Suami Ku Hantu

Suami Ku Hantu
Bab 40 Mengejutkan


__ADS_3

Antolin Lucian bergerak cepat menuju ke sebuah tempat di salah satu rumah megah milik keluarga Kwee Lan.


Intuisinya langsung mengarah ke sebuah kamar yang berada di tengah-tengah halaman rumah berukuran agak besar dari bangunan yang ada di rumah itu.


''Kita turun di bangunan rumah ini !'', perintah Antolin Lucian.


''Baik, tuan Lucian !'', sahut orang-orang berjubah hitam itu.


Mereka turun tepat di pintu masuk rumah yang berarsitektur timur dengan hiasan kepala naga disisi-sisi pilar rumah serta atap rumah.


Antolin Lucian bergerak cepat menuju ke beranda atas rumah lalu berjalan lambat memasuki rumah yang terkunci dari dalam.


Tidak ada seorangpun yang mengetahui keberadaan Antolin Lucian serta anak buahnya di rumah itu.


''Kita masuk ke dalam ruangan rumah dan beberapa lainnya berjaga-jaga disini !'', perintah Antolin Lucian.


''Kalian dengar perintah tuan Lucian !'', kata orang dengan topeng yang agak berbeda dari rekan-rekannya.


''Kami mengerti !'', sahut mereka semua serempak.


Antolin Lucian memberi tanda berupa aba-aba tangan kepada anak buahnya untuk mengikuti dirinya masuk ke ruangan dalam rumah.


Mereka bergerak secepat kilat masuk meninggalkan yang lainnya untuk berjaga-jaga di luar ruangan rumah.


WUSSSH... WUSSSHHH... WUSSSHHH...


Suara hembusan angin mengiringi langkah mereka saat masuk, mereka bergerak ke arah bagian-bagian yang ada di rumah itu dengan hati-hati.


''Kita berpencar ! Selidiki setiap bagian yang ada di rumah ini tanpa ketahuan, paham !'', kata Antolin Lucian.


''Baik !'', sahut beberapa orang berjubah hitam kompak.


''Aku akan menuju ke ruangan di lantai atas dan memeriksanya, mungkin Kwee Lan ada di dalam rumah ini'', kata Antolin Lucian.


''Apa yang harus kami lakukan ?'', tanya seorang berjubah hitam itu.


''Cari hal yang patut dicurigai atau selidiki jejak Dalca II di rumah ini !'', sahut Antolin Lucian.


''Siap, tuan Lucian !'', jawab mereka.


''Aku pergi dulu ke lantai atas ! Dan kamu ikut aku ! Lindungi aku !'', perintah Antolin Lucian pada orang bertopeng lain itu.


Topeng anak buah Antolin Lucian yang satu itu memang agak berbeda dari rekan-rekannya yang lainnya.


Ada sebuah tanda khusus di topeng orang berjubah hitam itu seperti lambang huruf kuno yang menyimbolkan sesuatu berwarna merah dengan garis hitam di tengah-tengahnya.


''Ayo, cepat ! Karena kita harus menyelesaikan misi ini malam ini juga sebelum kita berangkat ke hutan Hoia Baciu !'', kata Antolin Lucian.


''Iya ! Apakah yang akan kita lakukan pada Kwee Lan, tuan Lucian ?'', sahut orang berjubah hitam itu.


''Nanti kita pikirkan setelah kita melihatnya di lantai atas'', sahut Antolin Lucian.

__ADS_1


''Baik, tuan Lucian'', kata orang berjubah hitam itu patuh.


''Jangan lupa untuk terus waspada, mengerti !'', pesan Antolin Lucian.


''Siap...!'', sahut orang bertopeng lain itu.


Antolin Lucian lalu bergerak cepat ke lantai atas dengan gerakan terbang melompat setelah menginjakkan kakinya ke atas lantai.


Tubuh Antolin Lucian melambung tinggi ke arah atas tak lupa kaki-kaki Lucian terus menjejakkan ke dinding-dinding yang ada di sekitar tangga naik.


HUP ! HUP ! HUP !


Antolin Lucian terus terbang berlompatan di area lantai atas yang sangat luas.


Dia bergerak bagaikan kilat sembari memeriksa tiap-tiap ruangan yang ada di lantai atas.


Gerakan tangan Antolin Lucian mengarah ke depan seraya mengeluarkan hembusan angin kencang yang mampu mendorong pintu-pintu yang ada di setiap ruangan dengan mudah terbuka tanpa dia harus meraihnya.


BRAK ! BRAK ! BRAK !


Setiap pintu di ruangan lantai atas terbuka cepat kemudian tertutup kembali saat Antolin Lucian mengarahkan tangannya ke arah pintu-pintu itu dengan satu gerakan.


BRAK ! BRAK ! BRAK !


Antolin Lucian melakukannya sambil terus berjalan sepanjang area jalan lantai atas.


