
Dia semakin mendekat. Aku semakin mundur, langkahku terhenti, mentok di sisi ranjang. Dia juga berhenti setengah langkah di depanku. Tatapannya membuatku salah tingkah, dan gugup.
"Ada cicak, Mbak!" serunya sambil menunjuk kepalaku. Sontak aku menjerit histeris dan langsung lompat memeluknya. Menggosok-gosokkan kepalaku ke dadanya. Dia terkikik, geli mungkin.
"Iiih, singkirin cicaknyaaa! Malah ketawa! Geliiii!" Kuraih tangannya dan kusapukan ke kepala ini. Dia terkekeh. Aku tanpa sengaja menginjak kakinya. Saat dirinya mengaduh, aku kehilangan keseimbangan dan jatuh terbaring ke atas kasur. Reflek kutarik tangannya, sehingga badannya ambruk menimpaku.
Wajah kami dalam posisi sangat dekat lagi. Mata kami bertemu, dia menyibak rambutku yang menutupi wajah, mendekatkan wajahnya. Sedikit lagi, bibir kami menyatu, tapi tiba-tiba dia bangkit. Menyugar rambutnya, salah tingkah, gugup.
"Ak-aku ma-mau ke-ke sana dulu," pamitnya sambil nunjuk pintu. Detik kemudian berbalik dan mengayunkan langkah keluar kamar.
Lah, gimana sih, si Bocil? Kemarin-kemarin aja, yang dibahas malam pertama muluk. Giliran istrinya udah siap di-unboxing, malah dianya yang sekarang diserang gugup. Lucu banget sih, dia. Gemes, deh.
Detik terus berlalu berganti menit, tapi dia tak kunjung kembali ke dalam kamar. Mataku terus tertuju pada hendel pintu, tapi tak kunjung bergerak juga. Lah, ke mama perginya si Bocil?
Mata sudah mulai berat diserang rasa kantuk. Namun, aku tahan. Tapi, yang ditunggu tak kunjung masuk kamar. Ngeselin plus menggemaskan! Aku mengulum bibir manahan tawa. Apa dia malu, ya? Masa sih, bocah tengil dan pecicilan seperti dia punya malu?
*****
Mataku mengerjap. Menoleh ke sebelah, bocil sudah terlelap di sana. Ah, aku benar-benar ketiduran tadi. Kusingkirkan guling yang dijadikan sekat sama si bocil. Merangsek mendekat dan ... memeluknya, toh, udah sah ini.
Gegas aku pura-pura memejamkan mata saat dia melenguh dan merubah posisinya menjadi menghadapku. Dia membalas pelukanku. Entah secara sadar atau tidak.
Alarm di hp berdering, tandanya sudah waktunya bangun pagi. Aku pura-pura tidak mendengar dan tetap dalam posisi memeluknya. Ingin tahu bagaimana reaksinya. Kudengar dia melenguh, keberisikan mungkin.
"Eh!" Dia terperanjat kaget melihat aku memeluknya pun sebaliknya. Aku masih pura-pura merem. Kueratkan pelukan, dan menempelkan kepala pada dadanya. Jantungnya terdengar sangat berisik melebihi suara alarm. Aku mengulum bibir menahan senyum.
Kurasakan dia mulai gelisah. Perlahan melepaskan tanganku yang melingkar di pinggangnya. Kemudian menggeser kepalaku dengan sangat hati-hati dan diletakkannya ke atas bantal. Lantas memasang selimut hingga batas dada ini. Aku merasakan sentuhan jarinya di pipi ini. Detik kemudian bibirnya mendarat hangat dan lembut di kening ini.
Tak lama kudengar dia mengayunkan langkah mendekati pintu, membukanya lalu menutupnya kembali. Aku membuka mata perlahan, dan terkekeh lirih merasa gemas dengan kelucuan dan keluguannya.
__ADS_1
*****
Lima belas menit kemudian, aku baru keluar kamar. Dia sudah sibuk di dapur, sedang masak nasi dan merebus air. Aku masih melipat tangan di dada, berdiri bersandar pada sisi pintu penghubung antara ruang makan dan dapur. Kuamati dirinya secara diam-diam sambil menahan senyum. Tak lama dia berbalik dan menyadari keberadaanku.
