SUAMIKU BOCAH

SUAMIKU BOCAH
Tak Terkendali


__ADS_3

Dia menghentikan mobilnya. Terkekeh melihatku menangis sesenggukan. Mengambil tisu dan menyodorkannya padaku.


"Hapus tuh, air mata. Kayak diapain aja sampek nangis segala! Kamu ketularan kekanakan tau nggak sih, sejak nikah sama bocah ingusan itu," cibirnya.


"Stop panggil suamiku seperti itu!" sentakku.


"Kenyataannya begitu," sahutnya angkuh. Dia lantas turun dan membukakan pintu mobil menyuruhku turun.


Setelah turun mataku memonitor sekeliling. "Kita ngapain ke sini?"


"Udah, ayok ikut!" ajaknya sambil menarik lengan ini.


"Bisa gak, gak usah narik-narik!" Dia langsung melepaskan cengkeramannya. Aku coba mengekorinya. Kami memasuki sebuah restoran terapung yang ada di pinggir pantai. Dulu, tempat ini adalah tempat favorit kami berdua.


"Kamu ngapain ngajak aku ke sini?"


"Mau makanlah, di restoran emangnya mau ngapain lagi?" ketusnya.


"Makan aja kenapa mesti sejauh ini, sih? Di dekat kantor kan, bisa?!"


"Udah, nurut aja sama Boss!" Ck, selalu saja bawa-bawa pangkat. Dia mengajakku masuk ke ruangan VVIP.


"Duduk!" titahnya sambil menekan kedua sisi bahu ini. Aku duduk dan langsung menghadap ke laut biru. Ada banyak kapal hilir mudik di depan sana. Suasana yang aku suka. Andai saja di sini bareng Bocil, pasti seru.


"Kenapa senyum-senyum? Inget masa lalu kita dulu, ya?"


"Hah?! Enggak! Apaan sih, kamu Za."


"Halah, ngaku aja kamu! Masih inget kan, saat-saat manis kita di sini?"


Aku menggeleng masa bodoh. Lantas menikmati makanan yang sudah tersaji di hadapan. Menghargai makanan dan traktirannya semata. Gak lebih.


"Ada makanan yang blepotan," kata Eza siap mengelap sudut bibir ini pakai tisu. Gegas kurebut tisu dari tangannya.


"Aku bisa sendiri!" ketusku.


Kapan-kapan ajak Bocil ke sini, seru kali ya? Makan romantis di sini. Main air dan pasir di pantai. Naik boat berdua.


"Tuh, kan, kamu senyum-senyum lagi, Sa. Pasti inget pas kita dinner romantis malam dulu itu, 'kan? Emang itu tujuanku ngajak kamu makan di sini. Biar inget masa-masa manis kita berdua. Jadi, gimana? Udah mau mempertimbangkan tawaranku belum?"


"Tawaran yang mana, ya?"


"Tawaran buat balikan sama aku?"


Aku terbahak. "Bangun! Jangan mimpi kamu, Za! Aku gak akan pernah mau balikan sama kamu. Aku sekarang udah punya suami. Aku udah kenyang. Mau balik ke kantor. Terserah kalau kamu masih mau di sini berhalu ria!"

__ADS_1


Kutinggalkan dia yang masih duduk mengepalkan tangan. Kurasa dia marah. Biarlah! Biar dia tahu seberapa pun besar usahanya buat meluluhkan hatiku, itu tidak akan pernah tercapai. Karena aku udah bener-bener gak ada rasa sama dia.


"Sa, tunggu!"


Tak kuhiraukan pekikannya. Aku memilih berlari meninggalkannya yang masih mengambil mobil dari tempat parkiran. Berdiri di pinggir jalan menunggu taksi lewat.


Eza berhenti tepat di hadapanku. Dia menurunkan kaca jendela mobilnya. "Masuk! Habis ini aku bakal ajak kamu ke suatu tempat lagi."


"Maaf ya, Eza! Aku gak ada waktu buat ikut jalan-jalan sama kamu! Aku masih banyak pekerjaan di kantor. Jadi, aku harus balik ke kantor. Kamu terserah kalau mau lanjut traveling!"


Aku berlari maju mengejar taksi dan memberhentikannya lantas masuk. "Jalan, Pak!"


"Baik, Mbak." Sopir taksi pun melaju. Eza terus mengejar sambil membunyikan klakson.


"Itu siapa ya, Mbak?" tanya sopir taksi.


"Sudah Pak, jalan aja terus! Abaikan saja! Gak penting."


"Baik, Mbak."


Eza terus mengejar. Sampai di tempat yang lengang, dia mendahului taksi yang aku tumpangi. Berhenti di hadapan. Otomatis sopir taksi pun berhenti karena jalanan dihalangi mobil Eza.


"Buka!" teriak Eza sambil mengetuk kaca jendela taksi. Sopir pun menurunkan kacanya.


"Turun!" titahnya padaku.


"Ya udah, iya! Kita balik ke kantor! Aku janji gak bakal ngajak kamu ke mana-mana lagi, tapi kamu bareng aku ya, baliknya!" Dia memohon dan meyakinkan.


