Suami Ku Hantu

Suami Ku Hantu
Bab 73 Pasar Lembah Ngarai


__ADS_3

Dimitri terlihat sangat kesal dengan sikap Mazonn yang tidak memperdulikan dirinya bahkan terlihat acuh tak acuh terhadap setiap ucapan darinya.


Pria yang selalu mengenakan lensa di salah satu matanya bergerak cepat melewati jalan pasar yang lenggang.


Dimitri menyadari bahwa pasar di lembah Ngarai ini sangat berbeda sekali dengan pasar lainnya, mulai dari kondisi pasar yang benar-benar aneh karena tak terlihat satupun orang yang hadir di pasar sedang bertransaksi disana.


"Hai, Dimitri !!!", panggil Mazonn.


Terlihat Mazonn yang kewalahan mengikuti gerakan langkah kaki Dimitri yang sangat cepat di depannya.


"Tunggu ! Kenapa jalanmu cepat sekali ?", ucap Mazonn.


"Apa perlu aku jelaskan padamu ?", sahut Dimitri.


"Iya, aku tahu kau sedang kesal karena aku tidak menanggapi ucapanmu tapi untuk apa kita pedulikan semua yang ada disini", kata Mazonn.


"Aku tidak kesal sama sekali atas sikapmu melainkan aku merasa kau terlalu acuh pada sekitarmu yang mungkin saja ini sebuah petunjuk untuk kita", ucap Dimitri.


"Tidak ada petunjuk yang spesifikasi karena kondisi pasar di lembah ngarai ini memang kondisinya demikian", kata Mazonn.


Dimitri tiba-tiba menghentikan langkah kakinya ketika Mazonn menjelaskan perihal keadaan pasar di lembah ngarai ini.


Berdiri diam membelakangi Mazonn yang berada di belakangnya.


"Kenapa kau berhenti ?'', tanya Mazonn keheranan.


"Kau mengatakan bahwa pasar di lembah ngarai memang aneh dan terlihat demikian ???", sahut Dimitri.


"Iya, benar sekali... Apa ada yang salah ???", kata Mazonn dari arah belakang.


"Ada yang salah ???", sahut Dimitri.


Dimitri lalu membalikkan badannya ke arah Mazonn yang berdiri tepat dibelakangnya seraya mengerutkan keningnya.


"Kau bertanya hal yang tidak masuk akal padaku, Mazonn !?", ucap Dimitri.


"Kenapa bisa tidak masuk akal ? Memang seperti inilah kondisi di lembah ngarai yang penuh keanehan..., bukankah semuanya sangat menarik !?", kata Mazonn.


Mazonn berdiri sambil merentangkan kedua tangannnya ke arah samping lalu tersenyum lebar.


"Kau bahagia dengan keadaan yang serba aneh ditempatmu ??? Apa kau tidak salah, Mazonn ???", sahut Dimitri keheranan.


"Tidak ada yang salah, menurutku. Dan aku rasa semuanya baik-baik saja sesuai keadaan yang semestinya di lembah ngarai ini", ucap Mazonn.


"Tidakkah kau berpikir bahwa tempatmu terasa penuh keanehan yang mungkin saja mengundang lelucon bagi semua orang yang datang dan melihat tempatmu ini", kata Dimitri.


"Lelucon ???", jawab Mazonn seraya tertawa keras.


"Dasar aneh... !?", gerutu Dimitri sambil memperbaiki letak lensanya.


"Pasar di lembah ngarai ini adalah pasar hantu yang dikhususkan bagi para siluman serta hantu yang saling melakukan transaksi", kata Mazonn.


"Apa !?", ucap Dimitri terhenyak kaget.


Mazonn hanya menganggukkan kepalanya saat dia menjelaskan perihal tentang pasar yang ada di lembah ngarai ini.


"Seperti inilah keadaan pasar hantu di lembah ngarai yang memang tersedia disini, semua akan tampak aneh dan ganjil bagi orang pada umumnya, Dimitri", sahut Mazonn.

