SUAMIKU BOCAH

SUAMIKU BOCAH
Saatnya Balas Dendam!


__ADS_3

Baru saja aku akan mengomel meluapkan amarah. Pintu ruangan ini terbuka dan tampaklah beberapa orang di baliknya. Ada Reno, Ulfa dan beberapa orang kantor yang memang terbilang dekat denganku.


"Surprise!" seru mereka sambil meletuskan party popper. Sehingga ruangan ini bertabur kertas warna-warni. Tidak mungkin aku marah-marah sekarang. Biarlah aku endapkan dulu. Nanti kalau sudah di rumah saja kuledakkan.


"Happy anniversary," ucap Reno sambil melangkah mendekat siap memelukku. Namun, dihalangi oleh si Bocil. Suamiku lantas mengacungkan telunjuk di hadapan wajah Reno dan menggerakkan ke kiri kanan.


"Elah, pelit amat. Peluk dikit doang," pinta Reno. Bocil menggeleng melarang.


"Sekali gak boleh, tetap gal boleh. Lelaki yang boleh meluk dan pegang dia, cuma aku seorang. Yang lain cuma boleh mandang aja, itu pun harus dari jauh dan gak boleh lama-lama!" cerocosnya.


"Kalau aku, boleh, kan, meluk?" tanya Ulfa sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Oh, tentu," jawab si Bocil mantap, lalu mempersilakan semua wanita memelukku dan mengucapkan selamat secara bergantian.


"Terima kasih, ya, buat semuanya," kataku sambil menangkupkan tangan di depan dada.


"Ya elah, sans, kali Fa. Gak usah formal gitu. Kek ama siapa aja," sahut Ulfa.


"Kenapa, sih?" tanya Ulfa kemudian, saat aku menatapnya penuh selidik. Dia salah tingkah, merapikan rambut dan baju.


"Kenapa? Ada yang salah ya, sama bajuku atau make-upku?" Ulfa buru-buru mengeluarkan kaca dari dalam tasnya dan bercermin.


"Kenapa, sih, Fa?" Lagi, dia bertanya seusai ngaca dan tak mendapati keanehan pada penampilannya.


Aku menunjuk wajahnya. "Kamu terlibat dalam semua acara ini?" cecarku. Ulfa nyengir menampakkan deretan gigi, lalu mengacungkan jarinya membentuk huruf V. Bocil terkekeh sambil melangkah mendekat dan merangkul bahu ini.


"Gak usah rangkul-rangkul!" sentakku sambil menepis tangannya.


"Maaf," lirihnya. Aku memutar bola mata, masih kesal dengannya.

__ADS_1


"Bukan cuma Ulfa aja yang terlibat dalam rencana ini, bahkan ...." Ucapan si Bocil terjeda oleh suara seseorang yang terdengar tidak asing di telinga ini. Orang itu lantas merangsek mendekat kemari.


"Hai, semuanya. Eik belum terlambat, kan?" tanyanya setelah berdiri di sebelah si Bocil.


"Nah!" seru si Bocil sambil menunjuk waria itu. Ya, tidak salah. Waria yang kemarin dia bonceng sampai rela meninggalkan aku di tengah jalan pas mau pulang dari rumah Ibu.


"Dia juga terlibat," lanjut si Bocil. Reno dan yang lain terkekeh.


"Hai, Nek," sapa waria itu sambil mencolek dagu ini. Ish, gelay!


"Sorry nih, Fa," sahut Reno, "Gua juga terlibat," lanjutnya sambil mengacungkan jari membentuk huruf V. Keterlaluan!


"Wait! Berarti yang pas aku nebeng kamu itu ... rencana kalian?" tebakku. Reno dan si Bocil kompak mengacungkan jari membentuk huruf V lagi sambil nyengir.


"Niat banget sih, ngerjainnya," sungutku, "Ini lagi, sampek acara pura-pura kecelakaan segala. Kamu pikir itu lucu!" lanjutku mengomeli si Bocil.


"Oh, jadi semalem itu bagian dari rencana kalian?" cecarku. Semua kompak mengangguk, lalu cengengesan seolah tak merasa berdosa.


"Keterlaluan tahu gak sih, kalian. Timbang mau buat acara kayak gini aja sampek segininya. Lebay!" dumelku. Mereka seketika terdiam.


"Kan, biar surprise, Sayang. Biar momen anniversary kita yang kesatu ini gak terlupakan," sahut si Bocil.


"Kamu pikir aku merasa ini semua surprise, gitu?" tanyaku ketus, dia terdiam. Mereka saling lirik.


"Enggak! Ini itu menyebalkan bagiku. Aku nggak suka diginiin!" sentakku. Kutepis tangan si Bocil saat akan mencekal lengan ini.


"Kamu juga. Bilangnya nggak punya uang, tapi malah bikin acara kek gini sampek boking restoran segala. Duit dari mana?" selidikku. Bocil gelagapan.


"Udah ih, jangan ngerusak suasana dong, yei! Harusnya bersyukur dah dibuatin supres begini. Jangan marah-marah sama dia." Waria itu menjawil dagu si Bocil.

__ADS_1


"Bener apa kata Ses ini, Fa." Ulfa sepakat dengan waria itu.


"Iya. Hargai usaha suamimu. Dia itu excited banget loh, nyiapin ini semua buat kamu, Fa." Reno ikut menimbrung. Mendadak membela si Bocil, padahal biasanya nggak pernah akur.


"Aku nggak butuh ini semua! Jadi, jangan minta penghargaan dariku!" sewotku. Setiap kali suamiku mencekal lengan ini, kutepis.


"Mau ke mana, Fa?" tanya Reno saat aku melangkah ke arah pintu keluar.


"Pulang!" ketusku. Si Bocil bergegas menghalangi jalanku.


"Kok pulang, sih? Kan, makan-makannya belum," celetuk waria itu.


"Jangan pulang dong, aku buat acara ini untuk kamu seorang. Kalau kamu pulang gimana? Mimu nggak kasihan sama mereka semua yang udah terlibat dalam acara ini?" ujar Miku sambil pasang ekspresi memelas.


"Siapa suruh bikin acara lebay begini!" ketusku. Lantas keluar meninggalkan mereka semua. Rasanya tidak tega juga, tetapi terlanjur sakit hati ini.


Kudengar ada suara langkah kaki berlari menyusul. Rupanya si Bocil. Dia berusaha menyeimbangkan langkah sambil terus nyerocos meminta maaf. Serta memintaku agar jangan meninggalkan acara.


"Ayolah, Mimu. Please, jangan kek gini!" Dia berlari mendahului dan merentangkan tangan di hadapanku.


"Minggir! Aku mau pulang!" teriakku.


"Enggak! Mimu nggak boleh pulang!" tegasnya. Saat aku hendak memaksa lewat malah dipeluk erat. Aku tak bisa berkutik. Dia terus nyerocos meminta maaf.


"Lepasin, Cil! Aku mau pulang!" teriakku.


"Nggak! Aku nggak akan lepasin, sebelum Mimu maafin aku."


Kurasa ini saat yang tepat untuk balas dendam.

__ADS_1


__ADS_2