Suami Ku Hantu

Suami Ku Hantu
Bab 65 Jembatan Dosa


__ADS_3

Van Costel IV bergerak cepat mengikuti arah gerakan Heng yang berubah menjadi sosok hantu.


Ke arah kiri dari jalan Hutan Hoia Baciu yang gelap serta suram.


Heng membawa Van Costel IV memasuki hutan terlarang serta terangker di Rumania semakin dalam.


Melesat cepat tanpa menghiraukan keadaan sekeliling hutan terangker yang mereka masuki.


Pohon-pohon berbentuk aneh serta melengkung seolah-olah hidup tampak bergumam pelan dan berbisik kepada mereka.


Bisikan pelan dari arah pepohonan di dalam hutan yang terdengar seperti suara orang yang sedang berbicara sangat mempengaruhi suasana di dalam Hutan Hoia Baciu. Bertambah semakin menyeramkan serta menakutkan.


Tidak banyak cerita dari orang Rumania akan Hutan Hoia Baciu karena keangkerannya yang mengatakan bahwa siapa yang masuk ke dalam hutan ini maka dia tidak akan pernah dapat keluar lagi dari hutan terangker ini.


Kisah-kisah yang diceritakan santer terdengar bahwa sebagian penghuni Hutan Hoia Baciu adalah makhluk ghaib serta siluman bahkan konon merupakan tempat tinggal dan menetapnya drakula, sang penyula.


Ada yang mengatakan bahwa Hutan Hoia Baciu merupakan gerbang pintu masuk dan keluarnya para makhluk ghaib serta siluman dari dimensi ruang lainnya atau alam dunia ghaib ke dunia manusia.


Tidak ada yang benar-benar tahu dimana portal waktu dari dunia lain itu berada tepatnya di dalam Hutan Hoia Baciu.


Keadaan di dalam hutan angker semuanya sangatlah mirip dan tidak dapat dibedakan, baik itu mulai bentuk jalannya sampai bentuk pohonnya yang semuanya sangat mirip, bahkan benar jika jalan di Hutan Hoia Baciu merupakan jalan tersesat yang paling menyesatkan bagi setiap orang yang memasuki area hutan terlarang dan terangker di Rumania.


Alasan itulah yang menyebabkan Hutan Hoia Baciu terlarang kerena jalannya yang menyesatkan.


Heng terus memasuki ke dalam Hutan Hoia Baciu yang sangat gelap.


Aura dingin terpancar kuat dari arah hutan ketika mereka masuk lebih dalam ke area hutan.


Langit di atas Hutan Hoia Baciu terlihat mendung serta menghitam seluruhnya menutupi permukaan langit-langit di hutan meski hari masih pagi.


Heng mengajak Van Costel IV terus melesat kilat ke dalam area Hutan Hoia Baciu yang ada di depan mereka.


Gelegar petir dari arah atas langit yang menghitam di Hutan Hoia Baciu terdengar keras, tidak ada hujan karena bulan ini adalah awal musim dingin maka tidak akan ada petir dari langit jika hujan tidak turun.


Keanehan lainnya yang terjadi di dalam Hutan Hoia Baciu adalah meski saat ini musim dingin melanda Rumania tetapi keadaan di hutan tidak berubah sama sekali tetap sama seperti saat musim panas.


Tidak ada tumpukan salju maupun jejak air es yang turun dari atas langit ke atas permukaan tanah di Hutan Hoia Baciu.


Van Costel IV terus menggerakkan tubuhnya dengan cepat saat dia masuk lebih dalam ke area Hutan Hoia Baciu seraya memperhatikan suasana di dalam hutan yang sangat terasa aneh serta mencekam.


Tiba-tiba gerakan Heng langsung terhenti serta terkejut ketika dia melihat di depannya sebuah jembatan panjang dari akar-akar kayu di bawah aliran sungai yang deras.


Heng berdiri terdiam dengan tatapan keheranan saat dia melihat sebuah jembatan di dalam Hutan Hoia Baciu.


