
Jia Li memandang lepas ke arah luar jendela kediaman Hantu Van Costel IV.
Musim gugur telah berlalu sehari yang lalu, saatnya menyambut musim dingin di Rumania.
Jia Li mengusap lembut kedua pangkal lengannya seraya mengeratkan dekapan kedua tangannya pada tubuhnya.
Gaun tipis berwarna hijau muda dengan hiasan bunga koral di bagian dadanya membuat penampilan Jia Li lebih segar.
Salju belum terlihat turun hari ini hanya terasa udara dingin mulai merambat di sekitar area ruangan saat angin berhembus masuk.
Jia Li menarik pelan kedua pintu jendela kamarnya lalu menutupnya rapat seraya ditariknya tirai tipis yang menghiasinya hingga jendela tertutup.
Melangkah ke arah pintu kamar bermaksud keluar dari sana.
Jia Li menoleh kembali sebelum dia pergi dari ruangan kamarnya sembari menengok ke arah ranjang tidur, tempatnya beradu mesra bersama hantu Van Costel IV semalaman.
Masih terlihat jejak semalam di atas ranjang kesayangan mereka berdua, taburan wangi aroma parfum dari tubuh Van Costel.
Senyum merekah di sudut bibir Jia Li lalu dia kembali meneruskan langkahnya keluar dari kamar.
Sebuah ruangan dengan deretan rak buku tanpa jendela di sekitarnya dan hanya diterangi oleh sinar lampu temaram dari lampu gantung kristal yang ada di atas ruangan.
Terlihat sosok pria duduk termenung di atas kursi sambil menatap dingin.
Didekatnya terdapat meja panjang dari kayu ukir dengan sebotol kaca kristal berisi minuman berwarna merah darah terletak di atasnya.
Aroma wangi semerbak luas ke seluruh ruangan yang mirip perpustakaan pribadi.
Pria itu menghela nafasnya pelan dan masih duduk terdiam sedangkan salah satu tangannya memainkan ujung gelas yang berisi minuman berwarna merah darah berulangkali.
KRIEEET...
Pintu ruangan terbuka lebar tetapi pria yang duduk di kursi masih diam tak bereaksi.
''Sayang...'', terdengar suara perempuan menyapa pria itu.
Pria berwajah pucat tetapi sangat tampan menawan segera menolehkan kepalanya ke arah datangnya suara yang menyapanya.
''Jia Li...'', sahut pria itu tertegun.
''Apa yang kau lakukan disini, Van Costel ?'', ucap Jia Li.
Jia Li melangkah masuk menghampiri pria tampan yang duduk di sebuah kursi antik dengan salah satu tangannya memegang gelas kristal berisi minuman.
Perempuan cantik itu lalu berdiri tegak tepat dihadapan pria tampan kemudian membungkukkan badannya agak condong ke depan ke arah pria berwajah pucat itu.
''Kau sedang sedih, Van Costel ?'', tanya Jia Li.
Jia Li mengusap wajah Van Costel IV lembut lalu dia duduk di atas pangkuan hantu tampan itu kemudian mencium mesra bibirnya.
''Apa yang kau minum, sayang ?'', kata Jia Li.
Diusapnya bibir Van Costel IV dengan ujung jarinya yang membekas warna merah lipstik yang dikenakan oleh Jia Li saat dia mencium bibir hantu tampan itu.
Jia Li mengulangi lagi sikapanya dengan mencium mesra Van Costel IV.
''Hmmm..., sayang...'', gumam Van Costel IV.
''Ya, sayang'', sahut Jia Li.
Jia Li masih terus mengulangi perbuatannya yang menciumi bibir Van Costel berulangkali.
''Apa yang ingin kau katakan, Van Costel ?'', tanya Jia Li.
Jia Li lalu menarik dirinya agak menjauh dari wajah hantu tampan itu tetapi kedua tangannya merangkul leher Van Costel dengan erat.
''Apa yang sedang kamu pikirkan, sayangku ?'', kata Jia Li.
__ADS_1
Van Costel IV hanya tersenyum lembut seraya menyandarkan kepalanya ke bahu Jia Li.
''Aku sedikit lelah...'', bisik Van Costel.
''Tidak biasanya kamu merasa lelah. Apa yang menganggu pikiranmu hari ini, Van Costel ?'', jawab Jia Li.
''Mungkin karena aku usai melewati malam kelima belas yang membuatku kehabisan energi spiritualku..., dan kini aku merasa agak letih setelah semalaman bercinta denganmu...'', sahut Van Costel.
