
Dimitri melesat cepat mengikuti Mazonn yang bergerak di depannya, bagaikan angin yang bertiup kencang setiap gerakan keduanya seakan tengah berlomba.
Keduanya melompat tinggi ke atas ngarai yang berkelok lalu melewati tiap lembah curam.
Gerakan Dimitri tak sempurna seperti gerakan Mazonn saat mereka beradu terbang karena kekuatan spiritual milik Mazonn lebih tinggi daripada milik Dimitri meski mereka sama-sama kuat tak terkalahkan.
Dimitri melambungkan badannya tinggi melewati tebing sedangkan Mazonn melesat kilat mendahuluinya.
Mereka sampai di sebuah tempat yang mirip pasar tapi tidak ada orang satupun disana.
Pasar yang tampak sepi suasananya serta hanya dihiasi oleh temaram lampu hias tergantung di tiap-tiap sudut pasar.
Mazonn menginjakkan kakinya di tempat itu disusul oleh Dimitri dari arah belakangnya yang kemudian berjalan sejajar dengannya.
Tak tampak tanda kehidupan atau kegiatan di pasar yang cukup luas.
Angin bertiup pelan melewati area jalan pasar yang lenggang serta hanya diterangi cahaya lampu hias jalan.
Dimitri mengamati jalan disekelilingnya dengan raut wajah seriusnya sesekali menoleh ke arah kios-kios yang berjejer rapi sepanjang area jalan pasar.
Keanehan mulai dirasakan oleh Dimitri yang terus memperhatikan suasana pasar kemudian dia mulai penasaran.
"Mazonn...", ucap Dimitri.
"Iya, Dimitri", sahut Mazonn.
Mereka berjalan beriringan saat melewati area jalan-jalan pasar.
Mazonn hanya menjawab tanpa menoleh ke arah Dimitri dan terus melangkahkan kakinya sedangkan Dimitri terlihat sibuk mengamati area sekitar pasar.
"Ada yang aneh di pasar ini... Apakah kau menyadarinya, Mazonn ?", kata Dimitri.
Mazonn tidak menjawab dan tidak menghiraukan ucapan Dimitri, tetap berjalan dengan santainya.
Dimitri melihat lapak kios di sepanjang jalan yang memajang barang untuk dijual tetapi tidak ada satupun orang yang berjualan di kios-kios itu.
"Mazonn...", panggilnya kepada Mazonn yang ada di sebelahnya.
"Iya, Dimitri. Ada apa ?", sahut Mazonn.
"Tidakkah kamu melihat keanehan di pasar ini, Mazonn !?", kata Dimitri.
Dimitri menepuk pundak Mazonn yang melangkah disampingnya.
"Keanehan apa yang kau saksikan itu, Dimitri !? Karena aku tidak mengerti dengan maksud ucapanmu", sahut Mazonn.
Dimitri menoleh ke arah Mazonn yang tampak acuh dengan keadaan disekelilingnya tanpa memperdulikan sedikitpun arah tujuan mereka di tempat itu.
"Aku heran padamu, Mazonn", ucap Dimitri.
"Kenapa !?", kata Mazonn yang masih acuh tak acuh.
"Sepertinya kamu tidak memperhatikan ucapanku !", sahut Dimitri mulai kesal.
Mazonn menghentikan langkah kakinya lalu mengalihkan pandangannya seraya melihat ke arah Dimitri.
"Bisakah kau tidak terlalu memperdulikan area sekitarmu dan tetap fokus, Dimitri", kata Mazonn.
"Fokus !? Bagaimana bisa kau berbicara seperti itu padaku sedangkan situasi disini agak janggal ???", sahut Dimitri emosi.
"Apa aku harus menjelaskan setiap tempat yang kita datangi !?", kata Mazonn.
Mazonn menjawab dengan mengangkat kedua alisnya ke atas sambil memajukan kepalanya mendekat ke arah Dimitri yang berdiri di hadapannya.
