
Semilir angin berhembus pelan di sekitar saung kecil di tengah-tengah taman luas yang di taburi oleh bunga mawar merah.
Saung yang indah sekali...
Kecil tetapi tampak menarik karena bersinar saat tertimpa cahaya langit yang terang.
Saung yang tidak biasa karena agak melayang di udara tetapi letaknya konstan tidak berubah-ubah meski tertiup angin.
Terbuat dari aliran air tapi saung itu tidak membuat basah orang yang berada disana dan bisa digunakan sebagai tempat beristirahat yang nyaman.
Keindahannya apabila saung itu terkena sinar cahaya langit yang membuat saung itu bersinar-sinar sangat indah.
Udara di sekitar taman bunga mawar merah semakin menambah keindahan saung yang letaknya tepat di tengah-tengah taman.
Terlihat sesosok pria sedang berbaring di atas balai-balai terbuat dari kayu ditemani sepiring kue ku warna merah dan seteko minuman.
Pria itu sedang memejamkan kedua matanya sembari mengipasi dirinya sendiri.
Wajahnya sangat tenang, tidak terlalu tampan tetapi menarik dilihat meski kulitnya agak gelap, aura yang terpancar dari dirinya sungguh berwibawa.
Saung yang berdiri di tengah-tengah taman bunga mawar merah terlihat sangat kokoh dan kuat.
Beberapa burung hinggap di atas saung sedang bermain serta berkicau riang, menambah daya tarik tersendiri dari saung yang indah itu.
Seorang wanita cantik berpakaian serba putih dengan selendang sutra serta rambut tertata rapi sedang berjalan ke arah saung dengan lemah gemulai.
Sesekali wanita cantik itu terlihat terbang melayang di atas bebatuan yang terhampar sepanjang jalan yang menghubungkan ke arah saung.
Gaunnya yang indah menarik tampak melambai-lambai tertiup angin saat wanita cantik itu terbang menuju saung yang berada di tengah taman mawar.
Di salah satu tangannya, sebuah baki emas tertutup berada di atasnya.
Wanita cantik itu bergegas menghampiri pria yang ada di atas balai-balai terbuat dari kayu di dalam saung.
"Selamat pagi, tuan Ionatan !", sapa wanita cantik.
Pria gagah yang berbaring di atas balai-balai terbuat dari kayu langsung mengalihkan pandangannya ke arah wanita cantik yang datang menghampirinya.
"Pagi Arella...", sahut pria bernama Ionatan.
"Aku membawa makanan kesukaan mu, tuan Ionatan", ucap Arella.
"Apa kau sendiri yang memasaknya ?", tanya Ionatan.
"Tentu saja, aku memasaknya dengan penuh cinta untukmu, tuan Ionatan", sahut Arella.
Arella turun mendekati Ionatan yang terbaring santai di atas balai-balai terbuat dari kayu sembari meletakkan baki tertutup di atas meja.
"Hidangan laut ini sangat cocok untuk sarapan pagi serta dapat membantu mu tetap sehat, tuan Ionatan", ucap Arella.
"Terimakasih...", sahut Ionatan.
"Coba tuan Ionatan cicipi, aku rasa akan membuat tubuh anda terasa lebih segar dan prima jika dikonsumsi pada pagi hari", ucap Arella.
"Iya, aku akan memakannya", kata Ionatan.
__ADS_1
"Tidak untuk nanti tetapi dimakan saat ini juga, tuan Ionatan", sahut Arella.
"Baiklah, aku akan memakannya sekarang agar kau puas, Arella", ucap Ionatan.
"Hidangan laut ini aku pesan secara khusus pada penjual ikan yang mampir kemari untuk menawarkan berbagai ikan laut segar", kata Arella.
"Apa dia sering kemari ?", tanya Ionatan.
"Hmm..., hampir setiap hari untuk membawa ikan laut segar karena aku sengaja memesannya untuk mu, tuan Ionatan", sahut Arella.
"Sangat merepotkan untukmu jika kau harus sering-sering memasak hidangan ikan laut segar untuk ku, Arella", ucap Ionatan.
"Tidak, aku justru bersemangat'', kata Arella.
Arella membuka tutup baki emas berisi semangkuk ikan laut segar yang diolah secara khusus, kepulan asap muncul dari dalam baki saat dibuka.
Harum wangi keluar dari arah mangkuk saat udara berhembus diatasnya.
"Hmm..., wanginya...", gumam Ionatan.
"Semoga tuan Ionatan suka", ucap Arella.
Ionatan beranjak duduk seraya mengambil mangkuk dari tangan Arella lalu melahapnya penuh semangat.
Wanita cantik bernama Arella tampak senang saat Ionatan melahap hidangan yang dia masak.
Arella lalu duduk seraya mengambil sebuah alat musik petik yang ada di dekat balai-balai kayu lalu memainkannya.
Terdengar alunan lagu indah dari arah alat musik petik yang dimainkan oleh Arella.
