
Lembah Ngarai...
Di sebuah gedung yang sama dengan gedung dimana kurir surat berada bersama Louisa.
Terlihat dua orang pria tampan bertubuh tegap duduk menikmati minuman seraya menghadap ke arah bawah di lantai dasar bangunan megah.
Keduanya menyaksikan pertunjukan penari yang hanya mengenakan pakaian dalam yang seksi serta menggoda.
Bergoyang penuh gemulai mengikuti iringan musik yang mengalun di seluruh ruangan tempat hiburan.
Sesekali tersenyum genit ke arah setiap pengunjung tempat dia menari lincah.
"Kau yakin telah melakukan hal yang benar dengan kurir surat itu, Mazonn ?", ucap Dimitri.
"Kenapa kamu menanyakan hal tentang dia ?", sahut Mazonn.
"Kau tidak sengaja membuat Van Costel IV marah bukan", kata Dimitri.
Dimitri menuangkan teko berisi minuman ke dalam secangkir kecil yang ada diatas tatakan kaca.
"Untuk apa aku membuat keributan dengan Van Costel IV, bukankah dia tahu akan peraturan disini", sahut Mazonn tersenyum lebar.
"Jangan suka bercanda karena akan menyebabkan kesalahpahaman, orang itu merupakan kepercayaan Van Costel IV rupanya", ucap Dimitri.
Dimitri memindahkan teko berisi minuman ke arah meja marmer lalu mengambil secangkir minuman berisi arak tua.
Mencium aroma khas yang keluar dari minuman arak tua yang ada di dalam cangkir di genggaman tangannya.
"Aku tidak tahu pastinya tapi aku hanya merasa bersimpati pada pria itu karena itulah aku menyerahkannya kepada wanita cantik di tempat hiburan ini", sahut Mazonn.
"Semestinya kau tidak memberikannya kepada wanita gila seperti Loiisa sebab aku merasa kasihan pada kurir surat itu", kata Dimitri.
"Kenapa ? Apa kau menyukai Loiisa !?", jawab Mazonn.
Mazonn menghirup aroma khas arak yang ada di dalam minumannya lalu menenggaknya sampai habis tak tersisa.
"Kau bertanya padaku atau kau hanya ingin tahu apa yang ada di dalam pikiranku ?", ucap Dimitri.
"Terserah padamu saja..., aku hanya bertanya, jika kau tidak ingin menjawabnya, jangan pernah kamu menjawabnya...", sahut Mazonn.
"Dasar licik...", ucap Dimitri seraya meminum arak yang ada di dalam cangkir minumannya.
"Apa kau akan pergi ?", kata Mazonn.
__ADS_1
"Kemana ?", sahut Dimitri.
"Menyusul ke hutan Hoia Baciu...", ucap Mazonn.
Dimitri menghela nafasnya seraya mengusapkan kedua tangannya yang bergetar ke arah tengkuknya lalu terdiam sejenak sambil menatap dingin ke arah penari yang ada di atas panggung hiburan.
"Jika aku tidak pergi ke sana maka aku tidak akan pernah dapat memperlihatkan diriku dihadapan Van Costel IV", sahut Dimitri.
"Artinya kau akan datang ke sana menyusul Van Costel IV di hutan Hoia Baciu atau kau pergi ke lembah Moldova ? Mana yang akan kamu pilih ?", kata Mazonn.
"Melihat situasi yang ada di lembah Moldova, keadaan disana masih aman-aman saja sampai detik ini tetapi berbeda dengan kondisi di hutan Hoia Baciu saat ini...", lanjut Dimitri.
"Apa kau sudah menerawang hutan terangker itu ?", kata Mazonn.
"Menurut mata batin ku serta kemampuan spesial penglihatan ku, aku melihat gambaran pertempuran hebat yang bakal terjadi di hutan Hoia Baciu itu, Mazonn", sahut Dimitri.
"Mengerikan..., aku tidak sanggup membayangkan keadaan disana jika hal itu benar-benar terjadi...", kata Mazonn.
Beberapa pria naik ke atas panggung hiburan mencoba merayu wanita cantik berpenampilan seksi itu dengan memberinya banyak koin emas.
Ada juga yang langsung mengalungkan ke leher wanita cantik yang hanya mengenakan pakaian dalam berenda sebuah kalung emas yang menjuntai ke bawah lehernya.
Wanita seksi nan menggoda itu semakin bergoyang lincah penuh rayuan saat beberapa pria membujuknya menari bersama dengannya.
Dimitri melirik sekilas ke arah Mazonn yang hanya menatap dingin ke arah wanita penari yang ada di atas panggung hiburan.
"Apa mereka benar-benar bosan hidup ?", gumam Dimitri.
Saat seorang pria mengelus bagian dada wanita penari itu dengan kedua telapak tangannya yang penuh bergairah.
"Mudah-mudahan, Tuhan akan selalu ada melindungi kita semua dari maut yang mengerikan...", ucap Dimitri seraya meminum kembali arak yang ada di tangannya.
