Suami Ku Hantu

Suami Ku Hantu
Bab 67 Pesta Fantasi


__ADS_3

Lembah Ngarai...


Terdengar lantunan suara musik dari sebuah bangunan megah yang terletak di antara tebing tinggi lembah.


Suara riang tawa dari dalam bangunan yang masih terang benderang meski hari telah beranjak malam.


Kegiatan di dalam bangunan megah itu seakan-akan tidak pernah berhenti dan terus menerus berlangsung tanpa henti.


Kegembiraan terdengar jelas dari arah bangunan megah dengan arsitektur kuno.


Seorang wanita cantik dengan gaun menggoda tengah menuangkan minuman ke dalam cangkir kaca bening kepada seorang pria yang berpenampilan lugu.


Pria itu tak lain adalah kurir surat dari Lembah Moldova yang sengaja dikirim ke Lembah Ngarai untuk mengantarkan pesan kepada Mazonn.


Wanita cantik mengusap lembut wajah kurir surat saat dia memberikan secangkir minuman kepada kurir surat.


"Minumlah, saudaraku !", ucap wanita cantik.


"Maaf, terimakasih..., aku tidak meminum minuman keras !", sahut kurir surat.


Kurir surat menolak dengan lembut ajakan wanita cantik untuk minum di tempat yang dipenuhi oleh wanita-wanita cantik yang berpenampilan menggoda mata serta memikat hati.


Wanita cantik berubah ekspresi wajahnya menjadi cemberut ketika ajakannya ditolak oleh kurir surat.


"Bagaimana bisa kamu menolak permintaanku untuk minum bersama dengan ku, tuan ?''', ucap wanita cantik.


"Maaf, sekali lagi aku meminta maaf kepada mu ! Dan aku tegaskan bahwa aku harus segera pergi dari lembah Ngarai ini ! Bisakah kau menolongku ?", sahut kurir surat.


"Tentu saja aku dapat membantu mu untuk keluar dari lembah Ngarai ini, tetapi..., ada syaratnya yang harus kamu lakukan khusus untuk ku, tuan...", kata wanita cantik.


"Apa yang harus aku lakukan untukmu, nyonya ?", tanya balik kurir surat.


Wanita cantik hanya tersenyum kecil lalu duduk di atas pangkuan kurir surat dengan manjanya seraya mengusap-usap lembut wajah kurir surat.


Kurir surat terkejut kaget ketika dia melihat wanita cantik tiba-tiba duduk di atas pangkuannya serta merayunya.


"Apa kau akan bersedia memenuhi permintaan dari ku tapi aku takut kau akan terus-terusan menolak permintaanku...", ucap wanita cantik.


Tatapan mata wanita cantik tampak teduh saat dia memandangi wajah kurir surat yang tepat berada di hadapannya.


Mengelusnya lembut wajah kurir surat dengan jari-jemari tangannya yang berkuku lancip serta berwarna hijau tua.


"Aku akan pastikan bahwa aku tidak akan menolak lagi permintaan dari mu, nyonya", sahut kurir surat.


"Benarkah itu ? Kau tidak akan menolak permintaanku lagi, tuan ?", ucap wanita cantik seraya menghembuskan nafas di wajah kurir surat.


Seolah-olah mencoba untuk menggoda kurir surat yang pandangan matanya selalu teralihkan ke tempat lain tepatnya ke arah pintu ruangan.


"Aku tidak akan menolak permintaan mu asalkan aku dapat segera pergi dari Lembah Ngarai ini karena aku harus menyelesaikan tugas ku, nyonya", lanjut kurir surat.

__ADS_1


"Tapi aku meragukannya karena kau sedari tadi selalu melihat ke arah pintu keluar, tuan", kata wanita cantik.


Kurir surat tersentak kaget ketika mendengar ucapan dari wanita cantik kepadanya lalu memandang ke arah wanita itu dengan tatapan mata yang sangat serius.


"Kenapa kamu memandangi ku seperti itu, tuan ? Kau akan membuat ku merasa ketakutan dengan mu, tuan", ucap wanita cantik.


"Siapa namamu ?", tanya kurir surat.


"Namaku ? Kau sedang menanyakan namaku ?", sahut wanita cantik seraya tersenyum.


"Ya, aku menanyakan nama mu, apakah kamu mempunyai nama untuk panggilan mu, nyonya ?", kata kurir surat.


"Tentu saja, aku memiliki nama tapi bukan sekedar untuk panggilan saja melainkan nama sebagai identitas diri ku, tuan", sahut wanita cantik.


Wanita cantik menyilangkan kedua kakinya seraya mengayun-ayunkan nya dengan pelan saat dia duduk di atas pangkuan kurir surat.


Raut wajah kurir surat berubah tegang saat merasakan goyangan dari wanita cantik di atas kedua kakinya.


"Namaku Loiisa...", ucap wanita cantik yang tanpa henti-hentinya menggoyangkan kedua kakinya di atas pangkuan kurir surat.


"Nama yang sangat indah, nyonya...", sahut kurir surat.


"Sedangkan kau, apakah kau tidak memiliki nama, tuan ?", tanya Loiisa.


"Aku tidak memiliki nama untuk panggilan karena nama ku harus kami sembunyikan sebagai seorang kurir surat, nyonya", sahut kurir surat.


"Tentu saja seperti itulah peraturan yang telah ditetapkan oleh tuan besar kami sebagai pemilik kami, nyonya Loiisa", jawab kurir surat.


"Sayang sekali, pria segagah dirimu harus menutupi nama agar tidak diketahui oleh orang lain lalu bagaimana dengan keluarga mu ? Mereka menerimanya dengan peraturan seperti itu, tuan ?", ucap Loiisa.


