
"Wei, sans bray!" balas Reno sambil melerai cengkeraman si bocil di kerah bajunya.
"Elu itu kayak parasit tau gak. Ngikut muluk ke mana gua dan bini gua pergi. Gak punya inisiatif ndiri ya, elu?!"
"Lah, gua mah, udah lama kenal sama orang tuanya Safa. Emang gua sering main ke sini," balas Reno sengit.
Bocil bersedekap tengil. Menatapku lekat. "Emang iya?"
Aku mengangguk mengiyakan. Pasalnya apa yang dibilang Reno itu benar. Dari dulu memang Reno sering berkunjung ke sini. Dia sudah menganggap Bapak dan Ibu seperti orangtuanya sendiri. Pun orang tuaku, sudah menganggap Reno seperti putranya.
Tak lama Ibu keluar dan langsung menyapa Reno. Sedang Reno langsung menyalami dan mengecup punggung tangan Ibu takzim. Setelahnya, mengedipkan sebelah matanya ke arah Dafa berada. Seolah ingin menunjukkan bahwa dia lebih akrab dengan Ibu.
Reno menjulurkan lidahnya ke arah si Bocil saat Ibu merangkul pundaknya ke dalam rumah. Suamiku cemberut, mungkin merasa kalah saing dengan Reno. Mereka berdua seperti anak kecil yang sedang berebut perhatian ibunya. Di sini, aku yang bakal pusing.
"Ibu kenapa sih, baik banget sama Renosaurus itu," sungutnya.
"Makin besar kepala yang ada dia," imbuhnya.
"Ibu emang begitu sikapnya sama Reno. Dari dulu kala," terangku. Bocil mendengus kesal.
"Ya udah, yuk, masuk. Kita sarapan!" ajakku sambil merangkul bahunya. Dia bergeming.
"Gak selera makan!" ketusnya dan malah duduk di kursi teras lagi.
"Ya udah, kalau suami bocilku gak makan. Aku juga gak akan makan." Aku turut duduk menggeser kursi ke sebelahnya. Bocil masih saja manyun. Sepertinya mood-nya benar-benar hancur pagi ini.
"Itu mobil Reno?" tanya Bapak yang baru saja datang entah dari mana. Aku mengangguk. Bocil masih cemberut. Bapak langsung masuk dan menyapa si Reno. Lantas berbincang penuh kehangatan di dalam sana. Reno sepertinya sengaja suaranya keras supaya suamiku dengar dan tahu kalau dia itu akrab banget sama Bapak. Ck!
__ADS_1
"Keknya Ibu sama Bapak care banget ya, sama Renosaurus. Beda banget sikapnya ke aku. Apa karena aku orang miskin?"
Sontak aku mendelik ke arahnya. "Ibu sama Bapakku itu gak matre, Cil!" sungutku kesal.
Bocil menggigit bibir bawahnya. Mungkin menyadari jika dirinya telah salah ucap dan menyinggung perasaanku. Dia tampak salah tingkah.
"Udah, terserah kamu mau masuk apa enggak. Aku gak peduli!" sungutku. Lantas bangkit dan meninggalkannya sendiri di teras.
"Loh, mana Dafa?" tanya Ibu saat aku datang sendiri ke ruang makan.
"Masih di depan."
"Kenapa lo? Insecure ya, sama gua? Kalau kalah saing, bilang bray!" ledek Reno lantang.
Ibu melirik aku. "Emang mereka sudah saling kenal?" bisiknya kemudian. Aku mengangguk.
"Sini Dafa! Kita sarapan rame-rame!" seru Bapak.
Reno dan Miku saling tatap sengit. Bapak dan Ibu saling tatap bingung. Ibu menatap aku seolah bertanya mereka kenapa. Aku nyengir, lalu menyikut lengan suamiku. Memberinya isyarat agar menahan emosinya.
"Sudah, ayo mulai makan. Ambilin nasinya, Safa!"
Aku mengangguki titah Bapak. Lantas menyendokkan nasi beserta lauk pauknya buat Bapak dan Ibu. Bocil dan Reno kompak mengulurkan piring kosong ke hadapanku. Minta dilayani juga.
"Siapa elu minta dilayani sama bini gua?!" Bocil nyolot tak terima, "Ambil ndiri bisa, 'kan?" lanjutnya.
"Sans, kalik. Gua di sini tamu. Jadi, sudah sewajarnya kalau gua minta dimuliakan seperti tamu pada umumnya," balas Reno sengit.
__ADS_1
Bocil mencekal lengan ini, lalu menggeleng memberi isyarat agar aku tak perlu mengambilkan nasi untuk Reno. Aku menghela napas panjang. Memutar bola mata. Pusing banget sama kelakuan mereka berdua.
"Lagian siapa juga yang mau ngambilin nasi buat Reno," kataku. Bocil tersenyum penuh kemenangan. Lantas menjulurkan lidah ke arah Reno.
"Pasti mau ambilin nasi buat suamimu ini, kan?" ujar Bocil percaya diri.
Aku menggeleng. "Enggak! Mau ambil buat diriku sendiri!" sewotku. Bocil cemberut. Reno terbahak. Bapak dan Ibu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan mantu dan anak pungutnya. Ya, aku menyebut Reno sebagai anak pungutnya Ibu dan Bapak.
Aku sudah mulai makan. Reno dan Dafa masih berebut saling mendahului ambil nasi dan lauk pauk. Saling tarik centong nasi, berebut perkedel.
"Udah, Bu, Pak, kita lanjut makan aja. Biarin aja mereka gelut. Biar dipuas-puasin!"
Aku, Ibu dan Bapak sudah hampir selesai makan. Reno sama si Bocil masih terus kasak-kusuk ribut. Pengen diem aja, tapi sebel juga lama-lama denger mereka adu mulut terus. Saling ejek dan saling cibir tak ada berhentinya.
"Astagaaa! Reno! Kamu gak malu apa sama jambang dan kumismu itu?" bentakku kesal.
"Emangnya kenapa sama kumis dan jambangku?" sahut Reno sok polos.
"Elu pikir aja. Brewokan, kumisan gitu, tapi kelakuan kayak bayik. Gak pantes tauk!"
"Denger tuh, apa kata bini gua. Elu itu udah bangkotan. Beda ama gua yang masih unyu-unyu," timpal si Bocil tengil. Dan mereka berdua pun adu mulut lagi.
"Argh! Pusing!" teriakku. Aku lantas mengajak Bapak dan Ibu pergi ke teras setelah selesai makan. Membiarkan Reno dan Miku membereskan meja makan serta cuci piring. Memberi ruang untuk mereka berdua agar leluasa gelut.
****
"Kamu yakin meninggalkan mereka berduaan di dapur itu adalah keputusan terbaik?" tanya Ibu. Aku mengedikkan bahu tidak yakin.
__ADS_1
"Nanti kalau mereka makin brutal tak terkendali gimana?" lanjut Ibu. Aku juga jadi cemas. Aku menelengkan kepala di ambang pintu, menajamkan pendengaran ke arah dapur. Sepi. Lah, apa benar mereka saling menghabisi satu sama lain?
"Bu, aku coba cek dulu, ya?" pamitku. Cepat-cepat Ibu dan Bapak mengangguk. Aku bergegas ke dapur. Loh, tinggal Reno sendirian. Bocil dibuang ke mana?