Suaranya sangat lembut serta menentramkan hati bagi setiap orang yang mendengar alunan lagu yang dimainkan oleh Arella, terasa berada di tengah-tengah lautan yang luas jika mendengarnya.
Senyum tersungging di bibirnya sambil melahap habis sarapannya, diam-diam Ionatan menghayati alunan lagu yang indah ketika Arella membawakannya.
"Kau bersedih, Arella ?", ucap Ionatan.
"Tidak...", sahut Arella menggeleng.
"Lagu yang kau mainkan tidak terdengar jika hatimu kini sedang bahagia, Arella", ucap Ionatan.
Arella tersenyum lembut dan terus memainkan alat musik petik yang ada ditangannya tanpa menjawab ucapan Ionatan.
"Ada kabar bahwa saat ini ada pertempuran sengit di hutan Hoia Baciu, dan tuan Van Costel IV terlibat didalamnya", ucap Arella.
Ionatan menghentikan tangannya lalu melirik tajam ke arah Arella.
"Kabarnya akan ada perang besar di lembah Moldova dan Dalca II turut andil didalam peperangan nanti", lanjut Arella.
Arella berkata sambil terus memainkan musik tanpa menoleh ke arah Ionatan.
"Pasukan khusus elit milik Antolin Lucian saat ini tengah bertempur melawan siluman terkuat dari hutan Hoia Baciu...", kata Arella.
TUK... !
Suara mangkuk terdengar diletakkan di atas meja yang ada didepan Ionatan.
__ADS_1
"Kapan kabar itu disampaikan ?", tanya Ionatan.
"Pagi tadi dari penjual ikan laut segar", sahut Arella.
"Kalau begitu tolong kau sampaikan pada pimpinan pasukan emas untuk segera bersiap-siap menuju hutan Hoia Baciu sekarang, Arella", ucap Ionatan.
"Apa anda juga akan ikut, tuan Ionatan ?", tanya Arella.
"Tentu saja, aku akan ikut kesana", sahut Ionatan.
"Apa aku juga harus menyiapkan senjata petir milikmu ?", tanya Arella.
"Aku pikir tidak perlu karena pertempuran itu pastinya akan dimenangkan oleh Van Costel IV dan Lucian", sahut Ionatan.
"Tapi untuk apa anda menyuruhku menyampaikan pesan pada pimpinan pasukan emas untuk pergi bersama mu ke hutan Hoia Baciu, tuan Ionatan ?", ucap Arella.
"Hanya untuk berjaga-jaga saja", sahut Ionatan sambil meletakkan tutup baki di atas mangkuk.
"Baiklah, aku akan segera pergi menyampaikan pesan ini pada pimpinan pasukan emas agar bersiap-siap ke hutan Hoia Baciu", ucap Arella.
"Hmm...", gumam Ionatan dari tempat duduknya.
Arella menghentikan gerakan tangannya di atas alat musik petik yang dia mainkan kemudian beranjak berdiri.
"Sudahkah kau memberi koin emas pada penjual ikan laut itu, Arella ?", kata Ionatan.
"Sudah, tuan Ionatan. Aku sudah memberikan dia sekotak kecil berisi koin emas yang anda maksudkan", sahut Arella.
"Dimana letaknya pertempuran itu terjadi tepatnya ?", tanya Ionatan.
"Di sebuah Istana Orange yang dijaga oleh sembilan siluman naga bayangan", sahut Arella.
Ionatan mendongakkan kepalanya ke arah Arella yang bersiap-siap pergi.
"Dan kabarnya juga ada empat pembunuh bayaran paling tangguh yang menjaga istana itu", ucap Arella.
Arella menjawab sambil mengibaskan tangannya ke arah gaun yang dia kenakan lalu menatap tajam ke arah Ionatan.
"Kabar yang beredar bahwa siluman naga bayangan penjaga istana orange mampu mengerahkan setidaknya seribu hantu untuk membantu mereka melawan pasukan khusus elit milik Antolin Lucian", lanjut Arella.
"Hantu !?", ucap Ionatan.
"Benar, tuan Ionatan", sahut Arella.
"Bagaimana bisa pasukan khusus elit milik Antolin Lucian dapat menghadapi mereka yang berwujud hantu ?", kata Ionatan.
"Hanya kabar itu yang tersampaikan kemari", sahut Arella.
"Baiklah, aku mengerti", ucap Ionatan.
"Aku pamit pergi untuk menemui pimpinan pasukan emas, tuan Ionatan", kata Arella.
"Pergilah, Arella...", sahut Ionatan.
"Baik, tuan Ionatan", ucap Arella.
__ADS_1
Arella lalu membungkuk kan setengah badannya ke arah Ionatan sebelum dia berpamitan.
Sesaat kemudian terlihat tubuh Arella telah melesat terbang di atas bebatuan yang ada diluar saung, meninggalkan Ionatan yang masih duduk sendirian di atas balai-balai kayu di dalam saung.