
Van Costel IV tertegun sejenak seperti sesuatu tengah dia rasakan.
Seseorang memanggil namanya...
Hantu tampan itu lalu menoleh ke arah sekitar Hutan Hoia Baciu yang dia masuki sekarang.
''Jia Li...'', gumam Van Costel IV.
Van Costel IV terhenti langkah kakinya saat dia memasuki area hutan angker Rumania, bertujuan menyusul Antolin Lucian.
Seakan-akan dia mendengar suara panggilan dari Jia Li.
''Apakah ini ilusiku ?'', ucap Van Costel IV.
Van Costel IV percaya bahwa saat memasuki area Hutan Hoia Baciu maka seluruh kehidupan diluar sana akan menghilang dan berganti dengan alam lain yang biasa disebut alam ghaib.
''Aku merasakan kehadiran Jia Li disini tapi aku tidak melihatnya hanya merasakannya jika dia ada'', gumam hantu tampan.
Van Costel IV melesat cepat masuk ke dalam Hutan Hoia Baciu.
Berusaha tidak menghiraukan alam ilusi yang mempengaruhi dirinya saat memasuki area hutan terlarang.
Gerakan tubuh Van Costel IV melaju cepat dengan diiringi oleh rimbunan pepohonan rindang yang ikut bergerak cepat.
Udara di dalam Hutan Hoia Baciu terasa menyesakkan saat Van Costel IV memasuki area hutan angker itu.
Hantu Van Costel IV berdiri dengan kedua langkah kaki tegap ketika berada di tepi jurang yang dalam.
Aura gelap dan suram muncul dari arah jurang yang ada di depan Van Costel IV.
''Ini petaka... Jebakan dalam hutan yang paling menakutkan bagi siapa saja yang masuk ke tempat terlarang ini...'', kata Van Costel IV.
Tangan Van Costel IV mengarah lurus ke depan tepat di atas jurang.
''Ternyata jejak pasukan elit milik Antolin Lucian terasa di tempat ini'', ucap Van Costel IV.
Pandangan hantu tampan itu teralihkan ke arah lainnya saat dia mengamati arah jurang di dalam hutan angker.
Kedua mata Van Costel IV menyorot berwarna merah tua seperti api yang membakar sedangkan bibirnya mengatup erat saat dia mengalihkan pandangannya dari arah jurang.
Langit di atas Hutan Hoia Baciu berubah warnanya menjadi menghitam meski hari masih pagi di tempat ini.
Gerakan awan yang bergerak-gerak pelan berwarna hitam pekat menghiasi suasana area hutan diselingi suara petir yang bergemuruh pelan tapi tidak hujan.
''Sepertinya akan ada korban di Hutan Hoia Baciu...'', ucap Van Costel IV.
Van Costel IV mengalihkan kembali pandangan matanya lurus ke depan tepat di bibir jurang saat dia berdiri.
''Neraka telah muncul dari dalam hutan ini, mungkin saatnya aku maju melanjutkan perjalananku...'', ucap Van Costel IV.
Tubuh Van Costel IV melesat kembali melewati jurang yang ada dibawahnya.
Terbang tinggi hingga menembus kerumunan pohon-pohon yang tumbuh didalam Hutan Hoia Baciu.
Tepat didepannya muncul sosok Heng yang bergerak melayang mengikuti laju gerakan hantu Van Costel IV disisinya.
Van Costel IV menyadari bahwa seseorang bukan manusia tengah mengikuti langkah gerakannya lalu menyeringai lebar sambil berkata pada sosok tak kasat mata.
''Apa kabar ?"
__ADS_1
"Kau rupanya tuan Van Costel IV...", sahut sosok Heng.
"Siapa kamu ?", tanya Van Costel IV.
"Namaku Heng, orang kepercayaan tuan Kwee Lan !", sahut sosok Heng.
