
Ruang Aula...
Seorang pria paruh baya tampak duduk bersama dengan seorang perempuan yang masih terlihat awet muda.
Berbincang-bincang di ruangan aula yang luas.
Terlibat pembicaraan yang sangat serius saat mereka mendiskusikan rencana tentang penyerangan ke lembah Moldova.
Masuk seorang perempuan muda ke dalam ruangan seraya membawakan senampan teko minuman lalu meletakkannya ke atas meja.
Menuangkan minuman hangat untuk disajikan kepada dua orang yang ada di ruangan Aula.
SRRRRRRHHHH... !!!
Suara minuman mengalir pelan ke dalam cangkir yang hendak disajikan.
Perempuan yang sosoknya berwibawa itu lalu mengarahkan tangannya agar perempuan muda menyerahkan secangkir minuman hangat kepada pria paruh baya yang duduk dihadapannya.
"Silahkan diminum dulu, Kwee Lan !", ucap perempuan yang terlihat awet muda itu.
"Terimakasih, Laoshi...", sahut pria bernama Kwee Lan.
Perempuan muda lalu berpamitan mengundurkan dirinya keluar dari ruangan Aula setelah dia meletakkan senampan teko minuman di atas meja.
Menutup pintu Aula yang berpintu dua dengan hati-hati.
Laoshi meraih cangkir berisi minuman hangat dari atas meja kemudian menghirup aroma minuman yang sangat wangi dari arah cangkir minumannya.
Melirik ke arah pria paruh baya yang berada duduk dibelahnya sembari menyeruput minuman hangatnya.
"Apakah rencana ke lembah Moldova akan tetap kau lakukan ?", tanya Laoshi.
"Aaahhh... !?", desah Kwee Lan.
Pria paruh baya itu lalu meletakkan cangkir minumannya ke atas meja seraya menjawab ucapan dari Laoshi.
"Tentu saja rencana penyerangan ke lembah Moldova tetap berjalan tetapi yang aku pikirkan adalah cara memindahkan Jia Li terlebih dahulu sebelum penyerangan dilakukan"
Laoshi menoleh ke arah Kwee Lan yang menatap murung lantai di depannya.
"Kau berniat memindahkan putrimu sebelum penyerangan tapi kemana kau akan memindahkannya ?", kata Laoshi.
"Entahlah, aku sendiri tidak tahu kemana aku harus memindahkan Jia Li dari lembah Moldova karena aku tidak tahu bagaimana caranya aku mendekatinya", ucap Kwee Lan.
"Bukankah kau bisa mengirim anak buahmu kesana untuk membawa Jia Li diam-diam dari lembah Moldova ?", lanjut Laoshi.
"Memang seperti itu rencana yang akan aku lakukan nanti tetapi tidak mungkin anak buahku langsung memindahkan Jia Li begitu mudah", sahut Kwee Lan.
"Lebih baik mengatur siasat lain seperti menjauhkan Jia Li dari lembah Moldova agar kewaspadaannya berkurang", kata Laoshi.
"Menjauhkan Jia Li dari lembah Moldova !? Bagaimana caranya ?", sahut Kwee Lan.
__ADS_1
"Adakanlah festival yang menarik di sekitar lembah Moldova, pasti Jia Li akan berminat datang ke acara festival itu tanpa diundang", kata Laoshi.
"Kita berencana tidak mengundangnya ? Mungkinkah dia akan tertarik ke acara festival tanpa undangan !?", tanya Kwee Lan.
"Jika kita terus terang mengundang Jia Li, mungkin saja dia akan jauh lebih curiga karena undangan yang kita buat atas nama siapa nantinya ?", sahut Laoshi.
"Itu sebabnya aku akan menariknya ke festival senatural mungkin agar Jia Li tidak menaruh curiga jika festival itu aku yang mengadakannya", ucap Kwee Lan.
"Lantas hantu itu ? Apa rencanamu selanjutnya terhadap hantu itu ?", tanya Laoshi.
"Setelah berhasil menculik Jia Li maka hari itu juga akan ada penyerangan besar-besaran ke lembah Moldova !", jawab Kwee Lan.
"Aku akan mendukung sepenuhnya rencanamu untuk memerangi hantu itu agar dia menjauh pergi dari sisi Jia Li", kata Laoshi.
"Ini bukan sekedar perang biasa melawan sesosok hantu tetapi aku memerangi sebuah kisah cinta antara Jia Li dengan suaminya...", ucap Kwee Lan.
Kwee Lan lalu menghela nafasnya seraya menyandarkan tubuhnya ke bahu kursi.
"Mungkin ini suatu dosa besar yang tak terampuni bahkan langit mengutukku itu sudah sewajarnya, aku dapatkan", kata Kwee Lan.
Laoshi sedikit tersinggung dengan ucapan Kwee Lan karena rencana ini merupakan andil dirinya di dalam rencana memisahkan mereka berdua yang telah terikat tali pernikahan.
Seharusnya Laoshi juga turut mendapatkan kutukan dari langit atas perbuatannya yang menginginkan pernikahan antara Jia Li dengan Van Costel IV berakhir.
"Kita hanya bisa pasrah pada perintah Tuhan..., tidak mungkin kita menolak kuasa Tuhan..., meski kita harus menerima konsekuesi dari rencana ini...", kata Laoshi.
