Suami Ku Hantu

Suami Ku Hantu
Bab 71 Bola Kaca Yang Berarti


__ADS_3

Dimitri memutar bola kaca milik Mazonn yang ada dihadapannya, didekatkannya satu lensa yang menggantung di salah satu matanya.


Mengamati bola kaca dengan seksama lalu mengangkat salah satu jari telunjuknya ke benda berbentuk bulat itu.


"Apa yang kau pikirkan, Mazonn ?", tanya Dimitri.


"Hmmm... !?", Mazonn hanya bergumam.


Dimitri kembali memperhatikan arah bola kaca yang terus berputar-putar pelan.


"Tidak ada yang tampak mencurigakan dari pemandangan di bola kaca ini !?", kata Dimitri.


Dimitri mengamati bola kaca yang terletak melayang di depannya secara cermat lalu menoleh ke arah Mazonn, sahabat karibnya.


"Apa kau sedang mencari petunjuk dariku ?", lanjut Dimitri seraya melepas lensa yang menggantung di salah satu matanya.


"Tidak seperti yang kau bayangkan karena bentuk itu tak terlihat secara jelas dari penglihatan normal, Dimitri", sahut Mazonn.


"Benarkah !?", kata Dimitri sambil mengangkat salah satu alisnya ke atas.


Sebuah senyum membayang di raut wajah Dimitri saat dia berdiri tegak di hadapan Mazonn sedangkan kedua tangannya terentang ke arah samping.


"Bayangan itu tidak terlalu berarti untukku tapi aku tahu apa yang sedang ingin kau katakan padaku, Mazonn", lanjut Dimitri.


"Apa !?", jawab Mazonn.


Mazonn berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya ke arah depan dengan raut wajah serius.


"Aku tidak ingin mengatakannya padamu secara harfiah tapi ini sangat menarik sekali karena terlalu menantang bagiku, Mazonn", ucap Dimitri.


"Itu maksudku...", kata Mazonn.


"Lantas !?", tanya Dimitri.


"Entahlah...", jawab Mazonn.


"Kau yakin ???", lanjut Dimitri.


"Menurutmu !?", ucap Mazonn.


"Lembah ngarai milikmu sangat unik untuk dilalui semua bangsa karena itulah aromanya tidak ingin tercium oleh siapapun yang pernah singgah kemari", kata Dimitri.


"Yah...", sahut Mazonn acuh.


"Lalu cara yang akan kau lakukan untuk itu, apakah kau telah memilikinya ?", ucap Dimitri.


"Tidak terlalu meyakinkan, tapi...", sahut Mazonn.


Mazonn melirik ke arah wanita penari yang masih terbaring di atas meja.


"Aku hanya ingin lembah ini baik-baik saja tapi aku juga tidak dapat berjanji pada semua orang akan selamat jika mereka tidak mematuhi peraturan yang telah ada selama ini", kata Mazonn.


"Tapi mereka sudah mengetahuinya dan tidak ada yang bisa membantahnya, bukan ?", kata Dimitri.


"Tidak semuanya yang datang mengerti karena itulah aku membuat aturan lainnya yang lebih ringan buat pendatang baru disini", sahut Mazonn.


"Pendatang baru ???", ucap Dimitri.


"Hmmm..., iyah...", sahut Mazonn bergumam pelan.


"Setiap tamu di tempatmu, bukankah kau seharusnya merasa senang jika mereka datang berkunjung ke lembah ngarai ini", kata Dimitri.


"Ya, aku merasa bahagia tentunya...", sahut Mazonn menyeringai lebar.


"Lantas !?", kata Dimitri sambil mengedipkan salah satu matanya ke arah Mazonn.

__ADS_1


"Terserah...", jawab Mazonn dengan mengangkat kedua pundaknya.


"Baiklah, kita akan mengurusnya secara benar", kata Dimitri.


"Bagaimana !?", jawab Mazonn.


"Mudah...", lanjut Dimitri.


Dimitri kembali memutar bola kaca yang ada di telapak tangannya lalu menggerakkan jari jemari tangannya ke arah benda berputar itu.


Sinar terang memancar lurus ke arah bola kaca disertai taburan bintang-bintang bercahaya terang yang mengelilinginya.


"Dia ada disana !", kata Dimitri.


"Kau mengetahuinya ?", ucap Mazonn.


"Tidak ada yang bisa bersembunyi dari pandangan lensa ku, Mazonn", sahut Dimitri.


"Dimana dia sekarang ?", kata Mazonn.


"Untuk apa kau mencari mereka ?", tanya Dimitri.


"Sebenarnya tidak terlalu penting tapi menurutku apa sebaiknya yang harus kita lakukan ?", kata Mazonn.


"Terserah padamu saja, Mazonn", sahut Dimitri.


"Apa tidak terlalu mudah menemukan mereka ?", kata Mazonn.


"Semua keputusan ada padamu, Mazonn", jawab Dimitri. "Ini adalah daerah kekuasaanmu, milikmu, tanahmu, negerimu dan jiwamu, Mazonn", sambungnya.


"Aku tidak terlalu suka tantangan yang mudah...", sahut Mazonn.


Mazonn berjalan menghampiri wanita penari yang berada di atas meja panjang dengan tubuh terselimuti oleh cahaya biru.


Diarahkannya kedua telapak tangannya ke atas cahaya biru di tubuh wanita penari lalu sinar terang kembali terpancar dari telapak tangannya.


"Apa Tuhan itu ada ?", kata Dimitri.


"Maksudmu ?", sahut Mazonn yang serius mengarahkan kedua telapak tangannya.


"Tidak ada, aku hanya ingin sedikit hipotesa...", kata Dimitri.


