
Sosok hantu pria gemuk terbang melayang di udara serta mengarahkan tangannya yang bercahaya terang ke arah kumpulan pria berjubah keemasan dari klan siluman naga putih yang mengepungnya.
Pukulan cahaya terang mengarah lurus serta meledak keras diantara para klan siluman naga putih.
Tampak mereka berhamburan menjauh dari arah ledakan yang berasal dari bayangan hantu gemuk.
Para klan siluman naga putih melompat tinggi menghindari serangan-serangan cahaya terang yang melingkar di area sekitar mereka tiada hentinya.
Pria gemuk mengangkat kedua tangannya ke atas yang mengeluarkan sinar terang berapi-api serta membentuk formasi lingkaran layaknya gugusan bintang.
Sebilah pedang berwarna biru cerah muncul dari balik cahaya yang berasal dari formasi lingkaran.
Hantu gemuk meraih pedang berukuran panjang serta memiliki berat yang lumayan besar dan terbuat dari baja tipis yang berkilat-kilat bila ditimpa oleh cahaya matahari.
Mengayunkan pedang ditangannya seperti gerakan berputar yang membentuk formasi lingkaran-lingkaran.
Para klan siluman naga putih langsung terhenyak kaget melihat pemandangan di hadapan mereka.
Beberapa orang dari klan siluman naga putih saling berpandangan ketika melihat situasi di depan mereka lalu saling bertanya.
"Apakah itu barang yang kita inginkan ?", tanya seorang klan siluman naga putih.
"Itu pedang Yunlong milik langit", sahut pria lainnya.
"Yunlong Jian harus kita dapatkan karena benda itu adalah penawar racun...", sambung pria klan naga putih lainnya.
"Penawar racun dapat dihasilkan dari pedang Yunlong ketika pedang itu digunakan pada gerakan tertentu, konon ada petunjuk dari pedang Yunlong bagi pemiliknya", lanjut pria bertopeng naga.
"Benar, pedang itulah yang diinginkan oleh ketua klan sebaiknya kita segera mengambilnya dari hantu itu", kata pria berjubah keemasan.
"Tapi sepertinya butuh tenaga serta waktu untuk merebut pedang Yunlong dari tangan hantu itu karena hantu gemuk itu cukup tangguh untuk dikalahkan oleh kita", sahut pria bertopeng naga.
"Kita serang dia dari berbagai penjuru arah lalu kita rebut pedang Yunlong dari tangannya sebelum malam tiba", ucap pria lainnya.
"Malam ini akan tiba bulan naga karena itulah ketua klan memerintahkan kita sekarang segera mengambil Yunlong Jian sebagai penawar racun baginya", kata pria klan siluman naga putih.
"Bagaimana kalau kita gagal ?", tanya pria lainnya.
"Kita habisi saja hantu gemuk itu secepatnya tanpa ampun", sahut seorang pria yang mengenakan penutup mata sebelah.
Rata-rata tinggi badan mereka semua sama, dengan tubuh yang sama-sama kekar serta kuat. Dan semua klan siluman naga putih mengenakan jubah keemasan bermotif awan hitam.
Serentak kelompok klan siluman naga putih bergerak cepat menyerang hantu gemuk secara bersama-sama.
"SERANG !!!", teriak mereka serempak.
Para klan siluman naga putih melompat tinggi ke arah hantu gemuk dengan mengarahkan pedang mereka secara bersamaan.
Hantu gemuk langsung bergerak cepat menghindari serangan-serangan para klan siluman naga putih dengan menangkis serbuan pedang milik klan siluman.
Tampak dari kejauhan Dimitri memperhatikan segala kejadian di depan matanya dengan tatapan tajam.
Mazonn duduk di dekatnya di atas awan hitam yang terbang melayang-layang ringan seraya menikmati secawan anggur merah tanpa memperhatikan keadaan yang sedang terjadi di depannya.
__ADS_1
Pertempuran antara kelompok klan siluman naga putih dengan hantu gemuk cukup sengit bahkan terlihat berimbang.
Kekuatan hantu gemuk sangat tangguh dan kuat ketika dia mempertahankan dirinya saat melawan para klan siluman naga putih yang mengepungnya bertubi-tubi.
Pedang Yunlong yang berukuran besar mampu melibas berbagai serangan dari klan siluman naga putih yang mengepungnya.
KLANG... KLANG... KLANG...
Terdengar suara pedang saling beradu keras saat pertempuran terjadi di pasar hantu.
Perebutan barang yang diinginkan oleh para klan siluman naga putih mendapatkan perlawanan sulit dari hantu gemuk yang mati-matian mempertahankan barang tersebut.
Dimitri melirik ke arah Mazonn sembari berkata kepada sahabatnya.
"Kira-kira bagaimana prediksi mu tentang pertempuran disana ?", ucap Dimitri.
"Hmmm... Kenapa kamu menanyakan hal itu?", ucap Mazonn bertanya balik kepada Dimitri.
"Siapa pemenangnya ?", sambung Dimitri.
"Entahlah...", sahut singkat Mazonn.
Dimitri terdiam sejenak sambil menatap kembali ke arah pertempuran yang berjalan sengit dari kedua belah kubu antara hantu gemuk dengan kelompok klan siluman naga putih.
"Kau benar-benar penasaran, Dimitri !?", ucap Mazonn.
Mazonn menuangkan minuman anggur merah ke dalam cawan perak sembari memutarnya pelan lalu menatap tajam ke arah area pertempuran.
