Suami Ku Hantu

Suami Ku Hantu
Bab 55 Kabar Dari Antolin Lucian


__ADS_3

Jia Li memandangi suaminya yang terbaring pulas disampingnya.


Lama dia menatap wajah pucat putih milik hantu yang sangat tampan itu sesekali membelainya lembut.


Jia Li tersenyum kecil saat melihat reaksi dari Van Costel yang menggeliat pelan seraya menggeram lirih ketika dia membelainya tepat di alisnya yang tebal.


Kembali dipandanginya wajah tampan tetapi sangat pucat milik suami hantunya dengan pandangan teduh.


Merasakan bahwa waktu diantara mereka berlalu begitu cepatnya tanpa tahu kapan akan berakhir sedangkan perselisihan diantara keluarga dari kedua belah pihak terus berlanjut dan semakin panas tanpa tahu kapan akan berakhir pula semenjak Kwee Lan mengetahui sosok asli Van Costel yang berwujud hantu.


Ayahnya terus melakukan perlawanan terhadap hubungan mereka kala Kwee Lan tahu jika Jia Li menikahi hantu, ayahnya yang terkadang mengirim sesuatu ke rumah Van Costel IV berupa kiriman-kiriman aneh seperti mata-mata yang sengaja merusak taman di halaman rumah atau sengaja melakukan teror. Dan ayahnya terkadang mengirim hadiah yang bisa meledak bahkan ada kiriman lebih aneh lagi yaitu burung gagak hitam.


Burung gagak hitam bermata tiga seringkali melintas di atas kamar Jia Li setiap malam menjelang.


Terkadang membuat suara-suara aneh di depan jendela kamar dengan membuat ketukan-ketukan aneh sepanjang malam juma'at tiba atau melempar sesuatu yang tiba-tiba menghilang tak berjejak ke dalam kamarnya kala jendela terbuka.


Jia Li sendiri tidak mengerti atas sikap ayahnya yang bersikukuh melarangnya melanjutkan pernikahan antara manusia dengan hantu.


Pada awalnya ayahnya yang menyuruhnya menikahi Van Costel IV untuk menggantikan adik tirinya yang bernama Jingmi yang menolak menikah tetapi sekarang ayahnya menentang hubungan pernikahannya dengan Van Costel lantaran ayahnya tahu jika pria tampan itu adalah sosok hantu yang meninggal 20 tahun yang lalu.


Tak seorangpun tahu jika suami hantunya itu adalah seorang bangsawan Rumania yang dibangkitkan dari alam kematiannya dengan syarat harus mengadakan sebuah pernikahan aneh dengan manusia yang ditetapkan memiliki aroma bunga plum khas dari tubuhnya. Dan kebetulan jika Jia Li yang berasal dari keluarga Kwee Lan memiliki aroma khas bunga plum yang selama ini dicari oleh keluarga Van Rogh Costel III sebagai syarat mutlak pengantin wanita untuk putranya bernama Van Costel IV yang telah mati.


Jia Li turun dari atas ranjang yang dihiasi tirai tipis mengelilinginya.


Saat Jia Li hendak melangkah pergi dari kamar, sebuah tangan menahannya hingga dia terhenti langkahnya.


Jia Li menolehkan kepalanya ke arah samping ranjang lalu melihat hantu tampan itu sedang bergumam pelan dengan mata masih terpejam.


''Kau akan pergi kemana ?'', ucap Van Costel IV.


''Aku ingin mandi dan segera mempersiapkan aroma dupa menyan khusus untukmu, sayangku'', sahut Jia Li.


''Rasanya perutku sudah sangat kenyang setelah menghirup dupa itu setiap harinya dan aku ingin makanan lainnya, Jia Li sayang...'', gumam Van Costel lesu.


''Tidak biasanya kau tampak tidak bersemangat, Van Costel. Ada apa denganmu !?'', sahut Jia Li.


Jia Li lalu memutar tubuhnya ke arah ranjang kemudian duduk disebelah hantu tampan itu seraya mengusap wajah Van Costel teramat lembut.


''Entahlah, aku tidak mengerti... Sejak malam kelima belas, tubuhku terasa amat letih. Dan bisakah kau meringankannya ?'', ucap Van Costel IV masih terpejam.


''Meringankannya !? M--maksudmu !?'', kata Jia Li tidak mengerti lalu kembali beranjak berdiri dari atas ranjang.


''Tunggu !'', ucap Van Costel IV. ''Jangan pergi, Jia Li sayang !''


