
Van Costel IV memutar cepat pedangnya seraya melompat tinggi menuju pembunuh suruhan Dalca II.
Pedang panjang milik Van Costel IV bergerak leluasa di atas pembunuh yang tampak kewalahan saat pedang Van Costel IV menerjangnya bertubi-tubi.
Sabetan pedang Van Costel IV nyaris tidak memberinya kesempatan pada pembunuh suruhan DalcaI II.
Namun, pembunuh suruhan Dalca II mampu mengembalikan serangan Van Costel IV hingga dia mendesaknya tanpa ampun, membalas serangan hantu tampan itu dua kali lipat dari serangan Van Costel IV sendiri.
Cahaya-cahaya bersinar terang mampu membuat sayatan-sayatan tipis di udara hingga membekas kuat dan mampu mengoyakkan pakaian Van Costel IV.
Van Costel IV membalasnya dengan serangkaian serangan.
Pedang terus beradu keras diantara dua senjata yang sama-sama mengeluarkan aura pembunuh yang mematikan.
Van Costel IV meningkatkan level serangannya ke arah lawan dengan mengaktifkan tingkatan level lima ke arah pembunuh suruhan Dalca II.
Serangan udara berupa kilatan cahaya merah menyapu bersih seluruh area pertempuran memukul mundur badan lawan beberapa meter darinya.
Pembunuh suruhan Dalca II menahan badannya dengan kedua kakinya yang terbuka lebar dengan pedang terhunus ke depan dan bertautan kuat diantara keduanya.
Kedua sorot mata pria yang sama-sama tangguh saling berpandangan tajam.
Van Costel IV menyeringai saat berhadapan dengan pembunuh tersebut sebagai balasannya pembunuh suruhan Dalca II melemparkan cahaya dari tangannya ke arah hantu tampan itu.
Kedua kaki Van Costel IV melayang tinggi di udara membuat gerakan berputar ringan.
Pedang panjang milik Van Costel IV melentur kencang membentuk sinar-sinar yang memerahkan kedua mata pembunuh suruhan, yang berusaha bertahan menghalau dengan memutar pedang di kedua genggaman tangannya.
Membalas serangan pedang Van Costel IV yang terarah ke arahnya.
Sinar-sinar dari pedang panjang hantu tampan saling beradu kuat diantara serangan milik pembunuh suruhan Dalca II yang saling bergerak kencang.
Kekuatan pedang milik Van Costel IV sama-sama tangguhnya dengan pedang milik pembunuh suruhan itu.
Ledakan keras terjadi kembali diantara kedua pedang mereka yang sama-sama kuatnya hingga menyebabkan retakan di sekitar istana.
Suara gemuruh terdengar diantara ledakan dari kedua senjata pedang milik mereka.
Angin kencang muncul membentuk gulungan-gulungan cahaya terang yang mengguncangkan area sekitar istana oranye.
Kepulan asap tebal muncul setelah ledakan terjadi, tampak Van Costel IV tengah bertahan di antara asap-asap yang sangat menyesakkan nafasnya.
Van Costel IV terjebak diantara asap-asap tebal disekitarnya.
Kesempatan diambil oleh pembunuh suruhan Dalca II yang bergerak maju menyerangnya saat Van Costel IV lengah.
Serangan membabi buta mengarah brutal ke arah Van Costel IV yang belum sempat menghindarinya tetapi perisai cahaya yang keluar dari tubuh hantu tampan itu melindunginya dari serangan pedang pembunuh suruhan Dalca II yang berusaha menghancurkan perisai perlindung miliknya.
__ADS_1
Van Costel IV memutar tubuhnya menghindari serangan dari pedang pembunuh suruhan yang menerjangnya cepat.
Pedang panjang milik Van Costel IV memusat pada serangan, dia melesat kilat membentuk bayangan ke segala arah serta menyesatkan lawan.
Van Costel IV membalas serangan pembunuh suruhan Dalca II yang bergerak cepat.
Pembunuh suruhan Dalca II lantas berbalik seraya membunyikan suara nyaring yang memekakkan telinga.
Sempat membuat Van Costel IV terjatuh karena adanya perlawanan dari pembunuh tersebut.
Van Costel IV mendengar dengungan keras yang disertai oleh api menyala-nyala diantara langit-langit istana yang terbuka luas diatas.
Pandangan Van Costel IV beralih ke arah api yang muncul secara tiba-tiba.
"Apakah itu ?", gumam Van Costel IV tertegun saat memandang ke arah datangnya api.
Van Costel IV beranjak dari tempatnya lalu berdiri memandangi api yang berputar-putar di atas.
"Apakah itu api kiriman ?", ucap Van Costel IV.
Saat api menyala memancar kuat diantara langit-langit istana oranye.
Muncul tiga orang asing yang menggenggam erat senjata di tangan mereka masing-masing.
Van Costel IV tertegun saat ketiga orang asing hadir.
Tertawa keras saat menatap ke arah hantu tampan itu seraya mengarahkan senjata di tangan mereka ke Van Costel IV.
Mereka membidik ke arah Van Costel IV saat turun ke arah bawah serta terbang melayang mendekati hantu tampan itu.
