
"Maaf, saya sedang bicara sendiri, bukan bicara dengan Ibu."
"Gak jelas banget, sih! Heran deh, yang modelan kayak gini kok Dafa doyan, sih?" gumamnya, tapi terdengar jelas di telingaku. Sabar, Safa! Sabaaar! Biar bagaimana pun, selain dia itu lebih tua, dia juga mertua. Wanita yang telah melahirkan cowok tengil, tapi manis dan ngangenin itu. Ah, bocil, aku kangen.
"Hei!" Aku terkesiap oleh jentikkan jari Ibu di hadapan muka ini.
Dia kemudian bersedekap, geleng-geleng entah apa yang dipikirkannya. "Kamu belum minum obat atau gimana, sih? Diajak ngomong malah senyam-senyum gak jelas!"
"Eh, maaf, Bu, Ibu ngomong apa?"
"Dafa mana?" tanyanya ketus, "Panggil cepet! Mau ada perlu sama dia!"
Duh, gimana ini? Kalau jujur, kira-kira Bocil suka gak ya, misal ibunya tahu soal keadaannya? Tapi, masa harus bohong sama orang tua? Demi kebaikan gak apa-apa kali, ya, bohong dikit.
Ibu tepuk tangan di hadapan wajahku. "Malah bengong lagi! Kamu sawanan atau gimana, sih? Hah?!"
"Em, Dafa sudah berangkat kerja, Bu."
"Dari tadi, kek! Buang-buang waktuku saja!" sungutnya lantas pergi tanpa pamit.
Kuhela napas panjang. Berusaha tersenyum guna mengusir rasa kesal dalam hati. Kan, ada tuh, quotes yang bunyinya gini; jangan menunggu bahagia baru tersenyum, tapi tersenyumlah, maka kamu kian bahagia.
Tapi, ini udah senyum dari tadi, bahagia tak kunjung menjelang, gigi kering kerontang, iya. Ck! Bahagiaku cuma kalau kamu ada di sisiku ternyata, Cil. Ternyata bener ya, semua baru terasa berarti ketika dia telah pergi.
Aku terlonjak kaget oleh suara klakson taksi di hadapanku. "Kira-kira dong, Paaak!"
"Habisnya Mbak dari tadi saya panggil-panggil gak nyahut."
"Hah?! Masa sih, Pak? Ya, maaf kalau gitu. Maaf, saya gagal fokus, Pak."
Pak sopir geleng-geleng. Kemudian mempersilakan aku masuk, dan melajukan mobilnya. Sempat terjebak macet, akhirnya sampai juga di kantor. Kuhela napas panjang saat akan memasuki kantor. Berharap Eza ngantor hari ini, biar aku bisa negosiasi dengannya.
"Eh, Feri!" panggilku pada OB yang baru saja keluar dari ruangan Eza.
"Iya, Mbak Safa. Kenapa?"
"Pak Eza udah dateng belum?"
"Belum. Masih kosong ruangannya."
Apa dia gak ngantor lagi hari ini? Apa dia masih secemen dulu? Setelah melakukan sesuatu lalu sembunyi.
Aku berlari kecil meyejajarkan langkah dengan Bu Foni. Menanyakan soal Eza ngantor atau tidak hari ini. Ternyata hari ini kemungkinan besarnya dia tidak ngantor, karena semua pekerjaan sudah dipasrahkan ke Bu Foni.
__ADS_1
Sekarang aku harus gimana? Apa yang harus aku lakukan? Mungkin sebaiknya nanti aku bicarakan hal ini dengan si Bocil saat aku membesuk dia di sel. Gegas aku menyelesaikan pekerjaan agar pas waktu makan siang nanti bisa izin pergi menemui suami.
*****
Semua berjalan sesuai rencana. Pekerjaan selesai tepat 15 menit sebelum waktu makan siang masuk. Aku ke ruangan Bu Foni. Permohonan izinku disetujui. Usai mengucap 'terima kasih' aku pamit pergi. Sampai di depan gerbang kantor, taksi yang aku pesan sudah stay. Tampaknya hari ini perjalananku dimudahkan. Semoga saja tak ada halangan dan sampai ke tempat tujuan dengan selamat.
"Tujuannya sesuai di Aplikasi, ya, Mbak?"
"Iya, Pak."
Entah kenapa saat sampai di Kantor Polisi mendadak gugup saat akan menemui si Bocil. Deg-degan parah, dan mendadak pengen tampil rapi saat dihadapannya. Aku duduk di ruang tunggu dengan gelisah.
Tak lama dia keluar didampingi seorang Polisi. Kami sempat saling pandang dari kejauhan beberapa saat. Aku berdiri menyambutnya mendekat. Kemudian berlari menghambur ke pelukannya. Tangisku pecah.
"Mbak apa kabar?"
Gegas kulepaskan pelukan. "Yang seharusnya nanya begitu itu, aku. Kamu apa kabar?" Kubingkai wajahnya, memeriksa lukanya. Sudut bibirnya sudah mengering, sementara bekas tinjuan Eza kini membiru. Gak tega lihatnya. Air mataku terus beruraian.
"Maaf ya, gara-gara aku kamu jadi kayak gini. Kenapa cuma kamu aja yang ditangkep? Padahal aku juga terlibat. Seharusnya aku juga dit ...."