Van Costel IV membuka kedua matanya perlahan-lahan saat Jia Li hendak pergi darinya sembari menggenggam erat tangan perempuan cantik itu.


''Kenapa kau terus memaksaku ? Aku mau mandi serta menyiapkan dupa menyan yang wajib aku sediakan untukmu agar kau bisa menikmatinya, Van Costel !?'', kata Jia Li.


''Aku tidak ingin yang lainnya, sayangku... Aku ingin dirimu bersamaku..., disini..., disisiku..., aku membutuhkanmu !'', sahut Van Costel IV.


Van Costel IV menatap lembut Jia Li yang berdiri disamping ranjang yang menatapnya serius.


''Ayolah, sayangku !'', bujuk Jia Li. ''Aku harus pergi sebentar karena pesan Antolin Lucian kepadaku bahwa aku harus menyiapkan dupa menyan setiap harinya untukmu agar kau terus bertenaga !''

__ADS_1


Tiba-tiba masuk melesat anak panah ke dalam kamar pribadi mereka yang hampir melukai Jia Li dalam posisi berdiri jika tidak cepat-cepat Van Costel IV menarik tubuh Jia Li ke atas ranjang tidur mereka.


BRUK !


Tubuh mereka berdua berguling-guling di atas ranjang, menghindari anak panah yang melesat kilat menembus dinding kamar mereka.


TAP !


Anak panah tepat menancap lurus di dinding kamar.


Van Costel IV langsung bereaksi keras ketika melihat anak panah dengan bendera menggantung di pangkal panah sedangkan secarik kertas menempel di ujung anak panah yang menancap kuat didinding kamar mereka.


''Darimana datangnya anak panah itu ?'', ucap Van Costel IV terkejut.


Hantu tampan itu segera bergegas mendekati dinding kamarnya dengan anak panah yang menancap kuat disana.


''Siapa yang sengaja mengirim anak panah ini ?'', kata Van Costel seraya menarik anak panah dari dinding kamarnya.


Jia Li yang terbaring di atas ranjang hanya terdiam seraya menatap ke arah suami hantunya.


''Apa ini ulah mata-mata suruhan ayahmu lagi, sayangku ?'', ucap Van Costel sambil menolehkan kepalanya ke arah Jia Li yang terbaring dengan posisi seksinya.


Pandangan Van Costel IV terhenti seketika saat dia memandangi tubuh istrinya yang aduhai mempesona.


Konsentrasi pikirannya kepada anak panah di tangannya mendadak lenyap ketika dia melihat tubuh Jia Li yang putih mulus serta menggairahkan terlentang di atas ranjang tidur mereka.


''Tidak bisakah dia tidak menggodaku seperti itu !? Apa dia tidak pernah merasa bahwa dirinya membuatku selalu ingin terus bersamanya !?'', gumam Van Costel IV.


''Dan inilah yang selalu membuatku jatuh cinta kepadanya setiap saat...'', ucap Van Costel IV.


Van Costel IV mengalihkan kembali pandangannya ke arah anak panah yang ada digenggamannya lalu menoleh ke arah Jia Li.


''Sepertinya aku akan menunda untuk memeriksa anak panah ini. Dan lebih memilih melanjutkan kembali permainan cinta kami'', ucap Van Costel IV.


Hantu tampan itu melangkah cepat ke arah tempat tidur lalu menyibakkan tirai tipis yang menghiasi ranjang tidur mereka hingga menutupi ranjang.


''Van Costel !? Apa yang kau lakukan !?'', pekik Jia Li terdengar dari dalam ranjang yang tertutup tirai tipis disekelilingnya.


Tidak terdengar jawaban dari hantu tampan itu karena yang ada hanyalah suara derit ranjang yang berbunyi nyaring.


Angin meniupkan helai kain tirai yang menutupi ranjang tidur saat angin berhembus masuk melalui celah-celah jendela kamar.


Udara dingin di awal musim salju mulai terasa dominan di setiap kawasan Rumania yang mulai turun salju.


Lonceng terus berbunyi menggema dari bangunan-bangunan menara saat menyambut awal musim dingin yang menjadi kebiasaan di Rumania setelah musim gugur berlalu.


Festival musim dingin akan datang dan akan digelar.


Sebuah ritual kecil yang seakan-akan untuk menyambut akan kedatangan orang suci pada musim dingin yang membawa salju sebagai tanda keberuntungan sebagai tanda bahwa langit sedang bergembira merayakan turunnya berkat ke bumi.


Suasana kamar menjadi hening, hanya terdengar suara lirih dari dalam ranjang tidur yang tertutup oleh tirai tipis.