"Kutukan merupakan salah satu dari hukuman besar yang harus kita terima karena telah memisahkan pasangan yang telah terikat pernikahan", ucap Kwee Lan.
"Aku tidak tahu jika pernikahan Jia Li merupakan pernikahan hantu yang ditentang oleh hukum langit. Dan aku benar-benar terlalu naif untuk mempercayai seseorang...", ucap Kwee Lan.
"Kesalahanmu hanyalah kau terlalu menyayangi Jingmi hingga kau tanpa sadar menghancurkan hidup putri kandungmu sendiri, Kwee Lan", kata Laoshi.
Laoshi beranjak berdiri lalu melangkah ke arah jendela Aula yang terbuka lebar.
Memandang sendu ke arah luar seraya menerawang jauh.
"Seharusnya aku lebih membencimu sebab kau telah mencelakakan Jia Li yang merupakan putri kandung Tianba, murid kesayanganku", kata Laoshi.
Pandangan Kwee Lan langsung tertuju kepada Laoshi yang berdiri didepan jendela Aula yang terbuka.
Tersentak kaget mendengar ucapan Laoshi tentang kebenaran bahwa Laoshi tidak menyukai Kwee Lan yang telah membuat celaka Jia Li.
"Sadarkah bahwa kau telah memasuki zona berbahaya disekitarmu, Kwee Lan ?", kata Laoshi.
Kwee Lan tertunduk diam, mulai memahami situasi yang sebenarnya sedang terjadi jika berkenaan dengan hidup Jia Li.
Rupanya banyak pihak yang sangat mencintai Jia Li bahkan berani mati untuk mempertahankan kebahagian putri kandungnya itu.
"Apa karena alasan itu kamu membantuku melawan hantu Van Costel IV ?", tanya Kwee Lan.
"Hmmm...", hela nafas Laoshi.
__ADS_1
Laoshi lalu membalikkan badannya menghadap Kwee Lan yang duduk bersandar di kursi. Dan berkata padanya.
"Tentu saja, Kwee Lan !"
Laoshi menatap tajam Kwee Lan kemudian berdiri tegak dengan kedua tangan berada di belakang punggungnya.
"Jia Li sudah aku anggap putriku sendiri selepas dari Tianba, muridku yang meninggal lantaran mengalami kesedihan yang mendalam atas ulah burukmu !", kata Laoshi.
Kwee Lan memalingkan wajahnya dengan murung.
Merasa bersalah atas kematian Tianba yang menderita karena kegemarannya menikah lagi hingga menyebabkan ibu kandung Jia Li jatuh sakit hingga meninggal dunia.
Meninggalkan Jia Li yang kala itu masih remaja dan hal itu pulalah awal dari petaka ini terjadi.
Kwee Lan menikah dengan ibu dari Jingmi yang menjadikan sumber bencana besar dalam keluarga Kwee Lan muncul.
Jingmi yang menolak menikah dengan Van Costel IV sehingga menyulut kemarahan besar dari keluarga bangsawan Van Rogh Costel III yang berasal dari Rumania.
Akhirnya memaksa Kwee Lan untuk menggantikan Jingmi dengan Jia Li sebagai mempelai perempuan bagi Van Costel IV yang ternyata pria itu adalah orang mati.
"Aku tahu jika ini adalah salahku yang teramat besar hingga membuat celaka Jia Li...", kata Kwee Lan.
"Tidak hanya itu saja tetapi kamu mengundang kutukan dalam kehidupan keluarga besarmu sendiri, Kwee Lan !", sahut Laoshi.
"Aku tahu itu..., aku tahu itu...", jawab Kwee Lan.
"Dan sewajarnya jika kamu mendapatkan kutukan atas perbuatanmu, Kwee Lan...", kata Laoshi.
Suasana menjadi hening setelah Laoshi dan Kwee Lan terlibat pembicaraan yang serius saat membahas rencana mereka untuk menyerang lembah Moldova.
BRAK... !!!
Pintu Aula tiba-tiba terbuka lebar menyentakkan Laoshi serta Kwee Lan yang ada di dalam ruangan.
Seorang gadis yang masih belia berlari tergopoh-gopoh menghampiri Laoshi yang sedang berdiri di dekat jendela Aula.
"Guru Laoshi !", panggil gadis belia itu.
"Iya, ada apa kamu mencariku, nak ?", tanya Laoshi.
"Ada berita kurang mengenakkan, guru Laoshi", sahut gadis belia itu.
Tampak wajah gadis belia itu berubah kaku ketika mencoba memberanikan dirinya untuk memandang Laoshi, gurunya.
"Pasukan BENGT dikabarkan telah pergi dari lembah plum dan keberadaan mereka kini tidak diketahui lagi jejaknya, guru Laoshi", sahut gadis itu dengan bibir bergetar.
"Celaka !", kata Laoshi.
Ekspresi wajah Laoshi langsung berubah tegang kala mendengar bahwa pasukan BENGT telah meninggalkan lembah plum, yang berarti Laoshi telah kehilangan separuh pasukan khususnya untuk melakukan penyerangan nanti ke lembah Moldova.
Pasukan BENGT sendiri merupakan salah satu pasukan terkuat yang dimiliki lembah plum.
__ADS_1
Tanpa pasukan BENGT maka kekuatan pasukan Laoshi akan berada didalam posisi yang sangat lemah jika seandainya pasukan milik Tianba itu berpindah posisi mereka dan lebih memilih untuk membela Jia Li.