Orang berjubah hitam itu yang bertugas untuk melihat setiap ruangan dengan masuk ke dalam secepat kilat.


Menyelidikinya cepat kemudian keluar ruangan lalu masuk lagi ke tiap-tiap ruangan lantai atas.


Dia berdiri dengan tangan terarah terus ke arah pintu agar tetap terbuka lalu menutupnya kembali setelah anak buahnya itu keluar dari dalam ruangan.


Orang berjubah hitam itu menggelengkan kepalanya pelan lalu berkata.


''Tidak ada yang saya temukan di tiap-tiap ruangan itu dan semuanya hanya ruangan-ruangan biasa seperti kamar atau ruangan kosong dengan perabotan lengkap yang jarang disentuh'', sahut orang berjubah hitam itu.


Tiba-tiba suara aneh dari sebuah kamar yang terletak di pojok ruangan lantai atas.


Suara itu terdengar seperti lolongan panjang harimau.


HOAM ! HOAM ! HOAAAM !


Lolongan itu semakin keras sehingga menarik perhatian Antolin Lucian untuk mendekatinya.


''Apa itu ?'', tanyanya sambil terus berjalan.


''Seperti suara harimau yang kesakitan tapi ini aneh karena suaranya tidak terdengar layaknya harimau, mirip suara manusia yang kesakitan'', sahut orang berjubah hitam.


''Kita lihat saja kesana, mungkin saja kita akan menemukan sesuatu yang kita butuhkan atau hal unik'', kata Antolin Lucian.


''Berhati-hati tuan Lucian !'', ucap orang berjubah hitam itu mengingatkan.

__ADS_1


''Yah... !'', sahutnya lalu bergerak cepat ke kamar itu.


Antolin Lucian berdiri di samping pintu sambil mengintip ke dalam ruangan kamar yang pintunya terbuka sedikit.


Dia tidak melihat apa-apa disana hanya ada seperangkat meja kamar yang terletak tak jauh dari pintu masuk.


HOAM ! GRRRR.... HOAM ! GRRRR... HOAM !


Suara auman harimau terdengar kembali dari dalam kamar dan mengejutkan Antolin Lucian yang saat itu sedang berdiri mengintip di dekat pintu masuk.


''Apa kita masuk saja ke dalam sana, tuan ?'', tanya orang berjubah hitam itu.


''Sepertinya kita terpaksa masuk kesana karena kita tidak dapat melihat apa-apa dari luar sini'', sahut Antolin Lucian.


''Apa perlu saya saja yang masuk ke dalam sana ?'', tanya orang bertopeng lain itu.


''Jika menurutmu itu yang harus kamu lakukan maka kerjakanlah dan aku akan menunggumu di luar sini'', sahut Antolin Lucian.


''Siap, tuan Lucian !'', lanjut orang itu.


Orang berjubah hitam dengan topeng anehnya itu lalu bergerak masuk ke dalam ruangan kamar secara tembus pandang.


SRRRTTT...


Dia masuk secepat kilat tapi tak berapa lama tubuhnya terpental keluar dari kamar kemudian terbentur keras ke dinding.


BRAK !


Orang berjubah hitam itu jatuh ke lantai dan membuat Antolin Lucian yang berdiri di dekat pintu masuk terkejut kaget.


''Ada apa ?'', tanyanya penasaran.


Pada saat Antolin Lucian hendak masuk ke dalam kamar, orang berjubah hitam itu menghentikannya.


''Jangan masuk ke sana, tuan !'', teriaknya.


''Apa !?'', gumam Antolin Lucian semakin kaget.


Orang berjubah hitam dengan topeng anehnya itu mencoba berdiri dari atas lantai tetapi tubuhnya terhuyung-huyung.


''Apa itu sakit ?'', tanya Antolin Lucian berkelakar.


''Tidak !'', sahut orang itu. ''Uhk !'', rintihnya seraya memegangi dadanya yang sakit.


''Tidak sakit !? Tapi kamu terluka ? Jelas itu sakit...'', kata Lucian.


Tangan Antolin Lucian terangkat ke atas menutupi sebagian wajahnya saat melihat anak buahnya terluka.


''Bagaimana dia bisa terluka ? Bukankah dia salah satu pasukan khusus milik Van Costel IV !?'', ucap Lucian meringis.


Orang berjubah hitam itu lalu bergerak kembali ke dalam kamar tapi tak sampai beberapa menit kemudian dia terlempar keluar dari dalam kamar. Di

__ADS_1


BRAK ! BRUK ! BRAK ! BRUK !


Hal itu terus terjadi berulang-ulang kali setiap orang berjubah hitam itu masuk kedalam kamar sedangkan Antolin Lucian hanya diam berdiri melihatnya sembari terus menoleh ke arah anak buahnya yang terus-menerus jatuh terlempar keluar.


__ADS_2