Suami Ku Hantu

Suami Ku Hantu
Bab 56 Kilas Balik Kehidupan Van Costel IV


__ADS_3

Van Costel IV yang saat itu masih hidup dan belum menjadi sosok hantu terlihat tengah berdiri menatap ke arah luar jendela kamarnya yang terletak di lantai atas rumahnya yang megah bagaikan istana.


Sesosok pria tampan yang terlihat masih muda di usianya yang berumur 4000 tahun.


Van Costel IV lalu berjalan sepanjang koridor rumah sedangkan pandangannya mengarah keluar jendela.


Bentangan langit biru yang cerah terlihat dari arah jendela rumah seperti lukisan.


Perang Patra terbersit di dalam ingatan Van Costel IV saat dia menelusuri jalan panjang di koridor yang atap-atapnya dihiasi oleh lukisan-lukisan Rumania kuno.


Waktu berputar kembali ke masa dua puluh tahun yang lalu dimana Van Costel IV masih hidup dan belum menjadi hantu tampan.


Dimasa Van Costel IV akan menghadapi perang Patra dan sebelum dia terbunuh di medan perang.


Suara desir angin bergerak cepat memutar di sebelah Van Costel IV.


Terlihat pria bertopi runcing dengan pakaian tradisionalnya berdiri di dekat Van Costel IV sembari memegang Navikula di tangannya yang selalu menyebarkan wangi dupa.


''Apa ada perkembangan berita tentang pergerakan klan Vlad yang dipimpin oleh Dalca II ?'', tanya Van Costel IV.


Saat pria berpenampilan aneh serta unik itu berdiri disebelah kanannya seraya mereka berjalan.


''Kabarnya klan Vlad yang dipimpin oleh Dalca II telah melewati area pegunungan Muntele Tampa dan hampir memasuki kawasan kota Bern'', sahut pria aneh itu.


''Apakah kita akan berperang di sana, Antolin Lucian ?'', tanya Van Costel IV.


''Aku rasa demikian karena ayah anda mengalihkan peperangan di area pengunungan Muntele Tampa dari Wallachia yang bertujuan menghindari mereka menduduki Wallachia'', kata Antolin Lucian.


''Akan memerlukan kerja keras untuk sampai kesana lalu bagaimana kondisi pasukan kita untuk menghadapi pasukan klan Vlad nanti ?'', ucap Antolin Lucian.


''Aku memperkirakan semua pasukan gabungan dari klan yang berpihak pada kita telah berangkat ke Muntele Tampa sejak dua hari yang lalu, tuanku'', sahut Antolin Lucian.


Antolin Lucian menjawab seraya setengah membungkukkan badannya kepada Van Costel IV yang berdiri di hadapannya.


Sudut bibir Van Costel IV membentuk sebuah senyuman tipis penuh arti.


''Siapa yang memimpin mereka ?'', ucap Van Costel IV.


''Ionatan Ferdinand yang memimpin pasukan kita ke Muntele Tampa !'', sahut Antolin Lucian.


''Aku kira kau memilih Demetri atau Alexandra Vasilica untuk memimpin pasukan gabungan kita'', ucap Van Costel IV.


''Tidak, tuan Van Costel IV ! Bukan Demetri atau Vasilica yang pergi memimpin pasukan ke Muntele Tampa karena ayah anda menginginkan Ionatan Ferdinand kesana karena dia memiliki kekuatan pasukan khusus yang sangat kuat !'', sahut Antolin Lucian.

__ADS_1


''Kapan kita akan menyusul kesana ?'', kata Van Costel IV.


''Setelah ada kabar dari Ionatan Ferdinand maka kita semua akan berangkat menyusul ke Muntele Tampa secepatnya...'', sahut Antolin Lucian.


''Lantas maksud kedatanganmu kesini dan menemuiku ?'', tanya pria tampan berkemeja hitam.


''Ada kabar bahwa pasukan siluman milik Dalca II tengah membuat onar di desa dekat pegunungan Muntele Tampa, aku ingin bertanya apa langkah kita selanjutnya ?'', sahut Antolin Lucian.


''Apa yang mereka lakukan di desa ?'', tanya Van Costel IV.


''Menculik wanita-wanita sebagai pelayan mereka serta merampas hasil bumi penduduk desa dengan paksa !'', jawab Antolin Lucian.


Pria berpakaian tradisional lengkap itu menundukkan pandangannya ke arah kuku-kuku jari tangannya yang dia mainkan pelan.


Van Costel IV menarik nafas dalam-dalam lalu melanjutkan ucapannya.


''Mati terbunuh sebanyak seratus kali dan bangkit seribu kali hingga kau tidak dapat lagi hidup... Habisi mereka semua !'', pesan Van Costel IV.


''Baik, tuanku !'', sahut Antolin Lucian.


