Suami Ku Hantu

Suami Ku Hantu
Bab 68 Kunjungan Dimitri


__ADS_3

Lembah Ngarai...


Pemadangan lembah ngarai sangat tenang dengan lembahnya yang dipenuhi oleh tanaman hijau yang menambah asri tempat itu.


Awan putih berarak pelan di atas lembah ngarai yang terasa dingin.


Lambaian daun-daun dari bunga-bunga yang tumbuh di sekitar area lembah ngarai memberikan kesan bahwa lembah itu layak disebut surga dunia yang dilengkapi keindahan panoramanya.


Seorang pria tampan duduk bersandar di atas gazebo kuno sambil memegang secangkir minuman dengan pandangan ke arah lembah yanng ada di bawahnya.


Menikmati secangkir minuman secara penuh penghayatan.


"Langit mungkin terlihat biru serta menenangkan tetapi rahasia masihlah tersembunyi tanpa kita ketahui maknanya"


Seorang pria muncul di area gazebo dengan disertai hembusan angin disekeliling tubuhnya yang dibalut busana panjang warna merah tua.


"Kau rupanya...", ucap pria tampan itu saat menoleh ke arah datangnya pria asing di dalam gazebonya.


"Kenapa kamu tidak membalas syairku ?", kata pria asing.


"Dimitri, bukan saatnya menyusun kata syair sekarang", sahut pria tampan.


"Apa ada yang salah dengan syairku, Mazonn ?", tanya pria yang dipanggil Dimitri.


"Tidak ada yang salah dengan syairmu tapi saat ini Van Costel sedang membutuhkan bantuan kita, Dimitri", sahut Mazonn.


"Bantuan apa yang diinginkannya dari seorang cassanova seperti Van Costel IV !?", ucap Dimitri.


"Akan ada perang di Lembah Moldova...", jawab Mazonn.


"Perang !?", ucap Dimitri.


"Hmmm, iya...", sahut Mazonn.


"Tidak adakah acara lain yang menarik daripada sebuah arena perang ? Aku sangat bosan mendengar kata perang di setiap langkah perjalanan hidupku selama 9000 tahun ini", kata Dimitri.


"Kau tidak setua usiamu dibandingkan umur perjalanan hidupmu yang kekal, Dimitri", ucap Mazonn.


"Itu bukan kelakar yang lucu atau lelucon, bukan ?", kata Dimitri.


"Apa aku sedang bercanda ?", sahut Mazonn.


Mazonn menuangkan kembali minuman ke dalam cangkir dari arah teko keramik yang dia pegang.


"Apa kamu tahu jika Dalca II bekerjasama dengan ayah mertua Van Costel IV sekarang untuk menyerang hantu sialan itu ?", kata Mazonn.


"Berita yang menarik untuk disimak atau diikuti ceritanya tapi aku merasa enggan dengan nama siluman brengsek itu, apa dia tidak ada kegiatan lainnya selain mengganggu kehidupan Van Costel IV ?", ucap Dimitri.


"Bukankah mereka berdua adalah musuh bebuyutan yang tak terpisahkan sejak 20 tahun yang lalu", jawab Mazonn.


"Aku tidak tahu...", sahut Dimitri.


"Mungkin dendam lama masih tersisa di hati masing-masing tetapi mereka baru menyadarinya saat mereka bertemu", ucap Mazonn.


"Aku kira, Van Costel IV tidak akan pernah bertemu dengan si brengsek Dalca II karena aku yakin hantu itu tidak mungkin ingin menemuinya", kata Dimitri.


"Aku juga berpikiran sama denganmu dan aku rasa Van Costel IV sengaja menghindari Dalca II karena itulah si brengsek Dalca II berusaha mengejarnya", sahut Mazonn.


"Dia memang bodoh seharusnya Van Costel IV yang memburunya karena dia telah dihabisi dalam perang Patra", kata Dimitri.

__ADS_1


"Sebodohnya Dalca II tidak ada yang mengimbangi ketololannya karena aku yakin, dia hanya merasa penasaran dengan Van Costel IV saat ini", sahut Mazonn.


