Suami Ku Hantu

Suami Ku Hantu
Bab 89 Bertemu Pria Berjirah Emas


__ADS_3

Arella bergerak mendekati sebuah aula besar di tengah gunung mati.


Tidak terlihat tanda kehidupan di sekitar gunung yang menjulang tinggi, hanya ada suara hembusan angin yang bertiup pelan, menerbangkan sebagian savana kering di sekitar area gunung.


Terdapat pelataran luas di depan bangunan yang menyerupai benteng.


Arella mulai memasuki aula besar dengan langkah kaki melayang dan sesekali menyentuh permukaan lantai markas.


Gerak tubuhnya sangat lemah gemulai saat bergerak pelan menuju ke dalam aula, kedua tangannya melambai lembut saat dia melayang turun.


"Arella...", sapa seorang pria berpakaian jirah emas.


"Tihomir, apa kabarmu ?", sapa Arella.


"Kabarku baik, Arella. Dan bagaimana kabarmu juga, kesayangan tuan muda ?", sahut pria bernama Tihomir.


"Kau menanyakan kabarku atau nasib hidupku, Tihomir", ucap Arella.


"Tentu kau yang tahu sendiri mengenai dirimu, aku hanya ingin bertanya akan kabarmu, sudah lama kita tidak saling bertemu, Arella", sahut Tihomir.


"Hampir satu lustrum kira-kira kita tidak saling bertemu, kapan terakhir aku datang kemari untuk menemuimu, ya ?", ucap Arella.


"Kepakan sayap tidak berarti kau akan terbang melainkan kapan kau kira-kira akan datang padaku", sahut Tihomir.


"Jangan merayuku, aku tidak biasa menyukai rayuan, Tihomir", ucap Arella.


"Kau bisa berkata bahwa aku akan menaruh harapanku padamu meski aku harus meniadakan hari-hariku dalam lingkaran pesonamu, kapan waktu itu akan datang padaku, Arella ?", sahut Tihomir.


"Apa kau berani ?", tanya Arella.


"Sayangnya, aku tidak mungkin bersaing dengan Ionatan karena dia terlalu menyayangimu, Arella", sahut Tihomir.


"Dan kau tahu jawabannya, Tihomir...", ucap Arella.


"Sampai kapan kau akan menunggunya, Arella ?", tanya Tihomir.


"Sampai aku lelah menjalani semua ini", sahut Arella.


"Apa kau akan pergi darinya, Arella ?", tanya Tihomir.


"Dalam pikiranku tak terbersit untuk pergi darinya tetapi akupun tidak mungkin terus membuat keraguan di hatiku hingga aku menyadari saatnya pergi dari ini semua, Tihomir", Sahut Arella.


"Bukankah tinggal disini hidupmu akan lebih terjamin dibanding kau pergi, Arella", ucap Tihomir.


"Jauh dari yang kau bayangkan, kesempurnaan hidup bukanlah segalanya jika kau hidup dalam keraguan, Tihomir", sahut Arella.


"Kau sepertinya mulai mencapai titik kebosananmu, Arella", ucap Tihomir.


"Aku datang bukan untuk meluapkan curahan hatiku padamu melainkan ada hal penting yang hendak aku sampaikan padamu, Tihomir", sahut Arella.


Tihomir mengusapkan tangannya yang tertutup sarung emas berulangkali lalu menarik kursi bulat ke arah Arella.


Memberikan kursi itu agar Arella duduk disana.


Arella hanya tersenyum melihat perhatian dari Tihomir padanya dengan sekali gerakan wanita cantik itu duduk sembari menyilangkan salah satu kakinya ke atas.


Mengibaskan lembut kain yang menutupi lengannya.


"Berita apa yang ingin kau sampaikan padaku jika itu bersifat pribadi maka aku akan menyediakan tempat khusus untukmu, mungkin ?", tanya Tihomir.


"Kau memang sangat cerdik, Tihomir", sahut Arella.


"Setidaknya aku lebih bertanggung jawab dalam urusan hati, tidak membuatmu terombang-ambing di tengah lautan yang kosong, Arella", ucap Tihomir.


