SUAMIKU BOCAH

SUAMIKU BOCAH
Prank Berujung Petaka


__ADS_3

Aku berontak dan melepaskan diri dari dekapan si Bocil. Lantas berjalan terhuyung keluar restoran. Kudengar dia bertanya aku kenapa. Aku memilih diam saja dan pura-pura memegangi kepala. Dia mendekat. Aku berjalan lagi menjauhinya, lalu menjatuhkan diri. Pura-pura pingsan.


Bocil bergegas mendekat, memeriksa kondisiku. Memekik memanggil dan menepuk-nepuk pipiku. Setelahnya dia berteriak meminta bantuan. Kedengarannya, dia sangat panik. Ah, andai saja aku bisa melihat ekspresi paniknya itu. Pasti lucu sekali.


"Mimu, bangun! Please! Jangan bikin aku khawatir," cerocosnya sambil menepuk-nepuk pipi ini.


"Mimu kenapa? Hei, bangun!" Dikecupnya kening ini lama. Kudengar dia terisak lirih. Sementara Reno sibuk menyiapkan mobilnya.


"Keknya Safa terlalu tegang dan stres deh, karena prank ini, Daf. Makanya dia pingsan begini," ujar Ulfa. Sepertinya dia berjongkok di sebelahku.


"Ayo, ayo, cepet bawa Safa ke mobil!" pekik Reno. Kurasa mobilnya sudah siap. Bocil terdengar kepayahan saat akan mengangkat tubuhku, tetapi akhirnya dia berhasil membopong tubuhku ke dalam mobil.


Setelah aku dibaringkan di jok belakang, dia lantas duduk dan memangku kepala ini. Sementara Ulfa duduk di jok depan, samping Reno yang sedang mengemudi. Mobil pun kini tengah melaju di jalan raya. Aku akan dibawa ke rumah sakit terdekat. Begitu yang kudengar dari pembicaraan mereka.


"Yaelah, selaw kali, Daf. Safa cuma pingsan, kok," ujar Ulfa. Saat suamiku begitu panik dan menyuruh Reno cepat-cepat.


"Kita kan, nggak tahu sebab dia pingsan apa?!" ketus si Bocil. Tawaku nyaris saja meledak.


Sampai di rumah sakit, kudengar Reno langsung berlari minta bantuan petugas rumah sakit. Tak lama terdengar suara brankar di dorong kemari. Detik kemudian aku dibopong keluar dari mobil dan dibaringkan ke atas brankar.


Jujur saja, aku merasa tak enak hati mengerjai mereka sampai seperti ini. Akan tetapi, sudah terlanjur sejauh ini rasanya kalau bangun sekarang malah nanggung. Saat brankar memasuki rumah sakit, aku makin dilema. Antara bangun atau nunggu diperiksa oleh dokter sekalian.


Ternyata, saat aku masuk langsung diperiksa oleh seorang dokter. Detak jantung dan tekanan darah, serta mata ini disenter.  Sementara si Bocil memilih stay di sebelah brankar. Dia menolak menunggu di luar. Bersikukuh menemani aku di sini.


"Gimana, Dok? Apa yang terjadi sama istri saya?" todongnya. Seusai dokter melakukan serangkaian pemeriksaan terhadap diri ini.


"Aman, Pak. Semua dalam kondisi baik dan normal. Hanya saja, mungkin istri Bapak terlalu kecapaian atau stres, makanya bisa pingsan begini," papar dokter perempuan itu.


"Dokter, yakin? Istri saya cuma kecapaian dan stres saja? Tidak ada penyakit apa-apa?" tanya Miku. Masih belum yakin mungkin.


"Benar, Pak. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sebentar lagi juga sadar istrinya," ujar dokter itu lembut.

__ADS_1


"Terima kasih, Dok."


"Sama-sama, Pak. Kalau gitu saya permisi dulu, ya," pamit dokter itu.


"Iya, Dok. Silakan."


"Maafin, aku, Mimu. Cepet sadar, ya. Aku janji, gak bakal bikin kamu stres atau panik berlebih lagi. Aku janji," ucapnya setelah dokter pergi. Dikecupnya punggung tangan ini berulang kali. Kudengar dia terisak lirih. Sebentar, apa dia menangis? Apa sebegitu dalamnya rasa penyesalannya? Kasihan juga.


Aku melenguh dan membuka mata perlahan. Benar, dia tadi menangis. Melihatku membuka mata, dia cepat-cepat menghapus air matanya. Lantas mengucap syukur dan mengecup kening ini.


"Ah, syukurlah, akhirnya Mimu sadar juga," serunya. Ada binar bahagia di matanya. Makin hari, aku makin sadar. Bahwa aku seberharga itu buatmu.


Aku bangkit, pura-pura bertanya ini di mana. Dia menjawab bahwa ini di rumah sakit. Aku turun dari ranjang dan meminta pulang.


"Tunggu dulu, Mimu. Kita pulang setelah dapat persetujuan dari dokter, ya. Sama ada vitamin yang harus ditebus dulu," jelasnya.


"Terserah. Aku mau pulang. Sekarang!" Aku turun dari ranjang dan berjalan keluar.


Sejujurnya, aku merasa kasihan pada mereka. Akan tetapi, sudah kepalang tanggung mengerjai mereka sampai sejauh ini. Jadi, lebih baik aku lanjutkan saja dramaku ini.