''Dan bakar tubuh siluman-siluman itu hingga tak tersisa kemudian sebarkan abu mereka di sepanjang area Muntele Tampa !'', kata Van Costel IV.


''Siap, tuan Van Costel IV !'', jawab Antolin Lucian.


Pria tampan yang berjalan melewati Antolin Lucian melenggang pergi dengan salah satu tangan terangkat ke atas memberi tanda.


Membuat satu gerakan kecil seperti lambaian tangan pelan seraya berkata.


''Ratakan !''


Van Costel IV melangkah jauh meninggalkan Antolin Lucian yang berdiri di belakangnya seraya menatapnya dingin.


Senyum perlahan-lahan merekah di kedua sudut bibir Antolin Lucian membentuk senyuman tipis.


''Kau sudah berubah banyak, Van Costel... Lama tidak bertemu ternyata aku tidak dapat mengenalmu lagi...'', kata Antolin Lucian.


Antolin Lucian terus memandang jauh tubuh Van Costel IV yang bergerak cepat dan semakin menjauh darinya sedangkan tubuhnya pelan-pelan menghilang di ujung koridor.


''Waku pelatihanmu telah membentukmu menjadi pribadi yang berbeda dari Van Costel IV sebelumnya dan sekarang kau memiliki karakter kuat sebagai seorang pemimpin tertinggi Rumania !'', ucap Antolin Lucian.


Navikula yang ada di tangan Antolin Lucian terangkat ke arah atas lalu bergoyang pelan sehingga membuat dupa keluar semakin luas ke seluruh sekitar pria berwajah dingin itu.


Aroma wangi dupa yang menyengat kuat mulai menyebar serta mengilingi tubuh Antolin Lucian yang perlahan-lahan mulai menghilang dari area jalan koridor.

__ADS_1


Suasana di koridor tampak sunyi terasa bahkan asap yang menggumpal dari sisa dupa yang keluar dari Navikula milik Antolin Lucian di area tersebut masih tertinggal disana.


Wangi dupa turut tertinggal di area jalan koridor yang sangat panjang dan luas.


Van Costel IV melangkah masuk ke sebuah ruangan luas berlantai marmer tua.


Terdengar suara langkah kaki Van Costel IV saat dia berjalan hingga berbunyi sangat keras.


Pria berwajah tampan rupawan itu lalu memutar pegangan pintu salah satu ruangan kamar yang tertutup rapat.


''Aku harus mempersiapkan keperluanku sebelum berangkat ke Muntela Tampa seperti perbekalan lengkap yang aku butuhkan nanti'', ucap Van Costel IV.


Van Costel melangkah menuju ke arah sebuah peti besar yang terletak di ujung ruangan.


''Apa masih ada pedang Tuhan itu disini ? Apakah ayah tidak memindahkannya ke tempat lainnya ?'', kata pria tampan itu.


Van Costel IV lalu membungkukkan badannya ke arah peti kayu seraya membukanya dengan memutar kunci yang berada di peti itu.


Tutup kayu peti terbuka lebar serta tampak sebuah benda yang terbungkus kain putih sutera didalam.


Van Costel meraih cepat benda tersebut lalu memandanginya dengan serius.


''Sudah lama aku menyimpan benda pusaka milik kakek.... Dan tidak lagi menggunakannya..., sekarang aku harus kembali mengeluarkannya dari sarungnya...'', kata Van Costel IV.


Van Costel membuka lilitan tali yang mengikat pembungkus benda di tangannya, terlihat sebilah pedang berukuran besar serta sangat tipis bersinar mengkilat ketika kain pembungkus yang menutupinya terlepas.


Ditariknya pedang Tuhan dari dalam sarungnya lalu diangkatnya ke arah atas.


Sinar cahaya matahari membias terang memancarkan gradasi warna yang indah dari badan pedang yang ada di tangan Van Costel IV.


Terdapat sederet tulisan seperti lafal doa di badan pedang berukuran besar serta sangat tipis itu.


Diayunkannya pedang yang dijuluki pedang Tuhan yang teramat sakti dan memiliki pengaruh aura kuat dari pedang tersebut.


Van Costel IV berdiri di tengah-tengah ruangan kamar seraya mengayunkan pelan pedang miliknya dengan membuat beberapa gerakan khusus seperti bertarung.


SREEEETTTT... !


Pedang Tuhan membelah meja yang terbuat dari logam perak di dekat Van Costel IV menjadi dua bagian.


Memancarkan aura mistis yang terasa kuat dari arah pedang serta tercium aroma khas di sekitar pedang Tuhan.


Asap biru muncul menyelubungi seluruh badan pedang Tuhan yang sedang dipegang oleh kedua tangan Van Costel IV.

__ADS_1


__ADS_2