__ADS_1


"Pasar hantu ??? Kenapa kau tidak sedari awal mengatakan bahwa pasar ini adalah pasar hantu, Mazonn !!!?", kata Dimitri.


Terlihat Dimitri sangat kesal dengan sikap Mazonn yang seakan-akan terlalu menyepelekan masalah yang menurutnya ini semua bukanlah masalah tapi hal biasa.


Dimitri merengut kesal ketika dia melihat Mazonn yang cengar-cengir tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Kau memang mengesalkan, Mazonn !", kata Dimitri.


"Kenapa aku harus menjelaskan hal yang biasa terjadi di lembah ngarai ini ? Karena aku berpikir bahwa kau sudah mengetahuinya keadaan pasar aneh ini, Dimitri...", ucap Mazonn.


"Tidak !", sahut Dimitri. "Aku sama sekali tidak mengetahui kondisi pasar hantu disini bahkan aku tidak melihat hantu satupun yang lalu lalang di tempat ini", sambungnya.


"Yah..., begitulah keadaannya... !?", jawab Mazonn.


Mazonn mengangkat kedua pundaknya sambil merentangkan kedua tangannya.


"Wajar !", kata Mazonn kembali.


"Astaga... Kau benar-benar keterlaluan dan sengaja mempermainkanku...", ucap Dimitri.


"Aku tekankan bahwa aku tidak sedang mempermainkan mu atau sengaja membuatmu bingung, Dimitri", sahut Mazonn.


"Lantas ???", kata Dimitri cemberut.


"Satu alasanku adalah aku tidak ingin kau ketakutan... Kedua alasanku adalah aku ingin kamu menyadarinya sendiri keadaan di pasar hantu ini...", lanjut Mazonn.


"Ketakutan katamu !? Berapa usiaku kalau aku boleh tahu ??? Apa kau bisa menghitungya ???", kata Dimitri.


"Yah, maafkan aku..., jika ini semua membuatmu marah tapi aku tidak sengaja atau bermaksud sengaja...", ucap Mazonn.


"Mungkin waktu dapat berputar kembali tapi tidak rasa kesalku yang begitu besar atas kesengajaan yang kau buat padaku, Mazonn", sahut Dimitri.


Mazonn meletakkan ujung jari telunjuknya ke arah bibirnya memberi isyarat tertentu pada Dimitri untuk diam.


"Sssstttt.... !!!", bisik Mazonn.


Kedua mata Mazonn bergerak ke kanan seolah-olah mengisyaratkan ada sesuatu yang terjadi di pasar itu.


Dimitri langsung tanggap dengan sikap Mazonn dan terdiam seraya meningkatkan kewaspadaannya pada area sekitarnya.


"Apa... !?", bisik Dimitri.


Mazonn menunjuk ke arah belakang Dimitri sehingga Dimitri penasaran lalu dia memutar tubuhnya pelan-pelan.


Kedua mata Dimitri mengarah ke arah yang ditunjuk oleh Mazonn saat dia membalik badannya.


"Apa ?", gumam Dimitri.


Tampak sejumlah orang berpakaian jubah keemasan dengan gambar simbol awan hitam sebagai motifnya.


"Siapa mereka ???", ucap Dimitri keheranan.


"Diamlah ! Jangan banyak besuara ! Dan dengarkan arah pembicaraan mereka !", bisik Mazonn.


Mazonn menarik lengan Dimitri untuk mendekat kepadanya serta menyuruhnya memperhatikan semua orang yang ada di pasar hantu dengan seksama.


"Perhatikan saja !", kata Mazonn.

__ADS_1


Dimitri lalu memperhatikan arah didepannya dimana sejumlah orang tengah berkumpul di suatu lapak kios.


"Tolong bawa barangnya kemari !", ucap salah seorang dari pria-pria berjubah itu pada seorang pria gemuk.


Pria gemuk yang mengenakan pakaian dari bola-bola timah lalu masuk ke dalam kios miliknya serta menghilang lenyap dari pandangan.


"Apa yang sedang mereka lakukan ?", bisik Dimitri bingung.


