
Ah, iya, aku ingat sekarang. Pagi tadi sebelum berangkat kerja aku menyiram tanaman di teras. Sedang suamiku lagi mandi dan tiba-tiba aku merasakan ada yang membekap mulut ini menggunakan kain yang sangat menyengat baunya. Saat berusaha berontak tenagaku kalah kuat, lalu makin lama kepala pusing banget dan pandangan mata kabur. Setelah itu aku tak ingat apa yang terjadi. Sekarang bangun sudah di sini. Entah di mana ini dan entah siapa yang membawaku kemari.
"Tolooong!" Aku berusaha teriak barangkali ada yang dengar dan menolong, tetapi nihil. Hanya suara cicak yang menyahuti teriakan aku. Beberapa kali berusaha teriak karena memang mulut ini tidak dibekap, tetapi tetap saja hening. Tak ada yang menyahut.
Pintu berderit, ada yang membuka dari arah luar. Aku pun berhenti berusaha membuka tali yang mengikat tangan. Menunggu siapa gerangan pembuka pintu itu.
"Toni!" seruku girang, "Untunglah kamu datang. Toni, tolong aku. Lepaskan tali yang mengikat kaki dan tanganku ini. Bantu aku kabur dari tempat ini. Ada yang berusaha jahatin aku, Ton." Dia bergeming beberapa saat di sisi dipan.
"Aku nggak jahat," ucapnya. Sementara tangannya mengulur hendak menyentuh pipi ini. Aku menjauhkan wajahku menghindar.
"A--apa maksudmu?"
"Aku hanya ingin menghabiskan waktu denganmu, Safa. Maaf, kalau caraku terkesan ekstrim."
"Apa maksudmu, Ton? Ja--jadi ... ini semua ulah kamu?" Aku mulai panik. Namun, berusaha bersikap tenang meski nggak mudah.
"Apa salahku? Kenapa kamu lakukan ini padaku, Ton?"
"Kamu nggak salah." Toni duduk di sebelah tubuhku yang terbaring di atas dipan papan rapuh ini.
"Kalau gitu lepasin aku ...."
"Aku nggak bisa," sambarnya.
"Kenapa?!" Suaraku mulai serak, "Kenapa kamu lakuin ini, Ton? Aku pikir kamu itu orang baik ...." Aku tak sanggup lagi melanjutkan kalimat. Air mata mengalir deras. Perasaanku antara takut, panik dan masih banyak lagi.
"Aku suka sama kamu," sahutnya setelah cukup lama dia terdiam. Dia tidak berani menatapku. Wajahnya tertunduk menatap ujung sepatunya.
"Suka? Kamu tahu aku sudah punya suami dan aku sangat mencintai suamiku ...."
"Stooop!" Aku terkejut. Toni berteriak sambil berdiri dalam sekali sentak. Ekspresi wajahnya berubah. Dari yang tadi tenang, sekarang terlihat sangat marah dan tidak suka.
"Jangan katakan itu di depanku. Itu sangat menyakitkan," lanjutnya sambil memegangi dadanya. Matanya berkaca-kaca.
"Tapi, itulah kenyataannya, Ton. Aku sudah punya suami dan nggak seharusnya kamu begini. Ini salah ...."
"Cinta itu gak kenal salah dan benar," sambarnya penuh emosi. Aku terdiam, nggak tahu harus memberinya pengertian bagaimana lagi. Sepertinya Toni ini tidak waras. Aku menyesal telah menganggapnya remeh. Sekarang bagaimana? Apa yang harus aku lakukan? Pasrah, menunggu pertolongan datang. Ya, mungkin benar, hanya itu yang dapat aku lakukan.
"Mulai sekarang, kamu adalah milikku seorang. Jadi, lupakan suamimu! Jangan pernah bahas soal dia lagi di depanku. Aku janji bakal mencintai, menjaga dan mengasihimu lebih dari yang pernah diberikan suamimu."
"Terserah padamu." Aku sudah mulai lelah, "Tapi, bisakah kau lepaskan ikatan di tangan ini. Sakit," rengekku mengiba, "Bukankah katamu tadi, kamu bakal mengasihi aku lebih dari suamiku? Suamiku tidak pernah mengikatku seperti ini. Ini menyakitkan."
"Tapi, janji jangan macam-macam!" ancamnya. Aku mengangguk saja. Tali yang mengikat tangan dan kaki akhirnya dilepas juga, tetapi tetap saja tidak mudah untuk kabur. Toni terus mengawasiku. Kalau dia keluar, pasti pintunya ditutup dan dikunci. Meski papannya terlihat seperti sudah rapuh, tetapi masih kokoh sulit dihancurkan.
__ADS_1
*****
Ini sudah hari ketiga, aku dikurung di rumah papan ini. Kemarin, aku berhasil kabur, dan ternyata rumah papan ini berada di tengah kebun yang ditumbuhi kayu serta semak belukar. Jauh dari pemukiman. Namun, pelarianku sia-sia. Aku tertangkap lagi oleh Toni. Pada akhirnya dia jadi lebih protektif. Jendela dikasih palang dari luar dan tak sedetik pun dia meninggalkan aku seorang diri.
