Suami Ku Hantu

Suami Ku Hantu
Bab 90 Pasukan Emas Puternic


__ADS_3

Arella berjalan mengikuti Tihomir yang ada didepannya, menuruni anak-anak tangga aula besar yang sepi.


Tak seorangpun terlihat diarea aula besar yang berada di tengah area benteng yang luas dan dipenuhi oleh pohon mahoni besar.


Lambaian gaun Arella mengikuti gerak langkah kaki wanita berparas cantik itu saat dia berjalan.


Pria berjirah emas tampak berjalan gagah dengan pandangan terarah lurus.


Daun-daun mahoni berterbangan tertiup angin, bergerak turun lalu jatuh di atas hamparan lantai berubin bata.


Serakan daun-daun mahoni memenuhi sebagian area benteng yang sunyi dan senyap.


Hanya ada hembusan angin yang tertiup di sekitar area benteng.


Tap... ! Tap... ! Tap... !


Langkah-langkah kaki berderap kecil diantara area benteng, terlihat Tihomir membuka gerbang di area selatan, menuju masuk sebuah area tempat berdinding tinggi.


KRIET... !


Suara pintu gerbang terbuka lebar saat Tihomir membukanya.


Tihomir mempersilahkan Arella masuk terlebih dahulu darinya sebagai pemberian rasa hormat kepada seorang wanita.


"Silahkan masuk, wanita utama !", ucap Tihomir.


Tampak Tihomir setengah membungkukkan badannya sembari melambaikan tangannya, mempersilahkan masuk Arella.


Arella menyambut sikap Tihomir dengan senyuman serta ucapan.


"Terimakasih atas penghormatanmu. Dan aku tersanjung atas perhatianmu padaku, Tihomir", ucap Arella.


"Tidak ada yang lebih mulia dari seluruh wanita yang ada di dunia ini selain dirimu, Arella", sahut Tihomir.


"Ucapan yang sarat sanjungan...", ucap Arella.


"Hanya teruntuk wanita spesial di dalam hati ini, aku mempersilahkanmu masuk lebih dahulu daripada diriku, Arella", sahut Tihomir.


"Dan suatu kehormatan besar bagiku atas kesempatan ini", jawab Arella.


"Begitu pula denganku, aku merasa terhormat mendapatkan kesempatan menemanimu di benteng ini", ucap Tihomir.


Arella hanya menjawab dengan senyuman seraya melangkahkan kedua kakinya memasuki area selatan dari benteng.


Gaunnya melambai tertiup angin hingga tak sengaja menyentuh wajah Tihomir yang berada di samping Arella, berdiri sambil menundukkan pandangannya.


Sapuan helai kain gaun yang dikenakan oleh Arella mampu membuat Tihomir tercengang sesaat.


Wangi yang ada di gaun Arella berhembus pelan ke arah hidung Tihomir saat wanita cantik itu berjalan melewatinya.


Membuatnya sesaat terbuai oleh aroma wangi dari gaun Arella yang mampu membius jutaan sel dalam denyut nadi Tihomir.


"Menggoda..., sayangnya aku hanya mampu memandanginya dan mengaguminya dari kejauhan tanpa bisa memilikinya...", ucap Tihomir.


Pria berjirah emas itu lalu mendesah pelan sembari membuang mukanya ke arah lain.


Mencoba mengalihkan seluruh konsentrasi pikirannya dari sosok Arella yang telah membuatnya terpaku pada wanita cantik itu.


"Fuih... !? Lelah hati ini... Hanya bisa memandangimu dari sini, Arella...", gumam Tihomir.

__ADS_1


Tihomir melanjutkan langkah kakinya memasuki area dalam benteng bagian selatan dimana pasukan emas Puternic bermarkas.


Terlihat Arella yang berjalan mendahuluinya telah memasuki lapangan luas yang menuju ke area pusat latihan.


Tiba-tiba angin menerpa lembut wajah Arella yang berdiri tepat di pinggir lapangan.


Sekali lagi wajahnya yang cantik dengan kulit bersih kemerahan teralihkan karena tiupan angin.


Tihomir tersenyum melihat Arella yang panik karena wajahnya terkena tiupan angin dari arah lapangan luas.


"Seharusnya kau tidak masuk kemari karena tempat latihan ini cukup keras bagi wanita", ucap Tihomir.


"Oh, iya...", gumam Arella.


Arella mencoba mengalihkan kembali pandangannya ke arah lapangan yang ada didepannya, dimana pasukan emas Puternic sedang berlatih fisik saat ini.


"Apa hari ini mereka masih berlatih ?", tanya Arella.


"Iya, setiap hari mereka berlatih fisik, baik itu siang dan malam tetapi adakalanya waktu bagi mereka untuk belajar ilmu lainnya", sahut Tihomir.


"Tidak ada waktu beristirahat, setidaknya liburan atau waktu luang sesaat bagi mereka", kata Arella.


"Tentu saja, ada", sahut Tihomir.


"Mereka bukan mesin yang diperas tenaganya untuk terus-menerus bergerak dan bekerja tanpa henti, tidak manusiawi bagi mereka, Tihomir", ucap Arella.


"Bukan demikian, Arella", ucap Tihomir.


"Mereka manusia, Tihomir !", kata Arella.


Tihomir sedikit terkejut lalu menolehkan kepalanya ke arah Arella.


"Apakah pasukan emas itu terlihat bagaikan manusia, Arella ?", tanya Tihomir.


"Maksudmu !?", sahut Arella tertegun.


Pandangan Arella tertuju pada Tihomir yang berdiri menatapnya dengan senyum tersungging di kedua sudut bibirnya.