"Apakah siluman memang diciptakan tanpa akal pikiran ?", ucap Dimitri.


"Entahlah, karena aku tidak pernah membedah kepala siluman meski aku sering membunuh mereka setiap aku bertemu siluman", sahut Mazonn.


"Ini benar-benar berita yang menarik untuk terus diikuti perkembangannya tapi aku agak malas harus membuang energiku hanya untuk berperang", ucap Dimitri.


Dimitri lalu duduk sambil menyilangkan kakinya ke atas seraya menatap tajam Mazonn yang ada di hadapannya.


Diraihnya secangkir keramik dari atas tatakan lalu diulurkannya tangannya ke arah Mazonn.


"Bagi sedikit arak untukku, Mazonn !", ucap Dimitri.


Mazonn menolehkan pandangannya ke arah Dimitri seraya menatapnya heran.


"Apa hobi minum anggurmu telah berubah sekarang dan berganti dengan arak ?", kata Mazonn.


"Kau tidak ingin menawariku minuman, aku datang jauh-jauh karena surat panggilanmu yang kamu kirimkan lewat tiupan angin milikmu ke kediamanku, Mazonn !?", sahut Dimitri.


"Apakah pesanku tersampaikan dengan baik ?", tanya Mazonn. "Aku pikir surat itu tidak pernah sampai ke tempatmu, Dimitri", sambungnya.


"Kau tidak perlu mengujiku karena kedatanganku adalah bukti serta jawaban dari panggilan pesan yang kamu kirimkan, Mazonn", sahut Dimitri.


"Apa kau akan membantunya menghadapi Dalca II ?", tanya Mazonn.


Mazonn menuangkan minuman ke dalam cangkir milik Dimitri agar pria itu dapat segera meminum minumannya.


"Sebenarnya rasa persaudaraan diantara kita lebih besar dari rasa apapun karena jujur aku tidak ingin berperang melawan siapapun", sahut Dimitri.


"Apa karena kau dan Dalca II sama-sama berdarah siluman ?", tanya Mazonn.


"Lantas ?", ucap Mazonn.


Mazonn menyandarkan tubuhnya kembali ke tiang gazebo seraya meletakkan teko keramik ke atas bangku kayu yang ada di bawah kakinya.


"Aku tahu jika Van Costel IV tidak memerlukan bantuan kita sebenarnya karena kekuatannya setelah bangkit dari alam kematiannya telah mengubahnya menjadi sosok yang kuat tak terkalahkan", jawab Dimitri.


"Tapi dia meminta bantuan kepada kita untuk menghadapi Dalca II", kata Mazonn.


"Itu karena sekutu yang berpihak pada Dalca II adalah Laoshi", sahut Dimitri.


"Laoshi !? Siapa dia ?", tanya Mazonn.


Mazonn menatap Dimitri dengan sangat serius sedangkan Dimitri hanya duduk sambil mengamati cangkir minumannya.


"Laoshi adalah seorang guru besar dari lembah plum yang tersohor akan kehebatannya bahkan terdengar kabar perempuan itu tidak akan pernah menjadi tua meski usianya ratusan tahun", sahut Dimitri.


"Apa dia termasuk para klan bangsawan ?", ucap Mazonn penasaran.


"Bukan, dia hanyalah manusia biasa sama seperti Jia Li istri Van Costel IV...", sahut Dimitri.


"Bagaimana bisa dia hidup kekal sedangkan hanya para klan bangsawan yang dianugerahi hidup abadi !?", tanya Mazonn.


"Laoshi adalah seorang ahli spiritual api hijau yang memiliki kekuatan besar mengendalikan waktu yang membuatnya dapat hidup abadi dan selalu awet muda", jawab Dimitri.


"Kedengarannya sangat menarik", sahut Mazonn.


"Yah, benar, sangat menarik tapi sayangnya Laoshi memiliki ketamakan dalam dirinya yang bisa memungkinkan anugerah itu hilang darinya", lanjut Dimitri.