"Apa yang kamu katakan itu, Dimitri ?", sahut Mazonn.
Mazonn hanya menundukkan kepalanya tanpa menoleh ke arah Dimitri yang duduk di seberang meja.
"Tidak ada...", jawab Dimitri.
"Apa kau tidak mabuk, Dimitri ?", kata Mazonn.
"Tidak...", sahut singkat Mazonn.
Dimitri tampak tersenyum simpul saat dia melihat Mazonn yang mulai kepanasan saat melihat beberapa orang laki-laki tengah menggoda penari di tempat hiburannya.
__ADS_1
"Kau tidak perlu se-panik itu karena itu sudah pekerjaan penari itu untuk menghasilkan pundi-pundi uang di tempat hiburan ini, Mazonn", sahut Dimitri.
"Panik ? Apa kau pikir aku sedang cemburu ?", kata Mazonn.
"Cemburu atau tidak tapi aku rasa kau akan tahu beberapa detik lagi kalau orang-orang itu akan menggauli penari mu, Mazonn", sahut Dimitri sambil tertawa.
"Apa yang kau katakan, Dimitri ? Kau tidak waras menganggap ku cemburu dengan penari-penari yang bekerja di tempat hiburan milikku ini ?", kata Mazonn.
"Tapi kau terlihat marah serta cemburu pada orang-orang itu sehingga kau mulai kelihatan marah pada wanita itu", sahut Dimitri.
"Kau benar-benar keterlaluan, aku tidak memiliki perasaan pada penari-penari yang bekerja di tempat hiburan milikku ini, Dimitri", kata Mazonn.
"Setidaknya kau pernah menggaulinya bukan", ucap Dimitri.
"Tidak ! Aku tidak pernah melakukan hal sekeji itu, dan apa kamu berpikir bahwa aku sebrengsek itu, Dimitri ?", sahut Mazonn.
Mazonn mulai terlihat marah saat Dimitri menggodanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menjurus ke ranah kehidupan pribadinya yang bagi Mazonn, tidak seorangpun yang boleh tahu mengenai kehidupannya.
"Cukup, Dimitri ! Jangan membuat ku semakin kesal padamu !", ucap Mazonn.
Mazonn beranjak berdiri tetapi Dimitri langsung menahannya dan secara bersamaan keduanya menghilang dari tempat hiburan itu.
Helaian kain tirai tipis yang menutupi tempat dimana Mazonn dan Dimitri tadi duduk dan singgah di lantai atas melambai-lambai pelan.
Menyibak perlahan-lahan ruangan khusus bagi tamu penting di tempat hiburan itu.
Beberapa orang pria yang tadi menggoda penari cantik berpenampilan seksi itu langsung mengangkat tubuh penari itu saling bergantian.
Tampak raut wajah gembira dari penari seksi itu saat para tamu pria yang datang ke tempat hiburan merebutkan dirinya.
Tepuk tangan terdengar menggema keras di dalam ruangan gedung tempat hiburan saat orang-orang tengah memperebutkan penari seksi itu.
Ada pria yang menarik penari seksi itu ke dalam pelukannya lalu menciumnya mesra, ada juga pria lainnya yang menarik paksa penari itu untuk mendekat ke arah dirinya serta mendekap erat tubuh penari yang mulai berkeringat deras karena hawa panas disekitar panggung hiburan.
Seorang laki-laki berbadan pendek serta gemuk sedang menghambur-hamburkan uang ke arah atas panggung hiburan hingga beberapa orang yang ada di atas panggung teralihkan perhatiannya dari penari cantik nan seksi itu kearah uang yang berserakan di atas panggung.
Laki-laki gemuk itu lalu menyeret tubuh penari nan seksi itu untuk ikut bersama dengan nya ketika orang-orang teralihkan perhatiannya kepada uang yang berserakan di bawah.
Menggendongnya seraya berlari cepat menuju ke arah lantai atas ke sebuah kamar yang tersedia di tempat hiburan itu.
Beberapa orang pria langsung tersadar saat wanita cantik nan seksi yang merupakan incaran mereka telah pergi dari panggung hiburan bersama seorang pria gemuk ke sebuah kamar yang ada di lantai atas.
Hiruk pikuk terdengar dari arah panggung hiburan ketika pria-pria itu kehilangan target mereka dan terlihat kecewa karena telah ditipu oleh seorang pria gemuk yang berakal licik.
__ADS_1
Tidak dapat berbuat apa-apa hanya bisa diam tertegun mendengar jeritan penari seksi itu dari dalam kamar yang berada di lantai atas saat pria gemuk membawanya bersama dengannya ke dalam kamar.
Pria-pria itu hanya berdiri dan saling berpandangan satu dengan lainnya seraya tersenyum kecut menyadari kegagalan mereka untuk bersama menghabiskan waktu mereka di tempat hiburan yang buka sepanjang hari tanpa waktu jeda.