Suami Ku Hantu

Suami Ku Hantu
Bab 87 Dimitri


__ADS_3

Van Costel hanya memandangi arah sekitarnya dengan serius sedangkan Mazonn memerintahkan pedang Yunlong Jian untuk menahan keempat pembunuh suruhan Dalca II agar tidak menghalangi jalan mereka menyusul Antolin Lucian.


Kedua pedang teramat sakti berasal dari langit itu mematuhi perintah tuan mereka yaitu Mazonn. Dan terus mengerahkan kekuatan mereka untuk melawan keempat pembunuh bayaran suruhan Dalca II.


"Kita pergi sekarang, Mazonn ?", ucap Van Costel IV.


"Baik, kita pergi sekarang, Van Costel", sahut Mazonn.


Mazonn menjawab dengan anggukkan kepala cepat ke arah Van CostelIV.


Keduanya saling melempar senyuman kemudian mengalihkan pandangan mereka kembali ke arah sepasang pedang Yunlong Jian yang sedang bertempur.


Tatapan mata Van Costel IV terarah tajam saat melihat pertempuran yang sedang terjadi antara keempat pembunuh bayaran suruhan Dalca II dengan kedua pedang Yunlong Jian yang berlangsung sengit.


"Apa kita bisa memasrahkan area disini kepada sepasang pedang Yunlong ?", ucap Van Costel IV.


"Yakinlah hati mu Van Costel karena semua pasti memiliki kehebatannya sendiri dan percayakanlah semuanya pada kedua pedang Yunlong", sahut Mazonn.


"Aku berharap pertempuran di Istana Orange ini segera berakhir...", ucap Van Costel IV.


"Begitupun juga aku sama halnya denganmu yang juga berkeinginan agar pertempuran disini cepat usai", jawab Mazonn.


"Apa menariknya menang ?", ucap Van Costel IV.


"Kalah menang dalam pertempuran hanya menyisakan luka dan itu akan membekas hingga akhir masa", sahut Mazonn.


"Kita hanya bermaksud untuk menyelidiki istana ini, bukan bermaksud untuk meyerang siapapun", ucap Van Costel IV.


"Tetapi situasi berbeda yang menyebabkan terjadinya pertempuran tak terelakkan", sahut Mazonn.


"Kita datang dengan baik-baik tetapi harus pulang dengan pertumpahan darah yang tidak semestinya terjadi", ucap Van Costel IV.


"Hanya kecurigaan serta dendam dalam hati yang menimbulkan kedengkian di hati dan menyebabkan pertempuran ini terjadi, Van Costel...", jawab Mazonn.


"Apakah hati harus terus dikhianati ? Sedangkan nyawa yang harus tertukar karena kebencian yang tak mendasar, Mazonn ?", ucap Van Costel IV.


"Cukup kita yang mengetahui rahasia itu karena semua yang telah terjadi telah terjadi, biarkan waktu yang akan menjawabnya, Van Costel", sahut Mazonn.


"Hmm...", gumam Van Costel IV sendu.


"Kita pergi sekarang, teman ?", ucap Mazonn.


Mazonn menatap wajah hantu tampan dihadapannya dengan teduh.


"Iya..., kita pergi sekarang...", sahut Van Costel IV.


Hantu tampan itu segera menganggukkan kepalanya saat menjawab pertanyaan dari Mazonn.


Tiba-tiba dari arah belakang muncul sesosok pria yang datang mengejutkan Van Costel IV dan Mazonn.


Membuat perhatian keduanya teralihkan ke arah sosok asing itu.


"Serahkan saja padaku urusan disini !", ucap pria dengan setelan jas lengkap warna hitam.


"DIMITRI !!!", ucap Van Costel IV dan Mazonn bersamaan.


"Hai, apa kabar ?", sahut Dimitri.


"Dari mana saja kamu, Dimitri ?", tanya Mazonn.


Mazonn tampak terkejut akan kedatangan Dimitri yang tiba-tiba lalu menepuk pundak sahabat dekatnya itu dengan keras.

__ADS_1


"Auwh !!!", pekik Dimitri menahan rasa sakit atas tepukan keras Mazonn pada pundaknya.


''Bagus sekali !", ucap Mazonn seraya meringis.


"Hai, seharusnya aku yang meringis kesakitan bukan kamu, Mazonn !", sahut Dimitri.


"Sakit !?", ucap Mazonn.


"SAKIT !!!", sahut Dimitri.


"Aku kira kau tidak pernah memiliki perasaan, Dimitri", ucap Mazonn.


Mazonn mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi ke atas saat menatap ke arah Dimitri.


"Apa yang kau lakukan sejak tadi ? Aku mencarimu, Dimitiri !?", ucap Mazonn kembali.


"Aku hanya berpikir untuk mengganti pakaianku agar terlihat lebih keren saat datang ke sebuah istana, itu saja", sahut Dimitri.


"Hah !? Apa !?", ucap Mazonn terkejut.


"Iya, memangnya kenapa ??? Apa ada yang salah dengan jalan pikiranku ???", sahut Dimitri.


"Astaga, orang ini ! Tidak tahu jika orang lain tengah memikirkan keadaanmu dan kau menjawabnya dengan santainya !?", ucap Mazonn berkerut.


"Aku hanya mengganti pakaianku dengan setelan jas ini sebelum datang ke istana, pikirku akan lebih berpenampilan resmi jika kita mengunjungi istana raja", sahut Dimitri.


"Dia pikir Dalca II itu raja !?", sambung Van Costel IV.


Dimitri hanya melirik ke arah hantu tampan yang memalingkan mukanya ke arah pertempuran.


"Dia benar-benar aneh ! Dan aku sangat ingin memukulnya saat ini !", ucap Mazonn.