__ADS_1


"Ketamakan selalu membutakan hati nurani manusia meski dia tahu hal itu", kata Mazonn.


"Setiap perempuan yang lahir dan berasal dari lembah plum akan dianugerahi kemampuan spesial seperti anugerah wajah yang selalu tampak awet muda dari usianya", ucap Dimitri.


"Apa mereka juga setengah siluman ?", tanya Mazonn.


"Tidak, para penghuni lembah plum bukanlah siluman karena rata-rata penghuninya sebagian besar manusia atau bidadari", sahut Dimitri.


Dimitri langsung menenggak minumannya dengan cepat.


"Rupanya tidak diperlukan peti mati untuk saat ini", kata Mazonn.


"Peti mati tidak lagi berguna bagi penghuni lembah plum karena mereka ditakdirkan sebagai bidadari disana", sambung Dimitri.


"Aku yakin pengrajin kayu terutama peti mati akan kehilangan pekerjaannya di masa depan", sahut Mazonn.


Dimitri hanya melirik sekilas ke arah Mazonn sambil memutar cangkir keramik di tangannya.


Keduanya saling terdiam dan sama-sama tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.


"Apa rencanamu selanjutnya setelah mendengar kabar ini ?", tanya Dimitri.


"Aku tidak tahu karena itulah aku memanggilmu kemari untuk mendiskusikannya denganmu, Dimitri", sahut Mazonn.


"Apa yang harus kita diskusikan sekarang ?", tanya Dimitri.


"Rencana keberangkatan kita ke lembah Moldova dan perlukah kita memanggil yang lainnya untuk berkumpul bersama membahas masalah ini", jawab Mazonn.


"Aku yakin kalau Van Costel IV pasti sudah mengirim pesan untuk yang lainnya", ucap Dimitri.


Dimitri meletakkan cangkir keramik ditangannya ke atas meja yang terletak disampingnya.


Menatap kembali Mazonn dengan sorot mata tajam.


"Kau yakin itu jika Van Costel IV mengirimkan pesan kepada anggota kita yang lainnya", kata Mazonn.


"Haaahhh... !?", hela nafas Dimitri.


Dimitri mengusap rambutnya yang klimis dengan kedua tangannya yang mengenakan cincin bermata delima merah berwarna merah darah tampak bersinar kuat memancar membuat garis lembayung.


"Vasilica adalah sahabat dekat Van Costel IV sejak mereka kecil, aku yakin wanita kejam itu telah diberitahu oleh Van Costel mengenai perang yang akan terjadi di lembah Moldova daripada kita", terang Dimitri.


"Dimana dia sekarang ?", ucap Mazonn mengerutkan keningnya.


"Kabar terakhir yang aku dengar dari asisten kepercayaannya kalau wanita berhati dingin itu sedang mengunjungi sebuah makam kuno di Alaska", sahut Dimitri.


"Sejak kapan ada makam kuno di Alaska ? Apa ada perubahan lokasi makam bagi klan Vasilica disana ?", ucap Mazonn.


"Sebagian besar dataran Alaska milik klan bangsawan Vasilica yang merupakan Marquess besar yang menguasai tanah di berbagai negeri", kata Dimitri.


"Apa termasuk taklukan klan Vasilica tanah disana ?", sahut Mazonn.


"Aku tidak tahu benar akan kepastiannya tentang kabar itu, aku hanya mendengar bahwa klan Vasilica bukanlah sekedar Marquess biasa", ucap Dimitri.


"Termasuk Alexandra Vasilica sendiri merupakan Marchioness", kata Mazonn.


"Dia wanita dingin yang memiliki jabatan ganda sebagai seorang Marquess, Vacilica bukanlah Marchioness", sahut Dimitri.


"Hmmm..., aku tahu itu..., dan aku yakin salah satu anggota kita yang satu itu benar-benar bukan manusia", lanjut Mazonn.

__ADS_1


Dimitri hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Mazonn dan hanya duduk diam memandang lepas pemandangan di luar gazebo.


__ADS_2