
Van Costel IV mengikuti arah jalan di dalam istana oranye yang dia masuki.
Melesat cepat menyelinap masuk diantara ruangan istana lalu muncul mendadak di tengah-tengah ruangan.
Tampak bekas pertempuran sengit telah terjadi di istana oranye beberapa jam yang lalu sebelum dia datang.
Van Costel IV mengedarkan pandangannya ke sekitarnya dengan kedua sorot mata menyala-nyala menembus batas penglihatan orang normal.
KLANG... KLANG... KLANG...
Bunyi senjata-senjata yang saling beradu saat pertempuran terjadi menggema keras diantara bayangan penglihatan Van Costel IV.
Bayangan beberapa orang berjubah hitam tengah bertempur dengan seorang pria berpenampilan layaknya bangsawan.
Pria yang mengenakan jubah merah serta topeng yang menutupi kedua matanya melawan berbagai serangan dari orang-orang berjubah hitam.
"Mereka adalah anak buah Antolin Lucian sedang bertempur melawan satu orang pria !?", ucap Van Costel IV tertegun.
Tak tampak keberadaan Antolin Lucian di sana, hanya ada beberapa anak buahnya yang sedang mengepung seorang pria.
Rupanya pria itu adalah suruhan Dalca II untuk menghadapi pasukan elit milik Antolin Lucian.
"Tapi dimana Antolin ? Kenapa aku tidak dapat mendeteksi keberadaannya di istana ini ? Dimana dia ?", ucap Van Costel IV heran.
Van Costel IV memperhatikan lebih jauh melalui penglihatannya yang tajam menembus dimensi tanpa batas.
Gerakan-gerakan orang bertempur semakin tajam terlihat diantara bayangan penglihatan Van Costel IV yang terus mencari keberadaan Antolin Lucian di istana oranye.
Kekuatan spiritual Van Costel IV mulai melacak sosok Antolin yang pelan-pelan terbaca oleh kekuatannya.
"Itu dia Lucian !", ucap hantu tampan itu.
Van Costel IV melesat cepat ke arah tempat dimana Antolin Lucian berada. Namun, langkah kakinya terhenti oleh seseorang yang menghadangnya.
Seorang pria berdiri tepat di hadapannya seraya mengulurkan pedangnya yang bercahaya terang, sekejap mata tubuh hantu tampan itu terlontar jauh.
"Uhk !?", gumamnya lirih.
Disekanya darah yang mengalir dari sudut bibir Van Costel IV saat dirinya terjatuh dengan kedua lutut menahan tubuhnya.
"Siapa dia !?", ucapnya meringis menahan kesakitan di dadanya.
Sorot kedua pria yang saling berhadapan lurus itu terlihat sama-sama tajamnya ketika mereka saling menatap.
Van Costel IV mengeluarkan senjata tempurnya berupa pedang panjang dari arah telapak tangannya yang menyala merah.
Hantu tampan itu lalu beranjak berdiri tegak dengan pedang terhunus disampingnya.
__ADS_1
"Siapa kau ?", tanya pria asing pada Van Costel IV dengan suara paraunya.
Van Costel IV hanya tersenyum tipis tanpa menjawabnya, membuat pria berpenampilan gagah itu sedikit kesal saat berhadapan dengannya.
"Apa kau musuh Dalca II ?", tanya pria yang cukup menarik itu.
"Benar, aku adalah Van Costel IV, musuh bebuyutan dari tuanmu yang bernama Dalca II, hantu haus darah yang tidak segan menguliti musuh-musuhnya", sahut Van Costel IV tajam.
Tawa terdengar dari pria yang mengenakan topeng di kedua matanya saat mendengar jawaban Van Costel IV lalu tersenyum mengejek kepada hantu tampan itu.
"Kau menggertakku ?", ucapnya datar.
Kedua alis pria asing itu terangkat ke atas saat menatap Van Costel IV.
"Tidak ada alasan yang tepat buatku untuk sekedar menggertakmu yang bukan lawan tandinganku. Dan..., aku harap kamu menyadari akan kelemahanmu !", sahut Van Costel IV seraya menyeringai lebar.
Van Costel IV menggerakkan tubuhnya melesat ke arah pria asing lalu berdiri tepat dihadapannya sembari menatapnya.
Pria asing itu tersentak kaget saat melihat Van Costel IV telah berdiri di dekatnya tanpa jarak sedikitpun.
Sorot mata tajam Van Costel IV sangat menakutkan dan mampu membuat gentar pria asing itu.
"Dan siapa kau ? Begitu hebatnya bertempur seorang diri melawan pasukan elite Lucian ?", ucap Van Costel IV.
Pria asing itu lagi-lagi tersenyum mengejek dan hanya terdiam seraya membalas tatapan Van Costel IV ke arahnya.
KLANG !
Kedua senjata mereka saling beradu kuat saat Van Costel IV mengarahkan pedang ditangannya ke arah pria asing.
Mereka sama-sama saling berpandangan tajam dengan kedua pedang masing-masing saling terhunus dan bertautan.
