
Antolin Lucian bergerak cepat sembari membawa anak buahnya yang terluka ke lantai bawah secepatnya.
Turun terbang melayang menuju lantai bawah dan kembali berkumpul bersama dengan anak buahnya yang lain.
Orang-orang berjubah hitam telah menunggu Antolin Lucian dan bersiap-siap pergi dari kediaman rumah Kwee Lan.
''Ayo pergi !'', perintah Antolin Lucian.
''Baik, tuan Lucian'', sahut mereka semuanya kompak.
''Apa ada yang kalian temukan di rumah ini ?'', tanya Antolin Lucian.
''Kami menemukan aroma klan Vlad disekitar area rumah ini'', sahut seorang bertopeng.
''Benarkah ? Dimana ?'', tanya Antolin Lucian.
''Di sana ! Dekat area bangunan yang ada di taman bunga !'', jawab orang berjubah hitam dengan topeng di wajahnya.
''Disana !?'', gumam Antolin Lucian.
''Benar, apakah kita akan melihatnya kesana, tuan Lucian ?'', tanya orang berjubah hitam itu.
''Baiklah, kita melihatnya sebelum kita pergi dari tempat ini ke hutan Hoia Baciu'', sahut Antolin Lucian.
Diliriknya orang berjubah hitam yang ada di genggaman tangannya kemudian dia berkata pada anak buahnya.
''Bawa dia pergi dari sini ! Sembuhkan luka-lukanya sebelum dia menyusul kembali ke hutan Hoia Baciu !'', kata Antolin Lucian.
Dia menyerahkan anak buahnya yang terluka parah itu pada rekannya agar dibawa untuk diobati luka-lukanya.
''Yang lainnya segera ikut aku ke hutan Hoia Baciu, melanjutkan misi kita yang tertunda, mengerti !'', ucap Antolin Lucian.
''Apa kita jadi memeriksa aroma klan Vlad yang berasal dari bangunan di depan sana, tuan Lucian ?'', tanya anak buahnya.
''Iya, aku juga penasaran dengan mereka... Apa yang terjadi didalam rumah itu dan aku ingin melihatnya sendiri, mungkin kita bisa menemukan petunjuk penting'', sahut Antolin Lucian.
''Saya pamit pergi membawa ketua untuk diobati luka-lukanya dan segera kembali menyusul tuan ke hutan Hoia Baciu'', kata orang berjubah hitam itu sembari memanggul rekannya di punggungnya.
''Sebaiknya kamu menunggunya sampai dia sembuh, aku akan mengirim sinyal pada kalian jika aku dan lainnya dalam bahaya, kirimkan segera bantuan ke hutan Hoia Baciu secepatnya, mengerti'', sahut Antolin Lucian.
''Baik, tuan Lucian'', jawab orang berjubah hitam itu lalu pergi menghilang dari pandangan semuanya.
Antolin Lucian bergerak cepat menuju ke arah sebuah bangunan lainnya yang terpisah dari rumah tempat Kwee Lan tinggal.
Diikuti oleh anak buahnya yang semuanya berjubah hitam serta bertopeng ke rumah yang dekat dari arah taman bunga.
WUSHHH...
Gerakan tubuh mereka semua sangat cepat bagaikan kilatan cahaya mengarah ke sebuah bangunan rumah yang ukurannya lebih kecil dari kediaman tinggal Kwee Lan yang ada di tengah-tengah area rumah megah milik Kwee Lan.
Tercium aroma khas dari dalam rumah itu saat Antolin Lucian beserta anak buahnya bergerak cepat kesana.
__ADS_1
Mereka tiba tepat di depan rumah berwarna merah dan pink dengan arsitektur khas cina yang menonjol di setiap ornamen hiasan dinding rumah.
''Berpencar !'', perintah Antolin Lucian.
Beberapa orang berjubah hitam itu lalu berpencar cepat menuju ke arah sekitar rumah kemudian menghilang bersama-sama hilangnya Antolin Lucian dari arah depan rumah.
Semua masuk kedalam rumah yang terpisah jauh dari rumah utama.
Terlihat Antolin Lucian terbang rendah memasuki ruangan rumah unik itu.
Terdengar suara keras seperti erangan dari arah dalam ruangan rumah dan bunyi hentakan nyaring dari arah dalam.
''Apa itu ?'', tanya Antolin Lucian terperangah kaget.
''Bagaimana kalau kita melihatnya, tuan Lucian ?'', sahut orang berjubah hitam itu.
''Melihatnya !? Apa perlu ?'', kata Antolin Lucian bingung.
''Atau kita batalkan saja niat kita menyelidiki aroma klan Vlad di rumah ini ?'', tanya balik anak buahnya serius.
''Ahk !'', keluhnya. ''Aku lelah dengan hal aneh ini ! Mengintai rumah pribadi orang bodoh seperti mereka sebenarnya itu sedikit melelahkan !'', gerutu Antolin Lucian.
''Lantas bagaimana lagi jika kita tidak menyelidikinya maka kita tidak tahu yang terjadi didalam sana, tuan Lucian ?'', jawab anak buahnya.