Berdecak keras dengan raut wajah yang dia ubah cemberut.
"Seharusnya kau sudah mengerti jika setiap tempat di lembah ngarai ini semuanya aneh, Dimitri, sahabatku yang termulia !!!", jawab Mazonn.
"Sama anehnya dengan pemiliknya, seperti itu maksudmu ???", sahut Dimitri tak mau kalah.
Mazonn menganggukkan kepalanya cepat dengan kedua tangan berkacak pinggang.
__ADS_1
"Betul ! Betul sekali dengan jawabanmu !", kata Mazonn.
"Apa !?", ucap Dimitri tak mengerti.
"Kau tidak mengerti, Dimitri ???", lanjut Mazonn.
"Apa yang bisa aku mengerti ??? Kau sama sekali tidak menjelaskan apa-apa padaku ????", sahut Dimitri.
"Astaga !? Ayolah, Dimitri !!!", ucap Mazonn.
"Astaga apanya !?", sambung Dimitri.
"Jangan berpura-pura jika kau tidak mengerti !", sahut Mazonn.
"Untuk apa aku berpura-pura padamu ???", kata Dimitri. "Tidak ada menariknya sama sekali harus berpura-pura denganmu, Mazonn !?", sambungnya.
"Itulah dirimu !!!", kata Mazonn.
Mazonn berdiri dengan melebarkan kedua kakinya sedangkan kedua tangannya masih berkacak pinggang.
"Tidak dibenarkan bersikap pura-pura disini karena pantangan", lanjut Mazonn.
"Kau lagi-lagi menuduhku berpura-pura padamu, untuk apa aku bersikap seperti itu ???", kata Dimitri.
"Lihatlah dirimu ! Kau berusaha menutupinya, Dimitri !!!", sahut Mazonn.
"Aku !?", ucap Dimitri.
"Betul !", jawab Mazonn.
Dimitri yang mulai kesal mengalihkan pandangannya ke arah dirinya seraya memperhatikan setiap penampilannya secara detail.
Ditepuknya dadanya dengan keras karena Dimitri tidak melihat satu keanehan pada dirinya.
Merasa semuanya terlihat seperti biasanya, normal.
"Aku sangat normal !? Apa yang aneh dariku ???", kata Dimitri.
"Lantas ???", ucap Dimitri.
"Kau bertanya padaku apakah ada yang aneh disini lalu aku menjawab tidak ada yang aneh tapi kau tidak percaya padaku", kata Mazonn.
"Tapi benar... !?", ucap Dimitri.
"Apanya yang benar ???", lanjut Mazonn.
Mazonn mengibaskan tangannya lalu berdiri tegak dan melanjutkan kembali langkahnya.
"Disini memang aneh, Mazonn !", kata Dimitri.
Dimitri terlihat kebingungan dengan sikap Mazonn yang berlalu begitu saja pergi darinya tanpa memperdulikannya lagi.
"Mazonn !!!", panggil Dimitri.
"Apa !?", sahut Mazonn acuh.
"Tunggu aku ! Kenapa sekarang kau justru pergi tanpa mendengarkanku, Mazonn ???", kata Dimitri.
"Apa yang perlu aku jelaskan lagi ???", sahut Mazonn.
Mazonn terus melangkah melanjutkan perjalanannya di area pasar sedangkan Dimitri terlihat berlarian mengikutinya dari arah belakangnya.
"Kau benar-benar tidak melihat kejanggalan di tempat ini, Mazonn", kata Dimitri.
"Tidak, aku tidak melihat apa-apa, Dimitri", sahut Mazonn.
Mazonn menjawab sambil menggelengkan kepalanya.
"Tuhanku... !", kata Dimitri.
"Baru saja kau bertanya apakah Tuhan itu ada dan sekarang kau menyebut-Nya pada saat melihat keanehan, Dimitri", sahut Mazonn.
