Suami Ku Hantu

Suami Ku Hantu
Bab 62 Pecahnya Lembah plum


__ADS_3

Laoshi segera keluar dari ruangan Aula.


Melesat kilat lalu terbang tinggi meninggalkan Aula serta melayang di atas hamparan luas tanah yang ditumbuhi oleh bunga plum yang bermekaran indah meski musim dingin tiba.


Lembah plum memang merupakan tempat yang berbeda dari tempat-tempat yang ada di daerah pegunungan.


Tempat yang dijuluki surga dunia oleh seluruh tetua adat karena letaknya yang strategis serta aman dari jangkauan tangan manusia ataupun siluman yang ingin menguasainya.


Lembah yang berada di atas ketinggian laut itu memiliki panorama alam yang sangat cantik karena disekitar lembah plum mengalir deras sungai kuning yang bermuara membentuk semacam danau.


Bentangan pegunungan yang memanjang dari ujung timur hingga ujung barat menjadi lukisan pemandangan di sekitar lembah plum yang terkenal keelokan wanita-wanitanya.


Lembah plum memang terkenal luas sebagai salah satu daerah yang memiliki kecantikan para wanitanya yang bak bidadari surga yang terlihat selalu awet muda sepanjang hayat mereka.


Penampilan wanita-wanita cantik nan seksi dari lembah plum benar-benar mampu menghipnotis mata para pria baik dari kalangan manusia maupun siluman yang berkunjung ke sana.


Keindahan alam yang dimiliki oleh lembah plum menunjang daya tarik tersendiri bagi pengunjung dari berbagai negeri yang ingin datang ke lembah itu ditambah dengan kecantikan dari wanita-wanita yang tinggal di daerah lembah plum sendiri, membuat tempat itu tidak pernah surut oleh pengunjung yang ingin datang ke sana.


Laoshi segera terbang tinggi menuju ke suatu tempat yang letaknya berada jauh diluar lembah plum.


Sorot matanya tajam saat Laoshi bergerak ke sebuah rumah dengan danau yang mengelilinginya.


Wanita yang awet muda diusianya yang sudah senja itu turun perlahan-lahan ke arah halaman yang berupa danau.


Melompati satu demi satu batu yang terhubung lurus menuju ke sebuah rumah bergaya tradisional yang terapung di atas danau dengan airnya yang mengalir tenang.


Laoshi bergerak lincah di atas batu-batu yang terbentang ke arah rumah berukuran luas.


Rata-rata bangunan tempat tinggal di lembah plum memiliki luas rumah yang besar dan bangunannya sangat kokoh.


Laoshi melayang ringan mendekati beranda depan rumah yang tampak sepi.


Kain gaun yang dikenakan oleh Laoshi terlihat melambai-lambai disekitar tubuhnya yang tinggi serta langsing.


Laoshi berdiri dengan menjinjitkan kedua kakinya di atas sebuah batu yang mengapung di permukaan air danau sedangkan kedua tangannya lalu bergerak ke arah depan seraya mengeluarkan benang halus yang mengarah lurus ke pintu rumah.


BRAK ! BRAK ! BRAK !


Pintu rumah didobrak kuat oleh benang halus yang berasal dari tangan Laoshi hingga bersuara sangat keras.


Muncul seseorang dari dalam rumah seraya melesat cepat keluar sembari menerjang Laoshi.


Laoshi langsung menghindari serangan milik seseorang yang keluar dari dalam rumah di depannya.


Melompat tinggi lalu bergerak mundur menjauhi serangan pemilik rumah yang terapung di atas danau.


Kedua tangan Laoshi terentang lebar seraya menatap dingin sosok wanita yang terbang melayang di hadapannya.


Seorang wanita dengan gaun yang hampir sama dikenakan oleh Laoshi tengah berputar-putar di atas danau yang mengelilingi rumahnya.


Pandangan Laoshi sangat dingin ketika dia memandang wanita yang berada tepat di depannya dengan aura dingin sedingin tatapannya sedangkan hawa panas siang itu di area danau memancar kuat di sekitar mereka.

__ADS_1


Laoshi tersenyum mengejek ke arah wanita yang ada dihadapannya sambil berkata ketus.


''Fang-Hua ! Berani sekali kau mengambil alih kekuasaan pasukan BENGT dari lembah plum !"


Wanita bernama Fang-Hua hanya menjawab dengan tawa ringan lalu berkata.


"Dan itu juga bukan hakmu, Laoshi ! Memerintah pasukan BENGT yang bukan merupakan hak otoritasmu !"


"Bukan otoritasku !? Apa maumu sebenarnya, Fang-Hua ?", sahut Laoshi emosi.


"Kau ! Laoshi ! Tidak memiliki kuasa atas pasukan BENGT milik Tianba ! Dan aku tegaskan sekali lagi bahwa pasukan itu adalah milik Jia Li !'', kata Fang-Hua.


''Ha... Ha... Ha... Ha... Ha... !", tawa Laoshi.


Suara tawa Laoshi menggema keras di seluruh area danau yang diatasnya terapung sebuah rumah luas bergaya tradisional.


Laoshi lalu kembali menyerang Fang-Hua dengan benang halus yang keluar dari tangannya.


Serat-serat benang halus menjalar serta menyebar luas hingga memenuhi area danau, bergerak terus-menerus menyerang guru Fang-Hua yang berusaha menghindari serangan demi serangan milik Laoshi.


Fang-Hua tidak segera membalas serangan Laoshi dan hanya bergerak menjauh.


Namun, Laoshi tidak mau mengalah ataupun berhenti untuk menyerang tetua Fang-Hua dan terus melawannya.


