Suami Ku Hantu

Suami Ku Hantu
Bab 63 Perkelahian


__ADS_3

Laoshi tetap tidak terima dengan ucapan tetua Fang-Hua yang bersikukuh bahwa keputusannya menyerang lembah Moldova adalah salah.


Guru lembah plum yang masih awet muda itu menentang adanya pernikahan antara manusia dengan hantu.


Laoshi bertekad bahwa dia akan tetap melancarkan serangannya terhadap hantu tampan itu sampai hantu Van Costel IV melepaskan Jia Li.


Pernikahan dua alam berbeda yang semestinya tidak pernah dilakukan oleh hantu dan manusia harus berakhir karena Laoshi percaya kutukan dahsyat akan datang ke seluruh negeri.


Bukan hanya mengancam keselamatan keluarga kedua belah pihak yang menikah tetapi semua manusia di bumi ini.


Menyebabkan ruang dimensi antara manusia dengan hantu akan terus terbuka bebas, masuknya para hantu dari alam dunia lain akan berdatangan ke dunia manusia tanpa ada hentinya bahkan akan membuat penghuni neraka terlepas dari belenggu ikatan rantai hukuman.


Lepasnya penghuni neraka merupakan ketakutan tersendiri bagi Laoshi karena akan membuat penghuni terkuat dari neraka muncul dan menguasai dunia.


Dunia sosial yang mereka jalani memang hidup berdampingan antara manusia dengan siluman tetapi siluman berbeda dengan hantu.


Siluman merupakan makhluk ghaib yang diciptakan oleh langit untuk hidup berdampingan dengan manusia dan hidup layaknya manusia bahkan mereka berkembang biak seperti manusia.


Kecerdasan siluman melebihi manusia dan terkadang rupa mereka hampir mirip dengan rupa serta kebiasaan manusia pada umumnya.


Laoshi tidak mempermasalahkan siluman karena mereka bukan hantu dan siluman merupakan makhluk ghaib tetapi hantu adalah manusia yang telah mati dan dibangkitkan dari alam kubur.


Pandangan Laoshi akan hantu dengan siluman berbeda meski banyak yang meyakini bahwa hantu serta siluman sama karena mereka berasal dari dunia lain dan kasat mata.


Namun, guru besar Laoshi tetap tidak setuju bahkan menganggap hantu bukanlah siluman melainkan manusia yang sudah mati dan berubah menjadi hantu karena langit menolaknya.


Mempercayai bahwa orang yang sudah mati dan dia menjadi hantu identik jika orang itu mendapatkan hukuman berat dari penguasa langit.


Laoshi menatap tajam tetua Fang-Hua yang berdiri dihadapannya.


Mendengus kesal saat melihat Fang-Hua yang telah mengacaukan rencananya untuk melawan hantu Van Costel IV.


''Kemana plakat segel itu ?'', kata Laoshi.


''Plakat !? Apa maksud perkataanmu, Laoshi ?'', sahut Fang-Hua.


''Kau tidak tahu atau berpura-pura tidak tahu, Fang-Hua !?'', jawab Laoshi.


''Aku benar-benar tidak mengerti dengan ucapanmu itu, Laoshi'', ucap Fang-Hua. ''Plakat apa yang kau maksudkan ?'', sambungnya.


''Plakat untuk menggerakkan pasukan BENGT ! Segel pembuka perintah milik Tianba yang dititipkannya kepadamu sebelum dia meninggal'', sahut Laoshi.


''Tianba tidak memberikannya padaku bahkan kami tidak pernah bertemu sebelum dia tiada, Laoshi'', kata tetua Fang-Hua.


''Kau bohong, Fang-Hua !'', sahut Laoshi.


''Bohong ?'', kata Fang-Hua. ''Bagaimana bisa kamu mengatakan bahwa aku berbohong, Laoshi ?'', sambungnya.