__ADS_1
Dimitri langsung menarik tangan Mazonn saat mereka berjalan melanjutkan kembali misi mereka. Dan Mazonn tersentak kaget saat mengetahuinya.
"Ada apa lagi, Dimitri ???", kata Mazonn.
"Cobalah kau lihat, Mazonn !", sahut Dimitri.
"Apa yang perlu aku lihat lagi ???", ucap Mazonn.
"Cobalah lihat !!!", jawab Dimitri.
Dimitri menarik paksa Mazonn agar dia menuruti keinginan Dimitri untuk melihat ke arah lapak-lapak kios yang menggelar barang dagangan mereka.
Ujung jari Dimitri tampak gemetaran ketika dia menunjuk ke arah lapak kios.
"Lihatlah... !?", ucap Dimitri.
"Apa !?", sahut Mazonn.
"Lapak kios itu sedang bertransaksi tapi tidak ada satupun orang yang berada disana !", kata Dimitri panik.
"Maksudmu ???", kata Mazonn.
"Kau tidak lihat ?", ucap Dimitri.
"Apa yang harus aku lihat ?", sahut Mazonn.
"Di lapak kios itu, tak satupun orang terlihat nyata tapi terjadi sebuah transaksi jual-beli barang di lapak itu ! Dan lihatlah barang-barang disana saling melayang lalu menghilang !", terang Dimitri pada sahabatnya.
"Normal ???", kata Mazonn.
"Normal !? Katamu itu normal !?", ucap Dimitri.
Raut wajah Dimitri terlihat keheranan ketika Mazonn berkata santai tentang keanehan yang terjadi di lapak kios pasar.
Tidak ada kekhawatiran pada nada suara Mazonn saat dia mengatakan semua ucapannya.
"Sudahlah, tidak usah terlalu diambil pusing, Dimitri ! Kita lanjutkan saja perjalanan kita mencari mereka", kata Mazonn.
Sebelum Mazonn membalik badannya tiba-tiba sesosok pria berjalan melewati mereka tanpa memperdulikan kehadiran mereka.
Seakan-akan keberadaan Mazonn dan Dimitri tidak ada disana.
Dimitri langsung menoleh ke arah sosok pria yang melewati mereka dengan melihatnya penuh rasa heran.
"Bagaimana bisa dia tidak memperdulikan kami ?", ucap Dimitri.
Dimitri kembali melihat Mazonn yang berdiri membelakanginya lalu dia berkata pada sahabatnya.
"Hai, Mazonn ! Coba kau lihat pria tadi ! Dia sama sekali tidak menghormatimu, bukankah dia adalah penghuni lembah ngarai ini ???", kata Dimitri.
"Siapa ?", sahut Mazonn.
"Kau masih bertanya siapa ? Apa kau benar-benar tidak melihat apapun disini ???", kata Dimitri.
"Tidak...", jawab Mazonn sekenanya.
"Tidak katamu !? Astaga..., Mazonn... !?", ucap Dimitri.
"Memang aku tidak melihat apa-apa disini lalu apa pentingnya mempermasalahkannya, bukankah tidak ada yang mengganggumu ?", sahut Mazonn.
Mazonn menjawab sambil mengangkat kedua bahunya ke atas seperti acuh pada ucapan Dimitri.
"Kau benar-benar mengesalkan !", kata Dimitri.
Dimitri langsung memukul bahu Mazonn dan berlalu pergi darinya.
Giliran Mazonn yang terlihat kebingungan saat melihat ke arah Dimitri yang melewatinya tanpa bicara lagi.
"Dimitri !", panggil Mazonn.
Dimitri tidak mendengarkan panggilan Mazonn dan terus melangkahkan kakinya sedangkan Mazonn tampak berdiri kebingungan dengan sikap sahabat karibnya yang berganti mengacuhkannya.
__ADS_1