"Aku mau naik taksi aja!"


"Oke, kalau kamu gak mau ikut aku. Aku gak akan minggirin mobilku."


"Kalau dia gak minggir, kita dan mobil lain yang mengular di belakang gak bisa lewat dong, Mbak." Pak sopir mengeluh. Jalanan emang ada dua jalur, tapi di tengahnya ada pembatas berupa bunga hijau. Kalau aku gak turun dan dia pasti bakal nekat melakukan hal konyol itu. Kasihan pengendara lain yang mungkin saja sedang buru-buru.


"Ck! Ya udah, aku turun ikut kamu, tapi bener ya, kita balik ke kantor!"


"Iya!"


"Awas aja kalau bohong!"


"Enggak. Kita balik ke kantor beneran." Dia membentuk jarinya menjadi seperti huruf V. Aku turun, dia yang membayar taksiku. Lantas masuk ke dalam mobilnya lagi. Tak lama dia menyusul masuk dan melajukan mobilnya.


Sepanjang perjalanan aku merasa ngeri. Ngeri kalau dia membawaku ke suatu tempat lagi, tapi kini bisa menghela napas lega setelah sampai di parkiran kantor. Aku turun dan bergegas masuk. Meyelesaikan pekerjaan yang tadi terbengkalai. Sudah jam 4 sore saja. Ini sih, fiks, bakal lembur. Mana semua berkas besok harus sudah siap.


*****

__ADS_1


"Aku duluan ya, Fa?" pamit Ulfa. Tak lama Rima dan yang lain juga pada pamit pulang.


"Iya. Aku bakal lembur nih, masih banyak yang perlu aku revisi," sahutku lesu.


"Semangat Safa!" Mereka kompak menyemangati. Aku nyengir menampakkan deretan gigi. Mereka pun meninggalkan aku sendirian. Kulihat Eza juga sudah keluar kantor tadi. Jadi, aku merasa tenang dan aman lembur.


[Malam ini aku lembur, Cil.] Aku kirim kabar, takut dia khawatir.


[Oke, aku bakal langsung ke kantor Mbak kalau gitu setelah pulang sebentar mandi dan nyalain lampu.]


Habis baca balasan darinya, mendadak jadi semangat menyelesaikan pekerjaan.


[Oke. Aku tunggu!] Dia membalas mengirim emoji cium jauh. Aku mengulum bibir menahan senyum. Kangen dia.


***


Sudah jam 7 malam. Pekerjaanku sedikit lagi selesai. Btw, Bocil sudah di depan apa belum, ya? Pengen mastiin, tapi nanti ajalah setelah pekerjaanku selesai.


"Khem!" Jantungku deg-degan mendengar deheman seseorang di belakangku. Apa itu kamu, Cil? Balik badan dan sangat berharap itu Bocil.


"Boc ...." Ucapanku terjeda saat yang kudapati di hadapanku bukanlah si Bocil.


"Kamu ngapain di sini? Bukannya tadi sudah pulang?" tanyaku ketus.


"Mau nemenin kamulah."


"Aku gak perlu ditemenin! Lagian pekerjaanku sudah selesai. Aku mau pulang!"


"Eits! Mau ke manaaa? Hmmm?" Dia mencekal lenganku.


"Za, kamu jangan macem-macem, ya! Aku mau pulang, pasti suamiku udah nungguin di depan!"


Dia terbahak. "Dia sudah aku singkirkan! Jadi, gak mungkin dia datang ke sini!"


"A-apa yang kamu lakukan padanya?!"


"Sudahlah, gak perlu dibahas. Gak penting! Kita nikmati saja malam ini. Berdua! Kita ukir kenangan manis di sini," ujarnya sambil memandangiku penuh hasrat.


"Kamu jangan macem-macem ya, Za!" Kucengkeram kerah kemejanya, "Katakan padaku! Apa yang udah kamu lakukan pada suamiku?! Jawab?!"


"Sssth! Kalem, Sayang!" Kutepis tangannya yang dengan lancang membelai pipi ini. Aku mundur menjauh darinya. Dia terus mendekat.


Aku berlari berusaha keluar, tapi ternyata pintunya dikunci. Eza memamerkan kuncinya. Air mataku lolos begitu saja. Rasa takut dan panik kemelut dalam dada. Mengintip keluar kantor. Sepi. Bahkan kedua satpam yang seharusnya berjaga di depan sana juga tidak ada. Pasti semua ini sudah direncanakan oleh Eza.


"Malam ini kamu milikku, Sa. Suamimu itu tidak akan datang ke sini. Dia sudah aku singkirkan! Ck, ck, ck, ugh, malang nian nasibmu wahai bocah ingusan." Dia lanjut terbahak.

__ADS_1


Apa yang sudah Eza lakukan pada Dafa? Otakku ngeblank, lutut lemas membayangkan nasib si Bocil. Tidak! Aku tidak sanggup hidup lagi kalau sampai kehilangan dia.


__ADS_2