Suami Ku Hantu

Suami Ku Hantu
Bab 57 Medan Pertempuran


__ADS_3

Terlihat ribuan barisan pasukan di hadapan Van Costel IV di bawah pegunungan Muntele Tampa.


Pandangan mata Van Costel IV terlihat sendu saat dia memimpin pasukannya untuk melawan musuh-musuhnya yang merupakan rekan satu klan bangsawan.


Ribuan pasukan milik klan Vlad yang terdiri dari pasukan siluman dan pasukan inti klan Vlad yang dipimpin oleh Dalca II berbaris rapi dengan masing-masing menaiki monster mirip kalajengking di atas hamparan tanah gersang dekat area pegunungan Muntele Tampa.


Van Costel IV mengenakan jubah hitam panjangnya kala dia memimpin pasukan tempurnya yang jumlahnya lebih sedikit dari pasukan milik klan Vlad.


Klan Costel sengaja tidak bersekutu dengan klan manapun karena bagi mereka perang Patra ini merupakan perang antara klan Costel dengan klan Vlad yang masih memiliki hubungan satu darah dari garis Redu.


Hanya beberapa klan yang bergabung dengan klan Costel untuk mendukung melawan kejahatan yang dilakukan oleh klan Vlad yang bersekongkol dengan para siluman.


Beberapa dari ketiga belas klan yang ada yaitu klan Van Rogh III, klan Vlad V, klan Van Apostol II, klan Cornel, , klan Geza, klan Van Ionatan II, klan Sahitis, klan Vasilica, klan Lucian, klan Danut, klan Demetri IV, klan Florentin V dan terakhir klan Mazonn III. Hanya terlihat sejumlah klan yang ikut terjun ke medan pertempuran pada perang Patra.


Diantaranya adalah klan Danut, klan Vasilica, klan Apostol, klan Ionatan, klan Mazonn, klan Lucian dan klan Demetri yang bergabung serta bersekutu dengan klan Van Rogh atau klan Costel untuk berperang melawan klan Vlad serta para siluman yang kejam dengan kejahatan yang telah mereka lakukan melampaui batas kemanusiaan.


Van Costel IV berdiri di atas pinggir tebing pegunungan Muntele Tampa yang curam.


Menatap tajam ke arah pasukan tempur milik Dalca II yang jumlahnya sangat besar dari pasukan tempur miliknya.


Jubah hitam yang dikenakan oleh Van Costel IV melambai-lambai tertiup angin yang cukup kencang saat itu.


Terlihat seorang wanita berpakaian seksi dengan dada membusung berdiri di sisi Van Costel IV seraya memainkan ujung-ujung kuku jarinya yang lancip serta berwarna merah pekat.


Rambutnya yang pirang disanggul tinggi ke atas hampir menyerupai bentuk kerucut dihiasi dengan sebuah tusuk konde antik dari kristal yang ditaburi oleh batu-batuan berlian.


Wanita cantik nan seksi itu sesekali melirik ke arah bawah pegunungan Muntele Tampa dimana ribuan pasukan tempur milik Dalca II berada dan menunggu waktu berperang tiba.


''Kau tidak ingin merusak momen penting ini, Van Costel IV ?'', kata wanita seksi itu.


''Aku tidak berminat... Kenapa kamu tanyakan hal yang tidak penting seperti itu kepadaku, Vasilica ?'', sahut Van Costel IV.


''Aku hanya penasaran dengan taktik yang akan kamu lakukan untuk menghadapi mereka semua sedangkan kau tahu aku sudah tidak sabar untuk mengacaukan tata tertib ini'', sahut wanita yang dipanggil dengan Vasilica.


''Kau tidak perlu penasaran seperti itu karena tidak ada yang perlu disembunyikan oleh ku untuk menghadapi mereka'', kata Van Costel IV.

__ADS_1


''Tidak perlu taktik !?'', ucap Vasilica.


''Tidak perlu, meski kita kalah banyak jumlah pasukan yang kita miliki dengan pasukan musuh, tidak diperlukan taktik tertentu untuk melawan mereka'', sahut Van Costel IV.


''Kau tidak sedang bercanda bukan, Van Costel IV ? Apa kau sengaja mengirim dirimu ke medan perang ini untuk mati ?'', kata wanita seksi itu.


''Aku tidak sedang bercanda Vasilica'', jawab Van Costel IV.


''Apa yang akan kamu lakukan sekarang untuk menghadapi pasukan musuh sebanyak itu ?'', tanya Vasilica.


''Menurutmu...'', sahut Van Costel IV.


''Baiklah, jika itu sudah keputusan mu maka aku tidak akan banyak bertanya lagi kepada mu, Van Costel IV'', ucap Alexandra Vasilica.


''Hmmm...'', sahut Van Costel IV hanya bergumam lirih.


''Mari kita bertempur sekarang !'', ucap Vasilica dengan ekspresi wajah dingin.


Sebentuk senyuman merekah manis menghiasi wajah cantik Vasilica yang meraih tusuk konde kristal miliknya dari sanggul rambutnya yang berbentuk kerucut.


Benda tersebut langsung berubah menjadi sebilah pedang panjang tipis terbuat dari kristal yang berkilauan terkena sinar cahaya matahari.


