
Cahaya memancar luas ke seluruh arena pertempuran di istana oranye hingga menyilaukan kedua mata.
Aliran energi kuat keluar dari senjata-senjata tempur yang ada di area pertempuran antara pihak pembunuh suruhan Dalca II dengan pihak Van Costel IV yang saling beradu sengit.
Beberapa tingkatan level dikerahkan saat kedua belah pihak saling mengalahkan.
Kilatan-kilatan cahaya terang membias hingga keluar area pertempuran, memancarkan hawa panas yang membakar hingga melepuhkan sebagian benda yang ada di sekitar area pertempuran.
Kedahsyatan pedang Yunlong mampu mencuri perhatian karena dua pedang sakti itu memancarkan aura kuat yang sangat mematikan.
Keempat orang pembunuh suruhan Dalca II terlihat kewalahan menahan gempuran hawa panas dari Yunlong Jian yang mulai mengikis pertahanan tempur mereka.
"Aura apa ini ?", ucap salah satu pembunuh suruhan Dalca II.
"Panas sekali ! Melebihi panas api dari tungku pembakaran !!!", sahut yang lainnya.
"Aku tidak tahan lagi !", ucap wanita berparas jelita dari pembunuh suruhan tersebut.
"Bertahanlah !", sahut pria yang menjadi lawan tempur Van Costel IV tadi.
"Tapi kami tidak tahan dengan panas ini ! Bisa-bisa kita mati terbunuh sebelum kita melawannya !", ucap seorang bercadar tipis.
"Benar ! Hawa ini bukan hawa biasa ! Kita tidak mampu mengalahkannya !?", sahut wanita dari pembunuh suruhan itu panik.
"Kita bangun perlindungan !", ucap pria berwajah tampan.
"Maksudmu perisai pelindung !?", kata yang lainnya.
"Benar, kita tidak mungkin menahan hawa panas ini karena akan meremukkan kekuatan spiritual dalam tubuh kita", sahut orang bercadar tipis.
"Karena itu kita bangun pertahanan pada masing-masing tubuh kita !", ucap pria tampan dari pembunuh suruhan Dalca II.
"Artinya kita terpaksa menaikkan level tempur kita karena membangun perisai pelindung mengharuskan kita menaikkan level kekuatan kita", sahut orang bercadar tipis.
"Mau apa lagi !? Hanya itu satu-satunya cara kita agar selamat dari pertempuran mematikan ini !", sahut pria tampan.
"Gawat ! Ini artinya kita akan menguras banyak energi karena membangun perisai pelindung membutuhkan tenaga ekstra sedangkan kita masih harus mengalahkan Van Costel IV sesuai perintah tuan Dalca II !?", kata yang lainnya yang mengenakan caping baja di kepalanya.
"Terpaksa kita lakukan itu, teman-teman", sahut pria tampan.
"Jangan banyak berdebat lagi ! Kita segera bangun perisai pelindung pada tubuh kita sebelum hawa panas dari pedang itu menghancurkan tubuh kita semua", ucap seorang wanita yang memegang busur panah.
"Baiklah ! Mari kita lakukan secara bersama-sama !", sahut orang bercadar tipis.
Keempat pembunuh suruhan Dalca II serempak menganggukkan kepala mereka.
Mereka kemudian berusaha membangun pertahanan kuat disekitar mereka dengan membuat perisai pelindung pada tubuh mereka masing-masing.
Meski mengharuskan mereka berempat terpaksa mengeluarkan banyak energi serta menguras sebagian kekuatan mereka untuk membangun sebuah perisai pelindung bagi mereka.
__ADS_1
Setiap empat orang dari pembunuh suruhan Dalca II membangun perisai pelindung yang berbeda-beda.
Dua orang dari pembunuh suruhan Dalca II membuat perisai pelindung berupa jubah yang terbuat dari baja berbentuk jarum dimana tiap masing-masing bulatan pada jarum mengeluarkan aliran listrik yang sangat kuat hingga membentuk perisai listrik yang melindungi tubuh mereka dari hawa panas yang menyengat milik Yunlong Jian.
Seluruh tubuh mereka tertutup oleh jubah mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala mereka sedangkan kedua rekan lainnya membangun perisai pelindung dengan sebuah lingkaran cahaya berwarna ungu serta oranye pada tubuh mereka agar sengatan hawa panas dari Yunlong Jian tidak menembus tubuh mereka berempat.
Van Costel IV yang merasakan kedahsyatan pedang Yunlong terhenyak kaget saat melihat hawa yang dipancarkan oleh kedua pedang sakti itu mampu melumatkan serangan lawan.
Sejumlah serangan yang keluar dari senjata lawan hampir seluruhnya hancur lebur saat terkena bias hawa panas yang memancar dari Yunlong Jian sebelum menyentuh dirinya dan Mazonn.
Tanpa melakukan gerakan lebih, kedua pedang Yunlong telah mampu melumatkan seluruh peluru serta anak panah yang berasal dari senjata musuh.
Nyaris tanpa suara yang memekakkan telinga saat kedua pedang Yunlong menyelesaikan pertempuran.
Kedua pedang Yunlong berputar-putar kencang di tengah-tengah arena pertempuran di dalam istana oranye.
Putaran dari Yunlong Jian yang memancarkan hawa panas yang mematikan membentuk lingkaran-lingkaran cahaya terang yang mengalirkan aura aneh hingga suasana di istana oranye langsung berubah menakutkan.