''Fuih... Si brengsek Dalca benar-benar menyita waktu ku untuk menyelidiki dirinya... Dan ini mengesalkan !'', kata Antolin Lucian.
Antolin Lucian menghempaskan kedua tangannya ke arah samping lalu bergerak masuk ke dalam ruangan rumah.
Aroma klan Vlad juga tercium kuat ketika Antolin Lucian dan anak buahnya bergerak mendekat ke arah kamar.
''AHK ! UHK ! AHK ! UHK !''
Suara erangan semakin bertambah keras dari dalam kamar.
''Tunggu ! Berhenti !'', kata Antolin Lucian.
''Kenapa tuan ?'', tanya anak buahnya seraya menoleh ke arah dirinya.
''Sebaiknya aku saja yang masuk kedalam sana dan tunggulah aku di luar sini untuk berjaga-jaga !'', sahut Antolin Lucian.
Antolin Lucian menahan anak buahnya ikut masuk kedalam kamar dan menyuruh mereka yang ikut bersama dengannya untuk tetap berada di luar kamar.
''Tunggulah tubuhku yang ada diluar sini karena aku akan masuk dengan ruhku agar mereka tidak bisa melihat diriku !'', perintah Antolin Lucian.
''Baik, tuan Lucian !'', sahut anak buah Antolin Lucian patuh.
Antolin Lucian kembali berkonsentrasi untuk melepaskan ruhnya dari dalam tubuhnya keluar.
Cukup sulit baginya berkonsentrasi karena suara erangan keras itu agak sedikit mengganggu konsentrasi pikirannya.
Akhirnya Antolin Lucian berhasil melepaskan ruhnya dari dirinya yang sedang berdiri tegak di depan pintu kamar sedangkan beberapa anak buahnya berdiri disampingnya menunggunya setia.
__ADS_1
Ruh Antolin Lucian kembali bergerak cepat masuk ke dalam ruangan kamar lalu menembus hingga ke dalam kamar tersebut.
Pada saat Antolin Lucian yang berwujud ruh tiba di dalam kamar itu.
Alangkah kagetnya dia ketika melihat sesuatu yang memalukan di hadapannya.
Terlihat Jingmi tengah bermesraan dengan seorang pria yang merupakan anak buah Dalca II. Pria itu berasal dari klan Vlad.
Mereka berdua asyik bercinta tanpa menyadari kedatangan ruh Antolin Lucian didalam ruangan kamar itu.
"Astaga ! Dia berulah lagi ! Dan kini anak buah Dalca II yang dia ajak tidur !?"
Gumam Antolin Lucian terperangah kaget saat melihat Jingmi tengah bercinta dengan orang dari kalangan klan Vlad.
"Lalu bagaimana Dalca II ? Apakah ini rencana dari si brengsek Dalca ?"
Kata Antolin Lucian dalam hatinya.
Tercium aroma aneh dari arah dupa yang terpasang di dalam guci emas antik yang ada di atas meja panjang kamar.
Aroma dupa itu semakin lama semakin kuat dan melenakan.
"Bahaya ! Ini dupa perangsang ! Ternyata Jingmi terkena dupa ini sehingga dia hilang kendali serta pikiran waras !"
Antolin Lucian langsung menutupi hidungnya dengan kain lengannya yang lebar.
"Dalca sengaja menjadikan Jingmi haus akan cinta agar mudah bagi si brengsek Dalca untuk mengendalikan Jingmi yang memang seperti itu tabiatnya !?"
Antolin Lucian memalingkan wajahnya cepat-cepat dari arah ranjang yang panas, dimana Jingmi dan anak buah Dalca II tengah bercinta hebat penuh api membara.
Ruh Antolin Lucian segera keluar dari dalam kamar meninggalkan Jingmi dan pasangannya yang terlihat sangat menikmati permainan cinta mereka di atas ranjang.
Wajah Antolin Lucian berubah merah padam dan terlihat kesal karena melihat adegan percintaan Jingmi dan orang klan Vlad.
Dia berharap mendapatkan sesuatu yang berharga di rumah Jingmi tetapi yang dia dapatkan sebaliknya.
Ruh Antolin Lucian kembali ke dalam tubuhnya yang masih berdiri tegak menghadap ke arah kamar yang tertutup rapat itu.
''Ayo pergi dari sini !'', perintah Antolin Lucian.
''Apa tidak perlu kami membereskan anak buah klan Vlad itu, tuan Lucian ?'', kata orang berjubah hitam itu.
''Tidak perlu karena aku telah mengurusnya tadi, mereka akan menikmati gairah cinta mereka hingga berhari-hari lamanya tanpa jeda sampai jatuh pingsan !'', sahut Antolin Lucian.
''Idea yang menarik sekali ! Sepertinya mereka dapat hukumannya !'', kata orang bertopeng itu senang.
''Ayo pergi !'', kata Antolin Lucian.
Mereka langsung menghilang dari dalam ruangan rumah milik Jingmi sekejap mata.
Melanjutkan kembali misi mereka menuju perjalanan ke hutan Hoia Baciu yang letaknya sangat jauh dari kota.
__ADS_1