"Heng..., kenapa kamu bisa ada disini ? Apa kau tidak pergi ke tempat tuanmu, Kwee Lan ?", kata Van Costel IV.
"Aku sudah menjadi hantu sama sepertimu, tuan Van Costel IV", sahut sosok Heng.
Van Costel IV langsung menghentikan gerakan langkah kakinya dengan cepat lalu berdiri gagah di atas permukaan tanah hutan angker bernama Hoia Baciu.
Sorot mata Van Costel IV yang berubah berwarna merah langsung menyorot tajam.
Diriknya sosok Heng yang melayang disampingnya.
"Bagaimana kau tahu bahwa aku adalah hantu ?", tanya Van Costel IV. "Siapa yang telah memberitahumu ?", sambungnya.
Aura menyeramkan muncul dari tubuh Van Costel IV ketika sosok Heng memberitahukan kepadanya tentang wujud sebenarnya dari hantu tampan itu.
"Tuan Kwee Lan...", sahut sosok Heng.
"Ternyata pria tua itu telah mengetahui wujud diriku yang sebenarnya karena itulah dia menyerangku", ucap Van Costel IV.
"Benar, tuan hamba mengirimku kemari untuk meminta bantuan kepada Dalca II agar tuan Dalca II membantu tuan Kwee Lan untuk menyerang lembah Moldova", jawab sosok Heng.
"Kenapa kamu memberitahukan hal itu kepadaku ?", ucap Van Costel IV.
Wajah Van Costel IV berubah menjadi dingin ketika melihat ke arah sosok Heng disampingnya.
"Apa kau bosan hidup ?", lanjut hantu Van Costel IV.
"Hmmm...", gumam Van Costel IV.
"Aku memberitahukan rencana tuan Kwee Lan karena aku ingin membalaskan kematianku ini kepada Kwee Lan", ucap sosok Heng.
Van Costel IV terdiam hanya memandang ke arah sosok Heng yang selalu berpindah tempat dari sisinya.
"Kwee Lan sengaja menyuruh kami ke Hutan Hoia Baciu agar menyampaikan pesan kematian kepada Dalca II tetapi Kwee Lan tahu bahwa hutan ini sangatlah angker...", kata sosok Heng.
"Kau merasa dijebak ?", ucap Van Costel IV.
"Bukan saja aku merasa dijebak oleh Kwee Lan melainkan aku merasa dia sengaja mengirimku bersama Ho saudaraku ke Hutan Hoia Baciu sebagai tumbal hidup bagi Dalca II", sahut sosok Heng.
"Kau baru menyadarinya ?", kata Hantu tampan itu seraya tersenyum tipis.
"Aku mengetahuinya setelah aku berada di dalam hutan ini saat aku telah menjadi hantu...", sahut sosok Heng.
''Kau hendak mengatakan betapa bodohnya dirimu !?'', jawab Van Costel IV dengan mata berkilat-kilat tajam.
Sosok Heng tersentak kaget saat Van Costel IV menjawab ucapannya dengan acuh dan dingin sekali.
Tidak pernah menyangka akan mendapatkan respon sedingin itu dari Van Costel IV karena sosok Heng mengira hantu dari lembah Moldova itu akan berterimakasih atas informasi rencana Kwee Lan yang dia bocorkan kepadanya.
''Tu-tuan Van Costel IV... !?'', ucap sosok Heng.
''Apa kau akan mengira aku akan berterimakasih padamu atas informasi rencana penyerangan Kwee Lan ke lembah Moldova ?'', kata Van Costel IV.
''Ti--tidak tuan... Aku tidak berani...'', sahut sosok Heng gemetaran.
__ADS_1
Van Costel IV lalu menyeringai lebar dengan sorot mata berwarna merah menoleh ke arah sosok Heng.
''Kapan rencana penyerangan Kwee Lan ke lembah Moldova dilakukan ?'', tanya Van Costel IV dingin.