"Bertransaksi diantara para hantu dan siluman", sahut Mazonn berbisik pelan.


"Mereka semua siluman ???", bisik Dimitri tersentak kaget.


"Benar, mereka adalah para siluman yang menyusup kemari bersamaan dengan datangnya kurir surat Van Costel IV", sahut Mazonn setengah berbisik.


"Jadi itu mereka para siluman naga putih yang kamu maksudkan, Mazonn ???", bisik Dimitri.


Mazonn menganggukkan kepalanya cepat lalu mengiyakan pertanyaan Dimitri yang bertanya tentang sejumlah pria berjubah emas yang ada di pasar hantu lembah ngarai ini.


"Lantas transaksi apa yang sedang mereka lakukan sekarang ini ?", kata Dimitri.


"Aku tidak tahu transaksi yang mereka lakukan disini karena biasanya transaksi di pasar hantu adalah transaksi ilegal", sahut Mazonn.


"Apa penawar racun ada pada mereka ?", tanya Dimitri.


"Menurut perkiraanku saat ini, mereka sedang membelinya", kata Mazonn.


"Membeli penawar racun dari pasar hantu di lembah ngarai ini !? Apa tidak salah ???", sahut Dimitri kebingungan.


"Yah, memang seperti itulah keadaannya yang sebenarnya disini", kata Mazonn.


"Jadi kau sudah tahu kalau penawar racun itu berasal dari pasar hantu ini", ucap Dimitri.


"Bukan aku sudah mengetahuinya melainkan aku melihat pergerakan sejumlah siluman naga putih yang menyusup untuk mengacaukan lembah ngarai ini", kata Mazonn.


Dimitri langsung mengerutkan keningnya dan mulai berpikir mengenai ucapan yang dilontarkan oleh Mazonn tentang maksud kedatangan sejumlah pria berjubah keemasan itu ke lembah ngarai ini.


"Maksudmu, mereka datang kemari dengan sengaja hendak membuat kerusuhan disini", sahut Dimitri.


Pertanyaan Dimitri langsung dijawab oleh Mazonn dengan anggukkan kepala tegas.


"Artinya mereka membuntuti kurir surat ke lembah ngarai dengan maksud hendak memfitnah Van Costel IV karena kelalaian kurir surat yang tidak menyadari jika dirinya diikuti oleh siluman", kata Dimitri.


"Benar sekali ucapanmu itu, Dimitri", sahut Mazonn.


"Licik sekali mereka memperalat kurir surat demi kepentingan mereka sendiri agar terkesan kekacauan yang terjadi di tempat hiburan adalah kesalahan dari kurir surat", kata Dimitri.


"Mereka sengaja menciptakan kekacauan dengan kematian pria tua penjaga tempat hiburan serta meracuni wanita penari", lanjut Mazonn.


"Tujuannya jelas kalau mereka ingin kita salah paham pada Van Costel IV lalu mengurungkan niat kita membantu Van Costel IV dalam menghadapi Dalca II", sahut Dimitri.


"Tepat sekali daya analisa mu, memang itulah tujuan dari klan siluman yang merupakan sekutu besar dari Dalca II agar timbul perpecahan besar pada pihak kita yang mendukung perjuangan Van Costel IV", ucap Mazonn.


"Mereka tidak ingin kita mengamankan dunia dari ulah buruk para siluman karena itulah para siluman membuat siasat licik seperti ini", kata Dimitri.


"Miris sekali...", ucap Mazonn.


"Ini tidak bisa dibiarkan, Mazonn", sahut Dimitri.

__ADS_1


"Yah, seperti itulah siluman sejatinya diciptakan di muka bumi ini, Dimitri...", sahut Mazonn prihatin. "Dikirim untuk menciptakan kehancuran besar bagi peradaban manusia", sambungnya.


Dimitri terdiam seraya menatap ke arah sejumlah pria berjubah keemasan yang merupakan kaum dari bangsa siluman yang datang ke lembah ngarai untuk membuat kekacauan besar disini. Dengan melakukan transaksi di pasar hantu yang ada di lembah ngarai ini.


__ADS_2