
Van Costel IV duduk seraya memainkan jari kelingkingnya yang berhiaskan cincin emas bermata ruby merah.
Pandangannya tertuju pada kedua tangannya yang sibuk.
''Ada berita apa ?'', ucap Van Costel.
''Maaf, aku mendengar bahwa ayah mertuamu sedang sakit keras dan dia meminta bantuan pada Dalca II'', sahut Antolin Lucian.
''Hmmm...'', gumam Van Costel IV.
Hantu tampan itu menghentikan gerakan tangannya.
Terdiam lalu mengalihkan pandangannya kepada Antolin Lucian.
''Dia ? Sakit parah ?'', tanya Van Costel IV.
''Iya, ayah mertuamu sedang sakit parah tetapi dia bertahan karena adanya perawatan dari laoshi serta anak perempuannya yang bernama Jingmi'', sahut Lucian.
''Untuk apa mencari si brengsek Dalca II ?'', kata Van Costel IV.
''Aku dengar, Kwee Lan mengirim dua anak buahnya yang bernama Heng dan Ho ke hutan Hoia Baciu untuk mencari kediaman Dalca'', sahut Lucian.
''Hoia Baciu ?'', jawab Van Costel.
Hantu berwajah tampan itu menaikkan kedua alisnya ke atas seraya menatap tajam.
''Konon Dalca tinggal disana dengan istananya tetapi aku sendiri belum memastikan kebenarannya'', kata Lucian.
''Itu hutan terangker disini... Aneh !?'', sahut Van Costel IV.
''Tidak hanya angker saja tetapi hutan itu adalah tempat bersemayamnya para hantu serta siluman'', jawab Lucian.
''Jarang ada manusia yang tinggal disana bahkan tidak ada satupun yang berani kesana, itu hutan larangan yang menakutkan bagi siapapun bahkan hantu yang masih baru akan enggan kesana'', kata Van Costel sambil berdecak pelan.
''Aku rasa hutan itu tidak berpenghuni manusia tapi Kwee Lan memaksa kedua anak buahnya pergi ke hutan itu mencari Dalca'', ucap Lucian.
''Itu hutan terlarang ! Sangat mustahil masuk kesana bahkan untuk keluar dari sana itu tidaklah mudah'', kata Van Costel IV.
''Apa ini siasat Dalca ?'', ucap Lucian.
''Mungkin saja, karena tujuan Dalca adalah aku dan dia sengaja mengacaukan Kwee Lan untuk menyerangku'', kata Van Costel.
''Bagaimana dia mengenal Kwee Lan sedangkan mereka tidak saling kenal ?'', ucap Lucian.
''Kabar...'', sahut Van Costel.
''Kabar !?'', tanya Lucian terperangah.
''Iya, kabar yang beredar luas tentang cerita tumbal hidup yang sengaja dikirim untukku, cerita itu sangat santer terdengar di lingkungan masyarakat'', jawab Van Costel.
__ADS_1
''Dalca mendengarnya atau dia sengaja mengirim mata-mata padamu ?'', kata Lucian.
''Aku tidak tahu kebenarannya tapi mungkin saja si brengsek itu mengirim anak buahnya kemari hanya ingin memastikan apakah aku benar-benar telah mati'', sahut Van Costel.
''Karena perang Patra itu ?'', tanya Lucian.
''Yah ! Si brengsek Dalca selalu saja tidak ingin melewatkan satu berita dariku dan aku yakin itu'', sahut Van Costel.
''Dia benar-benar keras kepala'', kata Lucian.
''Tidak hanya keras kepala tetapi dia sangat berambisi untuk memilikiku'', lanjut Van Costel.
''Haish !!! Pria hidung belang ! Tidak tahu diri itu ingin memilikimu !? Apa yang ada di tempurung kepalanya ?'', sahut Lucian marah.
''Dia tidak memilikinya... Dan dia ingin membedah tubuhku hanya satu keinginannya...'', ucap Van Costel.
''KEABADIAN !'
Sahut kedua pria dari alam yang berbeda itu secara bersama-sama.
''Tepat sekali ! Itulah tujuan dari si brengsek Dalca II'', kata Van Costel.
''Dia juga sengaja menggunakan lentera hitam untuk menyelidiki wujud aslimu'', ucap Lucian.
''Aku sendiri masih ragu jika dia manusia karena hutan Hoia Baciu merupakan tempat tersulit yang tidak mungkin manusia biasa tinggal atau menetap disana'', sahut Van Costel.
''Apa mungkin dia bukan manusia ?'', kata Lucian.
''Tapi ketigabelas klan bangsawan hanya Dalca II yang merupakan asli keturunan Wallachia dari klan Vlad sang penyula'', kata Lucian.
''Aku juga berasal dari keturunan Wallachia dan kami masih satu darah'', sambung Van Costel.