"Setidaknya aku bukan hantu yang tidak perlu ditakuti karena aku adalah pembunuh suruhan Dalca II yang bertugas menghabisi semua lawan-lawan tuanku", kata pria itu.
"Besar sekali nyalimu !", sahut Van Costel IV yang mendesak pembunuh itu dengan pedang miliknya.
"Benar, aku memang memiliki nyali besar untuk melenyapkan mu, Van Costel IV", ucap pembunuh itu yang terlihat amat senang karena tantangannya ditanggapi oleh hantu tampan itu.
"Seberapa hebatnya kekuatanmu hingga bernyali besar melawanku", kata Van Costel IV.
"Remeh sekali ucapanmu pada lawan tandingmu ! Kupikir hantu tidak memiliki kelebihan untuk bertarung ?", ucap pembunuh itu mulai kesal.
"Tepat sekali...", sahut Van Costel IV.
Van Costel IV terus mendesak pembunuh suruhan Dalca II yang bergerak mundur oleh serangan pedang milik hantu tampan itu.
Serempak sejumlan orang berjubah hitam dari pasukan elite milik Antolin Lucian menyerang pembunuh itu saat dia terdesak.
__ADS_1
Pada saat yang bersamaan muncul sinar menyilaukan dari arah sekitar tubuh pembunuh suruhan Dalca II itu saat dia mendapatkan serangan dari pasukan elite Antolin Lucian.
BLAR !!!
Sinar berwarna nila itu meledak keras hingga meluas ke arah sekitarnya, beberapa dari serangan pasukan elite terhenti dan ada yang melompat tinggi menjauhkan diri mereka dari ledakan hebat itu.
Kepulan asap lalu muncul membumbung tinggi di seluruh area pertempuran di istana oranye.
Sosok bayangan hantu tampan terlihat diantara kepulan-kepulan asap yang menyelimuti dirinya seraya berjalan tegap dengan tangan memegang pedang.
Van Costel IV muncul dari balik asap yang mulai menipis, melangkah dengan raut wajah tegasnya sambil terus mendekat ke arah pembunuh suruhan Dalca II.
"Biarkan aku yang menghadapinya ! Kalian susul saja Antolin Lucian dan bantulah dia di area barat istana ini !", perintah Van Costel IV.
Van Costel IV mengarahkan tangannya ke arah barat dimana Antolin Lucian berada dan sedang bertempur sambil terus berjalan.
"Baik, tuan Van Costel IV", sahut salah seorang dari pasukan elite.
Dia menolehkan pandangannya ke arah kawan-kawannya yang berdiri di belakangnya dengan menggenggam pedang es di tangan mereka masing-masing.
Mengangguk pelan memberi isyarat pada pasukan elite lainnya untuk mendengarkan perintah Van Costel IV.
Sejumlah pasukan elite langsung menghilang dari area pertempuran, menyusul Antolin Lucian yang sedang bertempur di sisi barat, di area lainnya dari istana oranye.
"Kau sungguh yakin jika kamu mampu mengalahkan ku", ucap pembunuh itu.
"Ku akui kemampuan mu bertempur sangatlah hebat, mampu menghadapi pasukan elite milik Antolin Lucian seorang diri bahkan sangat percaya diri akan mengalahkanku yang seorang penguasa", sahut Van Costel IV.
"Jabatanmu tidaklah berarti bagiku karena sejatinya dari seorang pembunuh suruhan seperti ku hanya mengenal satu kata yaitu kesepakatan", ucap pria bertopeng di kedua matanya.
"Kata-kata yang sungguh kedengarannya menarik di kedua gendang telingaku ini", kata Van Costel IV.
"Aku harap itu menghiburmu sebelum maut datang untuk kedua kalinya kepadamu, Van Costel IV", sahut pembunuh itu.
Van Costel IV hanya tersenyum tipis tapi sorot matanya membias liar berwarna merah menyala bahkan tenggorokannya mulai haus.
"Aku menunggu kesempatan itu...", ucap hantu tampan sembari bergerak cepat ke arah pembunuh suruhan Dalca II.
Terdengar kembali suara bunyi kedua pedang saling beradu kencang hingga terlihat percikan api dari arah kedua senjata hebat itu.
KLANG... KLANG... KLANG...
Kedua pedang saling bertautan mengeluarkan suara-suara nyaring yang memekakkan telinga.
Van Costel IV terus menggerakkan pedang panjang di tangannya tanpa henti, tidak memberi kesempatan pada pembunuh suruhan Dalca II untuk menghindarinya.
Gerakan tubuh Van Costel IV sangat cepat bahkan terlihat tidak seimbang ketika dia melawan pembunuh itu.
__ADS_1
Hantu tampan itu bukanlah lawan tanding yang tepat bagi seorang pembunuh suruhan dengan kemampuan terbatas seperti orang bertopeng yang terlahir hanya sebagai manusia biasa karena Van Costel IV ditakdirkan lain dan merupakan titisan dari klan bangsawan terkuat yang dianugerahi keabadian meski kini dirinya berwujud sesosok hantu berwajah tampan.