"Sekalah keringatmu sebelum kita melanjutkan pembicaraan ini !", kata Arella.

__ADS_1


Arella memberikan sehelai saputangan sutra pada Tihomir kemudian dia menyandarkan punggungnya ke bahu kursi.


Pandangan Tihomir terarah luruh ke arah Arella saat wanita cantik itu memberinya sehelai saputangan padanya.


Terdiam sesaat lalu mengambil saputangan dari tangan Arella.


"Terimakasih...", ucap Tihomir.


"Bagaimana kondisi pasukan emas Puternicmu ?", tanya Arella.


"Sangat baik bahkan aku melatih mereka setiap hari di benteng ini, siang dan malam meski vakum dalam masa satu lustrum", sahut Tihomir.


"Tidak terlalu lama masa satu lustrum berakhir dan sekarang saatnya bergerak kembali setelah masa perang patra usai", ucap Arella.


"Lalu kedatanganmu kemari apa berkenaan dengan pasukan emas Puternic ?", tanya Tihomir.


"Ada tugas penting dari tuanku Ionatan Frederic untuk kalian, Tihomir", sahut Arella.


"Tugas penting apakah yang berkaitan dengan kami hingga membawamu jauh-jauh kemari, Arella ?", tanya Tihomir.


"Cukup penting, hanya untuk mengusir serangga kecil yang cukup meresahkan tapi cukup kuat untuk dikalahkan, Tihomir", sahut Arella.


"Apa itu akan membuat kegembiraan atau kesenangan ?", kata Tihomir.


"Aku rasa cukup menyenangkan tapi agak berat karena lawan kita bukanlah manusia kali ini", sahut Arella.


"Pernahkah kami berhadapan dengan manusia selama ini, aku rasa tidak pernah karena sebagian manusia yang terlibat dalam perang bukanlah manusia sebab mereka tidak punya hati kecil, Arella", ucap Tihomir.


"Ucapanmu masuk akal dan mengena, kuharap ini bukanlah suatu sindiran bagi kami sebab kami adalah penyebab pertempuran ini dimulai...", sahut Arella.


"Aku tidak menyindirmu", ucap Tihomir.


"Yah, aku tahu itu, Tihomir", jawab Arella.


Tak seorangpun ada di dalam ruangan aula, dimana kini dia berada, aula terasa bagaikan gua gelap tak bertuan bahkan terasa sekali udara dingin berhembus disekitarnya.


Tihomir menghela nafas panjangnya lalu menatap ke arah Arella sendu.


"Kapan kau akan menerima cintaku ini, Arella ?", tanya Tihomir.


"Aku tidak tahu, Tihomir...", sahut Arella.


"Kenapa ?", tanya Tihomir.


"Karena aku tidak mungkin memindahkan hatiku yang telah tertanam kuat pada tuan Ionatan meski hubungan ini tak sama kuatnya dengan cinta kami berdua", sahut Arella.


"Kau pandai berkelit, Arella", ucap Tihomir.


"Dan aku harap kamu memahaminya", sahut Arella.


Tihomir menatap teduh wanita cantik yang duduk dihadapannya, matanya seolah-olah menyiratkan cinta yang dalam pada Arella.


"Kapan kami diberangkatkan ?", tanya Tihomir.


"Malam ini, tepatnya", sahut Arella.


"Malam ini, ya !? Setidaknya aku masih punya waktu bersenang-senang, bukan !?", ucap Tihomir.


"Terserah padamu, aku akan mengutus seseorang kemari untuk mengantarkan hidangan-hidangan lezat serta minuman untuk kalian", sahut Arella.


"Terimakasih atas kemurahan hatimu, semoga Yang Maha Kuasa senantiasa membalas kebaikanmu ini", ucap Tihomir.


"Haruskah aku menemanimu malam ini atau kau ingin aku tidak muncul lagi dihadapanmu", kata Arella.


"Ha... Ha... Ha... Ha...", tawa Tihomir pecah.

__ADS_1


"Kenapa ? Apa ada yang lucu ?", tanya Arella.