Berteriak lantang kepada pasukan tempur miliknya dari klan Vasilica.


''MAJU... !!!''


Alexandra Vasilica lalu bergerak melompat tinggi ke atas udara seraya menghunuskan pedang kristal yang ada di tangannya kemudian terjun ke bawah tebing tinggi dari tebing pegunungan Muntele Tampa.


Diikuti oleh pasukan tempur klan Vasilica yang bergerak terbang maju mengikuti gerakan tubuh Alexandra Vasilica yang ada di depan mereka dan memimpin untuk bergerak maju terlebih dahulu melawan pasukan tempur milik klan Vlad.


Sinar matahari yang membias membuat pandangan mata terhalang untuk melihat pergerakan yang dilakukan oleh klan Vasilica yang pergi maju memimpin pertempuran lebih awal.


Dibawah pegunungan Muntele Tampa datang pasukan tempur dari arah berlawanan menuju ke arah pasukan milik klan Vlad.


Pasukan tempur yang membentuk formasi anak panah bergerak maju menyerang pasukan tempur milik klan Vlad yang dipimpin oleh Dalca II.

__ADS_1


Dari kejauhan di atas mereka semua tampak pasukan tempur milik klan Vasilica berterbangan turun ke arah pasukan klan Vlad yang terkecoh dengan serangan pasukan yang datangnya dari arah depan.


Seseorang berpakaian zirah besi yang berdiri di atas kalajengking terdiam menatap tajam ke arah sejumlah pasukan musuh yang datang tak terduga arahnya.


Lantas berteriak memberi komando kepada pasukan tempur miliknya yang berjumlah ribuan banyaknya dibandingkan pasukan tempur milik klan Costel yang datang menyerang mereka dari segala arah.


Orang yang mengenakan zirah besi perang itu mengangkat salah satu tangannya ke arah atas seraya mengayunkan pedang panjang miliknya yang terbuat dari logam emas yang kuat, memberi tanda perintah kepada pasukan tempur miliknya untuk melawan musuh-musuh mereka yang baru datang.


Alexandra Vasilica mengarahkan tangannya ke arah depan seraya menggerakkan jari-jemari tangannya hingga memancarkan cahaya terang berbentuk serpihan-serpihan halus berupa bintang.


Serpihan-serpihan halus berbentuk bintang itu berubah menjadi ribuan anak panah yang mengarah ke arah pasukan tempur milik klan Vlad yang berada di bawahnya.


Orang berpakaian zirah terkejut ketika menerima serangan dari klan Vasilica yang menghujani pasukan tempur miliknya dengan ribuan anak panah.


Dia langsung mengarahkan tangannya ke arah datangnya ribuan anak panah milik klan Vasilica, hingga tangannya mengeluarkan sinar cahaya terang yang panas kemudian membentuk sebuah formasi pelindung api berbentuk lingkaran.


Formasi lingkaran pelindung yang bermaksud untuk melindungi pasukan tempur miliknya agar tidak dapat dilukai oleh serangan-serangan anak panah milik klan Vasilica yang jumlahnya ribuan.


Senyum mengembang di wajah orang berzirah saat serangan milik klan Vasilica dapat dihalau oleh nya dengan amat mudahnya sedangkan Alexandra Vasilica tidak terima serangan anak panahnya dapat dikalahkan oleh orang berpakaian zirah perang itu


Alexandra Vasilica semakin gencar melakukan serangan yang keluar dari tangannya yang memancarkan cahaya terang berupa serangan anak panah yang jumlahnya tak terhitung.


Bergerak cepat dengan penuh keyakinan sembari mengayunkan pedang tipis kristal miliknya ke arah pasukan-pasukan tempur milik klan Vlad.


Terdengar suara senjata tajam bertalu-talu keras di seluruh area bawah pegunungan Muntele Tampa yang luas.


Perang Patra pecah sejak kedatangan klan Vasilica dan klan Demetri yang menyerang musuh terlebih dahulu, mendesak paksa agar pasukan dari klan Vlad itu kocar-kacir dan mundur.


Namun, orang berzirah logam emas itu mampu memimpin kembali pasukan tempur miliknya untuk menghadapi serangan klan Vasilica dan klan Demetri yang datang menyerang mereka secara bersama-sama.


Alexandra Vasilica terjun ke medan perang dengan gagah berani mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan kehidupan manusia yang terancam dari kejahatan yang dilakukan oleh klan Vlad serta para siluman yang menginginkan menguasai dunia lewat Rumania.


Perang Patra dimulai dengan tanda datangnya serangan dari klan Vasilica dan klan Demetri yang dibawah pimpinan klan Ionatan atas perintah Van Costel IV untuk memimpin perang Patra di kawasan pegunungan Muntele Tampa.


Gemuruh suara pasukan tempur milik dua kubu yang saling berlawanan itu terdengar keras menggema hingga memecah kesunyian langit yang berwarna biru cerah menjadi berubah riuh-rendah oleh suara senjata-senjata tajam milik kedua kubu yang saling berperang di medan pertempuran yang ada di sepanjang kawasan pegunungan Muntele Tampa yang jauh jaraknya dari tempat tinggal mereka semua.

__ADS_1


__ADS_2