SUAMIKU BOCAH

SUAMIKU BOCAH
Dia


__ADS_3

Belum sempat tanyaku terlontar akan siapa wanita itu. Bocil sudah melangkah mendekati tamu sosialita yang berdiri di depan pintu itu. Aku pun mengekorinya. Sementara dia berdiri di tengah pintu, aku berdiri di sisi dalam pintu. Sebelah kanannya.


"Anda ngapain ke sini?"


"Eum, Dafa ...."


"Saya sudah pernah bilang, bukan? Jangan ganggu hidup saya lagi!" Bocil menyela ucapan wanita di hadapan kami dengan kasar.


Kalau dilihat dari ekspresi wajahnya si Bocil, dia tampak sangat marah dan kecewa dengan wanita ini. Siapa sebenarnya wanita ini?


"Ini siapa?" Wanita sosialita itu mengalihkan pembicaraan, telunjuknya mengarah padaku.


"Dia wanita paling berharga dalam hidup saya!" tegas si Bocil.


Aku terpaku, usai mendengar kalimat suami bocilku. Jantungku bedegup luar biasa. Hati ini seketika berubah laksana taman. Berbunga-bunga.


"Mama angkatmu?" tanya wanita itu. Seketika mataku membulat tak percaya. Apa iya, aku setua itu? Ah, yang benar saja wanita ini! Pantesan saja Dafa terlihat kesal, emang bener-bener nyebelin ini wanita.


Aku melirik dan memberengut ke arah Dafa yang juga melirikku. Bocil lantas kembali menghadap wanita itu.


"Dia istriku!" jawabnya lugas.


"Istri!" Wanita itu tampak terkejut sekali mendengar si Bocil sudah beristri, "Kok kamu gak cerita kalau sudah punya istri?" lanjutnya.


Bocil terbahak sesaat. "Memangnya siapa Anda? Sehingga saya harus cerita tentang kehidupan pribadi saya pada Anda?"


"Daf, jangan seperti ini. Biar bagaimana pun, aku ini tetap ...."


"Ssssth!" Bocil mengacungkan telunjuknya ke hadapan wanita itu, "Sudah cukup ngebacotnya! Sebaiknya Anda pergi! Saya dan istri mau bersiap untuk berangkat kerja! Pergi!" Bocil langsung menutup pintu dan menguncinya. Menarikku menjauh dari pintu depan. Menuju ke ruang makan. Sementara wanita itu masih di luar sana berteriak meminta agar Dafa keluar.


Sampai di ruang makan, dia langsung menarik kursi dan duduk. Kedua tangannya terkepal di atas meja. Amarah tampaknya masih menguasai hatinya. Aku mengambilkan air dingin untuknya.


"Nih, minum dulu biar tenang!" Dia langsung meraih segelas air putih dingin itu, dan menenggaknya hingga tandas. Kemudian bersandar pada sandaran kursi. Kudengar dia menghela napas berulang kali. Kuusap kedua sisi bahunya guna menyalurkan ketenangan.


Kepalaku meneleng, mendengarkan suara wanita tadi. Sudah sepi. Mungkin sudah pergi. Sebenernya penasaran banget sama wanita tadi, tapi kalau bertanya sekarang kayaknya waktunya gak tepat. Biar Bocil tenang dulu.


"Eum, aku tinggal masak dulu ya, gak apa-apa, 'kan?" pamitku. Dia mengangguk lesu. Mengulas senyum samar.


Usai menyiapkan bahan masakan, aku kembali mendekatinya yang masih duduk di kursi ruang makan. Menawarkan padanya kopi. Dia menolak, katanya lagi gak ***** minum kopi. Aku kembali ke dapur melanjutkan masak.

__ADS_1


Selesai masak, saat menyajikan menu di meja makan, sudah tak kudapati lagi dia di sana. Kuperiksa di kamarnya dan di kamar mandi juga tidak ada. Ternyata dia di depan, melanjutkan mencuci motornya.


"Sarapannya sudah siap, Cil." Entah kenapa mendadak kikuk begini rasanya.


"Oh, iya, Mbak. Ini sebentar lagi juga selesai, kok. Tinggal ngelap joknya aja biar kering."


"Oke, aku tunggu di ruang makan, ya."


"Iya, Mbak."


*****


Tak lama dia masuk menaruh ember berisi air sabun bekas cuci motor. Kemudian menyusul ke ruang makan. Sebenarnya penasaran banget akan siapa wanita tadi. Pengen nanya, tapi takut mood-nya si Bocil jadi buruk. Aku gak sanggup kalau dia berubah cuek dan murung lagi kayak kemarin.


"Nih, Mbak, cobain deh, punyaku! Enak banget!" katanya sambil menyodorkan sesendok nasi lengkap dengan lauk pauknya ke dekat mulut.


"Menunya sama, pasti rasanya juga sama lah, Cil. Jangan ngadi-ngadi kamu!"


"Eh, dibilangin gak caya. Rasanya bakal beda kalau udah lewat tanganku. Coba deh, kalau gak percaya!" Dia semakin mendekatkan sendok ke mulut.


