
Wanita bercadar merah berdiri tegak menghadap ke arah Jia Li dengan tatapan mata yang mengandung arti saat dia menjelaskan tentang gambar-gambar hidup yang menceritakan tentang kisah perang Patra.
Bagaimana terbunuhnya Van Costel IV secara tragis di medan perang yang menjadi alasan utama Van Rogh Costel III membangkitkan putra tercintanya dari alam kematiannya.
Van Rogh Costel III berniat kuat untuk membuat Van Costel IV bangun dan hidup kembali dari alam kuburnya dengan sangat antusias mengadakan acara pernikahan aneh antara putranya yang telah mati dengan manusia terutama gadis yang beraroma bunga plum.
Paksaan pernikahan yang harus dialami oleh Jia Li yang serta merta menyeretnya ke dalam lingkaran kepedihan serta kutukan.
Pada saat pernikahan antara dirinya dengan orang mati yang kemudian bangkit dari alam kematiannya setelah sekian tahun dan orang mati itu berubah menjadi sosok hantu dengan sendirinya menarik kutukan kuat dari langit.
Larangan kuat yang datang dari langit atas terjadinya pernikahan antara manusia dengan hantu tentu saja tidak wajar karena hal itu merupakan dosa besar yang menentang hukum Tuhan.
Seandainya langit mendengar berita ini hingga mengetahuinya akan adanya pernikahan aneh antara Jia Li dan hantu Van Costel IV maka langit akan langsung mengirim mereka hukuman berat dan bahkan mungkin mereka akan dipisahkan.
Tidak itu saja, kutukan berat akan menghinggapi seluruh kedua belah pihak keluarga.
Nasib buruk ataupun petaka besar yang tidak tahu bentuknya akan datang menghancurkan seluruh kehidupan masing-masing keluarga kedua belah pihak mempelai pasangan beda dunia itu.
Entah, hukuman apa yang akan diturunkan oleh langit kepada mereka tetapi dari petunjuk ketua adat bahwa kutukan berat akan datang.
Hal itulah yang menjadi alasan kuat Laoshi menentang pernikahan dua alam berbeda itu. Dan terus memerangi Hantu Van Costel IV tanpa lelah.
Mencoba mengusik kehidupan pernikahan antara hantu Van Costel IV dengan Jia Li.
"Apa maksud kedatangan mu kemari ?", kata Jia Li sambil menatap dingin ke arah wanita bercadar merah. "Dan siapa namamu ?"
Jia Li kembali mengajukan pertanyaan kepada wanita bercadar merah.
"Namaku Xia He, nyonya besar !", sahut wanita bercadar merah.
"Xia He ?", kata Jia Li.
"Benar, nyonya Jia Li ! Xia He ini adalah salah satu anggota dari pasukan tersembunyi BENGT yang merupakan binaan nyonya utama Tianba, guru kami", sahut Xia He.
"Ibu...", gumam Jia Li.
Jia Li memandang Xia He getir seraya berkata kepada wanita bercadar merah itu.
"Lantas apa tujuan mu kemari ?"
"Menyampaikan pesan dari tetua lembah plum, guru Fang-Hua !", sahut Xia He.
__ADS_1
Xia He menyerahkan gulungan kristal berisi kertas pesan kepada Jia Li yang berdiri di hadapannya dengan tatapan dingin.
Jia Li lalu menerima gulungan kristal berisi kertas pesan dari tangan Xia He.
"Guru Fang-Hua !? Aku baru mendengar nama itu?", kata Jia Li.
"Guru Fang-Hua merupakan tetua adat lembah plum yang tinggal di lain tempat dari arah lembah karena saat ini lembah plum hanya diperuntukkan bagi murid-murid yang tengah menimba ilmu", sahut Xia He.
Jia Li membaca isi kertas yang ada di dalam gulungan kristal di tangannya dengan seksama hingga selesai.
"Akan ada pertemuan di lembah plum yang sengaja diadakan oleh ayah dan Laoshi ?'', kata Jia Li.
''Benar, nyonya besar ! Ayah anda hendak menggunakan kami, pasukan BENGT untuk melawan anda dan suami anda, nyonya besar !'', sahut Xia He.
''Apa mereka akan merencanakan penyerangan terhadap lembah Moldova ?'', tanya Jia Li.
''Tepatnya pada bulan purnama setelah malam suci dimulai pada perayaan tahun Baru, ayah nyonya besar serta guru Laoshi hendak menyusun siasat perang ke kediaman kalian di lembah Moldova'', sahut Xia He.
''Perang !?'', ucap Jia Li terhenyak kaget.
Pandangan mata Jia Li berubah menjadi nanar saat mengetahui kabar rencana ayahnya serta gurunya yang bernama Laoshi hendak menyerang dirinya dan Van Costel IV di lembah Moldova.
Tubuh Jia Li terhuyung-huyung hampir terjatuh jika saja Chyou tidak menahannya.
''Ba-bagaimana mungkin aku bisa kuat sedangkan ayah kandungku sendiri akan memerangiku hanya karena mereka beralasan menentang pernikahan antara aku dengan hantu Van Costel IV'', sahut Jia Li.