"Hipotesa ???", ucap Mazonn.


Mazonn sedikit tersenyum lalu menarik cahaya biru yang menyelimuti tubuh wanita penari.


"Secara harfiah Dia ada tapi aku belum pernah melihat-Nya dengan nyata", kata Mazonn.


Mazonn mengangkat kedua tangannya ke arah wanita penari sehingga badan wanita itu terangkat ke atas lalu melayang pelan di atas meja panjang.


Digerakkannya tangan Mazonn tepat ke arah ranjang yang ada di dalam kamar kemudian dia mengarahkan tubuh wanita penari yang terbang perlahan-lahan ke atas tempat tidur.


"Kita bergerak sekarang, Dimitri", kata Mazonn.


"Terserah padamu, Mazonn... Aku hanya mematuhi perintah pemimpin lembah ini...", sahut Dimitri.


"Tunggu, aku akan membuat lingkaran pelindung untuk wanita ini", kata Mazonn.


"Begitu berartinya dia bagimu, Mazonn", sahut Dimitri.


"Tidak !", ucap Mazonn santai.


"Oh, iya !?", kata Dimitri.


"Yah, kenapa kau bisa berpikiran demikian, Dimitri ?", ucap Mazonn.

__ADS_1


"Karena sikapmu dan perlakuanmu padanya lebih berbeda daripada yang lainnya, Mazonn", kata Dimitri.


"Beda sikapku hanya karena aku penasaran dengan penawar racun yang harus aku dapatkan dari mereka", sahut Mazonn.


"Bukankah kau dapat menyembuhkan ribuan racun dari berbagai macam jenis racun yang ada di dunia ini, Mazonn ???", kata Dimitri.


"Tapi jenis racun ini agak langka dan aku tertarik dengan pembuat racun ini", sahut Mazonn.


Mazonn mengusap kedua tangannya dengan kain sutera untuk membersihkannya.


"Apa kau bermaksud mempelajarinya ?", tanya Dimitri.


"Yah, tentu saja karena racun ini super langka dan sangat kuat sekali pengaruhnya bagi yang terkena racun ini, Dimitri", sahut Mazonn.


"Bukankah kau sendiri pencipta racun super dan langka, untuk apa kau mencari mereka ?", kata Dimitri.


"Kau yakin jika aku akan mempelajarinya ???", sahut Mazonn.


Dimitri terhenyak kaget lalu mengalihkan pandangannya ke arah Mazonn dari kedua tangannya yang berubah menjadi berjari-jemari runcing serta berwarna kuning keemasan.


"Kau tidak serius mengatakannya, bukan ??", kata Dimitri.


"Apa wajahku terlihat serius ?", tanya Mazonn.


"Tentu saja, aku melihatnya kau sangat serius sekali tapi bukan berarti penampilanmu menunjukkan bahwa kau benar-benar serius mengatakannya", sahut Dimitri lugas.


"Wajar saja... Karena aku sendiri tidak ingin menganggapnya terlalu serius, Dimitri", ucap Mazonn.


Mazonn menarik tirai yang menghiasi ranjang tidur di kamar supaya menutupi tempat tidur dimana wanita penari terbaring disana.


Mengarahkan lingkaran pelindung yang bercahaya terang ke arah sekeliling tempat tidur lalu menutup cepat kedua pintu kamar dengan sekali hentakan lambaian tangan.


Tubuh Mazonn bergerak pelan menghampiri Dimitri yang berada di depan pintu keluar villa.


"Aku tidak yakin jika daerah kekuasanmu tidak memiliki mata-mata, seharusnya kau menyerahkan urusan ini pada mereka, Mazonn", ucap Dimitri.


"Ini sangat rahasia, Dimitri", kata Mazonn.


"Rahasia ?", tanya Dimitri. "Kenapa ?"


"Yah, seperti itulah keadaannya dan sangat rahasia, Dimitri", sahut Mazonn.


"Alasan itulah yang membuatmu ingin menyelesaikannya sendiri ? Bukankah akan lebih ringan jika kau menyerahkan tugas ini pada pasukan mata-mata milikmu !?", kata Dimitri.


Mazonn sedikit menggelengkan kepalanya lalu menatap ke arah luar villa.


"Masalahnya misi ini rahasia dan berkenaan dengan Van Costel IV, aku tidak ingin berita ini terdengar keluar bahkan oleh pasukan rahasiaku sendiri", kata Mazonn.


"Hanya karena kau tidak menginginkan lembah ini gempar oleh mereka, bukan ?", ucap Dimitri.


Mazonn menarik nafas dalam-dalam seraya menatap serius luar villa miliknya yang dipenuhi oleh tanaman hijau serta bunga-bunga yang bermekaran.


"Mungkin...", sahut Mazonn.


"Mungkin !?", kata Dimitri.


"Mungkin saja, Dimitri...", ucap Mazonn. "Mungkin...", sambungnya.


"Menarik...", ucap Dimitri.


"Hmmm..., iya, sangat menarik...", sahut Mazonn.


"Mungkin...", kata Dimitri.


Giliran Dimitri menghela nafas panjang saat mendengar ungkapan hati Mazonn yang bersikeras menutupi masalah yang baru saja terjadi di lembah ngarai ini.

__ADS_1


Sedikit tidak memahami jalan pikir Mazonn, sahabat karibnya tapi Dimitri seolah-olah mengerti dengan yang dipikirkan oleh Mazonn. Meski Dimitri berusaha untuk memahaminya.


Keduanya saling menatap lurus ke arah luar villa serta sama-sama berdiri di atas beranda villa dengan pandangan mata yang mengandung misteri.


__ADS_2