Istana Oranye yang tadinya indah dengan hiasan-hiasan ornamen cantik sekarang berubah total mencekam dan terlihat suram karena adanya hawa panas dari pedang sakti Yunlong.
"Luar biasa kedahsyatan dari pedang Yunlong ini, Mazonn", ucap Van Costel IV.
"Aku juga baru pertama kalinya menyaksikan kehebatan dari kedua Yunlong Jian ini", sahut Mazonn.
"Tidak sia-sia, kamu mendapatkannya, Mazonn", ucap Van Costel IV.
"Sebuah pujian berharga untukku, terimakasih", sahut Mazonn.
"Tapi tidak sehebat dari pedang milikmu, Van Costel", sahut Mazonn merendah.
"Tidak, ini berbeda, Mazonn", ucap Van Costel IV.
"Aku ucapkan terimakasih atas pujian yang telah kau berikan, membuatku tersanjung dan lebih terhormat dari sebelumnya", sahut Mazonn.
Mazonn segera melakukan gerakan setengah membungkuk dengan mengarahkan salah satu tangannya ke depan dada saat Van Costel IV berbicara padanya.
Kedua pria yang sama-sama berparas tampan itu berdiri di dalam perisai pelindung yang mereka bangun masing-masing disekitar tubuh mereka ketika hawa panas dari Yunlong Jian memancar dahsyat.
Van Costel IV juga melihat keempat pembunuh suruhan Dalca II yang membangun perisai pelindung pada masing-masing tubuh mereka.
Hampir menyerupai sebagian dari pembunuh suruhan Dalca II mirip kesatria berjubah baja tempur sedangkan yang lainnya tenggelam dalam lautan perisai pelindung yang bermandikan cahaya terang.
"Mereka membuat pertahanan yang lebih kuat dari sebelumnya", ucap Van Costel IV.
"Benar sekali Van Costel, itu menandakan mereka tidak mampu menahan gempuran hawa panas yang keluar dari pedang Yunlong", sahut Mazonn.
"Hawa panas yang sangat mematikan tentu saja membuat kita semua merasakan setidaknya siksaan hebat", ucap Van Costel IV.
"Bukankah pertempuran selayaknya memang seperti itu wujudnya", kata Mazonn.
__ADS_1
"Kita sendiri juga tidak mampu menahan hawa panas dari Yunlong Jian karena akan melumatkan seluruh tubuh kita menjadi abu, Mazonn", sahut Van Costel IV.
"Ini masih pertempuran kecil belum perang besar yang akan terjadi nanti, Van Costel", ucap Mazonn.
"Mampukah kita memenangkan perang besar nanti setelah Dalca II memenangkan perang Patra sebelumnya", kata Van Costel IV.
"Sekarang situasinya berbeda karena kau lebih kuat dari sebelumnya, Van Costel", ucap Mazonn.
"Dengan wujud hantuku kemungkinan aku akan lebih hebat dari perang Patra sebelumnya karena melawan Dalca II yang siluman, kita terpaksa berubah seperti dia", sahut Van Costel IV.
"Apakah kau menyesalinya, Van Costel ?", tanya Mazonn.
"Menyesalinya !? Maksudmu, aku menyesal telah berubah menjadi sosok hantu ?", kata Van Costel IV.
"Entahlah, mungkin saja karena aku tidak tahu apa yang kau rasakan saat ini setelah kebangkitanmu dari alam kematian, Van Costel...", sahut Mazonn.
Van Costel IV tersenyum samar dengan pandangan setengah tertunduk tapi raut wajahnya tidak menunjukkan kesedihan melainkan kebahagiaan.
"Rupanya kau sangat bahagia dengan keaadaan mu yang sekarang ini dibanding sebelum peristiwa kelam terjadi pada perang Patra", lanjut Mazonn.
"Mungkin saja...", sahut Van Costel IV.
"Apa karena kehadiran Jia Li dalam hidupmu yang mengubahmu menjadi sangat bahagia meski kau hidup dalam wujudmu yang hantu ini, Van Costel IV ?", kata Mazonn.
"Apa kau melihatnya demikian ?", ucap Van Costel IV.
"Sejujurnya dari lubuk hatiku bahwa perubahanmu lebih tenang setelah kau berubah menjadi hantu daripada sebelumnya saat kau masih berwujud manusia, Van Costel", sahut Mazonn.
"Setidaknya ada yang bertanya padaku", ucap Van Costel IV.
"Kau senang ?", kata Mazonn.
"Tentu saja, aku sangat senang, Mazonn", sahut Van Costel IV.
"Syukurlah..., jika kau merasa senang dan bahagia, Van Costel...", kata Mazonn.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang ? Bukankah bagian disini telah ditangani oleh Yunlong Jian !?", ucap Van Costel IV.
"Kita pergi saja menyusul Antolin Lucian, sedari tadi aku belum melihatnya", sahut Mazonn.
"Dia ada di sebelah sana, tak jauh dari tempat kita sekarang", ucap Van Costel IV.
"Apakah kau melihatnya dari penglihatan spiritualmu ?", kata Mazonn.
"Iya, benar, Mazonn", sahut Van Costel IV.
"Mari kita segera menyusul Antolin Lucian kesana !", kata Mazonn. "Tapi, tunggu, kemana si Dimitri itu ? Kenapa aku juga tidak melihatnya disini ???", sambungnya heran.
"Siapa ? Dimitri ?", kata Van Costel IV.
__ADS_1
Mazonn hanya menganggukkan kepalanya sembari memperhatikan arah sekitarnya dengan seksama.