''Bukankah kalian bersaudara ? Kenapa pertentangan justru terjadi pada kalian berdua dan harus bertikai keras ?'', ucap Lucian.
''Kekuasaan...'', jawab Van Costel.
''Memang aku akui kekuasaan Wallachia sangatlah besar serta berpengaruh kuat dan itu tidak saja mengundang orang untuk ingin memilikinya tapi cenderung mempengaruhi orang untuk bernafsu menjadi penguasa Wallachia'', kata Lucian.
''Benar ! Daya tarik Wallachia sangat besar dan mampu menggoda iman seseorang untuk menguasainya meski jalan yang ditempuh tidak benar'', sahut Van Costel.
''Apa ini lingkaran setan ?'', gumam Lucian.
Antolin Lucian menundukkan pandangannya sambil berpikir keras.
''Bukan hanya lingkaran setan yang membelenggu manusia untuk memiliki kekuasaan Wallachia serta lembah Moldova tetapi banyak yang rela mati hanya untuk mendapatkannya'', sahut Van Costel IV.
''Kau tidak takut itu ?'', tanya Lucian.
''Tidak ! Untuk apa takut ? Aku hantu ! Dan tidak ada yang perlu aku takuti, aku anak keturunan adam bukan iblis karena itulah tidak ada yang perlu aku takuti'', sahut Van Costel.
__ADS_1
Senyum membentuk di kedua sudut bibir Van Costel IV saat dia menjawab perkataan Antolin Lucian padanya.
''Kita akan berperang lagi ? Mungkinkah itu ?'', kata Lucian.
''Entahlah... Hanya Tuhan yang tahu itu...'', sahut Van Costel.
''Apakah perang seperti perang Patra akan terulang lagi di antara ketigabelas klan ?'', tanya Lucian cemas.
''Jika saja Dalca II tidak berambisi menjadi penguasa, mungkin saja perang tidak akan terjadi'', sahut Van Costel.
''Akan banyak pihak terlibat dalam perang nanti dan tidak sedikit korban akan berjatuhan'', kata Lucian.
''Manusia dan siluman saat ini hidup berdampingan tetapi itu bukan jaminan kuat untuk mereka akan selalu bertahan hidup damai tanpa saling menjatuhkan'', jawab Van Costel.
''Itu tugasmu, Van Costel !'', sambung Lucian.
''Heh !?'', hela nafas hantu tampan itu. ''Aku sendiri merasa letih harus menjaga kestabilan dalam wilayah Wallachia serta sebagian Rumania'', sambungnya.
''Dia memang merepotkan saja !'', sahut Lucian.
Van Costel hanya tersenyum tipis sembari menatap ke arah luar jendela, tempat dirinya dan Antolin Lucian berdiri bersama.
''Dia tidak dewasa...'', jawab Van Costel.
''Bukan ! Dia tidak waras aku rasa !'', sahut Lucian kesal.
''Yang aku cemaskan sekarang adalah keselamatan Jia Li karena Dalca sepertinya sedang memburunya'', kata Van Costel.
Wajah Van Costel IV langsung berubah muram ketika dia memikirkan Jia Li yang kini menjadi incaran Dalca II.
''Dalca tidak saja menginginkan Jia Li untuknya tetapi dia ingin kami berseteru dengan memanfaatkan Kwee Lan sebagai senjata utamanya'', kata Van Costel murung.
''Kwee Lan kartu As bagi Dalca tapi si bodoh itu tidak tahu jika kita telah mengetahui rencana busuknya'', sahut Lucian.
''Berhati-hatilah padanya sebab dia bukan lawan yang bisa kita tandingi kekuatannya'', kata Van Costel.
''Aku tidak peduli itu ! Biarkan aku yang menghadapinya !'', sahut Lucian gemas.
''Tapi dia bukan manusia menurutku lalu bagaimana kamu akan menghadapinya ?'', kata Van Costel.
''Secara jantan !'', sahut Antolin Lucian.
''Dia penipu ! Tidak jantan dan licik ! Siasat dia beragam, tidak tertebak oleh akal pikiran manusia !'', kata Van Costel.
''Karena dia siluman !'', sahut Lucian. ''Dia lintah !'', sambungnya.
Van Costel lantas tertawa keras mendengar jawaban Antolin Lucian.
Tiba-tiba perasaan Van Costel berubah senang karena adanya kabar tentang sepak terjang Dalca II yang mulai menyusun siasat untuk melawannya serta hati hantu tampan itu benar-benar senang ketika mendengar keinginan Antolin Lucian yang ingin melawan Dalca II yang merupakan seteru besarnya.
__ADS_1
Bernyali untuk membuat sebuah perang besar dengan Van Costel oleh rencana-rencana Dalca II.
Hal yang mampu menggembirakan hati Van Costel IV adalah membuat Dalca II sibuk karena menanggapi dirinya yang telah bangkit dari alam kubur.