"Kami telah terlatih bertahun-tahun lamanya di benteng khusus ini bahkan kami telah terisolasi dari kehidupan manusia di lingkungan yang ada, Arella", ucap Tihomir.


"Tihomir...", gumam Arella sendu.


"Pasukan emas Puternic pada intinya telah berubah bagaikan mesin terlatih yang teruji kemampuannya secara khusus bahkan emas yang kami kenakan ini seakan-akan telah melekat dalam setiap inci tubuh kami", kata Tihomir.


Tihomir mengangkat kedua tangannya yang tertutup oleh jirah emas yang kuat dan kokoh ke arah Arella.


"Lihatlah, Arella ! Jirah emas ini bahkan terasa ringan pada tubuh kami, seperti kami tidak mengenakannya, kami merasakan emas di seluruh badan kami seperti layaknya bagian kulit kami, Arella !", ucap Tihomir.


Senyum mengembang di wajah Tihomir ketika dia mengulurkan kedua lengannya ke arah Arella yang menatapnya termenung.


"Kenapa !? Kau diam saja ? Apa kau kagum ?", tanya Tihomir.


Arella menggelengkan kepalanya pelan lalu menyentuhkan tangannya pada emas yang membalut lengan Tihomir.


Panas...


Emas yang melekat pada lengan Tihomir terasa sangat panas bagaikan bara api.


Arella menjauhkan tangannya dengan cepat dari lengan Tihomir yang tertutup lapisan emas dari jirah emas yang dia kenakan.

__ADS_1


"Apa itu menyakitimu, Tihomir ?", ucap Arella.


"Tidak, pertanyaan itu sudah terdengar terlambat untuk diucapkan karena aku tidak merasakan apa-apa pada tubuhku lagi, Arella", sahut Tihomir.


"Tihomir...", gumam Arella.


"Jirah emas ini telah menyatu pada tubuh setiap pasukan emas Puternic, bagaikan kulit kedua bagi kami, jika seandainya kami melepaskannya maka kami seperti tidak berpakaian meski kami memakai pakaian lengkap", ucap Tihomir.


"Apa ini sebuah kebanggaan bagimu, Tihomir ?", tanya Arella.


"Tentu saja, ini adalah kebanggaan untukku secara pribadi bahkan bagi kami pasukan emas Puternic, jiwa kami telah terpatri kuat untuk mengabdi sebagai pasukan khusus di negeri ini, Arella", sahut Tihomir.


"Itu adalah jalan yang telah kau pilih dan bagaimana kau akan menikah nanti !?", ucap Arella.


"Menikah !?", kata Tihomir terkejut.


"Yah, apa kau tidak berkeinginan nantinya memiliki keluarga kecil di akhir usiamu, Tihomir ?", tanya Arella.


Tihomir berdiri tertegun, kata-kata Arella terdengar bagaikan angin segar yang meniup ke dalam relung hatinya.


"Dan apakah saat itu kau bersedia menjadi bagian dari keluarga kecil ku, Arella ?", tanya Tihomir.


Arella tersentak pelan lalu mundur beberapa langkah dengan mengalihkan pandangannya ke arah lapangan di bawah sana.


Pandangan Arella berubah sendu, hanya menatap kosong ke arah lapangan.


Tidak ada jawaban dari bibir kecilnya yang ranum merah, Arella terdiam tanpa bersuara bahkan dia tidak ingin mendengar apapun dari Tihomir dan ingin segera keluar dari benteng yang menyesakkan itu.


"Malam ini, segeralah pergi ke Hutan Hoia Baciu ! Dan bawalah sebagian pasukan emas Puternic kesana !", ucap Arella.


"Kenapa kau mengalihkan arah pembicaraan kita ?", tanya Tihomir.


"Karena aku hanya bertujuan untuk tugas ini kemari, atas perintah dari tuanku Ionatan", sahut Arella.


"Kau mengelak, Arella", ucap Tihomir.


"Tidak, aku tidak mengelak, Tihomir..., sudah aku katakan padamu bahwa aku tidak berminat yang lainnya atau berkeinginan secara pribadi menjalin hubungan khusus denganmu karena kedatanganku kemari untuk tugas", sahut Arella.


Arella mencoba menjawab dengan tegas pertanyaan dari Tihomir.


"Setidaknya aku telah mendengar jawaban darimu yang cukup meringankanku menuju surga abadi, Arella", ucap Tihomir.


"Jaga cara bicaramu, Tihomir !", sahut Arella.


Tihomir lalu tertawa kencang hingga membuat pasukan emas Puternic yang sedang berlatih terhenti latihannya dan teralihkan perhatiannya ke arah Tihomir dan Arella.


Beberapa dari sejumlah pasukan emas Puternic langsung membentuk sebagian formasi barisan.


Ada tiga barisan formasi pasukan yang terbagi.


Dua barisan pasukan emas Puternic bergerak berlawanan arah.


Berderap pergi dari lapangan ke tempat lainnya sedangkan sebagian yang lainnya tetap tinggal di tengah-tengah lapangan.


Satu barisan pasukan emas Puternic berdiri siap siaga menghadap lurus ke arah Tihomir dan Arella berdiri.


"Apa mereka pasukan inti Puternic yang akan pergi ke hutan Hoia Baciu ?", tanya Arella.


"Benar, merekalah pasukan inti emas Puternic yang terpilih dan akan pergi ke Hutan Hoia Baciu nanti bersamaku", sahut Tihomir.

__ADS_1


Tihomir menganggukkan kepalanya sambil tersenyum ke arah Arella dan menatapnya tajam.


__ADS_2