Suami Ku Hantu

Suami Ku Hantu
Bab 55 Dua Puluh Tahun Yang Lalu


__ADS_3

Dua puluh tahun yang lalu...


Kediaman keluarga Van Rogh Costel III, dua puluh tahun yang lalu.


Tampak seorang pria melangkah cepat ke arah ruangan yang di hubungkan dengan selasar megah berbentuk kubah.


Mengenakan setelan kemeja hitam seraya berjalan dengan langkah panjang menuju ke sebuah ruangan berpintu besi besar.


''Ayah !'', panggil pria berwajah tampan kepada seorang pria yang berdiri membelakanginya.


Pria berpenampilan gagah serta berparas menawan seperti pria muda yang baru datang dan memanggilnya ayah itu lalu menolehkan kepalanya.


Memandang dengan sorot tajam ke arah pria muda yang berjalan mendekat ke arahnya sambil tersenyum.


''Van Costel IV... Ada apa pagi-pagi kamu sudah mencari ayah, nak ?'', tanya pria gagah seraya mengernyitkan dahinya.


''Aku mencari ayah karena aku mendengar selentingan kabar bahwa akan ada perang antara klan bangsawan, benarkah itu ?'', sahut pria muda itu mendekat.


''Siapa yang memberitahumu ?'', kata pria gagah.


''Aku mendengarnya dari Antolin Lucian, ayah'', sahut pria muda lalu terdiam.


''Kapan dia memberitahukan hal itu padamu, Van Costel ?'', kata pria gagah bertanya.


''Kemarin malam saat dia mengunjungiku di asrama di Inggris, ayah'', sahut pria muda bernama Van Costel IV.


''Hmmm... !?'',gumam pria gagah seakan-akan mengerti. ''Cepat sekali... !?''


Pria yang wajahnya mirip dengan pria dihadapannya itu lalu berdiri tegak seraya meletakkan kedua tangannya di depan.


''Rupanya dia benar-benar tidak sabaran untuk menyebarkan kabar itu...'', sahut pria gagah.


Van Rogh Costel III mendongakkan kepalanya ke atas seraya tersenyum simpul.


''Langit tidak akan pernah berwarna biru bagi Antolin Lucian sebelum dia menaklukkan daratan seluruh Kaspia'', ucap pria gagah sambil tertawa keras.


Van Costel IV hanya berdiri diam memandang serius ke arah pria yang dipanggilnya ayah.


''Dia benar-benar menginginkan perang Patra terjadi diantara klan !'', lanjut pria gagah masih tertawa.


''Keseriusannya itu membuktikan bahwa Antolin Lucian tidak sedang bermain-main menjalankan bidak catur diantara klan, ayah'', sahut Van Costel IV.


''Dia memang pemain genius yang tiada tandingannya meski Lucian berasal dari klan yang memiliki tingkat spiritual tertinggi dari klan lainnya...'', ucap pria gagah.


Van Rogh Costel III berdiri menghadap kembali ke arah luar jendela yang ada di depannya sambil tersenyum.


''Tapi Lucian sangat menginginkan darah tergenang diantara para klan !'', lanjut Van Rogh Costel III.


''Darah Lucian sangat kental mengalir dalam tubuh Antolin yang merupakan salah satu dari kasta kesatria di Rumania'', sahut Van Costel IV.


''Setidaknya dia tidak harus menginginkan perang Patra pecah diantara para klan meski aku sendiri juga tidak menginginkannya tetapi aku tidak menampik hal itu akan terjadi'', ucap Van Rogh Costel III.


''Bukan sebuah dosa besar jika akhirnya perang terjadi...'', sahut Van Costel IV.


''Tidak, bukan sebuah dosa melainkan murni jalan Tuhan yang terpaksa dipilih untuk menyelesaikan permasalahan yang timbul di kubu para klan bangsawan'', kata Van Rogh Costel III.


''Bendera harus kita pertahankan sampai ke tangan Tuhan agar tidak jatuh ke tangan musuh, bukan begitu, ayah ?'', sahut Van Costel IV.


''Tapi aku tetap tidak menginginkan hal itu terjadi karena aku berharap para klan selalu berdamai di bawah pimpinanku'', kata Van Rogh Costel III.

__ADS_1


''Pada kenyataannya hal itu jauh dari harapan kita dan perang terpaksa terjadi, ayah'', sahut Van Costel IV dengan mimik serius.


''Aku hanya ingin kedamaian jika itu mungkin terjadi sesuai harapanku selama bertahun-tahun, nak'', ucap Van Rogh Costel III.


''Apakah yang menyebabkan perang Patra harus terjadi, ayah ?'', tanya Van Costel IV.


''Entah benar atau tidak berita ini bahwa klan Vlad menginginkan kekuasaan atas Wallachia jatuh sepenuhnya ke tangan mereka'', sahut pria gagah lalu murung.