Sebelumnya tidak pernah ada jembatan panjang karena selama Heng telah menjadi penghuni hutan terangker ini, tidak pernah dia melihat jembatan itu.


"Ada apa ?", tanya Van Costel IV.


Hantu tampan itu turut menghentikan gerakan tubuhnya lalu berdiri tegak disebelah Heng yang menatap bingung ke arah jembatan di depan mereka.


"Saya tidak melihat sebelumnya, jembatan panjang ini karena saat aku terakhir menuju ke Istana Oranye, tidak ada jembatan sama sekali di lokasi ini", ucap Heng.


''Mungkinkah ini jebakan ?", kata Van Costel IV.


"Saya tidak tahu apakah ini adalah jebakan tapi selama saya menjadi penghuni Hutan Hoia Baciu ini, saya tidak pernah melihat jembatan ini'', sahut Heng.


''Jembatan apakah ini ?'', gumam Van Costel IV.

__ADS_1


Van Costel IV menatap tajam ke arah jembatan panjang dihadapannya lalu memperhatikan keadaan sekitarnya dengan teliti.


Jembatan panjang bergoyang cepat hingga membuat seluruh tanah disekitarnya turut bergerak keras.


Terlihat retak-retak panjang di permukaan tanah yang mengarah ke Van Costel IV yang berdiri di tepi jembatan.


''Hati-hati, tuan Van Costel !'', ucap Heng.


Heng memperingatkan Van Costel IV untuk waspada terhadap retakan-retakan tanah yang merambat ke arah mereka dengan sangat cepat.


Hantu Van Costel IV melangkah mundur dari jangkauan retakan-retakan patah yang mengarah cepat ke arahnya.


Pada saat ujung retakan tanah hampir menyentuh kedua kaki Van Costel IV mendadak retakan-retakan yang merambat di atas permukaan tanah berhenti tepat di kedua kaki hantu tampan itu.


Van Costel langsung terdiam sesaat ketika melihat keanehan yang baru saja terjadi di sekitar jembatan.


Tiba-tiba muncul seorang perempuan berwajah sangat cantik menyerupai bidadari yang sedang berayun-ayun di atas jembatan.


Heng langsung berteriak keras saat melihat perempuan di atas jembatan tengah tersenyum ke arah mereka.


Perempuan cantik dengan gaun tipis dan hampir terbuka bagian tubuhnya tengah duduk seraya mengayun-ayunkan kedua kakinya di atas jembatan.


''Hai...'', sapa perempuan cantik.


Van Costel IV terdiam, hanya menatap dingin ke arah perempuan cantik di atas jembatan.


Beda dengan Heng yang langsung merespon sapaan dari perempuan cantik yang mendadak muncul di atas jembatan panjang dihadapannya.


''Siapa kamu wahai bidadari ?'', tanya Heng.


Van Costel IV langsung mengalihkan pandangannya ke arah Heng yang bertanya sesuatu yang aneh kepada perempuan asing di atas jembatan.


''Siluman !? Benarkah !?'', ucap Heng tersentak kaget.


''Apa kamu berpikir bahwa dia benar-benar bidadari langit yang turun ke dalam Hutan Hoia Baciu ?'', sahut Van Costel IV heran.


''Tapi perempuan itu sangat cantik sekali, bahkan siluman tidak mungkin berpenampilan secantik dan menggoda seperti itu, tuan ?'', jawab Heng.


''Atau memang benar yang dikatakan bahwa kedua orang kepercayaan Kwee Lan memang agak lambat dalam berpikir !?'', kata Van Costel IV.


''Saya tidak selambat atau sebodoh itu, tuan... Dan saya cukup cerdas dalam menilai perempuan secantik itu !'', sahut Heng.


''Baiklah, terserah padamu saja, aku hanya menurut dengan ucapanmu'', kata hantu tampan itu.


''Tapi apa benar dia memang siluman, tuan ?'', bisik Heng ke telinga Van Costel IV.