Aku mondar-mandir di dalam rumah papan berukuran 3X4 ini. Aku rasa ini dulunya sebuah gubuk. Berpikir keras mencari cara supaya lepas dari Toni. Pura-pura kerasukan, ah, tidak yakin akan berhasil. Oke, aku coba pura-pura sakit aja.
Aku meraung memegangi kepala. "Aaargh! Sakiiit!"
Toni masuk, dia panik. Aku terus meraung sambil memegangi kepala. "Kenapa? Apanya yang sakit?"
Aku menunjuk kepala. "Aku butuh obat sakit kepala."
"Oke, aku belikan. Kamu tunggu di sini, ya!"
Cepat aku menggeleng dan kuraih lengannya. "Aku ikut. Lagi pula apa kamu tahu obat yang biasa aku minum?" Toni terdiam beberapa saat. Sepertinya dia sedang berpikir dan menimbang. Aku terus berakting meraung kesakitan.
Tanpa berkata, Toni langsung menggendong tubuhku dan membawaku keluar dari gubuk. Kami berjalan menyusuri jalan setapak yang diapit semak belukar dan pohon-pohon menjulang tinggi.
Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya kami sampai di pinggir jalanan berbatu yang sepi. Kanan dan kirinya kebun-kebun tak tergarap. Ditumbuhi semak dan pohon kayu aneka ragam.
"Aku jalan sendiri saja," pintaku saat langkah Toni mulai melambat.
"Tidak!" tolaknya tegas. Takut aku kabur mungkin.
"Kamu tenang saja. Aku tidak akan kabur." Aku mencoba meyakinkannya. Akhirnya aku diturunkan, tetapi tanganku digenggamnya. Tak sedetik pun dilepas. Kalau begini, bagaimana caraku kabur? Aku mulai frustasi.
"Jangan pernah berpikir untuk kabur!" bisik Toni saat kami hendak naik ke sebuah angkot yang berhasil diberhentikan. Aku mengangguk lemah.
Sampai di sebuah apotik yang lumayan sepi pengunjung dan aku masih belum tahu cara lepas dari Toni. Tanganku masih digenggamnya, erat.
"Bisakah kau belikan aku air mineral?" pintaku merayu agar bisa lepas darinya dan punya kesempatan untuk minta tolong. Pasalnya dari tadi aku main mata memberi kode pada penjaga apotik ini, tetapi sepertinya wanita berhijab itu tidak mengerti maksudku.
"Tidak! Kamu selesaikan dulu beli obatnya. Baru kita cari air mineral sama-sama," tegas Toni.
"Aku lapar. Bagaimana aku bisa minum obat ini kalau perutku kosong?" Aku berusaha mengulur waktu. Selain itu, memang benar perut ini terasa perih. Aku lapar, pasalnya selama di gubuk itu, Toni hanya memberiku ubi bakar dan kadang talas bakar yang dia ambil dari tengah semak belukar itu. Minumnya air kelapa yang tumbuh di sisi gubuk. Terkadang aku hanya disuruh makan kelapa itu saja.
Makan sudah selesai. Sekarang aku tidak tahu harus mengulur waktu menggunakan alasan apa lagi. Pingsan. Ya, mungkin aku harus pura-pura pingsan supaya dibawa ke klinik terdekat dan supaya punya kesempatan untuk minta tolong. Aku tidak bisa asal teriak begitu saja. Pasalnya tadi Toni mengancam akan melenyapkan aku kalau sampai teriak. Katanya lebih baik aku mati kalau dia tidak bisa bersamaku.
Benar saja, setelah aku pura-pura pingsan akhirnya dibawa ke klinik terdekat. Di sini, aku punya kesempatan untuk menceritakan semuanya ke bidan yang memeriksa aku. Pasalnya, Toni dilarang masuk ke ruang pemeriksaan. Bidan tampak terkejut dan panik mulanya. Namun, pada akhirnya mau aku mintai pertolongan. Aku menulis surat, memberinya klu di mana tempat aku disekap dan meminta bidan itu untuk melaporkannya ke polisi atau ke suamiku. Aku sudah mencatat nomor suamiku di sana.
Sekarang, aku merasa lega. Harapan untuk bebas sudah di depan mata. Setelah lepas dari Toni, aku tidak akan menebar senyum ke sembarang orang lagi. Ya, Toni mengaku terobsesi padaku hanya karena aku sering tersenyum dan bersikap ramah padanya saat berjumpa. Dia mengira aku juga suka padanya. Sungguh persepsi yang membagongkan.
