
Habis dinyanyiin malah jadi salah tingkah. Gak tau mesti ngapain? Bingung, gugup, malu berpadu jadi satu, kemelut dalam dada. Aku menyeruput kopi buatan bocil. Takarannya pas, sesuai dengan seleraku.
Hadirmu, laksana pelangi, Cil. Menjadikan hari-hariku penuh dengan warna. Hidup yang dulu kaku laksana kanebo kering, kini mencair. Bermula dari tingkah jahilmu, terkadang lahir suasana hangat dan romantis. Tapi, kenapa aku masih takut untuk mengakui perasaanku dan membuka hatiku. Meski aku sudah melihat ketulusanmu dari caramu memperlakukan aku.
Aku takut ... takut kalau setelah membuka hati dan akui perasaanku, kamu merasa tujuanmu telah tercapai lalu sikap manismu itu berubah dingin padaku. Aku takut kehilangan sosok tengilmu itu, Cil. Kebanyakan lelaki begitu bukan? Saat rasa penasarannya terpuaskan, terkadang sikapnya berubah. Karena merasa tak ada lagi yang perlu diperjuangkan.
Jika terlalu lama memberimu harapan tanpa kepastian, aku juga takut, Cil. Takut kamu putus harapan lalu putar haluan.
Sejujurnya, aku sudah mulai merasa nyaman berada di sisi si Bocil. Tapi juga dihantui banyak ketakutan.
Mataku membulat saat kurasakan ada yang membingkai wajah ini. Sebuah kecupan mendarat tepat dipuncak kepala ini.
"Bociiiil, apa yang kamu lakukan?!" teriakku sambil mendorongnya agar menjauh.
"Ya, habis Mbak melamun. Aku pikir kesambet, Mbak. Oh, atau Mbak terpana ya, sama kegantenganku juga suaraku yang merdu tadi?"
Aku meringis geli dengan kenarsisannya yang hakiki itu.
"Mbak itu beruntung tau, punya suami kayak aku. Nih, ya ...." Dia mencondongkan badannya ke dekatku. "Aku itu ... udah ganteng, baik, perhatian, romantis, lucu, serba bisa, nyaris sempurna, gak, sih?"
Dia lanjut mengedikkan alisnya, lalu mengedipkan sebelah matanya.
"Narsis!" cibirku. Lantas berdiri meninggalkannya yang sedang terbahak.
Beberapa saat kemudian dia menyusul ke dapur. Berdiri di belakangku yang tengah memeriksa bahan masakan di dalam kulkas.
"Aku juga merasa beruntung punya istri kayak kamu, Mbak. Mbak itu di mataku nyaris sempurna. Cuma satu minusnya."
Gegas aku berdiri menghadapnya, melipat tangan di dada. "Apa?!" sentakku.
"Nah, ini. Galak," ceplosnya dan langsung berlari menjauh. Kembali ke ruang tengah. Aku mendengus kesal. Lantas menyiapkan bahan masakan.
Kudengar Bocil kembali main gitar. Kali ini dia menyanyikan lagunya Judika yang berjudul Cinta Karena Cinta. Merinding bulu romaku mendengar suara merdunya dari sini. Semangatku pun berkobar. Masak sayur dan lauk tak terasa capek. Tau-tau sudah siap santap semua menu sarapannya.
*****
"Cil, menu sarapannya dah siap, nih. Sarapan, yuk!"
"Siap, Mbak Sayaaang." Tak lama dia sampai di ruang makan. Menarik kursi lalu duduk. Kami duduk berhadapan, tersekat meja makan.
"Mbak, punyaku kok rasanya aneh, sih."
Dahiku mengernyit, pasalnya punyaku rasanya gak gimana-gimana. Asin dan gurihnya pas. "Aneh gimana, Cil?"
"Aneh pokoknya. Coba punya Mbak, gimana rasanya?" Dia mangap, reflek kusuapkan sesendok nasi lengkap dengan sayur kangkung dan telur dadarnya.
"Sekarang coba deh, punyaku, Mbak!" titahnya sambil menyodorkan sesendok nasi lengkap beserta lauk pauknya ke hadapan mulutku. Aku pun melahapnya.
__ADS_1
"Gak ada yang aneh, Cil. Sama aja rasanya." Dia terkekeh. Sial! Aku baru sadar, lagi-lagi kena jebakan betmen. Semprul!
Selesai makan aku cuci piring. Bocil buka kulkas minum air dingin. Tak lama dia mendekat.
"Mbak, geser dong! Aku mau cuci tangan."
"Gantian napa sih, Cil? Ini tinggal bilas doang loh."
"Cuma mau cuci tangan doang aku, Mbak." Dia merangsek. Aku pun bergeser memberinya ruang.
"Mbak, itu di atas kulkas apaan?" Aku menoleh ke arah yang dia tunjuk. Dahiku mengernyit, di atas kulkas gak ada apa-apa.
"Apa? Mana? Gak ada apa-apa juga," sungutku. Aku tersentak saat kurasakan dia mengoleskan busa sabun ke wajah. Mangap tak percaya dengan apa yang dia lakukan. Aku berkacak pinggang, mendelik ke arahnya. Dia cengengesan.
"Bociiiil!" Kubalas dengan memercikkan air kran ke wajahnya. Dia membalas sekali lagi, lalu saat akan kubalas lagi, dia berlari ke ruang tengah. Di sana kudengar dia terbahak.
"I love you, Mbaaak!" teriaknya.
I love you to, Cil. Aku hanya mampu membalasnya dalam hati. Entahlah, bibir mendadak kaku.
*****
Minggu sore, Bocil mengajakku jalan-jalan tanpa tujuan pasti. Setelah keliling-keliling motoran gak jelas. Akhirnya berhenti di sebuah kafe. Saat menunggu kopi yang kami pesan datang, tiba-tiba ada lima gadis mendekat.