''Kau pandai menggodaku, sayangku'', ucap Jia Li tertawa renyah.
''Kaulah jiwaku yang mampu menghidupkan semangatku bahkan saat aku merasa letih, kau yang mampu menghalau rasa itu pergi, Jia Li'', sahut Van Costel IV.
''Dan aku akan bangga menjadi sandaran hatimu, Van Costel'', ucap Jia Li.
Sesaat suasana menjadi hening, hanya ada Jia Li dan hantu tampan di ruangan itu saling terdiam.
Keduanya berpelukan di kursi antik dengan ditemani oleh temaram lampu kristal yang mengantung di atas ruangan.
''Aku belum mendengar kabar dari Antolin Lucian sejak kepergiannya ke hutan Hoia Baciu...'', bisik Van Costel.
''Apa kau mengkhawatirkannya ?'', sahut Jia Li sambil mengusap rambut di kepala Van Costel IV.
''Tidak, aku tidak perlu merasa khawatir akan keadaan Antolin Lucian karena aku yakin dia mampu menyelesaikan tugas misi itu dengan mudah'', kata Van Costel.
''Lantas apa yang membuatmu risau hingga kau sibuk memikirkan Antolin daripada istrimu ini ?'', ucap Jia Li.
''Apa kau cemburu padanya ?'', kata Van Costel lalu tertawa.
Van Costel IV merapatkan tubuh Jia Li yang berada di atas pangkuannya hingga lebih dalam menghujam tubuhnya.
Membuat Jia Li terengah pelan dengan bibir yang tak sengaja terbuka merekah.
''Ehk !?'', gumam Jia Li saat tubuhnya tenggelam di dalam tubuh Van Costel.
''Sekarang kau tahu beda antara dirimu dengan Antolin Lucian !'', ucap Van Costel.
Hantu tampan itu semakin menghujamkan tubuhnya lebih dalam lagi ke tubuh Jia Li hingga perempuan cantik itu tersentak keras.
Kuku-kuku jari tangan Jia Li mencengkeram erat ke pundak Van Costel saat hantu tampan itu mendesak dirinya dengan keras.
''Van Costel...'', ucap Jia Li dengan mata terpejam.
''Apakah nikmat saat tubuhku didalam tubuhmu, Jia Li sayang ?'', bisik Van Costel bercucuran keringat.
''Kau melakukannya lagi setelah semalaman kita menghabiskan waktu kita, Van Costel !'', sahut Jia Li yang turut mempercepat gerakan tubuhnya seakan-akan dia tidak ingin kalah dari hantu tampan itu.
''Tapi kau menyukai permainan ini dan kau sangat menikmatinya'', ucap Van Costel sambil menggeram.
''Kau yang membuatku menikmatinya, dan bukan salahku jika aku menginginkanmu lebih, sayangku'', sahut Jia Li diatas tubuh Van Costel IV.
''Karena aku tergiur padamu, Jia Li ! Wajar jika aku menginginkannya !'', ucap Van Costel.
Hantu tampan itu membuat gerakan cepat saat Jia Li berada di atas pangkuannya hingga membuat kursi antik itu berdecit keras.
KRIET... KRIET... KRIET...
Suara derit dari arah kursi antik tempat Van Costel IV duduk bersama Jia Li semakin nyaring.
Tubuh keduanya basah oleh keringat yang bercucuran deras saat mereka saling berciuman mesra di atas kursi antik.
Jia Li membalas liar ciuman demi ciuman Van Costel IV yang memburu bibirnya dan membuat suara keras dari kedua bibir mereka saat beradu mesra.
Tatapan Van Costel berubah menjadi teduh ketika Jia Li mempercepat goyangan tubuhnya di dalam dirinya dengan keras.
Van Costel menghujamkan tubuhnya semakin dalam ke tubuh Jia Li lalu dalam hitungan menit dia melepaskan dirinya.
Mereka sama-sama mendengus keras kemudian Van Costel IV menarik tubuh Jia Li ke atas meja kayu ukir di dekat mereka.
__ADS_1
Hantu tampan itu tidak memberi kesempatan kepada Jia Li untuk bernafas dan semakin menambah irama gerakan tubuhnya di dalam tubuh Jia Li.
Jia Li hanya bisa pasrah menerima serangan Van Costel ke dalam dirinya dengan mengimbanginya dengan mengikuti setiap gerakan permainannya yang ganas.