''Bukankah telah disepakati dari keturunan terdahulu bahwa Rada menyerahkan seluruh kekuasaan Rumania atas nama kakek ?'', kata Van Costel IV.


''Pada kenyataannya jika klan Vlad tidak terima karena mereka merasa berasal dari garis keturunan Rada yang semestinya juga memiliki hak penuh atas Rumania, nak'', sahut Van Rogh Costel III.


''Jika itu yang mereka inginkan, kenapa kakek tidak memberikan hak mereka untuk berkuasa, ayah ?'', kata Van Costel IV. ''Bukankah kami bersaudara...''


''Ini seakan-akan sebuah pengampunan dari dosa-dosa para klan terdahulu...'', sahut pria gagah seraya tersenyum penuh arti.


Van Rogh Costel III terdiam sejenak seraya menatap dingin ke arah luar dari jendela ruangan pribadinya yang terletak di lantai atas rumahnya.


''Kakekmu tidak bisa memberikannya karena klan Vlad yang merupakan saudara sedarah dengannya adalah setengah siluman dan setengah manusia'', sahut pria gagah.


''Apakah begitu tragisnya pilihan para tetua terdahulu hingga menimbulkan rasa dengki diantara para klan bangsawan hingga harus pecah perang, ayah ?'', kata Van Costel IV.


''Entahlah, nak.... Aku tidak tahu harus berkata apa tentang perseteruan ini...'', sahut pria gagah serius.


''Sungguh amat disayangkan sekali jika kita harus berselisih hebat, ayah'', lanjut Van Costel muram.


Mereka berdua lantas sama-sama terdiam. Dan mereka hanya berdiri termenung saat pembicaraan terjadi yang membahas mengenai klan Vlad.


Klan Vlad adalah klan bangsawan Rumania yang menjadi seteru terkuat dari klan Van Rogh.


''Dari ketiga belas klan bangsawan yang ada, hanya klan Vlad yang berambisi merebut Wallachia dari tangan kita'', lanjut pria gagah murung.


''Sejujurnya aku tidak ingin perang terjadi tetapi klan Vlad memaksa bahkan menarik beberapa klan untuk bersekutu dengannya dan melawanku'', sahut pria gagah.


Pria yang masih tampan rupawan serta bertubuh sangat gagah itu menundukkan kepalanya lalu menghela nafas panjang.


''Bahkan para siluman dibawah kendali mereka telah menyebabkan keonaran dengan menculik para wanita untuk menjadi korbannya dan membunuh anak-anak yang masih kecil dengan menguburnya setengah badan di rawa-rawa...'', ucap Van Rogh Costel III.


Wajah Van Rogh Costel III bertambah semakin murung saat dia mengetahui bahwa kebiadaban para siluman yang merupakan sekutu Vlad telah berada di luar ambang batasnya.


Terlalu kejam serta menyebarkan teror yang menakutkan di Rumania.


''Itulah alasan Antolin Lucian menginginkan perang Patra benar-benar terjadi diantara klan bangsawan...'', sahut Van Rogh Costel III.


''Aku baru mendengar kabar berita yang begitu mencengangkan dari ayah tentang alasan perang harus terjadi diatara para klan'', kata Van Costel IV.


''Lantas haruskah aku masih mengalah dan menunda perang diantara para klan tidak pecah, nak ?'', kata pria gagah seraya menoleh.


Menatap tajam ke arah putra kesayangannya yang paling dia banggakan.


Hingga desir didalam hati Van Rogh Costel III terasa kuat menyayat hatinya yang teriris sembilu ketika dia harus mengirim kabar kepada putra laki-lakinya untuk berperang.


Separuh hatinya tidak ingin melihat Van Costel IV ikut dirinya terjun ke medan perang tetapi sebagai salah satu pemimpin tertinggi Rumania maka putranya harus ikut serta memimpin perang melawan kekejaman klan Vlad yang ada dibawah kekuasaan Dalca II beserta para siluman yang menjadi sekutu klan Vlad.


Pandangan pria gagah yang masih tampan itu terlihat semakin bertambah muram saat dia harus membayangkan putra yang paling dia sayangi harus bertempur di medan perang Patra di usianya yang masih muda.


Van Costel IV kala itu masih berusia sangat muda saat dua puluh tahun yang lalu ketika perang Patra akan terjadi di Rumania.


Pria tampan berwajah bagaikan rembulan yang bercahaya itu masih mengeyam pendidikannya di Inggris. Dan tinggal di asrama kastil para bangsawan terpilih.

__ADS_1


Wajahnya yang rupawan menarik minat para gadis untuk mengenalnya bahkan menginginkannya menjadi suami mereka dan berela-rela saling berebut untuk mendapatkan Van Costel IV.