"Mau tidak mau maka mereka harus menerima semua peraturan yang berlaku, apapun itu resikonya yang akan aku hadapi dari sebuah pekerjaan ini, nyonya Loiisa", sahut kurir surat bijak.


"Aku pikir itu tidaklah adil karena bagiku seakan-akan identitas diri mu harus ditiadakan hanya untuk menyampaikan sebuah pesan rahasia dari pimpinan mu, tuan", kata Loiisa muram.


"Tapi itulah peraturannya dan aku harus mematuhi peraturan yang ada sebagai seorang kurir surat", sahut kurir surat.


Pandangan kurir surat beralih lagi ke arah pintu ruangan dan ekspresinya mulai terlihat cemas.


Lagi-lagi wanita cantik bernama Loiisa mencoba mengalihkan pandangan kurir surat kembali kepada dirinya seraya mencoba menggodanya.


Merayunya dengan usapan-usapan lembut di wajah kurir surat sehingga kurir surat itu teralihkan pandangannya kembali kepada Loiisa.


Loiisa masih duduk di atas pangkuan kurir surat seraya terus-menerus menggoyangkan kedua kakinya seakan-akan mencoba menarik kurir surat untuk menyukainya.


"Lalu apa yang harus aku lakukan kepadamu, nyonya Loiisa ?", tanya kurir surat. "Katakanlah supaya aku dapat segera pergi dari lembah Ngarai ini !", sambungnya.


"Benarkah kau tidak akan menolak permintaanku lagi, tuan kurir surat ?", kata Loiisa.


"Tidak, aku tidak akan menolak permintaan mu, katakanlah apa keinginan mu yang harus aku penuhi untukmu, nyonya Loiisa ?", sahut kurir surat dengan tatapan mata tajamnya.

__ADS_1


Loiisa lalu menyandarkan kepalanya ke arah bahu kurir surat seraya merangkul leher pria berbadan gagah itu dengan manjanya.


"Aku tidak yakin kau akan memenuhi semua keinginan ku karena aku takut kau akan menolak permintaanku itu, tuan", ucap Loiisa.


"Katakanlah, nyonya Loiisa ! Aku akan berusaha untuk memenuhi permintaan mu sesuai kemampuan yang aku miliki, nyonya Loiisa", jawab kurir surat.


"Tapi aku meragukannya, tuan", ucap Loiisa manja.


Kurir surat terdiam tetapi ekspresi wajahnya tidak dapat dia sembunyikan jika dirinya saat ini benar-benar merasakan kecemasan.


"Baiklah, jika kamu tidak ingin mengatakannya maka aku tidak akan pernah memaksa mu untuk memberitahukan kepada ku keinginan mu itu, nyonya Loiisa", kata kurir surat.


"Tidak ! Tidak demikian, tuan...", kata Loiisa terkejut.


Loiisa lalu mengalihkan pandangannya seraya mendongakkan kepalanya ke arah kurir surat yang berada tepat di depannya.


"Aku akan mengatakan keinginan ku ini kepada mu, tuan", kata Loiisa.


"Kalau begitu katakanlah apa keinginan mu itu ! Karena aku tidak dapat berlama-lama di tempat ini, nyonya Loiisa", sahut kurir surat serius.


"Keinginan ku sebenarnya hanya ingin kau menemaniku sampai esok hari di tempat hiburan ini, tuan", ucap Loiisa.


"Sampai esok hari ?", kata kurir surat tertegun.


"Benar, aku menginginkanmu hingga fajar terbit di sini bersamaku tanpa kau memikirkan apapun, tuanku", sahut Loiisa.


"Mana mungkin aku menginap disini karena aku harus segera pergi dari tempat ini untuk menyampaikan pesan kepada tuanku sebab tugasku sangatlah penting untuk tuanku, nyonya Loiisa", ucap kurir surat.


"Aku tahu itu tapi bisakah kau menemaniku sampai pagi hari karena aku tidak ingin melewatkan kesempatan ini untuk menghabiskan waktu kita bersama yang tidak lama, tuan", sahut wanita cantik bernama Loiisa memohon.


Loiisa lalu menyodorkan minuman kepada kurir surat saat pria itu mencoba mengelak permintaan darinya.


"Loiisa !!!", ucap kurir surat.


Loiisa memaksakan keinginannya untuk memberi minuman kepada kurir surat dengan meminumkan minuman yang ada di genggaman tangannya secara paksa.


Kurir surat tidak kuasa menolaknya karena Loiisa memaksakan dirinya untuk meminum minuman beralkohol tinggi yang dia berikan kepadanya.


"Loiisa, apa yang kamu lakukan ?", ucap kurir surat tersedak.


Loiisa berhasil membuat kurir surat meminum minuman yang dia paksakan kepadanya.


Tak butuh waktu lama, kurir surat itu langsung tergeletak tidur di pelukan Loiisa.


Wanita cantik itu langsung tersenyum senang ketika melihat kurir surat berhasil dia taklukan dengan secangkir minuman yang didalamnya mengandung obat tidur.


Sudut bibir Loiisa membentuk sebuah lengkungan senyuman yang menandakan bahwa dia sangat bahagia dapat memaksakan keinginannya untuk bersama kurir surat supaya menemani dirinya di tempat hiburan itu hingga esok hari atau mungkin untuk selama-lamanya di lembah Ngarai.


"Kau akan menjadi milikku untuk selamanya, tuanku..., dan tolong maafkan aku atas keinginan ku untuk memiliki mu disini bersamaku sampai maut memisahkan kita berdua, tuanku tercinta...", ucap wanita cantik bernama Loiisa seraya tertawa keras hingga menggema keluar dari tempat hiburan itu.

__ADS_1


__ADS_2