Fang-Hua mulai mengerti akan kekesalan yang dirasakan oleh Laoshi tetapi dia tidak bisa membantu wanita sakti itu untuk mengambil alih kekuasaan atas pasukan BENGT yang bukan milik mereka.


''Kenapa kau selalu saja ikut campur dalam urusanku di lembah plum, tetua Fang-Hua !'', kata Laoshi.


''Aku tidak pernah ingin mencampuri urusan lembah plum yang kamu pimpin saat ini, Laoshi'', sahut Fang-Hua.


''Tetapi kenapa kamu masih saja mencampuri urusanku yang hendak menyerang lembah Moldova !'', teriak Laoshi.


''Kau ingin menyerang kediaman Jia Li ? Karena dia menikah dengan hantu ? Atau kau ingin bermaksud melenyapkan pewaris lembah plum ini ?'', sahut Fang-Hua.


BRUK !


Laoshi turun dengan sangat cepat kemudian berdiri tegak seraya menghentikan serangannya yang berupa serat-serat benang halus yang menyebar luas disekitar area rumah dan hampir seluruhnya memenuhi area halaman.


Terlihat benang-benang halus yang menguntai di seluruh area rumah bahkan menutupi semua permukaan danau saat Laoshi menghentikan laju gerakan serat-serat benang dari tangannya.


''Kau tahu itu ? Jika suami Jia Li adalah sesosok hantu ?'', kata Laoshi.


Laoshi memandang Fang-Hua dengan tatapan serius.


''Tentu saja, aku mengetahuinya dan kabar itu sudah bukan lagi rahasia umum, Laoshi'', sahut tetua Fang-Hua.


''Tapi kau tetap saja mencegahku untuk memisahkan mereka, Fang-Hua ?'', kata Laoshi.


''Karena mereka telah menikah, Laoshi...'', sahut Fang-Hua.


''Hanya karena itu alasanmu maka kamu melawanku, Fang-Hua ?'', kata Laoshi.

__ADS_1


Tetua Fang-Hua lantas duduk berayun di atas serat-serat benang yang teruntai disepanjang area danau.


Tersenyum ringan ke arah Laoshi yang tidak menunjukkan raut wajah senang.


''Kau sengaja melakukannya, bukan Fang-Hua ?'', tanya Laoshi.


''Tidak...'', sahut Fang-Hua.


Fang-Hua duduk santai di atas benang-benang halus yang terjulur menyebar luas memenuhi seluruh area halaman rumah yang dikelilingi oleh danau.


''Aku hanya mengembalikan yang sudah menjadi kepunyaan Jia Li dan itu sepantasnya, Laoshi'', kata Fang-Hua.


Laoshi langsung menarik semua serat-serat benang halus yang menyebar luas di atas permukaan danau dengan sangat kerasnya sehingga tetua Fang-Hua hampir terjatuh ke dalam danau yang mengelilingi rumahnya.


Tetua Fang-Hua yang menyadari bahaya langsung meloncat tinggi lalu terbang melayang-layang di atas danau.


''Kau tidak seharusnya marah, Laoshi... Karena memang pasukan BENGT bukanlah hak kuasa mu sebagai pemimpin lembah plum'', kata Fang-Hua.


''Aku adalah pemimpin lembah plum sekarang dan hakku memimpin semua pasukan lembah plum, Fang-Hua'', sahut tegas Laoshi.


''Kau perlu ingat bahwa kau ditunjuk hanya sebagai pemimpin dan bukan pemilik atas lembah plum ini, Laoshi'', kata Fang-Hua.


''Dan aku tidak memperdulikannya, Fang-Hua !'', jawab Laoshi.


''Sadarlah, Laoshi ! Kemarahanmu tidaklah beralasan hanya karena suami Jia Li adalah hantu !'', kata Fang-Hua.


''Fang-Hua !'', ucap Laoshi.


Kedua wanita sakti dari lembah plum itu saling berpandangan serius.


''Kau harus tahu, Fang-Hua !'', lanjut Laoshi.


''Apa yang perlu aku ketahui ?'', sahut Fang-Hua.


''Pernikahan antara hantu dengan manusia sangat ditentang oleh langit serta merupakan perbuatan yang terlarang untuk dilakukan oleh kedua pihak yang berasal dari dua dunia berbeda, Fang-Hua'', kata Laoshi.


Tetua Fang-Hua terdiam seraya terus terbang melayang-layang di atas danau rumahnya.


''Dan kewajibanku sebagai seorang guru suci adalah membimbing yang salah untuk kembali ke jalan yang benar'', kata Laoshi.


''Tetapi pernikahan ini telah direstui oleh kedua orangtua dari pasangan, dan itu bukanlah suatu dosa besar, Laoshi'', sahut Fang-Hua.


Tetua Fang-Hua lalu turun kemudian berdiri tegak dihadapan Laoshi sambil memandang tajam.


''Kau seharusnya memahami sesuatu yang tersembunyi dari niat seseorang yang ingin merusak kebahagian Jia Li'', kata Fang-Hua.


''Tapi ini tetap tugasku, Fang-Hua'', sahut Laoshi.


''Terserah padamu kalau kau bersikeras tetap ingin memisahkan Jia Li dengan suami hantunya'', kata Fang-Hua.


''Karena itu memang tanggung-jawabku sebagai seorang guru spiritual keluarga Kwee Lan'', sahut Laoshi.

__ADS_1


Tetua Fang-Hua hanya menghela nafas panjangnya saat mendengar jawaban Laoshi yang bersikukuh keras untuk tetap melakukan rencananya, menyerang hantu tampan dari lembah Moldova.


__ADS_2