"Hai, Dafa!" seru salah satu dari mereka berlima. Menyapa si Bocil. Bocil pun langsung berdiri, antusias menunggu kelima gadis itu lebih mendekat. Kemudian semua pun heboh, layaknya fans yang ketemu idola. Bergantian salaman ala kids zaman now. Mereka pun asyik berbincang, aku dikacangin.
Kok, mendadak kesel dan nyesek, ya? Gerah juga. Ini yang panas ruangannya atau hatiku?
Gadis yang berambut panjang, menarik paksa bocil keluar kafe. Kudengar tadi ada hal penting yang mau dibicarakan. Entah bicara soal apa.
"Hai, Kak," sapa salah satu dari empat gadis yang masih tinggal. Kubalas dengan senyum terpaksa, "Kakak pasti Kakaknya Dafa, ya?" lanjutnya. Belum sempat aku menjelaskan identitasku, mereka sudah riuh bergantian menyalamiku sambil menyebutkan namanya satu per satu.
"Saya ke sana dulu, ya," pamitku pada mereka. Lantas meninggalkan keempat gadis muda itu. Sampai di luar, kulihat bocil sedang berbincang serius dengan gadis tadi, di parkiran. Mendadak pengen ngunyah orang.
Aku pergi meninggalkan area kafe. Membawa hati yang terasa memanas. Apa aku cemburu?
"Loh, Mbak!" panggil si Bocil, sambil melambaikan tangan, "Mau ke mana?"
Aku menoleh sejenak ke arah si Bocil yang masih berdiri bersisian dengan teman perempuannya itu. Lantas melanjutkan langkah. Tak lama bocil menyusul.
"Mbak, mau ke mana?"
Aku gak jawab. Kesel. Lanjut jalan.
"Kan, kopi kita belum diminum."
"Bodok!"
__ADS_1
"Mbak kenapa, sih?"
Aku terus jalan.
"Mbak, motornya masih di sana, loh." Kutepis tangannya yang mencekal lengan ini. Dia berlari dan berdiri di hadapanku sambil merentangkan tangan. Dia berjalan mundur.
"Mbak kenapa? Mau pulang? Ya udah, tunggu dulu di sini, ya! Aku balik ke sana lagi buat ambil motornya dulu sama bayar kopinya. Oke. Tunggu bentar!" Dia lantas berlari kembali ke kafe. Aku terus berjalan.
Kutoleh ke belakang, sudah hampir 10 menit berlalu, dia belum juga terlihat batang hidungnya. Mungkin lagi asyik sama teman ceweknya tadi. Kupercepat langkahku. Emosi kian memuncak. Bawaannya pengen nangis dan juga pengen teriak.
Bocil akhirnya menyusul. Dia menyejajarkan laju motornya dengan langkahku. Bertanya aku kenapa. Memintaku berhenti dan naik ke atas motor. Karena aku abai. Dia berhenti memarkirkan motornya di pinggir jalan. Kemudian berlari menyusulku, dan dicekalnya kedua bahu ini. Langkahku pun terhenti.
"Hei, Mbak kenapa? Sakit?"
Aku diam. Dia memeriksa suhu kening ini dengan punggung tangannya. Air mata lolos begitu saja. Padahal sudah berusaha ditahan.
"Kok malah nangis? Mbak kenapa? Jangan bikin aku bingung dong, Mbak?" Dia terlihat bingung memang. Dasar emang ya, cowok itu gak peka! Aku terisak, mematung di hadapannya. Diusapnya air mataku yang berderai. Detik kemudian ditariknya tubuhku ke dalam dekapannya.
"Kalau aku ada salah, aku minta maaf ya, Mbak," lirihnya. Masih sambil memelukku. Diusapnya kepala ini, lembut. Perlakuan manisnya membuatku semakin tersedu. Aku takut ... takut kehilangannya. Takut dia berpaling.
"Mbak," lirihnya sambil melonggarkan pelukan. Kulingkarkan tangan ke pinggangnya. Erat. Dia pun urung melepaskan rengkuhan. Kusandarkan dagu ini pada pundaknya. Kutumpahkan air mata di sana.
"Mbak tadi ketemu sama Panji lagi?"
Sontak kulepaskan pelukan. Kuusap sisa air mata yang membasahi pipi dengan gusar. Menatapnya kesal. Gak peka banget sama kecemburuan istrinya.
"Iya, bener, tadi ketemu Panji?" cecarnya.
"Kenapa jadi Panji, sih?!" sungutku. Berpaling.
"Oh, ho ho ho, aku tauuu! Mbak cemburu, ya?" tebaknya. Sambil meneleng menatap mata sembabku.
"Apa, sih? Enggak! Siapa yang cemburu," kilahku. Aku mengalihkan pandangan. Dia terus berusaha memandangi wajahku.
"Heleh, ngaku aja. Cemburu kan? Iya, kaaan?" tudingnya. Kutepis telunjuknya yang mengarah ke wajah ini.
"Enggak! Aku gak cemburu!" Tadi berharap dia peka, tapi sekarang saat dia peka, entah kenapa aku gengsi mengakui. Mungkin benar, makhluk bernama wanita itu memang yang paling ribet.
Aku bergeming saat dia memakaikan helm ke kepala ini. Saat dia menyuruhku naik ke atas motor, aku nurut. Pun ketika dia melingkarkan tangan ini ke pinggangnya.
"Aku bakal ajak Mbak ke tempat yang indah," katanya sebelum melajukan motornya.
Tempat yang indah?
Ke mana?
Penasaran sih, tapi aku memilih diam.
__ADS_1