Gak ada salahnya kali ya, sekali-sekali nyenengin dia. Terlebih saat ini suasana hatinya lagi ambyar. Siapa tahu dengan aku nurut, mood dia jadi lebih baik.


"Lumayan. Oke, sekarang kamu juga harus nyobain suapanku, Cil. Aaaak!" Kalau dia mah, gak perlu dipaksa atau dirayu dulu, langsung melahap suapanku. Bahkan minta disuapin lagi, terus dan terus. Sampai selesai akhirnya kami pun, suap-suapan.


"Habis disuapin sama istri, jadi semangat nih, buat bersiap kerja!" serunya sambil berlalu dari ruang makan. Menuju kamarnya bersiap kerja. Aku tersenyum. Entah kenapa rasanya bahagia luar biasa dan merasa berhasil mengembalikan mood-nya yang kacau.


Usai membereskan meja makan, aku juga bersiap untuk bekerja. Saat keluar akan mengunci pintu, ternyata Bocil masih duduk di teras.


"Loh, aku pikir, kamu udah berangkat duluan?"


Dia langsung berdiri dan tersenyum ke arahku. "Hari ini aku mau anter Mbak ke kantor, boleh, 'kan?"


Aku bergeming sesaat. Kalau dia nganterin aku ke kantor, pasti bakal heboh orang-orang kantor. Pasti Satpam itu sudah menyebarkan gosip ciuman ganasku malam itu. Ck! Tapi ... kalau nolak, takut mood-nya dia hancur lagi. Kalau dia sampai ngambek lagi, susah.


"Hei, kok malah bengong?" Dia menjentikkan jarinya ke depan wajah.


"Eum, iya deh, boleh." Akhirnya aku setuju.


"Yes!" Dia berselebrasi layaknya orang habis menang lomba Agustus-an. Kemudian memakaikan helm dan menyuruhku naik. Sebelum dia bawel menyuruhku memeluknya, aku meluk duluan.

__ADS_1


"Nah, gitu dong, pegangan yang bener tanpa di suruh," katanya sambil melirikku.


"Iya. Udah jalan. Udah siang loh, ini!"


"Oke, Mbak Sayaaang."


*****


Sampai di depan gerbang kantor, aku turun dan dia membukakan helmnya. Merapikan rambutku yang berantakan. Aku terpaku menikmati suasana manis ini.


"Udah cantik. Selamat bekerja," ucapnya.


Aku mengangguk. "Kamu juga, yang semangat kerjanya!"


"Pasti dong, kan, tadi udah disuapin." Aku mengulum bibir menahan senyum.


"Oya, kalau ... nanti kamu udah siap buat cerita soal yang tadi. Jangan sungkan, ya, buat cerita ke aku!"


"Iya, nanti malem aku jelasin ya, soal wanita tadi," katanya. Lagi-lagi, raut wajahnya seketika terlihat kesal. Aku mengangguk.


"Ya udah, kamu berangkat, gih, ntar telat loh!"


"Aku gak akan pergi dari sini, sebelum mastiin Mbak masuk ke balik gerbang dengan aman dan selamat."


"Ck! Lebay, deh!" sentakku. Jarak gerbang dengan tempatku berdiri padahal cuma kisaran 2 meteran. Dia tersenyum dan menyuruhku masuk. Setelah aku berada di balik gerbang, dia melambaikan tangan kemudian tancap gas.


"Waw!" teriakku kaget. Saat aku berbalik siap memasuki kantor, dan mendapati semua pegawai juga satpam tiba-tiba sudah  berdiri di hadapan. Ya salam, mereka dari tadi mengintai rupanya.


"Ciyeeeee!" Serempak mereka berteriak setelah sebelumnya sempat terdiam beberapa saat sambil pasang wajah datar. Semua telunjuk membidikku. Mereka pun riuh ngecengin, ada juga yang bertanya kapan aku nikahnya. Juga ada yang ngambek karena gak ngundang mereka.


Waktu aku memutuskan nikah sama Panji, memang aku gak ngundang orang kantor. Hanya atasan saja yang aku undang dan kebetulan beliau berhalangan hadir saat itu. Bener-bener cuma ngundang saudara dan teman dekat juga tetangga dekat. Makanya mereka gak tahu soal pernikahanku yang kacau.


"Ya ampun, Faaa, suami kamu itu kiyuuut banget, sih? Gumuuuush. Jadi pengen punya suami bocil jugaaak," ujar Ulfa. Saat kami sudah berada di dalam kantor.


"Iya ih, ganteng banget. Pantesan aja selama ini diem-diem bae, takut kita rebut, yaaa?" Rima ikut nimbrung. Mereka berdua berdiri mengapit aku di bilik kerjaku. Mendengar mereka berdua memuji bocil begitu, seketika jadi terbayang wajah imutnya, senyumnya, dan ....


"Apa?! Jadi bocah ingusan itu suami kamu, Sa?"


Seketika canda tawa Ulfa dan Rima terhenti. Mereka berdua balik ke bilik kerja masing-masing. Aku berbalik menghadap ke pemilik suara yang terdengar tidak asing itu.

__ADS_1


__ADS_2