Dia menempelkan telunjuk di bibir ini, mendesis sambil menggeleng melarangku bicara lagi. Kemudian menggenggam kedua tangan ini. "Aku baik-baik aja, kok, sekarang. Tadi sempat sakit, sih."
"Sa-sakit?" Dia mengangguk dan pasang wajah sedih, "Apanya yang sakit?"
"Kenapa? Pasti karena bekas tonjokan Eza kemarin, ya?"
Dia menggeleng. "Karena penuh dengan rindu." Kutabok punggungnya. Gak tahu apa istrinya khawatir.
"Heran, lagi di penjara juga, sempat-sempatnya nge-gombal!" omelku.
"Siapa yang menggombal. Aku serius Mbak, sehari semalam gak ketemu Mbak, itu rasanya bagai 5 windu tau gak, sih. Dada rasanya sesak dan berat oleh rindu yang menggunung."
Aku menghela napas kasar. Kesel, tapi seneng juga sih, meski lagi kayak gini, tengilnya gak luntur. Gantengnya juga. Eh!
"Mbak sendiri gimana kabarnya? Apa Eza masih terus gangguin?"
"Enggak kok. Dia malah gak ngantor dari kemarin. Menghilang bagai ditelan bumi."
"Syukur deh, kalau gitu. Ya udah, duduk, yuk!" ajaknya kemudian. Kini kami duduk bersisian. Diam tanpa kata, mata kami bertemu. Tangan saling genggam. Dia mengusap air mataku yang tidak mau berhenti menetes. Sedih melihat dia harus terjerat hukum begini. Rasanya gak rela, pengen bawa kabur aja. Dia menggeleng memberiku isyarat agar jangan menangis, tapi aku tidak bisa menghentikan air mataku.
"Waktu besuk tinggal 5 menit ya, Bu." Seorang Polisi memberitahu. Aku terkesiap, lantas mulai bicara serius. Berunding dengan si Bocil tentang ke mana aku harus mencari bantuan buat bebasin dia.
"Apa, minta tolong ke ... ibumu?" Sebenernya aku agak takut mau menanyakan hal ini, tapi sudah terlanjur terlontar.
__ADS_1
"Jangan pernah!" tegasnya penuh penekanan, "Aku lebih baik membusuk di sini daripada harus keluar oleh pertolongannya!" tandasnya emosi.
"Ya udah, nanti aku coba cari cara lain."
"Maaf, waktu besuk sudah habis. Mari kembali ke Sel, Pak!" ajak seorang Polisi.
"Sebentar lagi dong, Pak. Masih kangen sama istri."
"Iya, Pak, mohon tambahan waktunya 5 menit aja, Pak!" Aku menimpali.
"Maaf, tidak bisa!"
Gegas kupeluk dia sebelum digiring kembali ke Sel. "Aku bakal cari cara buat bebasin kamu dari sini. Kamu baik-baik ya, di sini."
"Iya. Mbak juga baik-baik di luar sana! Satu lagi inget, apapun yang terjadi jangan pernah minta tolong ke perempuan itu!"
"Hmmm."
"Mari kembali ke Sel, Pak!" Ugh! Polisi ini gak tahu apa aku masih kangen.
Dengan berat hati kulepaskan pelukan. Lantas memberikan makanan kesukaan si Bocil yang tadi aku belikan di warung makan pinggir jalan.
"Sebentar, Pak, ada yang kelupaan!" serunya, lantas berlari ke sini lagi setelah sebelumnya sudah berjalan beberapa langkah menuju Sel.
Aku melihat ke atas meja dan kolong meja mencari sesuatu yang katanya tertinggal, tapi tidak ada. "Apa yang tertinggal?" tanyaku bingung.
"Sini aku bisikin, Mbak!" Aku pun mendekatkan telingaku.
Aku terpaku saat sebuah kecupan hangat mendarat di pipi kananku. Mataku membulat, lalu menatap ke arah Pak Polisi yang terpaku menunggu. Kemudian mengajak si Bocil kembali ke Sel. Saat sudah agak jauh si Bocil kembali berulah. Dia memberiku kiss bye.
"Tangkap, Mbaaak!" teriaknya usai membuat gerakan seperti melempar sesuatu. Reflek aku pun seolah menangkapnya. Dia kemudian membentuk jarinya menjadi love. Sebelum akhirnya menghilang di belokan koridor. Ah, Bocil. Terima kasih, sudah mengembalikan semangatku buat cari cara bebasin kamu.
Sebelum pulang, aku menemui salah seorang polisi yang sedang bertugas. Menanyakan pidana yang didakwakan ke Dafa. Juga menanyakan soal dendanya.
"Kalau biaya perkaranya, murah, Bu. Hanya empat ribu lima ratus saja, akan tetapi ...."
"Tapi, apa Pak?"
"Biaya tuntutan dari korban nominalnya sangat lumayan."
"Berapa, Pak?" Jantungku berdebar menunggu polisi itu menjelaskan.
"Dua miliar."
__ADS_1
"Hah?! Yang benar saja, Pak!" seruku tak percaya. Polisi mempertegas dan membenarkan ucapannya. Detik selanjutnya lutut ini serasa bagai hilang tulangnya. Lemas. Gila aja itu si Eza minta uang tuntutan ganti rugi sebanyak itu? Padahal dia juga tidak terluka parah. Semua masalah juga bermula dari dia sendiri. Sekarang malah memutar-balikkan fakta, ditambah meres lagi! Awas aja kamu, Za!