluarga Smith demi Emelin.
Memikirkan lagi kejadian hari itu membuat Emelin begitu marah.
Sekarang air mata Emelin semakin tumpah....
Emelin benar-benar merasa sangat bodoh dan hancur, dirinya dengan kepolosan dan kebaikannya lah yang membuat Ayahnya menikah lagi, dan sampai memohon pada Kakeknya.
Dirinya berpikir...
Orang-orang itu...
Apakah mereka saat itu sangat senang bisa memanfaatkan dirinya dengan sangat sempurna?
Mempermainkan hatinya seperti itu sejak awal....
Semuanya adalah bentuk sebuah konspirasi kejam...
Kekasih Rahasia Ayahnya...
Anak Haram Ayahnya...
Dan dalang di balik kematian Ibunya...
Kenapa...
Kenapa manusia bisa sekejam itu?
Hanya demi uang dan kekuasaan?
Apa yang telah dirinya dan Ibunya lakukan pada Ayahnya hingga dia bisa sekejam itu?
Emelin tahu, betapa Ibunya sangat baik dan mencintai Ayahnya, bagaimana dia sangat mempercayai suaminya itu....
Ya itu mungkin karena Ibunya sangat mencintai Ayahnya...
Cinta terkadang bisa membuat seseorang buta...
Dirinya sendiri juga sudah mengalami rasanya dihiyanati oleh orang yang dicintainya...
Sangat sulit untuk jatuh cinta yang berakhir dengan penghianatan yang menyakitkan....
Memikirkan ini, Emelin merasa sangat takut untuk kembali jatuh cinta....
Rasanya ditinggalkan seperti itu sangat menyakitkan....
Apakah Sampai Ibunya meninggal dia tahu penghianatan Ayahnya?
Bagaimana perasaannya jika dia tahu, laki-laki yang begitu dia cintai itu ternyata berkhianat padanya?
__ADS_1
Ibunya tidak akan tenang dialam sana.
Emelin masih terisak disana, Antony disampaignya mendekatinya lalu menghiburnya.
"Jangan lagi menagis. Kita akan membalas orang-orang itu, jangan biarkan air matamu terbuang untuk mereka,"
Itu adalah kata-kata penenangan untuk Emelin.
Lalu Emelin menatap kearah Antony suaminya, tatapan mereka bertemu.
Antony sangat baik padanya selama ini, dan dirinya mencoba memahami dan menerimanya, mencoba membuka hatinya.
Emelin juga tahu, kalau Antony tidak akan seperti orang-orang itu....
Namun, di lubuk hatinya terdalam seolah-olah ada rasa sakit dan trauma didalam hatinya tidak bisa hilang...
Perasaan takut untuk ditinggalkan dan dikhianati lagi merasuk dalam hati Emelin.
Dirinya ingin percaya dan membuka hatinya, namun seolah-olah ada penghalang tidak kasat mata disana, seolah ada dinding yang menutup hatinya.
Tidak lagi mengerti apa itu cinta dan dicintai...
Kalau jatuh cinta itu akan sangat menyakitikan...
Seolah dirinya tidak ingin jatuh cinta lagi.
Emelin mencoba menghilangkan pikiran negatifnya itu.
Antony tidak sama dengan orang-orang itu.
Lalu Emelin menghapus sedikit air matanya, lalu berkata dengan penuh tekat,
"Ya... Aku akan membalas orang-orang itu, tidak akan aku biarkan mereka hidup tenang atas semua perbuatan mereka,"
"Tentu saja, mereka harus mendapatkan balasan yang setimpal." Kata Antony mendukung.
Melihat sepasang suami istri didepannya terlihat damai, Pria parubaya bernama Radit itu sedikit tersenyum.
Dia merasa kalau Kakek Emelin tidak salah memilihkan suami untuk cucunya.
Walaupun orang itu bukan dari Keluarga yang cukup baik, namun sampai saat ini dia masih begitu setia disampaig Emelin. Setidaknya, Almarhum Kakek Emelin akan sedikit senang melihat cucunya masih memiliki seseorang yang dapat dia andalkan didunia ini.
Emelin lalu menerima kartu nama itu,
"Aku dengar Paman sudah tidak bekerja di Perusahaan Smith?"
"Ya, sejak Kakekmu meninggal, Ayahmu memiliki banyak cara untuk membuatku keluar dari Perusahaan."
"Mereka benar-benar keterlaluan."
Mereka bercakap-cakap sebentar, lalu mereka berpisah.
Emelin berniat menyimpan kartu nama itu, namun Antony tiba-tiba mencegahnya.
"Kenapa? Apakah menurutmu Paman Radit juga tidak bisa dipercaya?"
"Bukan, aku hanya ingin juga melihat nomor itu, aku akan menyimpan nomornya juga,"
"Ah, begitu? Silahkan, silahkan ambil saja."
Disana, dengan cepat Antony lalu menyalin nomor itu diponselnya.
Memang, karena Asisten Kakek Emelin ini pasti lebih banyak tahu soal urusan internal Perusahan, dia bisa meminta bantuannya.