Aku meninggalkan si Bocil yang masih membayar administrasi dan menebus vitamin untukku. Entah vitamin apa. Dia meminta agar aku menunggunya sebentar, tetapi aku memilih terus jalan. Kudengar suamiku itu meminta Reno dan Ulfa agar menyusulku. Sesuai titah si Bocil, mereka berdua berjalan mengapit tubuhku.


Sampai di depan rumah sakit. Reno pamit mengeluarkan mobil dari parkiran dan meminta Ulfa untuk menemaniku. Aku cuek saja saat Ulfa mengajak bicara serta meminta maaf.


Tak berselang lama ada taksi keluar dari area parkiran. Aku pun mengulurkan tangan menyetop taksi tersebut. Taksi pun berhenti tepat di depanku berdiri.


"Eh, Fa, kamu mau ngapain?" tanya Ulfa. Aku diam saja, membuka pintu taksi dan masuk. Kemudian menutup pintunya dan menyuruh sopir jalan. Mengabaikan Ulfa yang berteriak meminta ditunggu. 


Aku tidak langsung pulang. Perut terasa sangat perih. Dari kemarin tak enak makan karena termakan drama yang Miku ciptakan. Aku meminta sopir berhenti di warung makan lesehan pinggir jalan. Untungnya, masih ada uang tersisa di saku celana. Cukup buat bayar taksi dan makanan yang akan aku pesan nanti.


Ponselku dibawa si Bocil. Ini kesempatan yang bagus untuk membalas dendam. Aku hanya ingin dia merasakan apa yang aku rasakan kemarin. Hanya itu saja.

__ADS_1


Sengaja berlama-lama di warung lesehan ini. Setelah makan dan minum juga membayar. Aku keluar, menunggu ojek atau taksi yang lewat, tetapi sulit. Ada yang lewat beberapa, tetapi sudah membawa penumpang. Malam sudah larut dan aku belum mendapatkan kendaraan umum. Hawa dingin mulai menelusup.


"Ojek," tawar salah seorang pria yang tiba-tiba berhenti di hadapan. Aku bergeming mengamati motor serta postur tubuh pemotor.


"Kenapa? Terpana ya, sama kegantengan saya?" ujar pria itu sambil membuka kaca helm yang semula menutupi wajahnya.


Argh! Sial! Ternyata rencanaku untuk balas dendam gagal total. Entah bagaimana, dia bisa tahu aku di sini.


"Pasti Mimu terkagum-kagum, ya? Karena suamimu ini bisa tahu keberadaan Mimu di sini?" Dia lanjut mengedikkan alis.


Aku memutar bola mata. Kemudian berjalan meninggalkannya. Dia turun dari motor dan mendorongnya menyejajarkan langkah denganku.


"Mimu masih marah, ya? Aku kan, udah minta maaf," rengeknya.


"Aku pengen sendiri, Cil!" sentakku kesal.


"Jangan! Sendiri itu sepi dan nggak enak. Enakan juga berdua."


Aku memilih diam dan terus berjalan. Dia terus nyerocos. "Kita itu kayak sepasang sepatu, Mimu. Nggak bisa kalau sendiri-sendiri. Harus selalu berbarengan supaya berguna."


"Jadi maksud kamu kalau aku sendirian nggak berguna, gitu?" ketusku sambil berkacak pinggang.


"Bukan gitu. Aku yang merasa nggak berguna kalau tanpa kamu. Tanpamu, hidupku hampa. Tanpamu hidupku tak bermakna," ujarnya lantang. Dia berhenti beberapa meter di belakang sana. Aku juga menghentikan langkahku. Menunggunya mendekat.


Tetapi, tiba-tiba datang beberapa motor dan satu mobil hitam mengepung kami. Tanpa ba-bi-bu beberapa pengendara motor itu menghajar si Bocil tanpa ampun. Aku tak bisa berbuat banyak, tanganku dicekal dan mulutku dibungkam oleh salah seorang pria berbadan kekar. Kondisi jalanan sudah mulai sepi. Meskipun ada beberapa pengendara yang lewat, mereka memilih masa bodoh. Tak ada yang berani menolong kami.


"Makanya, jangan coba-coba cari masalah dengan kami! Sekarang, istrimu yang akan menerima akibat dari perbuatanmu!" pungkas salah satu pengendara motor itu sambil menendang kaki si Bocil yang sudah tak berdaya. Detik kemudian pengendara motor pada naik ke motor masing-masing.


Sedang aku ditarik paksa memasuki mobil oleh dua orang pria berbadan kekar berotot. Aku cuma bisa menangis melihat suamiku yang sudah terkapar tak berdaya di trotoar. Beberapa meter di belakang sana. Sebelum aku benar-benar didorong masuk mobil, kutoleh si Bocil mengulurkan tangannya kemari. Kudengar dia memanggilku dengan suara lemah. Setelah itu, aku tak tahu lagi apa yang terjadi padanya. Mobil pun melaju, membawaku pergi menjauh dari suamiku.


Entah siapa orang-orang ini dan suamiku punya masalah apa dengan mereka. Aku tak tahu. Dan entah bagaimana nasibku dan suamiku nanti?

__ADS_1


__ADS_2