"Tapi aku memikirkan pertempuran itu tidaklah seimbang bahkan nyaris tidak adil bagi hantu gemuk itu...", sahut Dimitri.
"Resiko yang harus dihadapi oleh hantu gemuk karena dia memilih jalan hidupnya demikian", kata Mazonn.
"Kurasa sedikit menyakitkan", jawab Dimitri.
"Mungkin...", kata Mazonn.
Mazonn menghirup aroma anggur merah dari arah cawan perak ditangannya lalu menenggaknya sampai habis.
"Ahhh... !? Sebaiknya kita menunggu akhir dari ujung pertempuran ini karena tidaklah benar jika kita ikut campur urusan orang lain...", ucap Mazonn santai.
"Yah, aku pikir juga seperti itu karena menurut ku pertempuran ini cukup berimbang bahkan membutuhkan waktu yang lama bagi mereka untuk saling mengalahkan", sahut Dimitri.
"Aku enggan sebenarnya melihat kerusuhan di daerah ku tapi ranah kehidupan di pasar hantu sudah terjadi seperti ini sejak lama dan bukanlah tugasku untuk mengamankan tempat ini", kata Mazonn.
"Lalu kenapa kita kemari ?", tanya Dimitri.
"Bukankah sudah aku jelaskan kalau aku sedang mencari penawar racun dari kelompok klan siluman naga putih", sahut Mazonn.
"Benar, hanya saja aku tidak memahaminya kenapa kamu mengajakku kemari", kata Dimitri.
"Aku melihat dari bola kaca pergerakan klan beberapa kelompok siluman naga putih yang menyusup ke lembah Ngarai ini menuju ke arah pasar hantu", jawab Mazonn.
"Tapi penawar racun tidak ada pada para klan siluman naga putih melainkan ada pada hantu gemuk itu", ucap Dimitri.
__ADS_1
"Yah, benar, hanya saja aku melihat mereka mengincar pedang Yunlong dari tangan hantu gemuk ketika transaksi terjadi tadi sebelum pertempuran terjadi", kata Mazonn.
"Artinya kau sengaja ke pasar hantu ini hanya untuk memastikan tujuan dari para klan siluman naga putih yang menyusup ke lembah Ngarai", ucap Dimitri terkejut.
"Terkadang hal yang sebenarnya kita lihat bukanlah sesuatu yang sesungguhnya terjadi tapi justru berbalik dan berbeda kelihatannya", sahut Mazonn.
"Rupanya kau telah memprediksinya dari awal kita kemari...", ucap Dimitri.
Dimitri menghela nafasnya seraya memejamkan kedua matanya lalu menoleh ke arah Mazonn.
"Barangnya ada di hantu gemuk dan aku baru menyadari ketika melihat tujuan dari arah pergerakan klan siluman naga putih ke pasar hantu ini", kata Mazonn.
"Apa yang kau maksud adalah pedang Yunlong milik hantu gemuk ?", tanya Dimitri.
"Sejujurnya aku tidak tahu apa benar Yunlong Jian adalah penawar racun milik hantu gemuk yang dicari oleh para klan siluman naga putih", sahut Mazonn.
"Menarik...", kata Dimitri.
Mazonn hanya tersenyum dengan raut wajah tenang sedangkan tangannya yang berkuku emas panjang serta runcing terlihat bermain-main lincah di cawan perak berisi anggur merah.
"Bagaimana kalau kita segera mengambilnya dari hantu itu ?", ucap Dimitri.
"Tidak sekarang...", sahut Mazonn.
"Kapan ?", tanya Dimitri heran.
"Setelah hantu gemuk terdesak maka kita akan membantunya mengalahkan para klan siluman naga putih lalu menangkap mereka semua dengan perkara melakukan transaksi ilegal", jawab Mazonn.
"Kenapa harus menunggu dia terdesak !?", kata Dimitri dengan wajah ditekuk kesal.
"Sabarlah dan lihatlah saja !", ucap Mazonn.
"Fiuh !? Membosankan... !?", gerutu Dimitri.
"Tunggulah sebentar...", sahut Mazonn.
Dimitri mengalihkan pandangannya ke arah area pertempuran yang sedang berlangsung sengit dari arah tempatnya duduk di atas sebuah tembok usang dekat kios kumuh tanpa penghuni.
Terlihat Mazonn yang duduk di atas awan hitam melayang-layang di bawah Dimitri berada.
"Ambillah ini !", ucap Mazonn.
Dimitri melirik ke arah Mazonn yang ada dibawahnya sedang memberinya secawan anggur merah dari tangannya yang dihiasi dengan jari-jemari tangan berkuku panjang dari emas.
"Aku tidak ingin kehilangan kesadaran ku serta akal sehat ku saat bertempur nanti, akan mengesalkan jika aku melakukannya dengan tidak sadar", ucap Dimitri.
"Baiklah..., aku tidak akan memaksa mu...", sahut Mazonn.
"Bukan aku bermaksud untuk mengecewakan mu tapi aku hanya tidak ingin kehilangan kehormatanku sebagai seorang kesatria di medan pertempuran", lanjut Dimitri.
"Terserah padamu saja dan aku memahaminya", jawab Mazonn sekenanya.
Mazonn menegak minumannya dari cawan perak yang ada di genggaman tangannya seraya menatap lurus dengan sorot mata tajam.
__ADS_1