"Apakah tugas membuat bayi dalam rahim harus mengeluarkan tenaga sebesar ini ? Dan haruskah kami bekerja keras ?"
Gumam Jia Li dalam hatinya saat Van Costel IV tidak memberinya waktu jeda sedikitpun saat mereka sedang bercinta.
Helai kain gaun tipis yang dikenakan oleh Jia Li melambai-lambai lembut ketika dirinya tengah melayani hasrat cinta hantu tampan itu.
Waktu berlangsung cukup lama saat mereka melakukan permainan cinta mereka di dalam ruangan yang dihiasi dinding-dinding kayu.
Suasana romantis terasa di ruangan tersebut ketika kedua pasangan dimabuk cinta itu tenggelam dalam permainan-permainan mereka.
Suara hentakan-hentakan keras dari tubuh mereka saat beradu mesra memenuhi seluruh ruangan berukuran sedang itu.
Udara dingin di pagi hari semakin membuat kedua insan yang saling mencintai itu mengeratkan tubuh mereka masing-masing hingga menambah suasana di dalam ruaangan menjadi lebih panas.
Selang beberapa menit kemudian...
Tampak Jia Li keluar dari dalam ruangan dengan gaun kusut masai serta penampilan yang teramat sangat berantakan lalu dia melangkah lemas menuju ke ruangan tempat biasanya dia dan Van Costel menghabiskan waktu untuk makan.
Jia Li duduk di kursi makan dimana meja dihadapannya telah tersaji berbagai hidangan lezat di atasnya.
Seorang pelayan menghampiri Jia Li seraya menuangkan minuman hangat ke dalam cangkir minumannya yang terletak didekatnya kemudian meletakkan sepiring berisi sarapan berupa lasagna berlapis keju didepannya.
Pandangan mata Jia Li terlihat sendu dan wajahnya sedikit lelah seusai melayani suami hantunya tadi.
Tangannya gemetaran ketika dia hendak menyendokkan lasagna ke dalam mulutnya.
KLANG... !
Sendok emas dalam genggamannya jatuh ke atas lantai saat dia akan mengangkatnya.
''Nyonya !?'', ucap pelayan disampingnya.
Seorang gadis lalu berlari mendekat ke arah meja makan dimana Jia Li duduk dengan tubuh masih lemas.
''Nyonya Jia Li !? Apa kau baik-baik saja ?'', tanya seorang gadis berkepang dua kepada Jia Li.
''Aku baik-baik saja, Chyou...'', sahut Jia Li.
''Tubuhmu berkeringat dan basah, nyonya ! Aku sebaiknya mengambil pakaian ganti untukmu sekarang !'', ucap gadis bernama Chyou.
''Tidak perlu, Chyou ! Karena setelah aku menyelesaikan sarapanku maka aku akan berencana kembali ke kamarku untuk mandi...'', sahut Jia Li.
''Tapi nyonya !? Kau basah kuyup hingga gaunmu menempel erat di badanmu, dan kau bisa masuk angin !'', ucap Chyou cemas.
''Biarkan aku menghabiskan sarapanku pagi ini... Dan tolong ambilkan aku lagi sendok makan untukku !'', kata Jia Li.
Seorang pelayan yang berdiri di dekat Chyou segera berlari kecil mengambil sendok yang ada di kereta makan lalu kembali ke Jia Li untuk memberikannya.
''Terimakasih...'', ucap Jia Li mencoba tersenyum ramah kepada mereka. ''Apa kalian sudah sarapan pagi ini ?'', sambungnya.
''Sudah, nyonya !'', sahut Chyou serta seorang pelayan.
''Baiklah, aku akan menikmati sarapanku ini'', ucap Jia Li.
''Iya, nyonya'', kata Chyou.
''Apa kau yang memasak sarapan ini, Chyou ?'', tanya Jia Li.
''Benar, nyonya ! Aku yang telah memasak sarapan serta hidangan-hidangan lainnya khusus nyonya setiap harinya !'', sahut Chyou.
''Kalau begitu aku ucapkan kembali terimakasih kepadamu, Chyou dan yang lainnya telah bersedia bekerja khusus untukku'', kata Jia Li.
''Tuan Van Costel yang memerintahkan kepada kami, nyonya Jia Li'', sahut Chyou.
__ADS_1
''Hmmm... !?'', gumam Jia Li pelan sambil menatap piring dihadapannya.
Jia Li melanjutkan sarapannya dengan menghabiskan sepiring lasagna keju serta secangkir teh hangat kemudian dia kembali ke kamarnya untuk membersihkan dirinya.