Van Costel IV memiliki ciri-ciri sebagai berikut...


Van Costel IV yang berusia 4000 tahun dengan Tinggi badan mencapai 191 serta berbintang Capricornus benar-benar sosok pria idaman yang sempurna.


Memiliki pekerjaan sebagai salah satu penguasa tertinggi Rumania serta berkarakteristik dingin, pendiam, konvensional, terlihat kejam namun penyayang itu amat populer di antara orang-orang seumurannya.


Kelebihan yang dimiliki Van Costel IV juga tidak main-main diantaranya adalah Pertama dia berwajah tampan mampu menarik makhluk manapun termasuk penghuni langit dan bumi. Kedua, dia adalah penguasa lembah Moldova anak keturunan langsung Redu dan seorang yang sangat kuat. Dan terakhir Van Costel IV merupakan ''Tuan'' dari lembah siluman Moldova yang ditakuti semua siluman termasuk keturunan Vlad.


Tidak ada yang berani melawan pria Rumania itu meski memiliki kekuatan sebesar apapun tetap tidak mampu mengalahkan kekuatan Van Costel IV.


Anak dari penguasa yang paling disegani di Rumania, Van Rogh Costel III yang memiliki dua belas ribu nyawa atas berkat Langit.


Mempunyai Red yang merupakan serigala tempur terkuat dan memiliki kemampuan mengubah dirinya menjadi raksasa.


Semua kelebihan yang dimiliki oleh Van Costel IV tidak ada yang menandinginya bahkan ayahnya sendiri kalah pamor dengannya.


Pembicaraan lalu terputus saat seorang pria berpakaian tradisional yang khas muncul tiba-tiba diantara mereka berdua.


Bau aroma dupa tersebar semerbak ke seluruh ruangan pribadi milik Van Rogh Costel III dari arah Navikula yang ada di tangan pria bertopi runcing itu saat dia berada di sana.


''Selamat pagi, tuan-tuan !'', sapa pria berpakaian unik itu.


''Antolin Lucian !?'', sahut mereka berdua kompak.


Memandang ke arah pria berpakaian tradisional yang sangat unik dengan ekspresi terkejut.


''Kau kembali, Lucian ?'', tanya pria gagah yang berbalik badan menghadapnya. ''Kapan !?'', sambungnya.


''Semalam...'', sahut singkat Antolin Lucian.


''Cepat sekali kamu datang dari Wallachia setelah dari Inggris, Lucian ?'', ucap Van Costel IV.


''Hanya butuh sedetik aku membuat tubuhku berpindah tempat, tuan Van Costel IV'', sahut Antolin Lucian datar.


''Sedetik, tidak dalam hitungan waktu karena kau mampu memindahkan tubuhmu sekejap mata sedangkan jarak antara Wallachia dan Inggris relatif tidak dekat, Antolin'', kata pria gagah.


Van Rogh Costel III lalu berjalan ke arah sebuah sofa panjang di dekatnya seraya duduk sembari menyilangkan kakinya ke atas.


Menatap lurus ke arah Antolin Lucian yang berdiri menghadapnya dengan sebuah Navikula emas yang terus menerus mengeluarkan semerbak wangi dupa.


''Aku hanya teleportasi dari tempat satu ke tempat lainnya, dan menggunakan putaran waktu yang ada hanya untuk memindahkan tubuhku, tuan'', sahut Antolin Lucian.


Antolin Lucian lalu berjalan ke arah kursi dekat sofa panjang kemudian duduk sambil meletakkan Navikula emas di tangannya ke atas meja di dekatnya.


Pria gagah kembali melanjutakan pertanyaannya kepada Antolin Lucian yang duduk didekatnya santai.


''Apa kau telah menyebarkan kabar berita kepada semua ketiga belas klan bahwa kita akan berperang ?'', tanya pria gagah dengan sorot mata tajam.


Antolin Lucian menolehkan pandangannya ke arah pria gagah dengan ekspresi serius.


''Sudah, aku sudah selesaikan tugas dari tuan, bahkan aku telah mempersiapkan klan-klan yang berpihak pada kita, tuanku'', sahut Antolin Lucian. ''Dan mereka semua telah setuju untuk menjadi sekutu kita dalam perang Patra nanti'', sambungnya.


''Benarkah itu ?'', kata pria gagah. ''Aku tidak ingin ada satupun yang tertinggal karena aku menginginkan semua persiapan perang nanti benar-benar matang dan rapi...''


Semua terdiam saat Van Rogh Costel III berkata serius mengenai kelengkapan persiapan perang Patra nanti.


Aura dingin serta berwibawa yang dimiliki oleh Van Rogh Costel III tidaklah main-main bahkan auranya terasa sangat kuat terpancar dari pria gagah.

__ADS_1


__ADS_2