
Jia Li terhenyak hebat saat bayangan Van Costel IV bermunculan di dalam benaknya, sekelebat gambaran kisah perang Patra yang terjadi dua puluh tahun lalu datang silih berganti.
Kisah sebelum Van Costel IV menjadi hantu tampan.
Saat salah satu pasukan BENGT tiba-tiba muncul dihadapan Jia Li dan semua waktu seakan-akan berhenti, menariknya lebih jauh ke masa silam.
Memasuki dunia bawah sadar Jia Li seraya membawanya ke masa dimana Van Costel IV masih hidup.
Tubuh Jia Li sontak bergetar hebat saat gambaran-gambaran kisah Van Costel IV kembali terulang dihadapannya tanpa dia sadari.
Pemandangan mengerikan tentang perang Patra dua puluh tahun yang lalu muncul di depan kedua matanya hingga Jia Li harus melihat sendiri bagaimana suami hantunya itu mati di medan perang.
Betapa kejamnya Dalca II saat dia menghabisi nyawa Van Costel IV, suaminya di medan perang Patra.
Gambaran saat Van Costel IV dikepung dan dibantai tanpa ampunan oleh pasukan siluman milik klan Vlad serta oleh kalajengking raksasa tunggangan Dalca II yang turut menghabisi nyawa suaminya.
Jia Li tercekat kuat lalu menjerit kencang saat gambaran-gambaran kisah di masa perang Patra bermunculan silih berganti dihadapannya.
''TIDAAAAAK... !!! HENTIKAN ! HENTIKAN ITU !!!", teriak Jia Li histeris.
Kedua mata Jia Li mengalir deras air mata di wajahnya yang cantik saat dia melihat pemandangan Van Costel IV merenggang nyawa di medan perang Patra.
Tangan Jia Li tiba-tiba terulur ke depan seakan-akan dia ingin menggapai gambaran suaminya yang kesakitan akibat hujaman pedang musuh-musuhnya.
Jia Li menangis sejadi-jadinya saat melihat Van Costel IV menghadapi detik-detik terakhir hidupnya.
Tubuh Van Costel IV yang tercabik-cabik hancur oleh sabetan serta hujaman pedang musuh membuat Jia Li tak kuasa menahan kesedihannya.
''TIDAK... ! TIDAK... ! TIDAK... ! VAN COSTEL... !!!", jerit Jia Li.
Jia Li berlari ke arah gambaran bayangan Van Costel IV yang tersungkur jatuh perlahan-lahan ke atas tanah, seolah-olah dia hendak memeluk suaminya dan berusaha menahannya.
Tubuh Van Costel IV tergeletak lemah di medan perang seraya menghembuskan nafas terakhirnya dengan menatap ke arah Jia Li yang berlari ke arahnya.
Sorot mata Van Costel IV pelan-pelan meredup lalu terpejam rapat.
''VAN COSTEL !!! TIDAAAAK !!!''
Teriak Jia Li yang berlari ke arah bayangan Van Costel IV yang terbaring diam.
Jia Li duduk bersimpuh di hadapan Van Costel IV yang terbaring tak bernyawa, berusaha menyentuh bayangan suaminya yang tidak dapat dia pegang nyata.
Air mata Jia Li terus bercucuran dari kedua matanya saat melihat gambaran Van Costel IV mati.
Tiba-tiba seluruh gambaran kisah perang Patra menghilang dan lenyap dari pandangan Jia Li.
Gambaran kisah kematian Van Costel IV yang tewas di medan perang Patra juga turut pergi.
Jia Li tersentak kuat saat menyadari jika gambaran-gambaran tadi hanyalah kisah di masa lalu yang kembali terulang dihadapannya.
__ADS_1
Bukan kisah nyata yang terjadi saat ini melainkan kisah di masa dua puluh tahun yang lalu dimana awal Van Costel IV berubah menjadi hantu dan bangkit dari alam kematiannya.
Jia Li duduk tertegun menatap lurus area halaman taman winter iris yang kembali semula dari gambaran medan perang Patra yang mengerikan lalu berubah kembali menjadi area taman.
Kedua tangan Jia Li mendekap erat tubuhnya yang berguncang kuat.
Menggigil dingin hingga menusuk tulang sedangkan bibir Jia Li bergetar keras merasakan dinginnya udara hari itu tepat di awal musim dingin tiba.
Chyou berjalan menghampiri Jia Li yang masih terduduk di halaman taman bunga yang dipenuhi oleh winter iris.
Berkata pelan kepada Jia Li yang terdiam mematung.
''Nyonya Jia Li, bangunlah nyonya...''
''Chyou...'', sahut Jia Li.
Jia Li tiba-tiba berteriak keras seraya menunjuk arah di depannya.
''Chyou ! Chyou ! Lihatlah tadi ! Apakah kau melihat gambaran tadi ?'', kata Jia Li.
Chyou memejamkan matanya berusaha menahan dirinya untuk tidak terbawa emosi.
''Saya melihatnya, nyonya...'', sahut Chyou.
Tubuh Chyou sama bergetarnya dengan Jia Li saat mereka melihat gambaran yang menceritakan tentang pembantaian Van Costel IV di medan perang Patra di masa lalu.