"Bagaimana aku tidak kesal padanya ? Aku tidak ingin menyebutnya pandir tapi pada kenyataannya dia datang ke istana musuh dengan pakaian resmi seakan-akan ini sebuah perjamuan pesta !!!", ucap Mazonn.


"Bukankah itu daya tariknya serta ciri khasnya dia ?", jawab Van Costel IV.


"Ciri khas ??? Daya tarik bagaimana ???", sahut Mazonn.


"Sudahlah, jangan terlalu diambil pusing akan sikapnya ! Kita sebaiknya segera menyusul Antolin Lucian", ucap Van Costel IV.


"Haish... !?", sahut Mazonn menggerutu.


"Kalian akan kemana ?", tanya Dimitri.


"MENYUSUL ANTOLIN LUCIAN !!!", sahut Mazonn kesal.


Van Costel IV hanya menyeringai ke arah kedua teman dekatnya secara bergantian lalu menarik pedangnya yang terulur panjang ke arah lantai.


"CTARRR !!!"


Terdengar suara keras pedang milik Van Costel IV yang bergerak membentuk gelombang panjang saat membentur lantai.


"Kita pergi, Dimitri ! Aku serahkan urusan disini padamu !", ucap Van Costel IV.


"Baik, Van Costel", sahut Dimitri serius.


Terlihat Van Costel IV bergerak cepat dengan pedang yang terarah terus ke atas lantai sedangkan tubuh hantu tampan itu terbang diatasnya seperti kilatan cahaya yang melesat.


"Jaga mereka agar tidak membuat keributan ! Upayakan untuk segera menangkap keempat pembunuh suruhan Dalca II untuk diinterogasi nanti !", ucap Mazonn.


"Baik, aku akan selesaikan urusan disini secepatnya", sahut Dimitri.

__ADS_1


Mazonn segera menganggukkan kepalanya ke arah Dimitri sedangkan Dimitri membalas dengan tatapan serius.


"Aku serahkan mereka padamu, Dimitri !", ucap Mazonn.


Tubuh Mazonn berputar-putar bagaikan hembusan angin serta terdengar suaranya yang menggema saat kepergiannya dari area pertempuran disisi lain Istana Orange.


Mazonn lalu menghilang sekejap mata dengan meninggalkan sepasang pedang Yunlong yang sedang bertempur kepada Dimitri.


Suasana kembali hening saat Van Costel IV dan Mazonn pergi, tinggal sendirian Dimitri di area pertempuran saat melawan keempat pembunuh bayaran suruhan Dalca II yang menghadapi sepasang Yunlong Jian.


Kembali sorot mata Dimitri terlihat tajam dan berubah menjadi terang menyala.


Kedua tangan Dimitri berguncang keras sedangkan tatapan matanya tertuju lurus ke arah depan.


Bersamaan itu pula tubuh Dimitri mengeluarkan aura dingin yang menusuk tulang, disertai hembusan angin disekitarnya.


Muncul bongkahan-bongkahan kristal es dari sekitar tubuh Dimitri yang perlahan-lahan membentuk formasi segitiga kristal es.


Segitiga kristal es lalu mengeluarkan tiupan angin dingin yang menggulung cepat di atas segitiga kristal es itu.


"AAaaarghhh... !!!!", terdengar suara teriakn dari bibir Dimitri saat kedua tangannya terulur ke depan.


Membuat hentakan pelan pada segitiga kristal es di depannya sehingga mengeluarkan hembusan angin.


Hembusan angin dingin bergerak cepat ke arah area pertempuran dimana kedua pedang Yunlong sedang bertempur melawan keempat pembunuh bayaran suruhan Dalca II.


Angin dingin yang disertai bongkahan kristal es menghantam keras ke arah keempat orang pembunuh bayaran yang sedang melawan serangan dari sepasangYunlong Jian.


DASH !!!


Suara hentakan keras bertubi-tubi menghantam tubuh keempat pembunuh bayaran suruha Dalca II yang sedang bertempur.


DASH !!! DASH !!! DASH !!!


"Aaakhhh... !!!", pekik keempat pembunuh bayaran serempak.


Saat tubuh mereka terpental cukup jauh saat terkena hantaman serangan dari kristal-kristal es milik Dimitri.


Membuat mereka berempat terkejut saat menerima dentuman dari bongkahan kristal-kristal es yang berubah menjadi senjata hebat serta berbahaya yang menghantam tubuh mereka.


Keempat pembunuh bayaran suruhan Dalca II langsung mengalihkan pandangan mereka secara serempak ke arah datangnya bongkahan kristal-kristal es yang berasal dari Dimitri.


"Siapa dia ?", ucap keempatnya bersamaan.


"Entahlah...", sahut salah satu dari mereka.


"Apa dia musuh kita ?", tanya yang lainnya.


"Pastinya dia salah satu musuh kita karena dia menyerang kita", sahut pria tampan dari anggota pembunuh bayaran suruhan Dalca II.


"Berani sekali dia, menyerang kita berempat sendirian ! Apa dia bosan hidup ?", ucap yang lainnya sinis.


"Jika dia datang sendirian melawan kita tentunya dia telah siap menghadapi resiko besar yang akan dia terima nantinya", sahut pria tampan.


"Kita balas dia !", ucap seorang wanita.


"Tentu !", sahut rekan pembunuh bayaran yang lainnya.


Pandangan keempat pembunuh bayaran suruhan Dalca II terarah tajam ke arah Dimitri.


Tampak dari arah depan mereka, Dimitri yang berdiri tegap dengan kedua mata yang berubah terang menyala dengan tubuh terus mengeluarkan aura dingin terlihat memutar segitiga kristal es di hadapannya dengan kedua tangannya yang berubah menjadi es.

__ADS_1


__ADS_2