Jia Li bergetar hebat ketika mendengar ucapan Xia He tentang rencana ayahnya, Kwee Lan.
''Bukankah ini semua adalah rencana ayah yang menikahkan aku dengan Van Costel IV. Dan mengapa sekarang mereka semua memusuhi kami setelah cinta bersemi kuat di hati kami...''
Jia Li berkata dengan hati hancur saat mendengar ayahnya yang berbalik memerangi dirinya, putri kandungnya sendiri.
''Apa salah kami berdua sebenarnya, Chyou ?'', kata Jia Li.
Kedua mata Jia Li tampak berkaca-kaca saat menoleh ke arah Chyou yang berdiri di belakangnya sembari memegang kuat tubuhnya agar tidak jatuh.
''Kau adalah orang setiaku yang tahu segalanya tentang aku dan suamiku, bukankah kami terlihat saling mencintai ? Adakah yang salah dari hubungan antara kami berdua, Chyou ?'', ucap Jia Li.
''Tidak, tidak ada nyonya ! Tidak ada yang salah dari hubungan kalian berdua dan aku rasa kalian terlihat sangat saling mencintai...'', sahut Chyou.
''Lantas kenapa semua orang hendak memisahkan kami berdua ?'', tanya Jia Li. ''Dimana letak kesalahan dari hubungan kami ini, Chyou ?'', sambungnya.
__ADS_1
''Mereka hanya berhati iri serta dengki saat melihat kebahagiaan di dalam hubungan pernikahan kalian berdua berjalan harmonis, nyonya Jia Li'', kata Chyou.
''Itu tidak benar, Chyou ! Seharusnya kami bahagia, bukan !?'', ucap Jia Li.
Chyou hanya menganggukkan kepalanya seraya menundukkan kepalanya dalam-dalam sedangkan kedua tangannya memegang kuat-kuat tubuh Jia Li di dekatnya.
''Maaf, nyonya besar Jia Li ! Xia He datang kemari menyampaikan informasi tentang pasukan BENGT !'', kata Xia He.
Jia Li menoleh ke arah Xia He yang berdiri sembari memberi hormat.
''Katakanlah padaku informasi apa yang ingin kamu sampaikan kepadaku, Xia He !'', kata Jia Li.
Xia He terdiam lalu menolehkan kepalanya ke arah kanan dan kiri secara bergantian.
Memastikan keadaan di sekitar mereka aman tanpa adanya orang lain yang berada di area taman saat ini.
Xia He kembali melanjutkan ucapannya dengan mengeluarkan sesuatu dari dalam balik kain tipis yang ada di tangannya.
Sebuah pecahan plakat dari emas murni dengan simbol bunga plum yang terbelah diperlihatkan oleh Xia He kepada Jia Li.
''Aku punya benda yang sama dengan punyamu itu, Xia He !'', kata Jia Li.
''Benda ini bukan kepunyaanku tetapi ini segel yang diberikan oleh tetua Fang-Hua, segel ini merupakan peninggalan guru Tianba kami, nyonya besar'', sahut Xia He.
''Segel !?'', tanya Jia Li. ''Segel apakah itu ?'', sambungnya.
''Plakat dari emas ini merupakan segel yang merupakan alat untuk menggerakkan pasukan khusus BENGT yang merupakan pasukan dari lembah plum yang hanya patuh pada pemilik segel ini !'', sahut Xia He.
''Tunggu sebentar !'', kata Jia Li.
Jia Li lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam saku gaunnya yang terbuat dari kain sutera merah muda, terlihat sebuah benda yang mirip dengan plakat emas yang terbelah di tangan Xia He.
''Ini segel punyaku yang diberikan oleh ibuku sewaktu aku berulang tahun di usiaku yang kelimabelas tahun'', kata Jia Li.
Jia Li lalu mengulurkan tangannya yang menggenggam plakat dari emas dengan simbol bunga plum terbelah ke arah plakat yang ada di tangan Xia He.
Kedua plakat dari emas dengan simbol bunga plum terbelah itu lalu sama-sama menyatu erat dan membentuk sebuah plakat utuh bersimbol bunga plum yang terbuat dari batu Ruby merah.
Xia He lalu menyerahkan plakat emas itu kepada Jia Li sambil berkata padanya.
''Sekarang anda sudah sah menjadi pemilik dari segel emas ini yang merupakan plakat untuk memimpin pasukan BENGT ! Dan sepenuhnya kami pasukan khusus lembah plum yaitu pasukan BENGT akan tunduk dan patuh pada semua peraturan serta perintah anda, nyonya besar Jia Li !''
__ADS_1
Ucap Xia He kepada Jia Li dan bersamaan itu pula muncul sekelompok wanita yang semuanya bercadar merah dari arah belakang Xia He langsung membentuk formasi barisan panjang yang rapi. Kumpulan pasukan bercadar merah yang seluruhnya tampak sama dan sulit untuk dibedakan satu dengan lainnya.