''Setahuku tepat perayaan tahun baru pada malam kelima belas, mereka akan menyerang lembah Moldova serta berusaha menculik nyonya Jia Li...'', sahut sosok Heng.
''Apa !?'', kata Van Costel IV bertambah emosi.
''Be--benar..., benar tuan Van Costel IV...'', sahut sosok Heng.
Tangan Van Costel IV yang kekar mengarah lurus ke arah sosok Heng lalu mencekik leher hantu Heng dengan sorot mata kemerahan.
''Katakan padaku ! Bahwa kau tidak berbohong !'', ucap Van Costel IV.
''Ti--tidak..., tidak tuan Van Costel IV... Aku berani sumpah ! Apa yang aku katakan adalah benar ! Jujur ! Aku tidak berani menjebakmu !'', jawab sosok Heng.
''Benarkah !?'', ucap Van Costel IV.
''Apa aku berani berbohong, tuan Van Costel IV ?'', kata sosok Heng.
Pelan-pelan Van Costel IV memindahkan tangannya dari leher sosok Heng lalu melepaskannya.
''Kau telah menunda waktuku untuk ke Istana Oranye...'', ucap Van Costel IV menyipit.
''Aku..., aku bisa mengantarkanmu ke Istana Oranye karena aku paham letak tempat itu di dalam hutan ini, tuan Van Costel IV...'', sahut sosok Heng.
''Kau sudah pernah ke Istana Oranye dan bertemu Dalca II disana ?'', kata Van Costel IV.
''Be--benar, tuan Van Costel IV...'', sahut sosok Heng.
''Baiklah, kalau itu maumu, antarkan aku kesana sekarang !'', kata Van Costel IV sambil menyeringai.
''Baik, tuan !'', jawab sosok Heng.
''Kemana arahnya menuju ke Istana Oranye ?'', kata Van Costel IV.
''Kesana ! Ke arah sana !'', sahut sosok Heng.
Hantu Heng menunjuk ke arah kiri tempat dimana Istana Oranye berlokasi di dalam Hutan Hoia Baciu.
Van Costel IV mengalihkan pandangannya ke arah lokasi yang ditunjukkan oleh sosok Heng.
Terlihat bayangan hitam menari-nari dari dalam hutan yang dipenuhi oleh pohon-pohon berbentuk aneh, tidak tampak Istana Oranye yang dimaksudkan oleh sosok Heng, hanya ada arah petunjuk jalan berupa jejak bau siluman menuju ke dalam lokasi Hutan Hoia Baciu.
''Mana ? Aku tidak melihat Istana Oranye itu ?'', kata Van Costel IV.
''Di sebelah kiri dari arah jalan sini ! Di dalam hutan ! Tidak jauh lagi jaraknya dari tempat ini, tuan Van Costel IV...'', jawab sosok Heng.
''Baiklah, kita masuk kesana sekarang ! Kau akan ikut bersamaku, bukan ?'', kata Van Costel IV.
''Tentu saja, aku akan ikut mengantarkan anda ke Istana Oranye yang anda maksudkan, tuan Van Costel IV'', jawab sosok Heng.
''Terimakasih... Mari kita pergi sekarang karena aku harus menyelesaikan urusanku di Istana Oranye !'', kata Van Costel IV.
''Ba--baik, tuan Van Costel IV... !?'', sahut sosok Heng kaget.
Van Costel IV langsung bergerak cepat memasuki ke dalam hutan Hoia Baciu ke arah kiri dimana arah yang ditunjuk oleh sosok Heng menuju ke lokasi Istana Oranye sedangkan sosok Heng hanya melayang dengan ekspresi termenung ketika mendengar hantu Van Costel IV yang begitu dinginnya mengatakan ''terimakasih'' kepadanya.
Hal yang tidak pernah di duga oleh sosok Heng tentang Van Costel IV, sang penguasa tertinggi dari Lembah Moldova yang terkenal akan sikapnya yang dingin dan tidak ramah.
__ADS_1