
Arella tersentak kaget ketika melihat ke arah barisan inti dari pasukan emas Puternic yang ada di tengah-tengah lapangan luas.
Wajahnya pias berubah memucat saat dia mengetahui anggota dari inti pasukan emas Puternic milik Tihomir.
Jari jemari tangannya mencengkeram kuat di atas pegangan kayu beranda yang berada tepat di atas menghadap ke arah lapangan, tempat latihan pasukan emas Puternic.
Tihomir melompat terbang turun ke arah lapangan, menuju ke arah lima anggota pasukan inti emas Puternic yang ada dibawah sana.
Arella semakin bertambah terkejut ketika Tihomir turun ke arah tengah-tengah lapangan.
Dimana lima anggota pasukan inti emas Puternic berbaris rapi sembari memberi hormat pada Tihomir, pimpinan mereka.
Senyum merekah di wajah Tihomir saat pasukannya menyambut kedatangannya penuh semangat.
Tihomir turun perlahan-lahan mendekati kelima anggota inti pasukan emas Puternic kemudian berteriak lantang pada mereka.
"LENTERA TELAH DINYALAKAN SAATNYA PERPISAHAN PADA RUMAH TINGGAL KITA !", teriak Tihomir.
"HORMAT KAMI PADA PIMPINAN PASUKAN !", sahut kelima anggota inti pasukan emas Puternic kompak.
"Kita akan pergi menjalankan tugas penting dari tuan Ionatan Frederic untuk menangkap penjahat besar tak bernyali", ucap Tihomir.
"SIAP !!!", sahut lima anggota pasukan inti emas Puternic.
"Tujuan kali ini adalah Hutan Hoia Baciu yang berada di Rumania", lanjut Tihomir.
Semua anggota pasukan inti pasukan emas Puternic terdiam tanpa bersuara.
Tidak ada reaksi dari kelima anggota pasukan inti emas Puternic saat Tihomir memberitahukan kepada mereka tempat tugas yang akan mereka tuju nanti.
Arella bergerak turun menuju ke arah lapangan dengan sekali hentakan pelan di udara.
Melayang lembut hingga menjejakkan kakinya di atas lapangan.
Tihomir menoleh ke arah Arella yang telah berdiri di sampingnya sembari menatap lurus ke arah lima anggota pasukan inti emas Puternic.
"Arella...", ucap Tihomir.
"Bisakah kau perkenalkan mereka pada ku ?", kata Arella.
"Tentu saja, aku akan mengenalkan kelima anggota pasukan inti emas Puternic pada mu", sahut Tihomir.
"Baiklah, silahkan dimulai !", kata Arella.
Arella mengibaskan kain yang menjuntai panjang disisi-sisi tubuhnya dengan lembut lalu berdiri tegak memandang serius.
Pria berjirah emas itu lalu mendekat ke arah lima anggota pasukan inti emas Puternic seraya meminta kepada mereka untuk memperkenalkan diri mereka satu persatu pada Arella.
"Silahkan kalian perkenalkan diri kalian masing-masing sekarang !", ucap Tihomir.
"Siap !", sahut mereka bersamaan.
Seorang pria dengan jenggot tipis di wajahnya bergerak maju sembari berdiri tegak kemudian berkata lantang.
"Nama Cosmin ! Anggota kelima pasukan emas Puternic, keahlian khusus menggunakan trisula dengan tingkat level 7 !", ucap pria tersebut.
Cosmin berdiri sembari memperagakan gerakan tanding dengan memainkan trisula emas ditangannya.
Mengenakan Jirah berlapis emas serta penutup kepala berbentuk bulat telur yang juga terbuat dari emas.
Cosmin berdiri seraya memutar tubuhnya hingga membentuk lingkaran lalu terbang melompat ke atas dengan mengayunkan trisula emas yang ada ditangannya.
__ADS_1
BOOM !
Dentuman keras tepat mengenai area lapangan hingga membuat hembusan angin disekitar area latihan.
Angin kencang menerpa wajah Arella yang berdiri di tengah lapangan luas disamping Tihomir.
WUUUUSSSS... !!!
Gaun Arella tersibak keras saat angin menerpa tubuhnya.
Namun, hal itu tidak lantas membuatnya bergeming dari tempatnya berdiri tegak.
Sorot matanya tajam menatap ke arah Cosmin yang melakukan gerakan cepat dengan memperagakan trisula emas ditangannya.
"Kemampuan Cosmin berkembang lebih cepat dari kelima anggota pasukan inti emas Puternic meski dia merupakan anggota terakhir dari pasukan inti", ucap Tihomir.
Arella diam tanpa menjawab ucapan Tihomir tetapi pandangan matanya tertuju serius ke arah Cosmin yang sedang membuat gerakan bela diri.
"Lanjut !", ucap Tihomir.
Tihomir memerintahkan kepada salah seorang dari anggota pasukan inti emas Puternic yang lainnya selanjutnya untuk maju.
Tampak seorang pria bermata kucing menyala merah berjalan maju ke depan sembari mengepalkan kedua tangannya ke arah dada.
"Siapa dia ?", tanya Arella sambil melirik.
"Biarkan dia yang akan memperkenalkan dirinya sendiri !", sahut Tihomir.
"Hmm, baiklah...", ucap Arella.
Tihomir memberi satu isyarat tertentu pada pria bermata kucing di depannya untuk segera mengenalkan dirinya.
