SUAMIKU BOCAH

SUAMIKU BOCAH
Terlanjur Kesal


__ADS_3

Aku langsung berlari keluar. Sudah menutup pagar, tetapi lupa mengunci pintu. Akhirnya balik lagi buat menutup pintu. Setelah kembali ke jalan depan rumah, bingung tak tahu apa yang harus aku lakukan.


Aku berusaha menyugesti diri sendiri agar jangan panik. Akhirnya tercetus ide untuk memesan taksi online. Namun, belum sempat memesan via aplikasi, sudah ada taksi lewat. Langsung saja aku berhentikan.


"Jalan, Pak!" titahku setelah aku duduk di dalam taksi.


"Maaf, mau ke mana ya, Mbak, tujuannya?" tanya sopir itu.


"Ke Restoran Cendana, Pak. Jalan!"


"I-iya, Mbak. Siap." Namun, mobilnya saat distarter mesinnya macet. Hampir saja aku turun dan mencari taksi lain, tetapi akhirnya menyala juga.


"Loh, kenapa lewat sini, Pak?" tanyaku saat taksi berbelok ke jalan tang tak biasa.


"Jalan pintas, Mbak. Jam segini pasti macet kalau lewat jalan biasa, Mbak," terangnya.


"Ya udah, terserah Bapak, tetapi cepet ya. Soalnya suami saya kecelakaan."


"Iya, Mbak."


Mobil berhenti di depan sebuah restoran. Aku bergeming melihat ke luar. Sementara sopir menyuruhku turun.


"Kok, turun sih, Pak?" tanyaku bingung.


"Mbak mau ke Restoran Cempaka, kan? Ini udah sampai."

__ADS_1


"Kok, Cempaka sih, Pak? Cendana!" tegasku.


"Oh, ya maaf, Mbak. Soalnya tadi saya dengarnya Restoran Cempaka."


Emosiku memuncak. Nyaris saja aku berteriak kalau saja tak kutahan. Aku menghela napas panjang berulang kali guna meredam amarah yang berkecamuk dalam dada.


"Jadi, sekarang gimana, Mbak?" Pertanyaan sopir itu membuat amarah yang semula sudah mereda, memuncak lagi.


"Pake nanyak! Ya, jalan lagi lah, Pak. Ke Restoran Cendana!" bentakku.


"Iya, Mbak. Sabar atuh. Jangan ngegas begitu."


Mobil akhirnya melaju lagi. Terus berjalan membelah jalanan yang ramai kendaraan lalu-lalang. Kemudian berbelok dan berhenti di depan Restoran Cendana. Aku menghela napas lega, akhirnya sampai juga. Gegas aku turun dan berlari masuk ke dalam. Di dalam aku berpapasan dengan Reno.


"Ren, di mana suamiku?" tanyaku panik.


"Gimana sih, orang terluka bukannya dibawa ke rumah sakit, kok malah direbahkan aja!" ketusku sambil berjalan tergesa. Reno mengekori.


"Ya, abis gimana. Ngubungin ambulan gak dateng-dateng."


"Kan bisa pake mobil kamu, Ren!"


"Mobilku mogok."


"Bisa pake taksi atau apa pun itu harusnya!" Kaca-kaca mulai menggenangi pelupuk mata ini. Terlepas bagaimana pun perlakuan bocil sekarang, aku tetap saja tak tega jika melihatnya terluka atau sakit.

__ADS_1


Sampai di ruang VVIP, suasananya sangat temaram. Semua gorden ditutup dan lampunya padam. Bocil terbaring lemah di sofa dan ada seorang wanita tengah duduk menangis di sebelah suamiku.


Aku bergegas mendekat, kutarik lengan wanita itu. Kuamati wajahnya dari dekat. Benar, dia wanita yang semalam diajak dinner oleh suamiku.


"Sebenarnya kamu siapa, sih? Kenapa deketin suami orang?!" ketusku.


"Mbak yang siapa? Datang-datang marah-marah gak jelas!" balasnya ketus.


"Saya istrinya lelaki ini!" tegasku.


"Istri?" Perempuan itu sepertinya tak percaya dengan pengakuanku. Tatapan matanya menguliti seluruh tubuh ini.


"Mbak jangan halu. Orang dia bilang masih singel, kok."


Seketika, rasa empati terhadap si Bocil berubah jadi kesal. Usai mendengar pengakuan wanita muda dan molek di hadapan. Ingin sekali rasanya aku unyeng-unyeng kepala suamiku biar hancur sekalian.


"Keterlaluan kamu, Cil!" hardikku. Dia hanya melenguh lirih.


"Kalau gitu, kamu minta urus saja sama wanita ini!" imbuhku makin berang. Langkahku terhenti saat akan pergi dan lengan ini dicekalnya. Dia lantas duduk.


"Jangan pergi," ucapnya lemah, "Karena aku tak akan sanggup lagi hidup, jika kamu pergi," imbuhnya.


Dahiku mengernyit saat tiba-tiba semua lampu di ruangan VVIP ini menyala. Lantas terpaku menatap layar monitor yang turut menyala menampilkan video berupa slide fotoku dan si Bocil dari zaman sebelum menikah sampai foto ketika di atas bianglala tempo hari. Di akhir video ada tulisan, 'happy one year anniversary.'


Aku lantas mendelik menatap si Bocil. Dia meringis menampakkan deretan giginya sambil membentuk huruf V dengan jari.

__ADS_1


"Surprise!" ucapnya kemudian. Tetapi, aku terlanjur kesal dibuatnya.


__ADS_2