*****
__ADS_1
"Lehermu terluka." Suamiku panik, matanya tertuju pada luka sayatan kecil di leherku. Semua ini ulah Toni. Penyelamatan tadi berjalan dramatis. Saat rombongan suamiku datang, Toni langsung mejadikan aku sebagai tawanannya. Leherku dipiting, sebilah belati dia tempelkan di leher ini untuk mengintimidasi kami semua. Sempat panik dan berpikir bahwa kejadian beberapa menit lalu itu adalah akhir dari hidupku. Sebelum akhirnya aku bernapas lega karena berhasil lepas dari sekapan Toni. Tanpa menunda, aku langsung menghambur ke pelukan suamiku saat Toni berhasil dilumpuhkan menggunakan tembakan timah panas di kakinya oleh polisi.
"Ini hanya luka kecil ...." Aku lekas memeluknya lagi.
"Tapi tetap saja harus segera diobati." Dia mengusap rambutku yang kusut karena beberapa hari tidak mandi keramas.
"Perih, ya?" Dia banyak tanya.
"Dikit."
"Maaf ya, tak seharusnya aku meremehkan Toni. Andai saja sejak awal kamu cerita itu aku ambil tindakan, mungkin ... kejadian ini tidak ...."
Aku menghentikan ucapannya dengan gelengan. "Tak ada gunanya menyesali. Toh, semua sudah terjadi. Terpenting aku gak apa-apa."
Dia mengangguk setuju, lantas memeluk diri ini lagi. "Aku janji, setelah ini bakal lebih waspada lagi."
Aku bersyukur akhirnya bisa bebas dan masih diberi kesempatan untuk bersama-sama lagi dengan suamiku. Aku kini merasa aman, tetapi tak dapat dipungkiri jujur saja aku merasa trauma sekarang.
*****
Aku mendadak jadi introvert. Malas keluar rumah, bahkan hanya untuk sekedar menyiram tanaman di teras menjadi takut. Keluar rumah hanya untuk bekerja. Kadang pengen jalan-jalan, tetapi saat suamiku sudah siap, aku mendadak merasa takut, cemas dan akhirnya itu semua hanya sebatas wacana semata.
Kini, aku selalu saja over thinking. Takut kalau kejadian itu terulang lagi. Meski sekarang kabarnya Toni sudah dirawat di rumah sakit jiwa. Tapi, tetap saja aku masih belum bisa melawan rasa takut yang menguasai diri ini. Padahal, kasus ini bukan yang pertama. Sebelumnya sudah pernah diculik juga, tetapi entah mengapa kasus kemarin meninggalkan trauma mendalam. Pasalnya, Toni sempat beberapa kali hampir menodaiku, meski pada akhirnya aku berhasil membuatnya mengurungkan niat kejinya itu, tetapi tetap saja membuat aku merasa jijik sekaligus ngeri setiap kali ingat tragedi itu. Itu benar-benar mimpi buruk bagiku.
Aku tersentak, saat dia menggenggam erat tanganku. Ada sensasi hangat. "Kamu jangan takut. Ada aku. Aku janji, bakal ngelindungin kamu lebih ekstra lagi. Jadi, jangan cemas lagi, ya!" ujarnya menenangkan.
*****
Setiap malam hendak tidur, beberapa kali aku bertanya jendela dan pintunya sudah dikunci dengan benar atau belum. Bisa beberapa kali juga aku mengajak suamiku untuk memeriksa jendela dan pintu, memastikan sudah terkunci dengan benar atau belum.
Sudah lima belas hari berlalu, sampai kini terkadang tragedi itu masih terbawa mimpi. Aku akan menjerit ketakutan, lalu menangis ketakutan di dalam dekapan suamiku. Padahal sudah konsultasi ke psikiater, tetapi tetap saja aku masih belum bisa mengendalikan rasa takutku. Entah sampai kapan aku begini?
"Kamu butuh suasana baru. Gimana kalau kita liburan?" tawar suamiku. Aku terdiam beberapa saat. Mungkin ada benarnya juga. Aku harus mulai belajar mengendalikan rasa takut ini. Tak seharusnya aku selebay ini.
"Ke mana?" tanyaku masih sambil memeluknya di atas ranjang.
"Ke pantai, gunung, atau kamu maunya ke mana?"
"Gimana kalau kita nginep di Panti aja?"
"Hah?! Kamu yakin?"
"Kayaknya kalau berada di sana, menyibukkan diri ikut ngurus anak-anak, siapa tahu aja perlahan aku bisa lupa sama kejadian waktu itu."
__ADS_1
"Oke, kalau itu maumu. Aku kabarin Ibu dulu." Dia lantas meraih ponselnya yang semula tergeletak di meja sisi ranjang, lalu memberi kabar pada Ibu Panti kalau besok kami akan datang dan kemungkinan bakal menginap selama beberapa hari ke depan. Ibu sangat antusias menunggu kedatangan kami. Semoga dengan cara ini juga aku bisa cepat hamil. Amin.
Note: Di sini bakal saya post sampai bab 85 aja, ya, pembaca yang budiman semuanya. Bab lengkap sampai tamat ada di *** App. Di *** App sampai bab 100. Sekian sekilas info. 🙏