Pria bermata kucing menyala merah itu lalu maju ke depan.
"Senjata api ya !?", gumam Arella.
"Benar, kemampuan dia sangatlah mahir dalam menggunakan semua jenis senjata api apapun bahkan ketepatan daya tembak yang dia miliki luar biasa", sahut Tihomir.
"Kau rupanya melatihnya sangat keras, Tihomir", bisik Arella.
"Itupun bukanlah kemauan ku tetapi tugas lah yang telah membuatnya demikian, Arella", sahut Tihomir.
"Sepertinya kau sangat bangga dengan pasukan emas Puternic milik mu", ucap Arella.
"Tentu saja, mereka adalah harta paling berharga yang aku miliki dan tidak ada yang mampu menandinginya dari apapun di dunia ini", sahut Tihomir.
"Senjata mematikan dan paling tangguh !", ucap Arella.
Arella tersenyum manis kepada Tihomir yang berdiri di sampingnya lalu kembali mengalihkan pandangannya ke arah Marinel.
"Sepertinya dia tidak perlu memperagakan senjata api yang dia kuasai...", ucap Arella.
"Kenapa ?", tanya Tihomir.
Tihomir lalu berpaling cepat ke arah Arella dengan sedikit terkejut.
"Tanpa dia tunjukkan kemampuannya, senjata api telah mewakili bahwa dia orang yang ahli", sahut Arella.
"Baiklah..., jika kau menginginkan demikian maka aku akan melanjutkan memperkenalkan anggota pasukan inti emas Puternic yang lainnya...", ucap Tihomir.
"Silahkan !", sahut Arella.
__ADS_1
Tihomir menepuk kedua tangannya cukup keras kepada anggota pasukan inti emas Puternic, memberi tanda pada anggota selanjutnya untuk maju dan memperkenalkan dirinya.
Tampak seorang dengan penutup kepala berbentuk tanduk berlapis emas melangkah maju.
Arella tersentak kaget saat melihat orang itu berjalan maju ke arahnya sambil membawa tombak panjang yang dia sampirkan di pundaknya.
Hampir seluruh wajahnya tertutup rapat oleh penutup kepala berbentuk tanduk berlapis emas bahkan kedua matanya tidak terlihat dari luar tetapi anehnya orang itu mampu berjalan seperti orang normal pada umumnya.
Terdengar desis dari arah orang tersebut saat dia berdiri tegak menghadap ke arah Arella.
Tidak ada suara sedikitpun yang keluar dari orang itu, dia diam dan hanya memandang lurus Arella dihadapannya.
"Siapa dia, Tihomir ?", tanya Arella.
Arella bertanya sambil melirik hati-hati pada Tihomir yang ada disebelahnya.
"Namanya Serban !", sahut Tihomir.
"Apa keahlian khusus yang dia miliki ?", tanya Arella.
"Kepekaan...", sahut Tihomir.
"Kepekaan !?", ucap Arella.
"Ya, benar, kepekaan pada apapun yang ada disekelilingnya bahkan dia mampu mengendus bau musuh yang dia incar dari jarak jauh tanpa melihatnya", kata Tihomir.
"Apa sehebat itu kemampuan yang memang dia punyai ?", tanya Arella.
"Kau bisa mengujinya sendiri kemampuan Serban", jawab Tihomir.
"Baiklah, aku akan melakukannya sesuai permintaan mu, Tihomir", ucap Arella.
"Kau yakin hal itu ?", kata Tihomir terkejut.
"Kenapa tidak !?", sahut Arella.
"Apa kau sungguh-sungguh ?", tanya Tihomir.
"Tentu saja, aku bersungguh-sungguh akan melakukannya, kenapa, Tihomir ?", tanya Arella balik.
"Aha... Ha... Ha... !? Baru aku sadari rupanya kau memang utusan yang tidak biasa, Arella...", sahut Tihomir gugup.
Arella hanya tersenyum tipis melihat reaksi Tihomir kemudian dia dengan cepatnya bergerak maju sembari mengayunkan tangannya ke arah depan.
Terlihat cahaya terang benderang bersinar dari kedua telapak tangannya yang terulur maju.
"Arella !", panggil Tihomir panik.
Namun, Arella tidak mendengar panggilan dari Tihomir kepadanya dan terus bergerak maju ke arah Serban.
Arella memutar telapak tangannya yang bercahaya terang beberapa kali putaran kemudian dia menyentakkannya ke arah Serban yang ada dibawahnya.
BLAR !!! BLAR !!! BLAR !!!
Cahaya terang melaju pesat ke arah Serban lalu memutari tubuh Serban yang tertutup rapat oleh Jirah berlapis emas.
Arella melompat tinggi di atas Serban sambil terus melayangkan serangan cahaya dari kedua telapak tangannya yang mengeluarkan sinar.
Serban terdiam tak bergerak meski gempuran serangan cahaya dari Arella terus mengenai tubuhnya bahkan untuk berpindah tempat ke tempat lain, dia juga tidak melakukannya dan hanya berdiri tegak ditempatnya.
Orang yang menyeramkan karena kemampuannya untuk bertahan sungguh luar biasa, membuat Arella cukup mengagumi sosok diri Serban.
__ADS_1
Arella bertambah kagum karena Serban tidak berniat samasekali untuk membalas serangan-serangan darinya meski serangan yang dilancarkan oleh Arella sangat berbahaya bagi keselamatan jiwa Serban saat ini.