''Lihat saja kedua kakinya tidak menjejakkan ke tanah artinya dia bukan manusia ataupun bidadari langit !'', jawab Van Costel IV berbisik.


''Astaga !?? Ini masalah besar sekarang, tuan !???'', kata Heng mulai cemas.


Keduanya langsung terdiam seraya memandang lurus ke arah jembatan panjang di depan mereka.


Perempuan cantik itu lalu berkata kembali kepada Heng dan Van Costel IV.


''Apa keperluan kalian datang kemari ?'', tanya perempuan cantik diatas jembatan.


Heng melirik ke arah Van Costel IV lalu bertanya kembali kepada hantu tampan disebelahnya.

__ADS_1


''Apa perlu kita ladeni dia, tuan ?'', tanya Heng kepada Van Costel IV.


''Ladeni !?'', sahut Van Costel IV dengan kedua alis terangkat ke atas. ''Maksudmu ? Meladeni bagaimana ? Aku tidak mengerti !?'', sambungnya bingung.


''Yah, kita ladeni pertanyaan-pertanyaannya dengan menjawabnya, tuan'', sahut Heng.


''Terserah padamu saja, Heng'', kata Van Costel IV.


''Baiklah jika demikian maka saya akan meladeninya...'', ucap Heng.


Heng melangkah maju ke arah depan sembari melayang ke pinggir tepi jembatan panjang di depannya. Sedangkan Van Costel IV hanya berdiri diam dengan memperhatikan dari arah belakang.


''Siapa namamu cantik ?'', tanya Heng.


''Violet, namaku Violet, tuan'', sahut perempuan di atas jembatan.


''Darimana kau berasal, Violet ?'', tanya Heng.


''Disini asalku berada, tuan'', jawab Violet.


''Di jembatan itu ?'', tanya Heng tersentak kaget.


''Benar, aku berasal dari jembatan panjang ini, tuan...'', sahut Violet dengan senyuman manisnya.


''WOW !? Hebat !?'', kata Heng terheran-heran.


Heng lalu tertawa mendengar penjelasan dari Violet tentang perempuan cantik itu berasal.


''Kenapa kamu tertawa ? Adakah yang lucu dari perkataanku, tuan ?'', tanya Violet.


Perempuan cantik bernama Violet yang berada di atas jembatan menatap tajam ke arah Heng dengan ekspresi kesal karena Heng menertawakan dirinya.


''Tidak ada yang lucu, hanya aku heran saja, ada perempuan secantik dirimu tinggal serta berasal dari jembatan, nona'', sahut Heng.


Heng berdiri sambil mengusap kedua sudut matanya yang berair lalu menoleh kembali ke arah Violet.


''Bagaimana kamu bisa tinggal di sebuah jembatan itu ?'', kata Heng.


Violet memalingkan wajahnya ke arah lain kemudian menyahut pertanyaan dari Heng kepadanya.


''Aku berasal dari jembatan ini karena asalku yang tercipta di jembatan ini, tuan'', sahut Violet.


''Apakah jembatan itu sangat berarti buatmu, nona Violet ?'', tanya Heng.


''Tidak, aku sebenarnya tidak menyukai tempat asalku ini karena langit sengaja mengutukku akibat kesalahanku di masa lalu, tuan'', sahut Violet.


''Kesalahanmu ?'', kata Heng semakin penasaran. ''Memang kesalahan apa yang telah kamu perbuat ?'', sambungnya.


''Kesalahan yang sulit dimaafkan...'', jawab Violet.


''Jembatan apakah itu sebenarnya ? Dan kenapa kamu tidak pergi saja dari jembatan panjang itu, nona ?'', kata Heng.


Violet hanya melemparkan senyuman manisnya kepada Heng kemudian dia menjawab pertanyaan dari Heng kepadanya.


''Kau ingin tahu jembatan apakah ini ?'', ucap Violet.


''Yah, katakanlah, nona !'', sahut Heng.

__ADS_1


''JEMBATAN DOSA !'', jawab Violet dengan wajah serius.


__ADS_2