Waktu berlalu cepat dan tidak terasa, hampir satu jam setengah lebih Van Costel IV dan Jia Li menghabiskan waktu mereka berdua di ranjang tidur dengan tirai yang tertutup rapat. Lalu terdengar suara orang berbicara dari arah ranjang tidur.

__ADS_1


''Siapa yang mengirim anak panah ini ?'', ucap Jia Li kepada hantu tampan itu.


Van Costel diam hanya memandangi anak panah yang ada digenggaman tangannya.


''Kau tidak ingin membaca isi pesan di dalam kertas itu, sayangku ?'', tanya Jia Li.


Jia Li bersandar di dada Van Costel IV yang telanjang dengan keringat membasahinya.


''Haruskah itu aku lakukan !?'', ucap Van Costel.


''Jika kau tidak menginginkannya, bukanlah masalah untukku. Hanya saja aku merasa sedikit penasaran untuk membacanya...'', bisik Jia Li.


''Hmmm, begitu, ya !?'', sahut Van Costel IV. ''Kau menginginkannya ?'', sambungnya.


''Yah..., sayang...'', sahut Jia Li sambil memainkan ujung jarinya di atas dada hantu tampan itu. ''Rasa penasaran membuatku bergairah untuk mengintip isi pesan di kertas itu, tapi jika kau tidak mengijinkannya maka aku tidak akan pernah memaksakannya...'', sambungnya.


Nada suara Jia Li terdengar manja saat dia memberitahukan keinginannya untuk membaca isi pesan di dalam kertas yang menancap pada ujung anak panah.


''Kau selalu berhasil menggodaku, sayangku ! Dan kau harus tahu bahwa aku tidak kuasa untuk menolaknya !'', sahut Van Costel IV.


''Benarkah !?'', ucap Jia Li seraya mendongakkan kepalanya ke arah Van Costel. ''Bukalah pesan di kertas itu seperti kau yang selalu mahir membuka setiap bagian gaun yang melekat di badanku, sayangku !?''


''Astaga !?'', sahut Van Costel IV kaget. ''Kau selalu mampu mengejutkanku dengan semua yang ada pada dirimu, Jia Li sayangku !''


''Terimakasih atas sanjungannya... Aku benar-benar merasa tersanjung dengan setiap ucapanmu, Van Costel'', jawab Jia Li.


Pandangan Jia Li yang menatap ke arah Van Costel IV dengan bibir terbuka merekah mampu menghipnotis hantu tampan itu hingga menuruti kemauan perempuan berparas jelita tersebut tanpa bisa menolaknya.


Van Costel IV tersenyum saat melihat ke arah Jia Li yang bersandar di dadanya dengan menatapnya teduh.


''Sepertinya ini pesan dari pasukan elit milik Antolin Lucian...'', ucap Van Costel.


Diambilnya kertas yang menancap dari ujung anak panah lalu membacanya dengan ekspresi wajah serius.


Raut wajah Van Costel IV berubah dingin ketika dia membaca isi pesan pada kertas di tangannya lalu mendengus kesal.


''Ada apa ?'', tanya Jia Li.


Saat Van Costel IV beranjak berdiri lalu tergesa-gesa mengenakan jubah tidurnya sedangkan wajahnya terlihat muram.


''Kau akan pergi meninggalkanku ?'', ucap Jia Li menatap sendu suami hantunya.


Van Costel IV memutar tubuhnya lalu berdiri tegak menghadap Jia Li yang terbaring dengan selimut menutupi sebagian tubuhnya yang polos.


Menelusuri setiap inci bagian tubuh perempuan berparas cantik jelita itu tanpa henti kemudian berkata pada Jia Li dengan suara lembut.


''Sayangku, aku harus pergi menemui Antolin Lucian di hutan Hoia Baciu sekarang... Dan mungkin aku memerlukan waktu lama untuk sampai kesana...''


''Apakah aku tidak boleh ikut bersamamu ke tempat itu ?'', tanya Jia Li.


''Bukan aku tidak mengijinkannya atau tidak menginginkannya tetapi aroma bunga plum yang tercium khas dari tubuhmu akan menarik para penghuni hutan Hoia Baciu yang terkenal angker, sayangku'', sahut Van Costel IV.


Jia Li terdiam membisu, hanya memandangi Van Costel IV yang berdiri dengan senyuman lembutnya dari arah samping tempat tidur lalu hantu tampan itu pergi menghilang lenyap dari pandangan Jia Li dengan sangat cepat.

__ADS_1


__ADS_2