''Kemana semua pasukan BENGT saat ini jika bukan kamu yang memerintahkan Xia He untuk menyerahkan plakat pimpinan kepada Jia Li ?'', kata Laoshi.


Tetua Fang-Hua tertawa keras seraya berjalan ke arah sebuah gundukan tanah di dekat danau lalu duduk sambil menyilangkan kedua kakinya.


''Kau tidak sedang mengada-ada bukan ?'', lannut Fang-Hua yang sama cantiknya dengan Laoshi.

__ADS_1


''Hentikan kepura-puraanmu itu Fang-Hua !'', ucap Laoshi setengah berteriak.


''Pura-pura katamu ?'', jawab Fang-Hua dengan senyum meledek.


Laoshi langsung berubah marah dan mulai kehilangan kesabarannya.


''Serahkan plakat segel perintah itu sekarang, Fang-Hua !!!'', kata Laoshi dengan emosi.


Mengarahkan tangannya kembali ke depan sehingga muncul serat-serat benang halus dari telapak tangan Laoshi.


Serat-serat benang halus bergerak kencang menyerang tetua Fang-Hua yang sedang duduk dengan santainya.


Fang-Hua melihat bahaya datang ke arahnya langsung terbang melayang ke atas berusaha menghindari serangan dari Laoshi.


Tubuh tetua Fang-Hua melayang-layang ringan di udara serta meliuk-liuk lincah saat menghindari serangan demi serangan yang dilancarkan oleh Laoshi terhadapnya.


Fang-Hua tidak berniat sekalipun membalas serangan guru Laoshi dan hanya bergerak menghindar.


Laoshi yang sangat marah tidak terima dengan sikap tetua Fang-Hua yang seakan-akan mengejeknya dengan tidak membalasnya.


''Jangan pengecut, Fang-Hua !'', kata Laoshi mengejar tetua Fang-Hua.


Serat-serat benang halus yang keluar terus-menerus dari arah telapak tangan Laoshi menyerang tetua Fang-Hua tiada hentinya.


Seolah-olah tidak pernah memberikannya sebuah kesempatan untuk tetua Fang-Hua untuk bergerak karena serat-serat benang halus milik Laoshi sangat berbahaya dan dapat menyayat tajam seperti pedang.


Fang-Hua terus berlompatan ringan di udara saat benang halus milik Laoshi menyerang dirinya tanpa henti.


''Kau tidak membalasku, Fang-Hua ?'', kata Laoshi.


Ekspresi wajah Laoshi sangat bersemangat ketika dia mengarahkan serangannya kepada tetua Fang-Hua.


''Apa kamu takut melukaiku, Laoshi ?'', sahut Fang-Hua.


''Apa !?'', ucap Laoshi.


Laoshi terlihat tidak terima dengan sikap tetua Fang-Hua kepadanya yang benar-benar menganggap remeh setiap serangannya.


''Enyahkanlah pikiran takut dari kepalamu ! Dan jangan ragu-ragu untuk menyerangku, Laoshi !'', lanjut Fang-Hua.


''Kau !'', sahut Laoshi geram.


''Seranglah aku ! Buatlah tubuhku ini tercabik-cabik agar kau puas, Laoshi !'', teriak tetua Fang-Hua keras dari arah atas saat dia meliuk-liuk di udara.


Tawa keras kembali menggema dari arah tetua Fang-Hua yang berlompatan menghidari serangan demi serangan dari guru lembah plum, Laoshi.


Laoshi yang mendengar suara tawa Fang-Hua semakin bertambah kesal dan marah.


''Dasar bodoh, kau Fang-Hua !'', ucap Laoshi.


Guru lembah plum yang masih awet muda diusianya yang senja itu bergerak cepat ke arah tetua Fang-Hua sambil terbang ringan.


Keduanya tampak melayang-layang berlompatan di udara.