"Eh, bidadariku udah bangun rupanya." Aku bergeming, habisnya kesel! Istri udah mancing-mancing pake pelukan berharap dapat balasan lebih, malah dianya gak peka. Apa iya, aku yang eksekusi dia? Hih!
"Oya, hari ini mau masak apa? Biar aku siapkan."
"Serah!" jawabku seraya berlalu ke kamar mandi. Kebelet buang air kecil.
"Dia kenapa, sih? Lagi PMS?" lirihnya, tapi terdengar jelas di telinga ini.
******
Hujan turun dengan begitu derasnya. Sesekali petir terdengar menyambar. Kilatan cahaya menyelinap masuk melalui ventilasi di atas jendela. Sungguh, malam yang mencekam. Sebenarnya takut dan dingin tidur di kamar sendirian begini, tapi malu dan gengsi kalau mau menyusul tidur ke kamar si Bocil.
Dia juga gak ada inisiatifnya supaya kami tak perlu lagi tidur terpisah. Aku mau ngomong duluan minta tidur sekamar aja, malu. Gak tahu gimana ngomongnya. Mau cari alasan supaya bisa tidur sekamar lagi, tapi alasan apa?
Bertepatan saat tanganku mengulur siap menarik hendel pintu. Kudengar ada yang mengetuk dari luar. Bocil memanggil-manggil dan menyuruh bukain pintu. Ah, kebetulan sekali. Gegas kubuka, dia langsung berlari masuk.
"Ada apa?"
"Ada kita berdua," jawabnya.
"Ngapain kamu ke sini?" ketusku, padahal dalam hati girang bukan kepalang, dan berharap dia minta tidur di sini.
"Aku tidur di sini ya, Mbak," pintanya.
Yes! Rasanya pengen berselebrasi jungkir balik, tapi aku tahan. Pasang ekspresi datar, pura-pura gak suka.
__ADS_1
"Gak ada! Tidur di kamar kamu sendiri!" Dalam hati berharap dia di sini, tapi mulut malah gak ada akhlak menolak. Kudorong bahunya agar keluar, dia bertahan dengan berpegangan pada tepi ranjang.
"Gak mau, Mbaaaak. Aku mau tidur di sini. Titik!"
"Emangnya kamar kamu ada apanya?"
"Bocooor!"
"Bohong nih, pasti! Cuma modus aja, kan?"
"Kalau gak percaya liat aja sendiri, Mbak!" sungutnya. Aku memastikan ucapannya. Ternyata benar, kamarnya bocornya lumayan parah. Sama dia sampek airnya ditampung di ember besar, dan sudah nyaris dapat setengahnya.
"Bocor beneran, kan?" celetuknya sambil berdiri melipat tangan di ambang pintu. Dalam hati, aku berterima kasih pada hujan yang membumi begitu derasnya, malam ini. Ah, akhirnya bisa tidur sekamar lagi dengannya.
"Ya udah, kamu boleh tidur di sana."
"Yes!" serunya lantas mengekori aku memasuki kamar. Dia langsung melompat ke atas kasur dan merebahkan diri di sana. Aku menyusul, rebahan di sebelahnya. Ada bantal guling sebagai sekat.
Aku membenarkan posisi, menarik selimut sampai dada. Siap memejamkan mata. Kurasakan ada pergerakan darinya.
"Mau ngapain?" sentakku. Meliriknya tajam.
"Mau ikut selimutan, Mbak. Dingiiiin," rengeknya.
"Gak ada! Ambil selimut sendiri sana!"
"Gak mau. Maunya sama Mbak."
'Duuuaaaar!'
__ADS_1
Gelegar petir yang maha dahsyat membuat aku reflek melompati guling dan mendekapnya erat. Kutempelkan kepala pada dadanya. Dia bergeming. Detik kemudian lampu mati. Suasana malam kian terasa mencekam. Detak jantungnya kian gemuruh bersahutan dengan angin kencang dan petir, pun jantungku. Perlahan dia berbalik, dan membalas pelukanku.