SUAMIKU BOCAH

SUAMIKU BOCAH
CELANA DALAM


__ADS_3

"Mbaaaak! Celana dalamku di mana?" teriaknya dari dalam kamar. Dasar bocil! Dengan langkah lesu aku ke kamar. Sampai di ambang pintu kamar, langkahku terhenti, mata ini membelalak tak percaya.


"Astagaaaaa, bociiiiiil! Apa yang kamu lakukan?!"


"Nyari CD, Mbak," jawabnya enteng sambil terus mengobrak-abrik tumpukan baju yang semula terlipat rapi di dalam lemari. Kini sebagian besarnya menghambur di lantai dan di atas kasur. Aku menghela napas panjang, badanku merosot dan terduduk di lantai. Lemas. Duduk berselonjor kaki di ambang pintu, menatap lesu ke arah pakaian yang berserak.


"Lah, kok malah selonjoran di situ to, Mbak? Sini bantuin nyari sempaknya, dong! Katamu aku harus nyari kerja. Ntar kesiangan loh, akunya."


Rasanya pengen nangis guling-guling di lantai melihat penampakan menyesakkan dada itu. Hufh, rasanya pengen balikin aja itu si bocil ke tempat asalnya.


"Kan udah kubilang kalo mau ambil baju atau celana itu gak gitu caranya. Kenapa gitu lagi dan lagiiii, bociiiiiil!"


Dia nyengir, mantengin kamar yang sudah bak kapal pecah. Garuk kepalanya, yang aku yakin gak gatal.


"Hehehe, maap, lupa," katanya sambil cengengesan.


"Pokoknya gak mau tau ya, beresin semua pakaian itu. Kembalikan ke tempat semula!"


"Asyiap, Mbak!" balasnya sambil hormat. Aku berdiri, siap kembali ke dapur.


"Eh, Mbak, tunggu dulu!"


Aku berbalik menghadapnya lagi, urung mengayunkan langkah. "Ada apa lagiiii?"


"****** ******** mana?"

__ADS_1


Aku tepuk jidat. "Auk! Dimakan curut kalik!"


"Mbak!"


Lagi, aku berbalik dan mengurungkan langkahku menuju dapur. Mendelik ke arahnya sambil berkacak pinggang. Rasanya ubun-ubunku sudah siap meledak karena kebawelannya.


"Ada apa lagi?!"


"Ini bau apa, ya? Kayak ada bau gosong gitu gak sih, Mbak." Dia mengendus-endus. Aku juga.


"Astagaaaa!" seruku lantas berlari ke dapur.


*****


"Memangnya sudah kamu bereskan pakaiannya tadi?" tanyaku saat si bocil menarik kursi siap untuk sarapan.


"Ini telur dadar apa, Mbak?"


"Telur dadar afrika!" sungutku. Lantas menaruh semua telur dadar gosong itu ke piringnya. Dia terdiam menatap telur itu dengan tatapan prihatin.


"Ini ... buat aku, Mbak?"


Aku bersedekap. "Iya. Harus habis!"


"Kalau gak habis, gimana?"

__ADS_1


Aku membentuk gunting dengan jari telunjuk dan jari tengah.


"Duh, jangan Mbak, masih masa pertumbuhan udah mau dipangkas lagi aja," gumamnya.


"Mbak, suap-suapan, yuk!" ajaknya.


"Males!" Gegas kulahap telur dadarku yang tidak gosong. Minum, lalu menjulurkan lidah ke arahnya. Dia menelan ludah. Nyengir menikmati telur afrikanya, yang mungkin ada pait-paitnya.


"Mbak!"


"Apa lagiiii?!"


"Jangan ke mana-mana dulu!" larangnya.


"Kenapa?"


"Biar aku makannya bisa sambil menatap wajahmu yang ada manis-manisnya itu, Mbak. Biar rasa pahit pada telur ini sedikit berkurang." Aku melengos, mencuci piring, serta mencuci peralatan masak yang tadi kugunakan. Bocil masih kesusahan menghabiskan sarapannya. Aku ke kamar, memeriksa apakah benar pakaiannya sudah rapi. Ternyata ....


"Bociiiiil!" geramku saat mendapati dia menaruh pakaian ke dalam lemari secara asal.


"Mbak, aku berangkat cari kerja dulu, ya. Byeeee!" teriaknya sambil berlari keluar rumah, cari aman.


"Bociiiiil! Awas kamu, ya!"


☺️☺️☺️☺️

__ADS_1


🙏🙏🙏🙏


Selamat membaca buat semuanya. Semoga suka, dan salam kenal.


__ADS_2