"Kau suka berubah pikiran, Arella", sahut Tihomir sambil tertawa keras.


"Setidaknya tidak pada hatiku yang berubah, Tihomir", ucap Arella tajam.


"Baiklah, aku akan mendengarkanmu", kata Tihomir.


"Tapi tugas ini berada tepat di hutan Hoia Baciu...", sahut Arella.


"Hoia Baciu !?", ucap Tihomir terkejut pelan.


"Ya...", sahut Arella.


Arella menganggukkan kepalanya sembari tetap menatap Tihomir.


"Tempat yang unik untuk disinggahi, lama tidak mendengar kisah tentang hutan terangker itu, tidak ada yang tahu nasib hutan itu sekarang", ucap Tihomir.


"Banyak siluman serta hantu disana", sahut Arella.


"Yah, berita yang selalu terdengar demikian seolah-olah untuk membuat rasa takut semakin kuat", kata Tihomir.


"Tidak juga, alasan terkuat bukanlah karena hutan itu dihuni makhluk lainnya tetapi hutan itu merupakan kediaman Dalca II", ucap Arella.


Tihomir langsung berubah merah padam seraya memutar tubuhnya menghadap lurus Arella yang sedang duduk didepannya.


"Dalca ?", ucap Tihomir.


"Yah, benar, Dalca...", sahut Arella.


"Sepanjang kekuasaannya dia telah melakukan kerusakan bahkan kejahatan besar bersama para siluman dengan menculik kaum manusia dan menjadikannya budak mereka", ucap Tihomir.


"Kurun waktu yang lama setelah adanya kabar bahwa klan siluman berpihak pada Dalca karena mereka dijanjikan kenyamanan serta kebebasan di lingkungan manusia", sahut Arella.


"Musuh yang nyata bagimu...", ucap Tihomir.


"Setelah perang patra berakhir bersamaan perginya Van Costel IV, keadaan bukan semakin bertambah baik karena Dalca II yang turut menghilang telah meninggalkan kerusakan besar dalam tatanan kehidupan antara klan siluman dan kaum manusia", sahut Arella.


"Meski perang Patra dimenangkan oleh pihak klan bangsawan tetapi sejak meninggalnya Van Costel IV, membuat Van Rogh mengasingkan dirinya dari kekuasaan tertingginya", ucap Tihomir.


"Memang benar adanya demikian, itu yang menjadikan perebutan tampuk pimpinan masih terjadi bahkan menjadi perbincangan hangat di luar sana", sahut Arella.


"Wajar saja jika Van Rogh kemudian mengasingkan dirinya sejak kematian Van Costel IV, rasa bersalah atas terbunuhnya putranya di peperangan Patra telah membuatnya terpukul keras", ucap Tihomir.


"Namun Van Rogh tidak mempedulikan hal itu karena selama kematian Van Costel IV, dia menantikan kebangkitan putranya dari alam kematian", sahut Arella.


"Waktu yang cukup lama bagi Van Rogh menantikan hal itu", ucap Tihomir.


"Karena suatu syarat yang sulit bagi Van Rogh dapatkan untuk membangkitkan Van Costel IV dari alam kematian", kata Arella.


"Pada akhirnya penantian itu dapat ditebus dengan hasil yang dia inginkan bahkan saat bangkitnya kembali Van Costel IV, dia langsung menyerahkan kursi pimpinan tertinggi Moldova pada putranya", sahut Tihomir.


"Dan Van Rogh memutuskan memegang kekuasaan Wallachia atas pemerintahan baru saat ini", ucap Arella.


"Benar...", sahut Tihomir.


"Apa kau siap pergi kesana, Tihomir ?", tanya Arella.


"Kenapa kau tanyakan hal itu, Arella ?", tanya balik Tihomir.


"Aku hanya menanyakan kesanggupanmu dan pasukan Puternicmu sekarang ini", sahut Arella.


Tihomir hanya tersenyum sembari menganggukkan kepalanya pelan lalu berkata pada Arella.


"Singa akan siap dalam setiap medan, Arella...", ucap Tihomir.

__ADS_1


__ADS_2