Orang-orang itu memang sungguh keterlaluan, dan soal insiden-insiden dimasalalu, sekarang Antony menjadi lebih banyak curiga.
Dirinya ingat ada juga Insiden dimana Emelin jatuh dari tangga di Rumah Keluarga Smith.
Awalnya dirinya mengira itu hanya kecelakaan bisa, namun setelah memikirkannya lagi...
Tidak ada seorangpun saat itu di Rumah Keluarga Besar Smith?
Bagaimana itu mungkin?
Memikirkan jika dirinya saat itu tidak datang tepat waktu...
Antony lalu menatap Putranya Alex, yang digandeng Emelin.
__ADS_1
Dirinya mungkin tidak akan pernah melihat Alex...
Dan...
Emelin....
Rasa frustasinya saat melihat adegan berdarah itu masih membayangi pikirnya.
Perasaan begitu takut saat itu...
Hari-hari itu begitu sulit untuknya, setelah Kakeknya meninggal, dan hanya dalam beberapa hari kecelakaan itu menimpa Emelin.
Jika sampai kejadian itu benar-benar direncakan....
Mereka...
Tangan Antony mengepal penuh emosi kebencian dan kemarahan.
Dirinya pasti akan menyelidiki lebih lanjut soal semua kejadian ini, tidak akan ada yang terlewat sedikitpun.
Malam itu, setelah makan malam diluar, suasana rumah terasa hening dan mencengkeram.
Emelin tidak memiliki begitu banyak selera makan, dan hanya makan sedikit.
Setelah sampai di rumah, Emelin juga langsung mandi dan tidur dikamar, dengan perasaan campur aduk penuh rasa sedih, kemarahan dan frustasi.
Antony hanya menatap Emelin dalam diam, membiarkan dia menenangkan dirinya.
Sebelum tidur, dia pergi keruangan kerjanya dirumah, lalu menelepon bawahannya.
"Aku minta kamu menyelidiki hal-hal yang terjadi di Rumah Keluarga Smith sekitar enam tahu lalu, aku akan menurunkan detailnya,"
'Baik, Tuan. Saya akan menyelidikinya.'
"Bagus, dan saat ini tolong awasi juga pergerakan mereka yang tinggal di Rumah Keluarga Smith, jangan sampai ada hal yang terlewat,"
'Baik,'
Setelah itu Antony segera menutup teleponnya, lalu dia membuka salah satu berkas dimejanya tentang informasi Perusahaan Smith.
Melihat salah satu nama Perusahaan yang diajak kerja sama dengan mereka yang cukup familiar, lalu sekali lagi Antony memutar nomor diponselnya, setelah beberapa sapaan dan basa-basi ringan, lalu Antony langsung mengatakan tujuannya dengan pasti pada CEO yang diteleponnya itu.
"Aku meminta kamu untuk memutuskan hubungan Kerja sama dengan Perusahaan Smith,"
'Perusahaan Smith? Namun ini akan memberikan beberapa kerugian untuk kami,'
"Jadi, apakah kamu lebih suka untuk putus hubungan kerja sama dengan Perusahaan Anderson?"
Laki-laki diujung telepon menjadi gugup setelah mendengar kata-kata tajam barusan.
"Ba... Baik. Saya akan melakukan apa yang anda mau,"
Telepon ditutup, lalu Antony mulai kembali kekamarnya dengan tenang.
Rencana awal sudah beres, dirinya akan benar-benar memastikan kalau mereka tidak akan hidup tenang, dirinya akan membuat Perusahaan itu untuk bangkrut dan memiliki banyak hutang, hingga mereka tidak punya pilihan lain selain menjualnya dan diambil alih.
Dan sisanya...
Akan dirinya pikirkan nanti.
Antony sebenarnya merasa cukup bersalah pada Kakek Emelin, namun dirinya tidak memiliki pilihan lain, lagipula cepat atau lambat jika Perusahaan itu dipegang oleh mereka, itu juga akan hancur cepat atau lambat, terlihat dari Laporan Keuangan dan Proyek-proyek mereka yang tidak begitu benar.
Memikirkan rencananya, lalu Antony menatap Emelin yang sedang tertidur itu.
Dalam tidurnya, Emelin sepertinya bermimpi buruk, dan sedikit air mata keluar.
Hati Antony juga merasa sakit melihat ini.
Dia lalu naik ketempat tidur, lalu mendekatkan wajahnya, dan mencium singkat dahi Emelin, lalu mengusap rambut Emelin untuk menenangkannya, membawa Emelin dalam pelukannya.
"Tidak apa-apa, tidak perlu ada yang kamu khawatirkan, semua akan baik-baik saja. Ada aku disini untukmu,"
Dalam mimpinya, Emelin seolah mendapatkan sebuah ketenangan, seolah ada sesuatu yang begitu hangat mencoba menariknya dari jurang yang begitu gelap dan mengerikan, dan wajah Emelin sedikit membaik, lalu memeluk Antony lebih erat tanpa sadar.
Seolah tidak akan melepaskan kehangatan itu.
####
__ADS_1
Bersambung