''Iya, saya melihatnya, nyonya !'', jawab Chyou.
Gadis muda berkepang dua itu menganggukkan kepalanya seraya menahan emosinya yang hendak meledak.
''Dia... Dia... Dia suamiku, Chyou ! Bagaimana bisa mereka setega itu menghabisi nyawanya ?'', ucap Jia Li dengan mata terbelalak lebar. ''Dimanakah hati nurani mereka ? Apakah nyawa tidak begitu berharganya saat perang ?'', sambungnya.
Chyou hanya mampu menggelengkan kepalanya lemah, tidak tahu harus menjawab ucapan Jia Li.
''Mereka kejam ! Sungguh terlaknat !'', pekik Jia Li.
Pandangan Jia Li langsung berubah menjadi dingin saat mengetahui bagaimana kisah kematian Van Costel IV saat dimana perang Patra terjadi, dua puluh tahun yang lalu.
''Kejam ! Brutal ! Bengis ! Tidak berhati !'', umpat Jia Li.
Tidak terima melihat kekejaman yang harus dialami oleh Van Costel IV saat itu.
''Seandainya saja aku ada disana... Aku pasti akan melindunginya...'', ucap Jia Li.
Jia Li berdiri sambil menepuk dadanya yang terasa membuncah hebat lalu kembali menatap Chyou, kosong.
''Pantaskah aku membalaskannya ?'', kata Jia Li.
''Nyonya...'', sahut Chyou.
__ADS_1
''Katakan padaku, Chyou ! Pantaskah jika aku membalaskan kematiannya ? Dan membalas perbuatan mereka padanya ?'', kata Jia Li.
''Nyonya Jia Li... Masa itu telah berlalu, nyonya..., dan sekarang tuan besar sudah menjadi sosok hantu...'', sahut Chyou.
Jia Li terdiam dengan sorot mata tajam ke arah Chyou yang berdiri gemetaran di depannya.
''Tidak ! Tidak, Chyou !'', kata Jia Li.
Jia Li lalu berjalan mendekati Chyou seraya memegangi kedua lengan gadis itu.
''Meski dia telah menjadi hantu tetapi pembalasan harus tetap dilakukan untuk membayar rasa sakit akibat kekejaman mereka ketika menghabisi nyawanya !'', sahut Jia Li.
Jia Li memicingkan kedua matanya saat menatap Chyou sedangkan jari telunjuknya mengarah ke depan serta bergerak cepat.
''Mereka harus merasakan hal yang sama seperti yang dirasakannya..., Chyou... Dan aku ingin sekali memabalaskan kematiannya yang menyakitkan itu...'', ucap Jia Li.
''Nyonya... Bagaimana anda akan membalasnya ? Itu sangat berbahaya sekali, nyonya Jia Li !'', sahut Chyou.
''Aku pasti akan membalaskannya, Chyou... Pasti... !'', kata Jia Li.
Jia Li tertawa keras lalu memutar tubuhnya berualangkali seraya membentangkan kedua tangannya ke arah samping.
''MEREKA HARUS MATI, CHYOU ! AKU AKAN MEMABALASKANNYA... CHYOU... CHYOUKU SAYANG... ! HA... HA... HA... HA... HA... !!!''
Teriak Jia Li tak terkendali dengan terus tertawa getir.
''Aku benar-benar tidak mengetahui cerita Van Costel IV saat dia berperang dan bagaimana dia mati di medan perang'', kata Jia Li.
Jia Li lalu berhenti berputar kemudian berdiri terhuyung-huyung dengan senyum kecut.
''Mereka tidak tahu siapa aku sebenarnya, Chyou ! Dan aku pastikan mereka semua akan membayar penderitaan suamiku di masa lalu, Chyou !'', kata Jia Li.
''Nyonya...'', ucap Chyou getir.
Salah satu pasukan BENGT yang sedari berdiri diam menyaksikan semuanya terlihat berjalan menghampiri Jia Li.
''Nyonya Jia Li...'', panggil wanita berpakaian sutra merah kepada Jia Li di dekatnya.
Jia Li terdiam seraya menolehkan kepalanya ke arah wanita dengan cadar menutupi sebagian wajahnya.
''Ada apa ?'', kata Jia Li hambar.
''Maafkan saya telah membawa anda ke masa lalu dimana hantu Van Costel IV sebelum tewas di medan perang dan memperlihatkan peristiwa kematiannya kepada nyonya'', ucap wanita bercadar merah itu.
Jia Li berdiri mematung dengan tatapan mata dinginnya seraya menghadap ke arah wanita yang berdiri di hadapannya yang merupakan salah satu anggota pasukan BENGT milik Tianba, ibu kandung Jia Li.
Terdiam tak mampu menjawab ucapan wanita bercadar merah itu.
Namun seluruh pancainderanya langsung siaga penuh ketika wanita bercadar merah itu menghampirinya kemudian mengatakan hal yang sebenarnya kepada Jia Li jika gambaran-gambaran peristiwa kematian Van Costel IV di masa lalu adalah ulahnya yang sengaja ingin dia sampaikan secara langsung kepada Jia Li.
__ADS_1