__ADS_1


Kemampuan meringankan olah tubuh milik kedua perempuan kuat berasal dari lembah plum itu benar-benar sangat hebat bahkan mereka terlihat seolah-olah memiliki sepasang sayap yang tak terlihat di tubuh mereka sehingga kedua perempuan itu dapat terbang begitu ringannya bagaikan burung.


Muncul dari telapak tangan Laoshi sebuah pedang naga yang memancar aura dingin yang menyeramkan.


Laoshi terbang melayang ringan di udara menyusul tetua Fang-Hua yang menghindari serangan serat-serat benang halus yang keluar dari salah satu tangan Laoshi, sambil menghunus pedang naganya serta bergerak secepat angin ke arah Fang-Hua.


Guru lembah plum itu melayangkan pedang naganya ke arah tetua Fang-Hua dengan cepatnya.


Fang-Hua yang tidak menyangka akan mendapatkan serangan dari pedang naga milik Laoshi, tersentak kaget saat pedang itu menghunus lurus ke arahnya dan hampir menembus dadanya jika dia tidak segera menghindarinya.


Pandangan tetua Fang-Hua langsung berubah marah ketika darah mengalir dari bahunya karena terkena sabetan pedang naga kepunyaan Laoshi.


''Kau ?'', ucap tetua Fang-Hua.


Tatapan tetua Fang-Hua terlihat sangat marah ketika melihat Laoshi menggunakan pedang naga untuk melukainya.


Fang-Hua tidak menyangka jika Laoshi benar-benar berniat untuk membunuhnya.


''Kau menyerangku dengan pedang naga ?'', kata tetua Fang-Hua.


Laoshi berdiri dengan tangan masih tetap menghunus pedang naga ke arah depan sedangkan pandangannya terlihat serius saat menatap tetua Fang-Hua yang jatuh bersimpuh di atas batu yang mengapung di tengah-tengah danau.


Tetua Fang-Hua memegangi bahunya yang tergores oleh sabetan pedang naga dan terus-menerus mengeluarkan darah segar, hanya meringis menahan rasa perihnya.


''Kau benar-benar telah keliru, Laoshi...'', ucap tetua Fang-Hua.


''Keliru !? Apa maksudmu, Fang-Hua ?'', tanya Laoshi.


Laoshi memandang ke arah tetua Fang-Hua yang duduk berlutut di atas batu di tengah-tengah danau dengan bahu terluka.


''Apa yang keliru, Fang-Hua ???'', teriak Laoshi.


Tetua Fang-Hua menjawab pertanyaan guru Laoshi dengan pandangan tertunduk.


''Kau telah keliru mengambil jalan dengan menyerang semua orang dan melampiaskan kemarahanmu karena keinginanmu tidak tercapai...''


Laoshi terdiam serta terhenyak kaget ketika mendengar ucapan dari tetua Fang-Hua.


''Sadarlah, Laoshi !'', ucap tetua Fang-Hua.


''Apa !?'', sahut Laoshi lirih.


''Lupakanlah dendammu itu yang tidak beralasan, Laoshi ! Sudahi keinginanmu untuk tidak menentang mereka ! Biarkan Jia Li hidup bersama dengan suami hantunya !''


Ucapan tetua Fang-Hua menggema keras dari arah tengah-tengah danau yang berada di bawah rumahnya, bersamaan itu tubuh Fang-Hua menghilang.


''Fang-Hua !!!'', teriak Laoshi. ''Jangan lari ! Kemana kau ? Fang-Hua !!!''


Laoshi terus berteriak keras ketika tetua Fang-Hua lenyap dari pandangannya serta menghilang pergi meninggalkan dirinya yang terlihat sendirian di tengah-tengah halaman luas rumah tetua lembah plum yang bernama Fang-Hua.


Daun-daun berwarna kuning jatuh berguguran lalu terbang melayang pelan ke arah Laoshi yang terus-menerus berteriak memanggil nama tetua Fang-Hua yang pergi menghilang dari dirinya.


''FANG-HUA !!!!!''

__ADS_1


__ADS_2