DOR... ! DOR... ! DOR... !
Suara letusan dari senjata api melesat cepat ke arah Van Costel IV yang masih berdiri tertegun ketika melihat ketiga orang yang datang padanya dengan tiba-tiba.
BLUSH... ! BLUSH... ! BLUSH... !
Anak panah turut melesat kilat menuju Van Costel IV.
Pada saat senjata-senjata itu menyerang Van Costel IV secara beruntun dan bersamaan, muncul dari arah belakang sebuah serangan kilat bergerak menepis serangan-serangan lawan yang mengarah ke arah hantu tampan.
Van Costel IV terhenyak seketika saat menyadari seseorang telah membantunya diam-diam.
"Siapa !?", tanya Van Costel IV.
"Awas Van Costel !!!", teriak seseorang dari arah belakang.
"Mazonn !?", ucap hantu tampan itu.
__ADS_1
Tampak dua bilah pedang melesat cepat ke arah ketiga orang yang merupakan rekan dari pembunuh suruhan Dalca II, berganti menyerang ketiga orang musuh yang berusaha melukai Van Costel IV.
Sepasang pedang Yunlong terus bergerak cepat menyerang ketiga orang yang berdiri tak jauh dari hadapan Van Costel IV hingga memaksa mereka terus-menerus menghindari serangan-serangan dari Yunlong Jian.
Dua pasang roh Yunlong Jian menghunuskan pedang mereka secara bersamaan dengan membentuk formasi elang ke arah ketiga orang lawan.
Tak ingin kalah dari kedua pasangan roh Yunlong Jian, ketiga orang yang merupakan rekan setimnya pembunuh suruhan Dalca II membalas serangan-serangan pedang Yunlong dengan mengarahkan senjata api serta panah kepada dua roh tersebut.
Namun, dua roh Yunlong Jian bukanlah lawan tanding yang biasa karena kekuatan serta kehebatan permainan pedang mereka sangatlah hebat bahkan mampu menghalau serangan peluru yang gerakannya sangat cepat.
KLANG... KLANG... KLANG...
Peluru-peluru yang datang berhamburan ke arah kedua roh Yunlong Jian beradu keras saat pedang Yunlong menepisnya.
Sejumlah peluru berjatuhan ke lantai lalu meledak hangus terbakar saat terkena sabetan pedang Yunlong Jian.
Bersamaan datang serangan-serangan berupa anak panah yang berjumlah hampir mencapai ribuan karena setiap satu anak panah yang melesat akan membelah menjadi beberapa anak panah sedangkan anak panah yang berdatangan ke arah dua pasangan roh Yunlong Jian, jumlahnya tidak terhitung.
Salah satu dari ketiga orang yang merupakan rekan pembunuh suruhan Dalca II bergerak cepat melesakkan anak panahnya dari busurnya yang terbuat dari api.
Seorang wanita cantik yang amat terampil memainkan busur panah.
Kedua roh Yunlong Jian hampir kewalahan menerima berbagai serangan lawan yang datang nya hampir secara bersamaan.
Serangan-serangan itu datang dari arah yang berlawanan serta berjumlah banyak, menyerang serta mengepung kedua roh Yunlong Jian yang sedang bertempur untuk melindungi Van Costel IV dan tuannya, Mazonn.
Kembali terdengar suara keras beradu dari arah senjata-senjata milik lawan maupun milik kedua pasangan roh Yunlong Jian.
Van Costel IV terperangah kaget saat melihat ke arah dua pedang yang memiliki jiwa suci, bergerak cepat menghadang berbagai serangan lawan yang akan menyerangnya.
Belum pernah sebelumnya Van Costel IV melihat dua pedang memiliki kekuatan sehebat itu serta memiliki roh spritual berupa dua bayangan manusia.
"Sepasang roh spritual ?", ucapnya tertegun.
"Tepatnya, dua pasang roh pedang Yunlong...", sahut Mazonn.
Van Costel IV lalu menoleh ke arah Mazonn yang berdiri di sampingnya.
"Apa dua pedang itu milikmu ?", tanya Van Costel IV.
"Yah, benar..., dua pedang Yunlong itu adalah milik ku yang aku peroleh secara kebetulan di pasar hantu di lembah Ngarai, asalku", sahut Mazonn.
"Pedang itu bukan pedang biasa dan memiliki roh serta hebatnya kedua roh itu mampu bertempur layaknya manusia", kata Van Costel IV.
"Dua pasang roh Yunlong Jian adalah jiwa dari pedang Yunlong yang berasal dari langit, kebetulan aku menemukannya saat berburu siluman", ucap Mazonn.
"Ada siluman yang berani masuk ke tempat mu ???", tanya Van Costel IV heran. "Aneh sekali dan tidak biasanya, hal itu lolos dari pengamatan seorang Mazonn !?", sambungnya.
__ADS_1
"Aku juga manusia biasa yang tak luput dari kesalahan, ada kalanya kita memiliki kekurangan sehingga tidak semuanya harus berjalan sesuai harapan", sahut Mazonn.
Mazonn lantas tersenyum ketika dia beradu pandang dengan Van Costel IV yang menatap nya dengan sorot mata serius.